
Ponselku bergetar. Aku merogoh sakuku. notifikasi sebuah pesan masuk dari Hyuk Jae. Tak biasanya anak ini menghubungiku. Ada apa? Aku menggulir notifikasi itu keatas, menampilkan pesan Hyuk Jae.
Cepat pulang! Kau dimana?
Senyumku terulas membaca pesannya. Geli. Sejak kapan dia berubah menjadi ibu-ibu?
Aku lagi di Mars, jangan tunggu aku. Balasku cepat. Aku menekan tombol kirim, dua detik lagi pesan itu sampai keponselnya tanpa kesalahan. Aku memasukkan kembali ponselku ke saku, kembali mendengar Hyuk Jae. Eh kenapa jadi Hyuk Jae? Ah menganggu saja. Maksudku mendengar Ter.
"Temanmu mencari?"
Aku mengangguk.
"Seberapa dekat kalian?"
Aku binggung. Pertanyaan Ter mendadak sekali.
"Tidak terlalu lama, baru kenal beberapa minggu. Dia trainee agensi kami." tuturku. Tak ada respon dari Ter. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan pria yang wajahnya menua karena cinta ini.
"Rasanya de ja vu Al. Aku ingin melarangmu memberitahu identitasmu, tapi itu juga sama saja dengan menyuruhmu tak mempercayai siapapun. "
Aku terdiam. Inilah yang masalah batin yang kubingungkan saat ini. Aku butuh teman bercerita. Mungkin Ter bisa mendengarkanku dengan baik.
"Kau benar Ter, rasanya sakit ketika melihat sahabatku yang sudah bersama-sama denganku tiba mau membagi rasa sakitnya denganku." Pikiranku kembali mengenang kejadian tadi pagi. Entah kebetulan atau tidak, Ter datang disaat yang tepat.
"Aku merasa tak berguna, tak cocok dengan mereka. Aku melihatnya menangis, jangankan mengusap, melangkah lebih dekat aku tak bisa. Serasa dinding kokoh berdiri diantara kami. Tak hancur meskipun bertahun-tahun lamanya." Bibirku kelu. Aku terisak pelan. Ada sesuatu dalam hatiku yang sakit. Sesuatu yang terasa sejak aku dikirim kesini. Di Pansi aku tidak tahu perasaan ini, orang-orang pansipun sama.
"Kami memang menangis, tertawa dan hancur bersama. Tapi itu hanya tentang impian kami. Hanya seputar debut, debut dan debut.
"Aku yakin sekali kami tak pernah berbagi atau saling mengusik kehidupan pribadi. Kami memang saling menguatkan, tapi sekali lagi itu hanya tentang impian kami." Air mataku turun semakin deras. Semua yang kusimpan sendiri ku keluarkan tanpa tersisa. Semakin aku mengingatnya, semakin nyata rasa sedihnya.
__ADS_1
"Aku egois, tak tahan menunggu mereka siap menceritakan. Tapi aku bahkan kalut sekali bersama rahasiaku. Ah ini benar-benar membingungkan!" Aku menarik rambutku frustasi.
Ter tak menanggapi, dia hanya diam menatapku sembari merapikan pakaiannya yang berantakan dibuat angin. Langit yang tadi cerah biru dengan sinar matahari pagi, berubah cepat menjadi kelabu. Seolah tahu warna perasaanku saat ini. Kelompok burung Camar masih berterbangan, tak peduli soal hati yang penting hari ini mereka bisa makan.
"Kenyataannya, kami hanya rekan kerja biasa." Kakiku gemetar hebat. Berulang kali punggung tanganku mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti.
Memang benar, kami tidak pernah membicarakan masalah pribadi bersama, aku kira setelah kejadian disband, kami akan semakin dekat. Ternyata tidak. Justru aku semakin menyadari hubungan kami hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih.
Tangan Ter tiba-tiba terjulur diatas kepalaku. Perasaanku mulai tenang, perlahan aku mulai bisa mengatur napasku. Hangat. Tentu saja dengan sinar penenang yang dia punya. Aku juga punya, hanya saja tidak bisa mengalirkannya ke diri sendiri. Sinar ini memang tercipta untuk orang lain.
Setelah aku cukup tenang, dia menarik tangannya kembali. Dinginnya angin kencang kembali terasa menembus sampai ketulang.
"Kau mau mendengar nasihat dari orang tua ini? Ah tentu saja tidak. Bagaimana pula orang yang membunuh istrinya memberikan nasihat" dia tersenyum pahit. Aku buru-buru menggeleng kuat- bilang aku butuh nasihatnya.
Masa lalu punya lembarnya sendiri, tidak bisa dihapus atau ditulis kembali. Kita punya pilihan untuk terus membaca dan tenggelam disana, atau membalikkan ke halaman selanjutnya. Meski kosong tak berwarna. Ter juga punya kesempatan untuk menulis di halaman selanjutnya.
Dan aku tidak ingin Ter ikut merasakan itu juga. Tidak jika bersamaku.
"Aku tidak tahu soal persahabatan. Persahabatan yang ku tahu itu, istriku dan si penghianat itu. Dan kau tahu itu kenangan buruk. Tapi ku rasa tak masalah jika tanganku perlahan-lahan terulur, jangan digali cukup kau tahu jenis tanahnya seperti apa. Perlahan saja, beri tahu dia kalau ternyata ada alat untuk menggali tanah itu, mencari kebahagiaan yang kau inginkan"
Aku mencerna ucapannya dengan seksama, takut sekali jika ada satu katapun yang tertinggal.
