Precious Idol

Precious Idol
Syuting


__ADS_3

APA! Kami terkejut dengan keputusan Direktur Kim yang membuatkan program variety show untuk lebih mengenalkan kami kepada publik. Acara ini diselenggarakan oleh agensi kami sendiri yang menyelenggarakan. Direktur Kim bilang, acara ini digunakan agar banyak yang lebih mengenal kami dari kesehari-harian kami.


Dan bukan itu saja, kami akan dipasangkan dengan EVE. Boyband EVE yang notabene sudah terkenal, akan membantu mendongkrakkan nama kami.


Tentu saja Jessica tidak keberatan dengan program ini. Dia juga berbakat berakting. Tapi untuk yang lain, ini akan banyak menyita waktu. Aku lebih suka kami fokus menciptakan lagu dan pemotretan. Ingin membantah tapi ku tahu diri.


"Apa kita akan melihat wajah Seung Han selama satu minggu? Astaga aku bisa mati tegang dibuatnya" Hyeri mengomel-omel sepanjang perjalanan pulang. Bahkan Ye Na juga ikut mengomel.


"Kadang kita memang sulit menghadapi kenyataan yang ada dan ingin melarikan diri, tapi ingat kita miskin" kata Hyo Bin sambil tertawa. Aku kira tadi dia mau menasihati kami.


"Otakmu kau letak dimana tadi?"


"Sudah di isi tadi?" Hyeri dan Jessica bergantian meledek Hyo Bin. Hyo Bin hanya melambai, membalas santai.


"Aku bisa menyium bau-bau bahagia disini" Jessica mengendus-endus. Akupun meniru tingkahnya mengendus ke arah Hyeri yang tidak peka. Seakan tak merasa disindir, dia juga ikut mengendus-endus.


"Bau bahagia itu seperti apa?" tanyanya polos. Kami langsung meninggalkan dia yang kebinggungan sendiri.


"Hei... Tunggu! Mana bisa bau bahagia? Oi.. Aku belum bisa menyium baunya" dia teriak-teriak tanpa meninggalkan tempat itu. Kami geleng-geleng, punya teman pas pembagian otak dia malah ketiduran ya jadi begini, IQnya rendah sekali.


🎶🎶


Ye Na dengan teganya membangunkan aku di pagi buta. Aku ingin menangis, aku tidak pernah dapat jatah tidur dengan baik. Karena dia takut pencuri saja, makanya aku bangun.

__ADS_1


Dia berbisik, bilang kalau dia mendengar sesuatu dari arah dapur. Aku sudah menyuruhnya tidur saja dan memakai selimut kalau takut, tapi dia tetap bersikeras ingin mengecek.


Dia punya trauma pada pencuri, waktu kecil rumahnya di bongkar maling dan membuat kedua orang tuanya kehilangan nyawa di depan matanya. Dia takut kami akan mengalami hal yang sama.


Kami berdua pun pergi memeriksanya. Seandainya ada maling yang masuk, aku akan menggantung sendiri mereka di tower karena berani menganggu tidurku.


Ye Na memegang lenganku erat. Dia berusaha menahan air matanya. Sepertinya dia teringat kejadian memilukan itu. Aku mengusap lengannya berkata tidak apa-apa ada aku disini. Kami memiliki empat kamar. Jessica, Hyobin, Hyeri dan satu kamar untuk aku dan Ye Na.


Ye Na tidak suka sendirian. Ye Na pengidap Anxiety disorder. Anxiety disorder merupakan gejala cemas yang berlebihan.Pertama kali melihat gejala-gejala itu muncul, aku memutuskan untuk menemaninya selalu.


Kadang, mereka yang memiliki gangguan depresi hanya membutuhkan orang disekitarnya untuk menggenggam tangannya.


Suara-suara itu berasal dari ruang dapur. Diam-diam kami berdua menunduk dan berusaha tidak menimbulkan suara. Aku meraih saklar dan menghidupkan lampu. Sialnya tidur aku terganggu hanya demi melihat Hyo Bin menonton dan makan red velvet di kolong meja.


Hyo Bin masih belum menyadari kedatangan kami. Dengan iseng, aku meniup-niup lehernya. Sementara Ye Na mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai. Kami membuat suara-suara horor.


