Precious Idol

Precious Idol
Disband


__ADS_3

Selesai menyampaikan pidatonya, kami dipersilahkan turun. Pers sudah selesai bersamaan dengan turunnya Dirut Kim. Ruangan kembali ricuh. Saat kembali ke belakang panggung, seorang wartawan berteriak meminta pertanggung jawaban kami.


Aku memegang pergelangan tangan Hyeri, menahannya. Aku ingin berbicara, akulah penyebab semua ini. Hyeri membiarkan aku berbicara. Pak Tua itu mendekat saat melihatku memegang mikrofon.


"Halo, aku Aliena," semua pandangan beragam menatap kearahku. Aku gugup. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi.


"Apa kau tidak berkata lagi? Dari tadi kau hanya bersembunyi dibelakang leadermu. Bukannya itu pengecut?" salah satu reporter stasiun tv menghinaku sambil meminta pendapat yang lain. Banyak mereka yang setuju dan ikutan memaki-maki, sementara kameramen yang hanya memikirkan rating tidak peduli dan menyoroti aksi reporter itu.


Aku berusaha mengendalikan emosiku. Cahaya mulai bersinar. Aku meneguk ludahku semakin gugup. Aku meminta bantuan pada Pak Tua, suara mereka semakin besar.


Tangan Pak Tua itu terangkat mengeluarkan cahaya putih. Dalam sekali kedipan mata, seluruh ruangan menjadi gelap. Ruangan ricuh saling melindungi diri.


Aku bisa merasakan pengawal kami, sudah membentuk lingkaran melindungi kami dengan ketat menggunakan prosedur jika terjadi ancaman, meskipun kami bukan tanggung jawab mereka lagi.


Banyak audio milik media yang rusak. Sepertinya Pak Tua ini mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang kuat sampai audio dan lampu yg dialiri listrik saling merusakkan.


Aku memanfaatkan suasana ini untuk menenangkan diri. Cahaya hitam ditanganku perlahan mulai memudar. Mikrofonku terhubung listrik, peralatan yg terhubung listrik sedang rusak sekarang.


Para staff berlalu lalang sibuk memperbaiki dan menjaga kekondusifan ruangan. Alarm merah darurat berbunyi kencang, orang yang ada diruangan segera berhamburan berusaha menyelamatkan diri. Ternyata Pak Tua itu tak hanya merusakan aliran di ruangan ini, tapi satu gedung.


Melihat itu, aku tidak jadi berbicara. Kami disuruh untuk segera ke mobil. Tapi langkah kakiku terhenti ketika melihat seorang pria yang mungkin masih seusia kami, memanggil namaku. Dia mengangkat kamera ponselnya agak jauh dari wajahku.


"Aliena, aku dari media X meskipun audio kami rusak, suasana menegang, kau masih saja berdiri disitu dengan menggunakan mikrofon. Jadi," dia berhenti sebentar. Pandangannya menuju ke arah member TheA yang mulai menjauh dariku.


"Tidak masalah, aku tahu letakkan parkiran mobil kami. Aku bisa menyusul mereka" dia seperti khawatir aku tertinggal rombongan, jadi aku menenangkannya. Belum tahu saja dia bahkan dua detik kemudian, aku bisa saja rebahan di kamar.


"Aku yakin pasti ada yang mau kau sampaikan." Meski gelap, kepercayaannya padaku bersinar terang.


"Bukannya kau sudah melihat berita? Kenapa kau yakin sekali dengan ucapanku?" aku bertanya. Dia dari pihak media, lebih aman jika dia mengikuti artikel sebelumnya.


"Sebenarnya aku merasa janggal melihat video itu. Apa kita bisa ke tempat yang lebih tenang sedikit?" aku mengangguk.


Menggunakan flash kameranya, kami memilih keruangan sebelah utara pintu masuk. Dia pamit kembali keaula mengambilkan dua kursi untuk kami. Kami duduk berhadapan, wajah tetap saja terlihat samar karena gelap.

__ADS_1


"Jadi," dia menyodorkan ponselnya yang sedang memutar video kejadian saat aku sedang menyiram Seung Han. Dia memberhentikan tepat setelah air itu mengenai wajahnya.


"Aku janggal melihat video ini. Jika dia benaran stalker, kenapa kameranya tidak bergoyang kencang saat kau menyiram Seung Han?" dia mengulang video kembali keawal.


"Perhatikan ini, di video awal ini sedikit bergoyang dan sampai video itu selesai kadar goyangnya masih sama." aku menatapnya, mulai paham arah bicaranya.


