
Malam sudah larut, para staff sudah pergi dari tadi meninggalkan kami. Kami tidur disini dengan dua kamar. Setiap ruang kamar memiliki jumlah tempat tidur sesuai jumlah member.
Aku belum mengantuk, padahal tadi siang malah sempat ketiduran. Yang lainnya sudah bergulat di alam mimpi. Aku keluar diam-diam. Bosan sekali ada di kamar. Setidaknya, aku masih menyimpan bungkus minuman coklat instan.
Aku membuat minuman dan bersantai di ruang santai yang punya sofa empuk ini. Pikiranku bercabang-cabang. Karena ucapan Pak Tua itu, otakku sepertinya tidak mau berhenti berpikir.
Tapi itu lebih baik daripada melamun. Apalagi aku baru ditempat ini. Jangan-jangan, tempat ini berhantu. Bisa kacau, Hyo Bin akan mengajak mereka maraton nonton film. Sungguh kasihan jika mereka kehilangan image seramnya. Aku jadi tertawa sendiri membayangkannya.
"Sama siapa kau tertawa?" Astaga, dia mengejutkanku, aku terjungkal kebelakang karenanya. Bukannya membantu, dia malah tertawa kecil.
"Seung Han sialan! Punggungku sakit sekali kau buat" aku mengaduh sambil memijat-mijat punggungku. Aku berdiri pelan-pelan dan duduk kembali.
"Mana, coba liat!" dia menarik tanganku, mencoba melihat punggungku. Aku mencubit lengannya, sudah sakit main tarik-tarik saja. Dia duduk kembali mencari posisi yang tepat untuk makan ramen yang sudah dimasaknya.
"Kau belum tidur?"Tumben dia bertanya, biasanya langsung sinis. Apa dia punya kepribadian ganda?
"Kau berkepribadian ganda?" Aku mengangkay sebelah alisku. Dia tersedak mendengar pertanyaanku. Setelah minum, dia tertawa lebar. Apa yang kubilang, dia memiliki kepribadian ganda.
"Sepertinya kau penasaran denganku" dia beranjak, duduk disebelahku. Dia memajukan wajahnya, membuatku memundurkan badanku sampai paling tepi tangan sofa. Sekarang aku terpojok, tangannya berada di lengan dan sandaran kursi, mengapit aku.
"Kalau kau mau tau tentangku, kau harus menjadi kekasihku!" kalimatnya membuatku terkejut.
"Tidak mau, aku tidak peduli denganmu!" mataku melotot, berusaha menjauhkan dirinya dariku.Dia menarik tanganku yang mendorong badannya.
"Kau masih ingat perkataanmu tadi siang? Kau bisa mengandalkanku, bukannya itu yang kau bilang?" katanya sambil tersenyum. Wajahnya sekarang hanya tersisa beberapa inci.
Aku bisa merasakan udara hangat menerpa wajahku. Ini semua karena perkataan yang keluar sendiri dari mulutku. Ya tapi bukan itu maksudku.
Tangan yang tadi memegang sandaran kursi, sudah berpindah ke leherku. Dia menarik daguku, membuatku menatapnya. Tatapannya dalam mengunciku. Aku merasakan debaran keras jantung. Sialnya lagi, itu jantungku sendiri. Gawat, ini bisa mengirim sinyal ke Pak Tua itu. Astaga kurang aja sekali jantungku. Aku menutup mataku tidak mau melihatnya.
Nafasnya semakim terasa. Dia mencium bibirku lembut. Aku menegang, mataku terbuka tak tahu harus apa. Dia sudah merebut ciuman pertamaku, yang sudah kujaga untuk orang yang paling kucintai selama ini. Aku tidak terima.
"Sekarang, kau sudah milikku dan kau tidak akan kulepas" suaranya pelan dan terdengar lembut. Andai saja yang mengatakan itu dia, seorang yang kucintai, aku akan sangat bahagia. Tapi kenyataannya, kepalaku mendadak sakit, semuanya gelap. Aku tidak tahu selanjutnya.
__ADS_1
...
Seseorang mengguncang-guncang tubuhku. Aku masih mengantuk, rasanya baru tadi aku tidur.
"Kalian berdua sedang apa disini?"
"Apanya?" aku mengerjap-ngejab mengumpulkan kesadaraan.
"Kalian berdua kenapa tidur disofa?"
"APA!" otakku memutar kejadian tadi malam. Astaga, apa aku pingsan semalam? Bajuku masih utuh dan ada selimut. Aku melihat kearahnya yang juga baru bangun.
