Precious Idol

Precious Idol
Ye Na


__ADS_3

Wajah putih mulus itu menghela napas berat.


Satu per satu bulir air mata menuruni pipinya. Kelopak matanya sayu, tidak ada sinar sama sekali. Entah sudah berapa jam aku memandangi Ye Na di tengah malam begini.


Beberapa jam sebelumnya..


"Na, berikan nanti laporan keuangan utama kita bulan ini" pintaku pada Ye Na. Dia mengangguk, kembali menatap lembar-lembar kertas didepannya.


Selain memproduksi lagu, kami mulai menjalankan tugas berdasarkan divisi masing-masing. Ruangan ini sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Bersama Jessica, kami berdua memantau tiap laporan per divisi. Kepalaku mulai sakit membaca angka-angka ini.


"Jae laporan dana peralatan yang dibutuhkan jangan lupa! Kalau bisa selesai hari ini" Ye Na kembali mengingatkan Hyuk Jae yang sibuk memperhitungkan apa yang penting.


"Aku binggung kita perlu membeli keyboard synthesizer deepmind dua belas atau neutron saja?" Hyuk Jae bertanya. Dua pilihan itu memang berat. Semuanya punya keunggulan masing-masing yang kami butuhkan.


"Mungkin lebih perlu Neutron? Kita masih bisa bergantian menggunakan pianokan?" usul Hyeri. Dia benar juga sih.


"Menurutku juga lebih perlu itu" Hyo Bin juga menyetujuinya. Hyuk Jae memasukkan Neutro didaftar pengeluaran.


"Neutron itu apa?" Jun Soo bertanya dibalik layar komputer, setelah kami memecahkan fokus kami. Dia selalu bertanya ketika topik sudah selesai dibicarakan. Mungkin dia berusaha mencari tahu sendiri dulu.


"Nanti kau akan tahu sendiri." Bak dijanjikan permen, Jun Soo mengangguk semangat, kembali menatap layar komputer yang menampilkan penampilan musik dan tari grup lain.


Dia bertanggung jawab dalam merekrut traine. Jadi dia perlu mengasah perasaannya untuk vibe yang unik dari setiap kandidat traine. Tak tanggung-tanggung, dia juga mengingat-ingat tarian yang menurutnya sulit dan menarikannya. Biar sekalian latihan, katanya.


Dana yang kami punya tidak banyak, mengelola dana menjadi tugas yang berat saat ini.


Belum memiliki komputer masing-masing, kami masih menulisnya di atas kertas. Ruangan tempat kami bekerja pun distudio. Jadi masih bisa saling menyuruh atau mengingatkan.


Hyeri membantu Hyo Bin melakukan riset pasar online melalui sosial media. Mereka berdua paling berisik dalam bekerja. Kadang serius, kadang bercanda malah kadang saling menghina masing-masing. Aku dan Jessica hanya tertawa mendengar mereka.

__ADS_1


"Hyuk Jae, tambahkan juga pengeluaran skincare kalian" sahut Hyeri tanpa menoleh. Hyuk Jae melihat kearah kami berdua meminta persetujuan.


"Tentu saja, kalian tidak bisa diorbitkan dengan kulit kusam itu kan?" Apalagi kulit Jun Soo, aku rasa sel kulit matinya sudah tebal sekali. Kami perlu membawa mereka berdua ke salon kecantikan sekali seminggu.


"Catat saja keperluan kita, kalau dananya kurang kita bisa usahakan sama-sama"


Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Akhirnya kami selesai berkutat dengan tugas hari ini. Jun Soo masih belum selesai juga menari, aku memperhatikkan tariannya yang semakin membaik. Aku rasa dia memiliki bakat mempelajari sesuatu dengan meniru.


Usai beres-beres, kami langsung pergi kekamar beristirahat. Untuk Jun Soo, aku khusus mematikkan komputer. Kalau tidak dimatikan, dia akan terus berlatih sampai besok hari.


Aku terbangun dari tidurku karena panggilan alam. Dengan malas aku bangun, menyingkirkan pelan-pelan kaki Hyo Bin dari atas perutku dan menghidupkan lampu kamar.


Usai menjawab panggilan alam dari kamar mandi, aku baru sadar kalau Ye Na tidak di dalam kamar. Lampu kamar kumatikan kembali. Tapi aku tidak lanjut tidur, aku melangkahkan kaki mencari keberadaan Ye Na diam-diam. Membuka pintu perlahan-lahan berusaha tidak membangunkan yang lain.