"Jika dia melihat secara langsung, tidak mungkin dia tidak terkejut sedikitpun. Seharusnya rekamannya bergoyang lebih kuat lagi. Tapi rekamannya seolah-olah menunjukkan dia tidak terkejut." aku menganguk-angguk setuju dengan pendapatnya.


"Kalau dibilang kamera diletakkan di tempat datar, maka rekamannya harus stabil." aku mengangguk lagi, meskipun tak yakin dia bisa melihatnya.


"Jadi, pasti ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Rekaman ini diedit seolah membuat kau jadi terlihat kasar dan tidak sopan" tukasnya.


"Lalu?" tanyaku.


"Pasti Seung Han berbuat salah padamu. Bahkan member EVE yang lain tidak ada yang berusaha menghentikan atau memarahi kalian" Dia meletakkan ponselnya diatas pahanya.


"Fansnya itu tahu Seung Han salah, tapi dia hanya ingin menutup mata. Dia ingin kalian hancur agar salah satu member EVE tidak ada yang mengagumi kalian. Jadi dia meminta bantuan fandom EVE dengan cara menyebarkan berita palsu! Kau sudah difitnah" terangnya dengan berapi-api.


"Kau benar. Aku tidak mungkin sejahat itu... " kataku lirih.


"Kau juga benar Aliena, separuh dari media itu busuk. Mereka hanya ingin menampilkan apa yg publik ingin dengar tanpa peduli dampaknya pada yang diberitakannya"


"Jadi.. kenapa kau menanyakan hal yang bertentangan dengan mereka?" Aku bertanya penasaran.


"Aku bukan mereka!" jawabnya tegas.


"Maksudnya?"


"Meskipun banyak yang berjalan di jalan itu, aku tidak peduli! Aku tetap di jalan dan prinsipku!" tegasnya. Aku jadi semakin tertarik dengannya.


"Banyak media yang meraup keuntungan dengan kotor. Melakukan pembohongan publik hanya untuk keuntungannya."


"Meskipun dijalan itu lebih banyak menghasilkan uang, aku tidak peduli! Kebohongan yang kita ciptakan bisa saja menghancurkan seseorang!"

__ADS_1


Menghancurkan seseorang? Ya, dia benar! Karena kepalsuan yang diciptakan itu, TheA, grup yang kami perjuangkan berakhir hanya dengan artikel satu lembar.


Perjuangan kami dimatikan hanya dengan unggahan palsu berdurasi satu menit itu.


"Tapi kenapa kau percaya dengan ucapanku?"


"Aku tidak pernah mempercayaimu atau siapapun, aku hanya peduli kebenaran pada bukti yang terjadi!" tukasnya.


Dia benar, aku lebih tidak percaya padanya jika seandainya dia bilang percaya dengan ucapanku. Dia tidak mengenalku, jadi tidak mudah untuk percaya.


Ponselku terus bergetar sedari tadi dengan panggilan masuk dari yang lain. Aku mengirim pesan, memberitahu agar mereka tidak perlu khawatir, saat ini aku sedang menyelasaikan masalahku.


"Jadi apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku


"Menemukkan video aslinya." Aku menggeleng tidak setuju. Staff disana tidak akan mudah menyetujui memperlihatkan rekaman cctv.


"Bekerja samalah denganku."


"Jika kau sudah menemukan rekaman aslinya, bisa saja kebencian itu berbalik menyerang EVE. Itu justru merugikan mereka" terangku.


"Kenapa kau perlu memikirkannya? Karena mereka kalian bubar. Jadi buat apa masih menutupinya?" Nada suaranya berubah menjadi berat. Itu seperti kesedihan.


"Tidak ada gunanya membalas dendam, hanya akan menyakiti kedua pihak. Sudahlah diskusi ini tidak akan berujung" Aku berdiri, beranjak dari ruangan itu.


"Jadi menurutmu diam itu baik?" langkahku terhenti. Dia berdiri dikursinya.


"Untuk melindungi orang, kau memilih bungkam dengan kebenaran. Apa menurutmu itu benar?" aku terdiam mendengar perkataannya.


"Kau, demi melindungi orang yang kau sayang dari sakit hati, kau memilih untuk diam atas keburukkannya?"


"Kau takut melukai perasaannya dan membiarkan dia tetap hidup dengan kerusakan itu?"


"Bodoh, justru sekarang kau menghancurkannya lebih hancur lagi saat ini. Diam tak pernah menyelesaikan apapun."

__ADS_1


Dia berjalan mendekatiku. Auranya pekat sekali. Tapi aku tidak tahu warnanya, ini seperti perpaduan warna. Dia bukan sembarang orang. Menebak perasaanya saat ini begitu sulit.


Apa aku sudah bodoh?


__ADS_2