
"Kalian mau berapa?" Na Hyun bertanya enteng. Orang kaya beda ya, kasih mobil kayak kasih permen.
"Satu saja cukup." Kami menggeleng-geleng ke Jessica memberi kode agar meminta dua. Sebagai balasannya, Jessica membolangkan matanya. Na Hyun tertawa melihat kami.
"Tidak masalah Jessica, kalian sudah menjaga si nakal Hyeri. Jangan sungkan. Lagian kalian butuh banyak modalkan?" Kami
mengangguk kompak.Hyeri memicingkan matanya curiga.
"Gimana kalau aku juga menanam saham di agensi kalian. Kalian tetap butuh sponsorkan?" Mata kami berbinar semangat.
Kalau Na Hyun menawarkan diri menjadi investor, aku rasa Jessica akan menerimanya.
"Menurut kalian gimana?" Jessica memandang kami memintai pendapat.
"Kalau Na Hyun ingin menjadi investor, aku rasa itu bagus untuk kemajuan agensi kita. Kita memang kekurangan danakan?" Instingku bergerak cepat sebelum Hyeri dan Jessica memprovokatori untuk menolak.
"Tapi tetap saja kita harus menulisnya di mata hukum, biar pembagiannya jelas." Enam dari delapan setuju denganku. Tinggal membujuk Hyeri dan Jessica.
"Kalau Na Hyun menanam modal, maka perusahaan kita tidak abal-abal. Buktinya ada pemegang saham yang lainkan?" Alisku terangkat satu.
"Benar juga sih, kita juga perlu modal untuk mendanai beberapa traine baru nanti. Aku sih oke" kata Jessica, dia melirik Hyeri yang masih berpikir. Na Hyun tersenyum penuh arti kearah Hyeri.
Menghela napas sebentar, Hyeri mengangguk menyetujui. Kami bersorak senang. Otomatis tanggung jawab kami makin berat. Tapi tidak masalah selaga ada sokongan dana.
Setelah berembuk lebih dari setengah jam, kami mencapai kesepakatan bahwa Na Hyun pemegang saham sebesar lima persen juga.
Dan lebih luar biasanya lagi, Na Hyun
memberi syarat bahwa agensi The A&J Music harus menjadi pemegang saham sebesar lima persen juga di yayasan rumah sakit Na Hyun. Agar saling mempercayai satu sama lain.
Na Hyun pasti sangat menyayangi Hyeri. Rumah sakit Na Hyun berkembang pesat dan memiliki banyak cabang. Pusat yayasannya berada di ibu kota.
Aku yakin, sebenarnya dia mau membantu lebih makanya dia menyuruh kami menanam saham juga di yayasannya.
Artinya dari sekarang kami sudah mendapat keuntungan lima persen dari yayasan mereka. Meskipun kami hanya memasukkan sepersen modal kami.
__ADS_1
"Jun Soo lebih baik kau mandi dulu dikamar mandi. Nanti aku suruh supirku membelikanmu baju baru" Jun Soo tersipu malu dibuat Na Hyun.
Dengan malu-malu dia beranjak pergi ke kamar mandi. Benar apa yang ku bilang, wajah Na Hyun saja bisa membuat para pria bertekuk lutut.
"Oh iya, kalian sudah kenal lama?" Hyo Bin bertanya. Aku mengamati ekspresi mereka berdua dengan intens.
Mereka tidak berkelahi, tapi apa masalah yang membuat mereka berdebat tadi.
"Hyeri belum cerita masa lalunya pada kalian?" kami menggeleng.
Matanya membulat tak terima ke Hyeri. "Tega betul gak pernah ngenalin aku ke mereka ya!" Hyeri mengangkat bahu cuek, mengambil cemilan yang sudah disediakan.
"Kau sudah menghubungi supirmu? Mungkin Jun Soo sudah kedinginan disana."
"Sudah paling sebentar lagi dia datang. Kalian makan, jangan segan-segan. Jangan-jangan tunggu ditawarkan dulu ya? " Kami nyengir lebar, tangan kami teulur mengambil cemilannya. Dari tadi memang tidak kami ambil, menunggu ditawarkan.
"Aku dan Hyeri berteman mulai dari masuk SMA, awalnya dia gak pernah peduli dengan keberadaanku. Dia cuma perhatian sama satu orang cowok teman sekelas kami." Oke sampai sini masih belum ada perubahan raut wajah Hyeri. Berarti masih aman.
