Precious Idol

Precious Idol
Orang Spesial


__ADS_3

Sejak sepuluh menit tadi, ponselku terus saja berdering panggilan masuk. Aku sudah terlambat sepuluh menit untuk latihan ke studio. Tadi pagi aku mendapat pesan dari kafe langgananku kalau mereka punya minuman coklat variasi baru. Jadilah hari ini aku ikutan mengantri dengan atribut menyamar yang lengkap.


Aku terburu-buru dan tidak melihat ke sekelilingku. Tiba-tiba saja dari arah kiri, ada seseorang yang juga berlari. Aku tidak bisa berhenti tiba-tiba. Dadanya menabrak aku dengan sangat keras.


Badanku terhuyung ke belakang, tapi aku tetap menahan posisi tanganku agar minuman ini tidak jatuh. Bisa stress aku melihat minuman yang kuperjuangkan jatuh merana dilantai.


Setelah menstabilkan posisiku, ternyata Seung Han yang menabrakku. Dokumen dan foto-foto yang dibawanya berserakan di lantai. Melihat itu, aku refleks membantunya menyusun dokumen itu. Sepertinya dia tidak menyadari aku.


Setelah merapikan dokumennya, aku memberikan dokumennya, dia langsung mengambil dan tanpa menoleh sedikipun lalu pergi.


Aneh sekali, apa salahnya menoleh sebentar. Setidaknya penasaran siapa yang ditabraknya. Untuk apa foto anak kecil itu? Apa itu adiknya atau saudaranya? Mirip sekali dengannya. Ah sudahlah untuk apa aku peduli urusan orang lain. Lebih baik aku lari lagi dari pada kena omel leader.


Aku kira, siang ini aku mendapat omelan. Tapi pemandangan di depanku ini sungguh luar biasa. Dengan hebohnya mereka berjoget dengan lagu yang ada di playlistku. Aku mencari keberadaan ponsel yang berani mengambil playlist lagu dari ponsel tanpa sepengetahuanku. Itu ponsel Hyeri.


Aku langsung mematikan dan mengecek ponselnya, benar saja semua laguku ada di ponselnya.Mereka menoleh dan berhenti menari. Hyeri cengegesan melihat kedatanganku.


"Aku penasaran apa lagu yang kau sukai , jadi aku mengirim saja semuanya" dia menggaruk tengkuknya menjelaskan dengan wajah tanpa dosanya. Ingin rasanya dia ku tinju tapi apa daya, dia jauh lebih kuat. Bisa jadi remahan badanku ini.


"Tapi aku suka lagu-lagumu" kata Ye Na sambil mengambil minumannya.


"Iya benar, pantas saja kau mahir sekali menari " Hyo Bin menyetujui pendapat Ye Na.


"Ayolah, kau sudah terlambat dua puluh menit untung kau tidak ku omeli sekarang. Sudah ayo mulai latihan lagi" Jessica kembali menghidupkan lagunya dan menari lagi.


Aku menghela nafas, mereka separuhnya benar. Aku memang suka menari menggunakan playlist lagu tapi tidak genre ini juga.


Lihat saja, mereka asik sekali menggoyang-goyangkan pinggul dan menari tanpa arah. Dibanding berlatih, mereka lebih mirip mantan yang frustasi menari di pernikahan mantannya yang ditinggalkannya menikah dengan mantannya sewaktu mantan menjadi mantan.


Aku menunggu mereka sampai lelah sendiri sambil menikmati minuman yang ku beli tadi. Lelah menungguku terbayar sudah dengan rasa luar biasa coklat bercampur sesuatu yang tidak aku tahu.


Aku sedang malas menghabiskan energi mengikuti mereka, daripada bosan menunggu, lebih baik aku ke ruang musik. Sudah lama aku tidak bermain gitar.

__ADS_1


Ruang musik berada dilantai empat. Satu lantai dengan ruang berlatih EVE. Tidak ada yang menyadari kepergianku, mereka sudah di dunia lain.


Beruntung saat ini ruangan itu kosong. Gitar-gitar berjejer rapi, begitu juga musik yang lain. Dindingnya yang dicat kombinasi warna biru dan hijau ini menyegarkan mata setelah lelah melihat not balok.


Aku mengambil gitar yang terletak di pojok dekat tempat biola disusun. Gitar putih ini telah ku beri stiker bergambar panda. Gitar ini menjadi favoritku semenjak menjadi trainee disini.


Aku memetik gitar memulai intro lagu When I Was Your Man milik Bruno Mars dengan versi perempuan yang telah dikover dengan judul When You Were My Man.


Lagu itu selalu menjadi favoritku semenjak dirilis. Aku pernah membaca, jika ingin mengetahui perasaan seseorang, lihatlah dari lagu yang didengarnya selama bertahun-tahun.