Aku sudah mencarinya kemana-mana. Diruang studio, ruang tari, dapur dan yang lainnya. Hanya tinggal satu tempat yang belum ku masuki, tentu saja kamar Hyuk Jae dan Jun Soo. Untuk apa coba dia kesana?


Meski tak yakin, aku keluar dari rumah. Disebelah kiri halaman rumah Jessica terpampang rapi taman bunga sebesar kamar kami.


Ada satu cara mudah untuk menemukan Ye Na. Tanganku ku letakkan diatas tanah. Suasana sepi, aku mudah berkonsetrasi.


Kehidupan didalam tanah sana terasa sangat jelas. Namun, bukan mereka yang aku cari. Aku menangkap energi berbeda. Tanganku refleks terangkat dari tanah.


Energi itu berasal dari arah belakangku. Penasaran, aku mengikuti mengikuti energi itu, tingkat waspadaku meningkat. Apalagi energi itu masih belum pernah kurasakan.


Semakin ke selatan mengitari rumah, halaman ini semakin gelap. Namun tetap masih ada penerangan meskipun remang.


Benar saja, energi itu berhasil membawa aku menemukan Ye Na. Nyaris saja jantungku copot melihatnya duduk di sisi selatan halaman rumah.


Tidak ada bangku ataupun meja disini. Sisi ini jarang kami kunjungi sama seperti Ye Na, sisi lain Ye Na saat ini bahkan hampir tak pernah ia tunjukkan langsung pada kami.


Ye Na bersandar ke tembok yang berbatasan langsung dengan luar. Aku mendekatkan diri mencari tahu apa yang sedang dilakukannya.

__ADS_1


Langkahku berhenti begitu mendengar Isak tangisnya. Kepalanya menunduk tenggelam di antara lipatan kedua lengan. Nafasnya tersendat-sendat persis seperti sedang menahan tangis.


Aku berjalan jinjit berusaha mendekat lagi. Sepertinya dia menangis setelah melihat layar ponselnya.


Aku tidak tahu apa isinya dari tampilan layarnya, dia sedang membuka aplikasi pesan.


Aku buru-buru bersembunyi dibalik tong sampah dekat tembok ketika wajahnya terangkat, pemilik wajah mulus itu menyeka air matanya, menghela nafasnya berulang kali.


Melihatnya sesedih itu, hatiku merasa sakit. Aku kembali meletakkan telapak tanganku ke tanah. Mencoba merasakan kembali energi itu.


Dan benar saja energi yang berbeda itu berasal darinya. Energi yang tidak pernah kurasakan ini adalah energi kesedihan lainnya.


Aku tidak tahu seberapa dalam itu melihat helaan nafasnya, aku hanya ingin berada di sampingnya, memeluknya. Membiarkan dia menangis dipundakku.


Tanganku mengelus-elus tembok, berterima kasih telah menjadi pundak saat Ye Na belum siap menjadikkan kami pundaknya.


Kelopak matanya sayu, tidak ada sinar sama sekali. Entah sudah berapa jam aku memandangi Ye Na. Langit diatas tidak segelap tadi, perkiraanku sekarang sudah jam tiga pagi.


Dia masih duduk disitu menhela napas berkali-kali, mengusap air matanya berkali-kali. Berkali-kali juga aku menhan diri untuk tidak menghampirinya.


Aku mengikuti posisnya, duduk diatas tanah bersandar di tembok. Perlahan, aku mencoba mengirimkan sinar hijau melalui dinding. Entah itu tidak berhasil atau kesedihannya terlalu dalam, Ye Na tidak menunjukkan perubahan apapun.


Langit diatas kepalaku ini terbentang sangat luas. Banyak yang tak ku mengerti dari langit. Sebanyak aku tidak mengerti mereka.


Apa aku tidak pantas menjadi sahabat mereka? Kenapa aku masih belum bisa menerima kenyataan setiap kami punya rahasia.


Aku begitu egois. Aku ingin mereka membagi kesulitannya denganku. Tidak merahasiakan apapun.


Sementara, aku tidak punya keberanian menceritakan rahasiaku sendiri. Apa sebaiknya kami begini saja? Tenggelam bersama rahasia ini?


Aku buru-buru berteleportasi sebelum Ye Na melihatku. Untung saja aku berpindah ke kamar mandi. Jika ditempat tidur langsung, benturan badanku dengan tempat tidur akan membangunkan mereka.

__ADS_1


"Sejak kapan kau di kamar mandi?"


__ADS_2