"Kalian berdua kenapa tidur disofa?" itu suara Jessica, mereka semua sudah bangun dan sudah melihat pemandangan kami berdua tertidur disofa.
"Kemarin kami bercerita, hanya saja dia sudah tertidur duluan. Aku mau membawanya masuk, tapi itu kamar kalian." bohongnya.
Jelas-jelas dia yang membuatku jadi tertidur disini. Dia tersenyum lembut padaku. Aku bergidik melihatnya. Semua yang di ruang santai menatap curiga kami.
"Apa?" tanyaku. Mereka menatap lagi, mengangkat bahu kemudian membiarkan aku.
Aku menunjuk tangan. Sekarang giliran kami yang memasak. Rasanya aku ingin menaruh racun dimakanan Seung Han sekarang.
Aku beranjak mengambil handuk serta baju ganti. Karena hanya ada dua kamar, pintu kamar kami berhadapan.
"Selamat pagi sayang" katanya sambil tersenyum.
"Jijik" aku mempercepat langkah ke kamar mandi. Dia mengikutiku, tepatnya kamar mandi kami bersebelahan.
"Aku mencintaimu"
"Aku membencinmu" balasku sengit sambil membanting pintu. Mudah sekali dia mengumbar-umbar kata cinta. Kalau cinta ya buktikan bukan hanya dibilang. Eh, tadi aku bicara apa? Buktikan? Siapa yang berharap!
Selesai mandi dan memakai pakaian, aku tidak langsung keluar. Setelah kurasa tidak ada lagi suara dari luar, aku baru keluar.
__ADS_1
"Sini aku keringkan rambutmu." jantungku nyaris copot kali kedua dibuatnya. Dia berdiri di depan pintu dengan memegang pengering rambut.
"Kau sudah gila! Kenapa menungguku mandi!" aku benar-benar habis pikir melihat tingkah anehnya. Aku menggeser tubuhnya yang menghalangi jalanku ke samping. Untung saja tidak ada kamera disekitar toilet.
"Sini aku keringkan rambutmu" dia sudah berjalan disampingku.
"Aku bisa sendiri" tidak membiarkanku tenang, dia menarikku masuk kembali ke kamar mandi perempuan dan mengunci kami dua didalam. Kunci ada disakunya, aku tidak bisa kabur. Astaga, kenapa aku diberi cobaan lagi seperti ini. Ingin kusentrum dia sekarang ah!
"Duduk". Aku diam. Memandang kearah lain. Dia menghela napas pelan. Kemudian mengangkatku ke pinggiran wastafel yang terbuat dari keramik.
Otomatis aku mengalungkan tanganku dilehernya, lalu buru-buru melepasnya. Tinggi kami sejajar sekarang. Aku membiarkannya mengeringkan rambutku biar cepat. Aku memperhatikan wajah seriusnya mengeringkan rambutku.
Matanya coklatnya cantik tapi ada kesedihan disana, aku tak bisa melihat pantulan wajahku dimatanya. Hidungnya mancung kecil. Rahangnya, dagunya semuanya bagus. Hanya otaknya yang tak bagus. Dan bibir itu, kesal sekali aku melihatnya.
"Kau boleh menciumnya". Aku langsung memberengut mendengar ucapan narsisnya.
"Aku serius. Aku tercipta untukmu." dia menatapku dalam, ucapannya terdengar tulus.
"Gila" Aku tidak mudah terjatuh pada rayuan murahannya.
"Kau suka cokelat?" dia bertanya sambil terus mengeringkan rambutku. Aku menggeleng.
"Jangan bohong. Aku sering melihatmu tahan mengantri demia minuman cokelat itu"
Kalau dia sering melihatku, apa dia juga pelanggan disitu?
"Kau sering ke kafe itu?" tanyaku. Dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau bukan berati kau menguntit aku? Dasar penguntit!" Aku menarik rambutnya kuat-kuat. Tapi dia hanya tersenyum, membuatkh semakin jengkel.
"Aku tidak menguntit, aku hanya ingin tahu apa yang dilakukan pacarku" Aku semakin kuat lagi menarik rambutnya. Pacar giginya!
Dia meletakkan pengering itu. Dengan kedua tangannya, dia menangkup wajahku dan mendadak kembali mencium bibirku.
__ADS_1
Ini kedua kalinya, kali ini tidak akan kubiarkan. Aku bukan perempuan murahan. Tanganku yang bebas mendorong badannya lalu menampar pipinya dua kali untuk dua ciuman kemarin dan sekarang.
Aku segera turun, mengambil kunci disakunya. Aku kesal sekali, kubanting pintu sekuat tenaga melampiaskannya.