Precious Idol

Precious Idol
Kita Mulai Dari Sini


__ADS_3

Alarm berbunyi dengan keras membuatku terbangun. Alarm itu membuatku kesal aku berteriak menyuruh seseorang untuk mematikannya. Rasanya baru lima menit yang lalu aku tertidur.


"Aliena ya suara teriakan kau lebih kencang daripada alarm itu! aku baru tidur dua menit yang lalu" Hyo Bin terduduk di tempat tidur dengan rambut kusut. Matanya masih terpejam.


Aku beranjak mematikan alarmnya. Ketika hendak berbalik tidur lagi, suara Jessica menggelegar mengalahkan auman singa. Aku dan Hyo Bin terbirit-birit masuk kamar mandi.


"Woi bangun!" Aku mengguyur badan Hyo Bin. Sempat-sempatnya dia tertidur sambil berdiri.


"Kalian terlalu kejam!" katanya mendramatisir.


Entah mengapa, melihat pengering rambut ini aku jadi teringat dengan Seung Han. Apa kabarnya sekarang?


Aku belum mengecek media sosial sampai sekarang. Terkadang publik berbicara pakai otak lupa hatinya.


Aku segera berpakaian menyusul Hyo Bin. Aku jadi tahu, dia hanya lima menit mandi dan lima belas menit selebihnya tidur berdiri.


Makanan sudah tersedia dimeja makan. Meja makan ini terasa besar untuk kami yang hanya enam orang.


Aku mengambil tempat duduk disamping Ye Na. Dia tidak semurung yang kemarin. Kami mengambil makanan kami sendiri dan berdoa bersama.


"Ini kali pertamanya aku berdoa" ucap Hyuk Jae tanpa memandang kami.


"Kau akan berdoa tiap hari. Tenang saja, bagi kelemahanmu itu sama Tuhan. Semuanya terasa baik-baik saja" Hyuk Jae menatap Hyeri cukup lama. Dia mengangguk mantap.


Akhir-akhir ini, aku hampir tidak pernah menggunakan kekuatanku lagi.


Bahkan ketika aku ditinggal, seharusnya aku teleportasi saja. Tapi entah mengapa aku memilih naik bus.


Aku memandangi mereka yang tertawa lepas saling melempar guyonan. Tawa mereka membuatku tak ingin kembali.


Mereka membuatku ingin menjadi manusia. Apakah bisa?


"K**au akan dilupakan"


Dasar Pak Tua sialan, dia selalu mendengar isi hatiku. Kesal sekali, ada begitu banyak malaikat yang juga dihukum dibumi, kenapa dia hanya mengawasi aku?


Eh, tunggu! Ada begitu banyak yang dihukum tapi sedikit sekali yang kembali. Ketika aku masih disana jumlah kembali bisa dihitung dengan jari.


Kemana mereka semua? Apa menjadi manusia? Berarti..


"Kau kenapa?" Ye Na menyikut tanganku. Semua mereka menatapku heran.


"Apa.. kalian bisa mendengarku?" Aku bertanya memandangi mereka satu per satu. Mereka memajukan wajahnya melihatku dengan wajah aneh.


Astaga! Apa mereka bisa mendengarku? Aku menampar pipiku pelan.

__ADS_1


"Ya! Tentu saja kami dengar!" Ye Na mejitak jidatku. Mereka lanjut makan lagi.


"Kalian serius bisa mendengarku?"


"Kau malaikat.. " Aku menegang mendengar perkataan Hyuk Jae.


"Sampai kami tidak bisa mendengarmu ha? Kau membanting sendok begitu keras"


Aku menghela nafas lega. Ternyata karena itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika mereka tahu aku bukan manusia.


Aku harus segera mencari malaikat lainnya.


....


Kami menyusun ruang musik di ruang tamu. Ruangan itu sangat besar. Semua peralatan musik mulai dari DAW, Komputer, kabel, Midi dll ditata seefisien mungkin.


Kami bangga melihat itu tersusun rapi. Aku jadi tidak sabar. Kami pindah keruang sebelah.


Kami sempat berdebat tempat ruang tari. Ruangannya besar dan terletak dibawah. Tiga dari kami memilih ruangan itu diletakkan diatas.


Namun akhirnya sepakat ruangan itu tetap berada dibawah dan dipasang peredam suara. Karena harus menghemat budget, kami terpaksa tidak memasangnya dulu.


Tidak terasa sudah sore. Hyo Bin dan Hyeri segera kedapur untuk memasak. Tak mau beristirahat, Jessica, Ye Na dan Hyuk Jae sudah diruang rekaman.


Merekam segala aktifitas mereka, mulai dari pindahan hingga sekarang. Wajah lelah namun fokus mereka menjadi inspirasiku menulis lagu.


