Precious Idol

Precious Idol
Berantakan


__ADS_3

"Maafkan kami membuat acara kalian menjadi berantakan. Aku minta maaf telah membuat mereka meninggalkan acara dan membuat masalah. Maafkan saya" aku membungkukkan badan diikuti yang lainnya.


"Kami juga meminta maaf" membungkuk sekali lagi.


Direktur Kim tidak marah pada kami. Dia bisa mengerti perasaan kami. Tetap saja kami diminta maaf karena telah membuat EVE menghabiskan waktunya sia-sia. Kami menyetujuinya.


Tapi ketika Direktur Kim meminta kami minta maaf pada produser, mata kami langsung membolang dan sengaja kami membuat badan kami pura-pura kejang membuat Direktur tertawa.


Sepanjang perjalanan kesini, Jessica dan Ye Na cerewet menyuruh aku untuk tidak berada di dekat Seung Han. Aku mengandeng tangan mereka berkata kalau aku juga tidak akan mau dekat-dekat dia.


"Sebenarnya itu tak apa, aku bisa mengerti perasaan kalian. Tidak mungkin kalian menjalani acara tanpa ada Alien." Kwon Won mengangguk membenarkan perkataan Myung Hee.


"Tetap saja dia mengacaukan dan menghabiskan waktu kita. Syuting sudah berjalan beberapa hari. Kita membatalkan pemotretan yang jauh lebih untung daripada mengikuti acara itu" Seung Han melihatku dengan tatapan dingin. Aku langsung membuang muka.


Jeon Ji Hoon dan Mun Won Ah berusaha untuk menghentikan Seung Han.


"Kenapa? Kita yang rugi disini. Seharusnya kita menolak saja membantu mereka menaikkan nama mereka. Tapi dia.." dia menunjukku dengan jari telunjuknya.


"Tidak tahu terima kasih. Begitu saja marah, bawa perasaan, pakai nangis segala. Melebih-lebihkan".


Apa katanya? semuanya gara-gara dia, beraninya bicara seperti itu. Tidak punya hati! Aku mengambil minuman kaleng yang dipegang Ye Na, menyiram tepat di wajahnya. Benci sekali aku melihatnya, persetanlah soal sopan santun.


Para member EVE shok melihat yang ku lakukan.


"Semua ini karena kau. Tahu kau! Aku benar-benar jijik melihat tampang muka dua kau!" napasku memburu. Ini pertama kalinya aku berteriak marah pada orang lain.


"Kau kelewatan dasar tidak tahu malu. Muak sekali aku melihat tampangmu selama seminggu. Untung saja kami keluar" Hyeri ikut menyiramnya dengan minuman kalengnya.


Tanpa basa-basi lagi kami keluar dengan emosi. Kwon Won sempat menahan tangan Ye Na. Hyo Bin juga menyempatkan diri menginjak kakinya Seung Han.

__ADS_1


Pertemuan kami lagi-lagi dihancurkan oleh si perusak suasana yang punya muka dua itu.


Kami memutuskan untuk pergi ke studio berlatih dan melampiaskan semua emosi dengan menari.


Di dalam mobil Jessica, Ye Na, Hyo Bi Hyeri dan aku sibuk memaki-makinya.


"Kurasa mataku salah atau dia menipu perusahaan? Dia itu memiliki kepribadian ganda." Bibir Ye Na manyun dari tadi.


"Astaga, aku juga kesal sekali. Kemarin dia yang bilang pada Aliena untuk belajar mencintainya tapi, tega sekali dia berbicara sekejam itu."


"Ah, dia sekalinya bicara justru menyakitkan. Dia cuma pengen mainin hati orang saja, dasar buaya!"


"Lebih baik dia mendonorkan mulutnya pada yang membutuhkan"


"Kau dengar ini In, kau jangan mau termakan rayuan gembelnya oke."


"Semoga saja dia tidak melapor pada Direktur Kim, kalau tidak Direktur pasti tahu kita memiliki hubungan buruk dengan EVE meski hanya dia saja." Jessica memijat pelipisnya. Sebagai leader pasti dia merasa serba salah.


"Iya benar, semoga saja. Direktur punya seribu satu cara membuat kita satu acara dengan mereka. Aku sih tidak masalah dengan empat orang itu." Hyeri menambahkan.