Lagu itu mengisahkan penyesalan seorang pria pada mantan kekasihnya yang masih sangat dicintainya. Aku merasa lagu ini diciptakan untukku.


Saat di bagian reff, aku mendengar dentingan piano yang mengiringiku juga. Aku tidak tahu, aku terlalu menghayati lagu ini hingga tak mendengar seseorang yang masuk.


Aku berhenti bernyayi dan minta maaf telah menggangu jadwalnya.


"Tidak apa-apa, ternyata suaramu jauh lebih lembut ya" dia tersenyum. Aku mengenalnya, dia Jei penyanyi solo dengan segudang bakat. Dipuji dengan orang sehebat dia, seperti itu membuatku salah tingkah.


"Kau ingin bernyanyi apa lagi?" tanyanya. Tatapannya teduh sekali.


"Aku tidak tahu" otakku tidak bekerja. Dia mau bernyanyi bersamaku? Yang benar saja, suara emasnya bisa membuatku meleleh nantinya.


"Bagaimana kalau lagu Bruno Mars yang It Will Rain?"


"Astaga, apa kau juga suka lagu itu? Lagunya sedih sekali tapi aku sangat suka" aku terkejut kalau dia tahu lagu sesedih itu.


Jangan terkejut melihatku tahu lagu itu, karena aku merasa sepertinya lagu itu juga diciptakan untukku. Liriknya bisa menusuk sampai ke dalam hati.


"Tentu saja, aku menyukai semua lagunya. Liriknya seperti menohokku."


"Benarkah? aku juga berpikiran sama. Ada tiga lagu yang kurasa itu untukku. Lebih tepatnya, cocok kunyanyikan." Aku benar-benar senang bertemu orang yang sama- sama menyukai kesukaanku.

__ADS_1


"Apa dia orang spesial?" Jei bertanya sambil memetik intro lagu itu.


"Bagaimana kau tahu?"


"Kau lupa, aku juga merasa lagu itu cocok kunyanyikan."


"Aku bisa menyampaikan apa yang kurasakan lewat lagu itu untuk orang spesial. Makanya aku menebak, kau menyanyikkan lagu itu untuk orang spesial" Aku bisa melihat kesedihan dan kerinduan dimatanya. Aku bisa merasakan sinar hijau keluar begitu saja. Tapi itu percuma, sinar itu tidak bisa mengobati perasaannya.


"Iya benar" aku mengangguk. Aku ingin menyanyikan lagu itu untuk orang spesial. Yang pernah singgah dihidupku. Aku ingin dia tahu, aku ingin meminta maaf.


"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Aku Jei" dia mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman.


"Aku Aliena TheA. Senang bertemu denganmu" aku membalas uluran tanganya. Saat masih saling tersenyum, tiba-tiba pintu terbuka. Aku buru-buru melepaskan tanganku.


"Maaf, aku menganggu kalian" ternyata Seung Han toh yang masuk. Aku sudah jantungan kalau yang masuk tadi orang lain atau yanv lebih parah sasaeng fans lagi.


Dia langsung menutup pintu, aku meletakkan gitar dan permisi pada Jei. Aku juga harus latihan menari bisa mampus kalau aku sampai kelupaan.


Percayalah, meskipun Hyeri kuat, kalau Jessica sudah marah maka tidak ada yang berani menatapnya. Sekalinya menatap, kami hanya seperti bisa melihat kumpulan soal-soal matematika diwajahnya. Rumit.


Aku masih bisa melihat punggung Seung Han dan mengejarnya.


"Seung Han-ssi tunggu" dia masih saja terus berjalan. Aku mempercepat langkahku dan berhasil menyusulnya.


"Tadi itu kami baru saja berkenalan. Tidak terjadi sesuatu diantara kami". Dia berhenti dan mengangkat alisnya.


"Tidak ada urusannya denganku" katanya dengan dingin. Benar juga sih, untuk apa aku menjelaskannya ah merepotkan saja. Saat ingin berbelok menuju ruangan, dia menahan tanganku.


"Jangan coba-coba berpikir tentang foto yang kau lihat tadi. Kau akan menyesal" dia menghempaskan tanganku lanjut berjalan.


Kalau tidak diingatkannya, aku bahkan sudah lupa dengan foto dan dokumen yang dibawanya. Tapi, apa foto itu berbahaya? Aku jadi penasaran dibuatnya.

__ADS_1


Ponselku bergetar disaku. Nama Jessica tertera di layar ponselku. Panggilan masuknya sudah lebih dari dua puluh lima kali. Mampus sudah berapa jam aku pergi? Alamat tidur diluar aku malam ini.


__ADS_2