Merasa cukup, aku segera kembali keatas mengubek isi baju kami yang cukup terlihat seperti pria.


Hyuk Jae tidak membawa baju sedikitpun. Kami harus berbagi kaus dengannya. Besok kami akan kepasar membeli beberapa bahan dan pakaian dalam untuknya.


Aku turun ke bawah membawa beberapa pakaian yang menurutku cocok untuk pengambilan fotonya.


"Ganti dulu bajumu, coba ini!" Dia melihat-lihat bajunya. Aku sudah bersiap mendampratnya jika dia menolak, namun dia mengangguk semangat.


"Aku mandi dulu, seperti bayanganku, TheA selalu bertindak tanpa ragu" Dia berlarian kekamarnya membawa baju tadi.


"Aku kurang yakin celana kita akan muat untuknya" Kami berdua mengangguk setuju dengan Jessica.


"Kira-kira baju siapa yang bisa kita pinjam ya?"


"Manajer?" Aku dan Jessica menggeleng kompak menolak usul Ye Na.


"Kenapa? Dia bilang, kalau butuh dia tinggal hubungi" Kami menatap tak percaya pada Ye Na. Segampang itukah dia percaya orang lain?


"Saat aku bertemu dengannya, dia bilang dia meminjam baju temannya" Aku mengambul alih piano yang sempat dimainkan Hyuk Jae. Dia meninggalkan ponselnya yang tak terkunci.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita melihat temannya juga?" tanya Jessica.


"Maksudmu menambah trainee kita? Kau kira dia sama gilanya dengan Hyuk Jae? Kita juga tidak tahu apa dia berbakat" Ye Na sependapat denganku.


"Biasanya kita akan punya satu teman yang memiliki hobi yang sama dengan kita. Apa salahnya mencoba?"


"Baiklah. Kita harus bekerja keras lagi!" Dari tadi ternyata Hyuk Jae merekam permainannya. Aku menyambungkan dan memutarnya dengan speaker.


Suasana ruangan sangat sepi, tidak ada berisik yang menganggu. Kami terdiam ketika denting pertama dibunyikan.


Rasa sakit di lagu ini terlalu dalam. Tidak ada kebencian atau lainnya. Hanya ada rasa sakit. Kami bertiga hanyut didalamnya. Tidak ada yang berbicara sampai rekamannya berhenti.


Aku menyeka air mataku dengan cepat. Jessica dan Ye Na melakukan hal yang sama. Kami tertawa karena saling takut malu karena menangis.


"Lagu yang baru dibuatnya, seperti menggali dalam masa laluku. Ah aku terlalu fokus menulis lirik sampai tidak mendengarnya"


"Liriknya belum ada, tapi musiknya sudah bernyanyi. Lagu ini terlalu sedih"


Mereka berdua saling memberi pendapat.


Aku segera mengirim lagu ini keponselku. Takutnya dia menghapusnya, diakan kurang waras.


"Aku akan mengedit rekaman ini biar lebih bersih" Jessica dan Ye Na mengangguk. Aku segera menghidupkan komputer dan DAW.


Mereka berdua bekerja sama untuk segera mendaftarkan izin pendirian perusahaaan.


Sepuluh menit berkutat masing-masing, Hyuk Jae turun kebawah, selesai memakai bajunya.


"Wah malaikat tampab darimana ini?" Hyo Bin dan Hyeri yang baru selesai berperang di dapur segera bergabung. Hyuk Jae memang sangat tampan.


Baju Hyo Bin itu agak kecil, tapi itu mengekspos otot-otot Hyuk Jae. Celananya menggantung tapi anehnya itu terlihat seperti mewah.


"Kita tidak butuh pinjam celana sepertinya" Ye Na berbicara tanpa mengalihkan matanya dari Hyuk Jae.


"Sudahlah berhenti! Kalian menatapku seperti menelanjangi" Kami kembali seperti semula karena ucapannya itu.


Dia mencoba untuk duduk, tapi tidak bisa. Celananya terlalu ketat. Kami menahan tawa melihatnya.


"Kita makan dan mandi dulu, pemotretan Hyuk Jae bisa dilakukan malam ini ya kan?" Jessica bertanya pada Hyeri. Hyeri setuju begitupula Hyuk Jae. Dia kembali kekamar mengganti celanya dengan boxer punyaku.


Hyeri lebih mahir daripadaku dalam hal fotografi. Jadi kami membagi tugas, Hyeri dan Hyo Bin melakukan pemotretan, aku yang mengeditnya.


Ye Na dan Jessica masibh terus mengurus surat perijinan.


Kami segera berlarian untuk mandi. Baru kali ini aku tidak sabar mandi. Baru lima menit kami sudah bergantian.

__ADS_1


__ADS_2