
"Mau kemana kau?"
Aku tersentak ke belakang. Untung saja aku stabil. Pak Tua ini tiba-tiba saja muncul dihadapanku. Aku berjalan ke sisi kirinya berusaha tidak menanggapi. Dia menggeser dirinya juga ke kiri. Sengaja benar menghalangi jalan. Aku menghela nafas kuat.
"Apa lagi sekarang?"
"Kenapa kau jadi sensitif sekali sekarang? Kau ini sudah kelewatan aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi" Dia menatapku dengan kemenangan.
"Lalu terus apa? Kau mau mengutuk aku? Terserahlah kutuk saja sekarang! Aku juga tidak peduli!" Aku meneruskan jalanku lagi.
Dia menertawaiku. Kesal, aku melepaskan listrikku kearah kakinya. Dengan lincah dia menghindarinya sambil tertawa-tawa. Aku lanjut berjalan lagi mengabaikannya.
"Aku sudah dengar pembicaraan kalian. Kau tahu, itu ada efek positif dan negatifnya. Kau selalu saja salah pil-"
"Iya aku tahu! Aku tahu! Aku sangat tahu! Selalu saja aku salah!" pekikku mengelurkan semau yang kusimpan dalam hati.
"Siapa suruh kau jadi idol?" balasnya ringan. Aku menarik rambutku frustasi melihatnya.
"Kau hanya diminta belajar memperbaiki sikap congkakmu." Dia mulai lagi. Selalu begitu, sampai aku hapal apa yang dibilangnya selanjutnya.
"Tapi kau malah mengambil jalan yang sulit ini. Salahmu sendiri kan?" aku melanjutkan omongannya dengan menjelekkan ekspresiku. Dia semakin keras menertawaiku.
"Hati-hati kau selalu saja salah memilih" dia mengingatkanku sekali lagi. Aku hanya berdeham sebagai jawaban.
"Sekarang kau sudah banyak kemajuan. Kau juga jarang menggunakan kekuatanmu sembarangan"
Aku tidak menjawab lagi. Entah itu pujian atau tidak, aku tidak peduli.
Aku segera menuju ruang basement. Seingatku sih tadi mobilnya diparkir disini. Mutar-mutar mencari, aku akhirnya memutuskan untuk menghubungi Jessica.
"Kami sudah di jalan" Suara dibalik benda persegi mungil ini membuatku terkejut mendengar jawabannya.
"Akukan masih disini? Kenapa sudah pergi?"
"Tadikan kau bilang duluan saja. Kau mau menyelesaikan masalahmu dulu" Jessica enteng menjawab.
"Iya tapi bukan berarti aku menyuruh kalian pulang" aku benar-benar menahan kekesalanku sekarang. Pasti mereka ingin mengerjaiku.
Dengan kesal, aku menghentak-hentakkan kakiku sambil berjalan.
"Permisi, "
Aku menoleh ke belakang. Seorang pria lebih tinggi dariku memanggilku.
"Ada apa ya?"
"Bisa tolong ambilkan fotoku di mobil ini?" Aku melirik mobil yang ditunjuknya. Mobilnya mewah.
"Apa ini mobil?" Dia menyengir sambil menggeleng. Aku memutar kedua bola mataku. Malas. Masih saja ada orang norak yang seperti ini di jaman ini ternyata.
Aku mengambil ponselnya. Dia tersenyum senang. Aku kagum melihatnya posenya. Tidak banyak bergerak, tapi hasilnya seperti model profesional.
Perasaan sedikit terobati karenanya. Aku mengambil beberapa posenya dengan mobil pinjaman.
"Terima kasih"
"Kau berbakat" Aku menyerahkan kamera ponselnya.
"Aku tahu!" Rautnya riang sekali. Aku jadi ikutan tertawa.
__ADS_1
"Kau terlalu percaya diri juga" Sambil tersenyum, aku meninggalkannya.
"Tapi aku tampankan?" Dia sudah berjalan disampingku juga. Melihat dia terlalu santai, aku tebak dia tidak mengenalku. Apa kami segitu tidak terkenalnya?
"Tampan atau bukan, itu tidak masalah."
"Benarkah? Aku sedang mengikuti audisi menjadi traine. Tapi,"
"Tapi apa?" tanyaku sedikit penasaran.
"Mereka selalu menolakku" Suaranya sedikit putus asa. Aku memandangnya sambil berjalan.
"Oh ya? Mata mereka buta?" Dia tertawa mendengarnya. Setidaknya aura putus asanya tadi sudah hilang lagi.
"Ya kau jahat juga" katanya sambil tertawa. Aku tersenyum melihat dia tersenyum juga.
"Aku miskin, foto yang aku kirim hanya berpakaian seadanya. Alasan mereka menolak aku juga karena itu."
Masih ada ya agensi yang tidak melihat potensi?
"Makanya aku pinjam pakaian temanku dan berfoto di depan mobil mewah tadi. Siapa tau aku bisa lolos" Kami sudah keluar ruangan.
Aku memilih naik bus untuk menghemat biaya. Apalagi sekarang kami bertekad membuka agensi sendiri.
"Kau mau kemana?" aku bertanya, dia juga ikut naik bersamaku dan duduk disampingku.
"Tidak ada. Aku tidak punya tujuan, aku cuma ingin ngobrol denganmu" Aku menganguk. Hak dia sih itu.