"Perihal identitas kita..." kalimatnya menggantung. Membuatku penasaran. Dia diam, menyusun kalimat dengan baik agar tidak membuatku lebih bingung lagi.
"Perihal identitas kita?" aku bertanya mengulang ucapannya. Oh ayolah, aku tidak bisa menunggunya merangkai kata lebih lama lagi. Satu menit, dua menit, tiga menit dia tetap diam.
Aku gelisah memandangi jam di ponselku. Balasan pesan Hyuk Jae sudah lebih dari lima pesan. Sekarangkan tidak jadwalku memasak, tak masalah kalau aku tidak ada dirumah sepagi ini.
Aku mulai grasak-grusuk. Satu karena tak sabar-penasaran. Yang kedua lihatlah, ponselku bergetar lagi, Hyuk Jae memutuskan menghubungiku. Aku mengabaikan teleponnya. Tidak ada yang penting. Jika penting, Jessica juga akan sibuk menghubungiku.
__ADS_1
"Lebih baik rahasiakan saja" Singkat, padat, tak bisa disanggah. Alis matannya hampir saling tertaut, tegas mengatakan. Dari sorot matanya, dia sudah bulat memutuskan. Tapi aku butuh alasan untuk itu.
"Meskipun kalian sangat dekat, tidak ada jaminan mereka akan penasaran atau tidak. Jika tidak, itu akan bagus." Mulutku siap memotong perkataanya.
"Aku tahu mereka tidak seperti itu, tapi kita ambil dari sisi manusia mereka. Ketika awalnya kau beritahu, mungkin mereka akan menertawaimu, menganggapmu lelucon. Tapi semakin hari, mereka akan terus memikirkannya, penasaran bagaimana itu bisa terjadi. Rasa penasaran bisa sangat menguntungkan atau merugikan Al."
"Mereka bisa sampai mendarat di bulan, menghitung jarak matahari ke bumi, semuanya itu karena berawal dari rasa tidak percaya yang membawa mereka ke penasaran. Tak masalah, pengetahuan itu memang bagus. Tapi, kita..." Ter terdiam. Aku menelan ludah, tak sabar.
"Kita bukan sesuatu yang bisa mereka cobai, pelajari. Struktur tubuh kita masih sebuah misteri, bukannya kau tahu itu? Soal kekuatan menghukum-dengan-tatapan?" Aku mengangguk. Seung Han pernah dapat hadiah gratis itu dari aku saat awal kami bertemu.
"Seorang anggota boy band pernah mengalaminya. Aku penasaran siapa yang menghukumnya. Ternyata beberapa hari lagi keluar berita, grup kau dan dia ternyata satu agensi."
"Dalam teknik tinggi, kau bisa melihat sejenismu hanya dengan menatapnya. Sinar tubuhmu terang sekali, warna-warni warnanya. Menari dan menyanyi diatas panggung sepertinya sudah menjadi kebahagiaanmu, baguslah." Dia tersenyum lebar menatapku. Aku merasa senang ada seseorang yang menatapku berharga.
" Jika hanya menatap saja sudah mengerikan, bisa saja dari tatapan itu keluar energi lain-yang lebih berbahaya. Kita tidak pernah tahu" Dia benar. Struktur kami masih misterius.
"Jadi lebih baik kau melupakan asal-usulmu. Dekati mereka sebagai Aliena. Bukannya itu namamu di dunia ini?" Aku mengangguk sekali lagi.
"Lupakan soal kau berasal dari pansi. Lupakan kau punya kekuatan, lupakan kau bisa berteleportasi, mendengar suara atau apalah itu. Lupakan saja. Hiduplah mulai hari ini sebagai Aliena. Aliena seorang anggota girl band."
"Kau tahu?" Aku buru- buru menggeleng. Dia tertawa, tangannya mengacak-acak rambutku.
"Sebenarnya tidak ada satupun anggota Pansi yang bisa menari dan bernanyi. Kita tidak diciptakan untuk itu. Hanya kau seorang. Kau berhasil bukan karena kau memang diciptakan baik dalam segala hal. Tapi kau berhasil menemukan kebahagiaan disana, tak peduli mati-matian melatihnya hingga kau bisa sehebat itu. Itulah yang membuat aku mau repot-repot membimbingmu di bumi." Dia memberikan senyum penghargaan padaku.
Ucapannya membuat aku tenang dan senang. Hei ternyata ucapan juga bisa menenangkan seseorang. Aku tidak butuh sebuah kekuatan untuk menenangkan.
"Sewaktu kau dituduh, bisa saja kau menggunakan kekuatanmu, mengacaukan semuanya. Menghilangkan video itu atau bahkan lebih parah lagi membunuh si penyebar. Tapi, lihat, kau tidak melakukannya bukan? Malah kau dengan lapang dada menerima semuanya, mengulang semua dari awal. Padahal kesuksesan kalian sudah hampir di depan mata betulkan?" Dia benar sekali lagi. Aku menatap jauh kelaut. Dari balik itu matahari mulai meninggi. Sinarnya menyinari wajahku.
"Hiduplah sebagai Aliena sekarang Al. Pergilah dengan hal-hal yang membuatmu tersenyum bahagia"
__ADS_1