"Besok kita semuanya sudah mulai promosi lagu debut. Tadi aku dapat pesan, karena acara batal maka jadwal promosi kalian dipercepat" Manajer yang dari tadi hanya mendengarkan, ikut bicara.


"Kalian ingin mereka tidak melapor, tapi kalian bercerita meski ada aku disini."


"Eh Manajer tidak akan melaporkan?" Hyo Bin memajukan wajahnya mencoba beraegyo.


"Iya- iya dasar anak-anak nakal. Kendalikan emosi kalian, jangan sampai tidak fokus" kami bersorak senang.


"Manajer tenang saja, musik itu panggilan jiwa kami. Mendengar musik kami akan lebih rileks" aku berkata menenangkannya.

__ADS_1


"Astaga mampus." Ye Na menepuk jidatnya teringat sesuatu.


"Jika besok sudah mulai, kita belum ada perawatan astaga. Aku bahkan belum maskeran tiga hari belakangan" kami kelupaan satu hal ini. Meski bukan terlalu penting, tidak mungkin kami tampil dengan wajah kusam.


"Begini saja, kita selesaikan latihan sampai jam lima sore. Setelahnya kita perawatan. Kita lanjut latihan jam delapan setelah makan


malam oke?" Kami menyetujui usul Hyeri.


Sesampainya di halaman, kami berlarian masuk. Sepatu tinggi kami beradu dengan lantai membuat berisik. Dengan cepat kami menghidupkan musik dan pemanasan sebentar. Semuanya serba dipercepat. Kami akan membawa tiga lagu dengan koreografi. Satu lagu kami khususkan dengan koreografi tersulit. Menggabungkan beberapa genre dance dan aerobik.


Baju kami basah keringat, kami tidak ada waktu untuk sekedar minum. Bak orang kesetanan, begitulah latihan kami hari ini. Kami tidak boleh mengecewakan mereka yang rela menghabiskan waktu melihat penampilan kami.


Setelah berlatih dua jam, kami langsung berpindah ke ruang vokal melatih vokal kami. Tanpa ganti baju dan hanya menyemprotkan parfum menghilangkan bau keringat.


Setidaknya berlatih vokal membuat kami lebih santai sedikit. Kami tidak akan bernanyi seperti melakukan rapkan.


Selesai berlatih, pelatih vokal memuji kemampuan kami yang semakin meningkat. Perkataanya menyuntikan semangat dan tenaga baru bagi kami. Meski berlatih hanya dua jam, kami melakukannya dengan bersungguh-sungguh.


Kami langsung berganti pakaian setelah selesai berlatih. Manajer menjemput kami tepat jam lima untuk pergi perawatan. Tidak ada yang memulai percakapan, kami memilih tidur selama perjalanan. Badanku terasa pegal, tapi membayangkan akan bertemu penggemar membuatku semangat lagi.


...


Kami berteriak-teriak heboh saat dipijat. Badan pegal kami berangsur pulih. Tapi, pijatannya membuat sakit. Ini asik, setelah berteriak kami menertawakan satu sama lain karena suara teriakan yang melengking.


Kami berteriak-teriak sambil menaikkan tiap oktafnya. Kalau kata Hyeri, sekali mendayung dua pulau terlewati. Tukang pijat tertawa melihat kami. Dua dari mereka seumuran dengan mereka. Satunya lagi sudah bercerai. Suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Dari mana kami tahu? Tentu saja karena hobi kami bergosip. Kami saling menimpali untuk menghibur mereka.


Tak terasa sudah dua jam kami perawatan. Aku seperti terlahir kembali. Wajah segar, badan ringan pantas saja banyak wanita yang datang untuk perawatan kesini. Mereka memberikan kami diskon, tapi kami menolaknya. Meskipun mereka melakukanya karena menyukai kami, bukan berarti kami bisa memanfaatkan mereka.


Berganti pakaian lagi, kami langsung menuju panggung untuk gladi bersih. Panggung ini besar, aku membayangkan penggemar menonton dan menyoraki kami sambil membawa lightstik dan banner. Kami akan bekerja keras untuk itu.

__ADS_1


__ADS_2