"Jadi apa menurutmu aku akan lolos?" Aku mengangguk lagi.
"Kau lolos, tapi kau akan menyesal masuk kesana"
"Karena kau hanya akan dijadikan sumber uang mereka. Kalau kau terlibat rumor atau skandal, mereka akan melepaskan kau begitu saja" jawabku menatap ke luar jendela.
"Berarti sama dengan kau kan?"
"Maksudmu?"
"Sekarang kalian dibuangkan?"
Aku langsung spontan menggeleng kuat-kuat. Dia menaikkan alisnya.
"Kami tidak pernah dibuang, kami diizinkan terbang tinggi lagi. Kau akan tahu kalau mengalaminya" jelasku.
"Oh ya? Pasti kau mengira aku tidak tahu kau kan?" aku mengangguk jujur menjawab pertanyaannya.
"Reputasi kalian tercemar karena video dan berita palsu itukan?" aku mengangguk lagi.
"Tapi kami gak bakal menyerah segampang itu. Kami sudah memutuskan untuk mendirikan agensi baru."
Matanya langsung bersemangat mendengar jawabanku.
"Benar-benar gak sia-sia aku mengidolakan kalian" Dua jempolnya teracung kedepanku. Aku tersenyum malu mendengar ucapannya.
"Kalau begitu," Dia mengeluarkan ponselnya. Aku melihat surat tanda diterima sebagai traine dari agensi terkenal. Dia menghapus surat dari email itu begitu saja. Aku terkejut melihatnya.
"Kenapa dihapus?" Bukannya dia berusaha mati-matian agar lulus? Kenapa dihapus?
"Aku tidak mau bergabung dengan mereka. Aku mau bergabung dengan agensi kalian." Mataku membulat terkejut mendengarnya. Memang benar kami mendirikan agensi, tapi belum berdiri sudah ada yang mendaftar menjadi traine? Orang gila dari planet mana ini?
__ADS_1
"Ya ampun kau mau menggadaikan masa depanmu?"
Dia menggeleng sambil tersenyum.
"Kau salah, aku akan bertumbuh besar dengan kalian. Kau bisa melihat potensiku, aku yakin kalian bisa membesarkanku. Jadi apa kau mau menerima aku?"
Aku benar-benar tidak percaya ada orang seperti dia. Dia menolak agensi besar, hanya untuk bergabung dengan kami yang jelas saja belum.
"Gila" cibirku.
Aku mengambil ponselku dan earphone. Mendengar lagu lebih baik daripada mendengar ocehan gak jelasnya.
Aku mengambil posisi terbaik untuk tidur. Memejamkan mata setelah perjalanan sulit itu benar-benar hal menenangkan.
Aku memberhentikkan bus. Ini terminal terdekat dengan asrama kami. Dia juga ikut turun.
"Aku tidak main-main dengan kataku" katanya saat ku pelototi.
"Aku juga tidak main-main dengan kataku." Aku balas menjawabnya.
Aku membiarkan dia mengikutiku. Member lainnya sudah menungguku di dalam mobil. Barang-barang sudah diangkut dengan mobil truk satu lagi. Hari ini juga kami pindah ke rumah Jessica.
"Barangmu sudah kami masukkan, kita tinggal berangkat saja" Jessica menjelaskan meski fokus matanya tidak kearahku. Yang lain juga menatap dia binggung.
"Tapi siapa cowok tampan yang kau bawa pulang ini?" Hyo Bin bertanya.
"Aku tidak ken-"
"Halo aku Hyuk Jae. Park Hyuk Jae" Dia langsung memotong ucapanku.
"Aku tidak ta-"
"Aku baru saja diterima Aliena menjadi traine di agensi kalian. Mohon bantuannya."
Tidak hanya mereka, aku juga tercengo-cengo mendengarnya.
"Sejak kapan aku bilang menerimamu?" Dia ini tidak bisa ditebak isi kepalanya.
"Ah kurang setengah jam yang lalu kau bilang aku diterima. Sekarang kau menghancurkan seseorang yang cuma memiliki mimpi ini"
Astaga apa sekarang dia berakting tersakiti? Benar-benar gila!
"Aliena kau jangan begitu" Hyeri keluar dari mobil.
"Kami masih baru mendirikan agensi. Kau pasti sudah tahu bagaimanakan? Kami akan lebih dulu mendebutkan diri kami." Dia mengangguk semangat. Dari mana datang semangatnya dia itu?
"Tidak masalah, aku yakin bisa terbang tinggi di bawah bantuan kalian."
"Ehm tapi ngomong-ngomong kau melamar untuk posisi apa?" Hyeri bertanya. Yang lainnnya juga baru sadar belum menanyakan itu.
"Model." Dia menunjukkan pose yang tadi kuambilkan pada mereka. Mereka terlihat mengangguk puas
"Tapi aku juga bisa bernyanyi dengan baik." Aku mengangkat satu alisku, dari tadi dia tidak menunjukkannya padaku.
"Oh ya? tunjukkan" Kalau Jessica yang memberi perintah, aku tidak bisa membantah. Hyeri masuk ke dalam mobil lagi.
Dia memperbaiki posisi berdirinya cukup santai untuk bernyanyi. Dia bernyanyi tidak diiringi musik.
"Aku akan mulai" kami mengangguk serentak.
__ADS_1
Hari ketika kau berjalan sendiri..