"Siapa? Apa Hyeri menyukainya?" Hyeri tersedak mendengar pertanyaan terlampau polosnya Hyuk Jae. Na Hyun menahan tawanya.
"Ada apa ini kayaknya seru banget" Suara cowok menghentikkan tawa kami. Kami semua menoleh kebelakang, disana berdiri seorang cowok yang seumuran dengan Hyeri.
Darimana aku tahu? Tentu saja dari pigura itu. Banyak foto dia disana. Sekarang wajahnya jauh lebih matang dan tampan.
"Na Hyun, kenapa tiba-tiba rumah ini dipenuhi bidadari?" Dia mendekat, mengulurkan tangannya berkenalan. Kami memperkenalkan diri satu per satu. Namanya Park Ha Joon.
"Hyeri astaga! Apa ini kau?" pekiknya girang ketika melihat Hyeri. "Tumben feminim, sudah tobat?" Bibir Hyeri melengkung membentuk senyuman.
Alih-alih berjabat tangan, dia menarik Hyeri kepelukannya. Hyeri juga membalas pelukkannya.
Mata Hyuk Jae bertanya-tanya. Pasti otaknya yang sedikit itu menyangka itu adalah cowok yang dimaksud Na Hyun.
"Dia supirku." kata Na Hyun kepada Hyuk Jae yang sepertinya tahu pikiran Hyuk Jae. Aku tertawa geli melihat Hyuk Jae yang langsung percaya begitu saja. Mana ada supir setampan itu coba?
Na Hyun memberi kode menggunakan tangannya. Ha Joon meletakkan plastik besar, mengambil handuk, sepasang pakaian dan pakaian dalam. Dia segera pergi kearah toilet. Sepertinya itu untuk Jun Soo.
__ADS_1
"Ini pakaian untuk Jun Soo dan Hyuk Jae. Padahal aku suruh dia beli satu set saja. Pembangkang banget sih anak satu itu" gerutu Na Hyun.
Dalam plastik besar itu ternyata ada selusin lebih baju dengan model terkini. Kami tidak bisa menolaknya, karena dia investor. Tentu dia juga menginginkan yang terbaik buat perusahaan kami.
Hyuk Jae dengan tidak tahu malunya langsung mengeluarkan semua baju itu. . Ini semua pakaian mahal. Bahkan pakaian dalam mereka bermerk.
Hyo Bin ganas menendang bokongnya ketika Hyuk Jae mengambil ancang-ancang mencoba pakaian dalamnya. Sekali lagi aku hanya bisa geleng-geleng.
"Kapan kalian berniat putus?" tanya Hyeri begitu Ha Joon mendaratkan bokongnya di sofa, bergabung dengan kami.
"Astaga Hyeri, meskipun kau menyukainya, kau gak boleh merebutnya dari sahabatmu sendiri!" Kami menatap tak percaya Hyuk Jae. Apa dia tidak kebagian otak ya pas lahir?
"Iri aja kau. Menikah sana sama si-" Na Hyun langsung menoyor kepala Ha Joon. Padahal aku ingin mendengar Info penting darinya.
"Mereka ini The A&J Music Ent." Ha Joon terkejut, mulutnya ternganga tak santai.
"Ternyata mereka ini yang lagi dihebohkan di rumah sakit."
"Memang kami kenapa?" Alis kami saling tertaut kebingungan.
"Kalian belum tahu?" Kami menggeleng. Memang ada apa?
"Begitu Na Hyun mengumumkan pemegang saham terbesar itu adalah The A&J Music Ent, semua staff yayasan ribut. Kalianlah pemegang saham terbesar kedua.
Mataku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna semua ini.
"Na Hyun terkenal tidak pernah membiarkan orang menanam sahamnya lebih dari satu persen." Bentar-bentar aku cerna dulu.
"Tapi kalian malah lima persen. Makanya orang yayasan ribut dan pengen tahu siapa kalian."
"Ternyata kau masih sama ya. Sulit percaya dengan orang lain" Mata kami kini berpindah ke Hyeri.
"Ya begitulah, manusia tidak semua yang bisa dipercaya. Kalau ada kesempatan, mereka bisa menjadi iblis"
"Ngomong-ngomong, itu si Jun Soo gak keluar-keluar dari toilet?"
__ADS_1