Merasa ada yang mengusiknya, dia memberhentikan filmnya. Aku buru-buru bersembunyi di dekat kulkas.


"Woi para hantu, aku tidak peduli dengan kalian. Sudah duduk disini saja kita menonton bersama. Dramanya seru tau! Ah kenapa ada cewek sebodoh itu? Jelas- jelas ada orang dekat yang menyanyanginya, kenapa cari yang jauh?" Hyo Bin menghela napas, tampaknya dia terlalu terbawa suasana.


"Aku jadi merindukan masa sekolahku. Tapi, sayangnya tidak ada cowok seperti dia disekolahku dulu." Aku mati-matian menahan tawa mendengarnya. Alih-alih takut, dia malah mengajak hantu bicara, dasar punya kawan gak ada yang normal.


Jam berdentang tiga kali, ini masih tiga pagi. Aku mengode Ye Na untuk kembali ke kamar. Kami masih punya waktu dua jam lagi sebelum kembali berkativitas. Begitu badanku menyentuh kasur, aku langsung berada di alam tidur. Peduli amat dengan Ye Na yang masih sibuk ikut-ikutan mengenang masa sekolahnya.

__ADS_1


.....


Mobil kami melaju kencang menuju rumah yang sudah ditentukan Direktur sebagai lokasi syuting kami. Kami semua bangun kesiangan. Sudah lebih dua puluh kali manajer menelepon kami ke ponsel masing-masing. Bahkan, saking buru-burunya kami histeris. Mengambil sepatu saja harus pakai acara histeris.


Bangunannya sudah mulai tampak dari sini. Ternyata member EVE sudah sampai disana dua jam yang lalu. Kami memilih menunduk saat diomeli Manajer Hwang. Manajer saja sudah cerewet begini, apalagi nanti para staff.


Benar saja, baru menginjakkan kaki, kami semua sudah diomeli dan membuat telingaku sakit. Padahal, mereka sedang bersantai menunggu kedatangan kami.


Kami langsung mengambil perintah dan arahan yang sudah dituliskan. Disini tertulis mereka akan merekam detik-detik kami mendekati lokasi dan memberitahu bagaimana perasaan kami. Ini berarti kami harus kembali lagi ke jalan.


EVE telah melangsungkan syuting mereka langsung dengan baik saat menuju kesini, dan kami tidak mungkin merekam saat kami menuju kesini dengan Manajer yang kesetanan membawa kami.


"Halo, hari ini kami akan bertemu dengan EVE. Astaga, meskipun satu agensi aku tetap saja gugup bertemu mereka" Jessica mengangkat kameranya dan menanyai perasaan kami satu per satu.


Kami mengatakan kami juga sangat gugup. Aku gugup karena tidak tahu harus mengatakan apa saat bertemu dengan Seung Han nanti. Mengingat pertemuan kami terakhir kali sempat tidak menyenangkan.


Setelah menyelesaikan adegan pertama, kami harus berpura-pura senang melihat member EVE dan begitu juga mereka. Raut wajah Hyo Bin terlihat kesal melihat akting Seung Han yang ramah. Berbeda seratus delapan puluh derajat saat melihat Ji Hoon.


Bagaimana pula kami harus senang, terasa baru kemarin saja kami dongkol melihat sikapnya. Hanya demi program dan menghormati empat senior, kami mau beramah tamah dengannya.


Sebenarnya aku sudah lama tidak marah lagi dengannya, tapi sekarang setiap melihat wajahnya aku seperti melihat foto itu berjalan. Kami berusaha berakting dengan baik dan sealami mungkin.


Adegan selanjutnya, kami akan dibagi tugas memasak. Kami dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari tiga orang. Wajah member TheA harap-harap cemas, malas sekali jika harus sekelompok dengan Seung Han.

__ADS_1


Anggota tidak ditentukan seperti yang kami pikirkan. Mereka mengadakan permainan tahan tawa, dimana siapa yang menang dapat berhak menentukan kelompoknya dan kelompok lain. Dari semua permainan inilah permainan yang paling kami benci.


__ADS_2