
Para penumpang terhormat, sebentar lagi kita akan sampai ke stasiun terakhir. Saat kereta api berhenti, pastikan barang bawaan anda tidak tertinggal di peron kereta. Terima Kasih telah menggunakan layanan ini.
Pintu kereta terbuka, Hyeri berjalan di depan kami. Rumah teman Hyeri cukup jauh ddariibu kota. Hyo Bin memberikan satu lagi roti isi coklat kepada Jun Soo.
Setelah aku merendahkan diri membujuknya, dia bersedia bergabung. Aku belum pernah ke daerah ini. Udaranya terasa lebih bersih dan dingin meskipun sedang musim semi.
Sambil mengikuti Hyeri, kami menikmati pemandangan disini. Hitung-hitung liburan. Banyak orang lalu lalang berjalan kaki. Satu dua sepertinya mengenali kami.
"Masih jauh?" Jun Soo bertanya, wajahnya sedikit pucat. Untuk orang yang hidup dijalanan, fisik dia masih lemah juga. Pasti berat selama ini.
"Kenapa, kau lapar lagi?" Dia mengangguk menanggapi Hyeri.
"Ya sudah, kita istirahat makan dulu, kalian juga belum makan siangkan?" tawar Jessica. Kami kompak menggeleng. Kami sudah berjanji untuk berhemat mengganti uang yang kami belanjakan tadi.
"Satu kilometer lagi. Tahan dulu, kita makan disana saja" Kami mengikuti Hyeri lagi.
"Kau sudah pastikan dia ada dirumah? Kau bilang diakan dokter. Pasto sibuk" Hyuk Jae benar juga, dokter jarang ada yang dirumah.
"Tenang saja, percayakan semua pada Hyeri. Kemarin aku menghubunginya, dia sudah mengosongkan jadwalnya" terang Hyeri sambil terus berjalan.
"Dokterkan gak gampang mengosongkan jadwal?" tanya Hyo Bin. Hyeri berbalik ke belakang, "Yang punya rumah sakitkan dia" kami hanya ber"oh" ria.
Mengisi perjalanan, kami saling bercerita. Jun Soo masih canggung terhadap kami. Wajar saja sih. Masih untung dia gak berpikir kami penjual organ ilegal lagi.
Makin kesini, jalanan semakin sepi. Namun pemandangannya masih indah. Dari sini kita bisa melihat langsung pegunungan hijau yang diselimuti awan-awan rendah. Kicau burung dan hewan melata terdengar saling bersahutan.
Aku dan Hyo Bin mengambil beberapa gambar pemandangan disini. Lokasinya cocok untuk tempat syuting mv.
Keasikan memotret, aku tidak sengaja menabrak punggung Jun Soo yang berhenti. Didepanku terpampang pagar yang jauh lebih indah daripada rumah Jessica, seperti rumah klasik.
Hyo Bin sibuk memotreti pagar rumahnya dengan Hyuk Jae sebagai model. Dia bilang lumayan dapat lokasi keren. Hyeri mengeluarkan ponselnya dari tas, sepertinya dia bakal menghubungi temannya.
Dengan sigap aku mengeluarkan kamera putih kesayanganku. Aku merekam begitu pagarnya terbuka.
__ADS_1
Menurutku, video ini bakal keren kalau dijadikan salah satu set dari mv kami. Ingat selalu ada seni dalam setiap kegiatankan.
Begitu pagar terbuka sempurna, kami ternganga melihat isinya. Rasanya ini semua hanya ada dalam drama di tv. Jun Soo bahkan mengucek matanya berulang kali.
Dari balik pintu besar itu, keluar seorang wanita cantik berpostur tinggi. Dia berlarian memeluk Hyeri. Wajahnya astaga luar biasa! Dia bisa membuat semua laki-laki bertekuk lutut padanya.
Hyeri memperkenalkan kami semua. Dia tersenyum ramah, menyuruh kami untuk masuk. Desain interior rumahnya menarik.
Mataku terfokus dengan banyak figura foto yang dia pajang. Saat dia dan Hyeri ke dapur mengambil cemilan untuk kami, aku beranjak melihat pajangan foto-foto itu. Semua foto ini diambil dengan seragam SMA.
Sepertinya masa SMA Hyeri menarik. Apalagi di foto ini, Hyeri dan ketiga temannya tersenyum bahagia meskipun banyak luka yang darahnya belum kering.
Di foto selanjutnya ada wajah cantik temannya dengan banyak pria berbadan besar. Baju seragam mereka tidak terkancing, melapisi baju kaos yang mereka pakai.
"Teman-teman Hyeri cantik-cantik ya" aku terperanjat mendengar suara Hyuk Jae terlalu dekat denganku. Aku segera mendorongnya menjauh, lanjut melihat foto lainnya. Wajahnya cemberut masam.
Di foto selanjutnya, Hyeri sedang tersenyum pahit. Melihat tempatnya, sepertinya ini berada di biang lala. Sebelahnya ada seorang cowok yang sepertinya cocok dengan Hyeri.
"Wah, kalau media sampai tahu masa lalu Hyeri, pasti bakal heboh" Hyuk Jae berkomentar di belakangku sambil manggut-manggut. Yang lainnya pada duduk beristirahat.
"Memang kenapa?" Aku bertanya tidak terima. Semua orangkan punya masa lalu.
"Hyeri mungkin mantan pembully. Bisa aja orang yang dulu satu sekolah dengannya menjelek-jelekan dia kan?"
Aku memutar mata malas, "Orang-orang memang selalu begitu kok. Wajah yang jelek nyatanya memang hobi menjelekkan orang lain" mengibaskan tanganku ke depan wajahnya Hyuk Jae.
Kening Hyuk Jae mengernyit. "Kenapa bilang jeleknya harus kearahku?"
"Memang kau kira dirimu itu tampan?" Hyuk Jae langsung mendekat kearah vas bunga, bercermin mengarahkan pipi kiri dan kanannya bergantian.
"Bagian mana dari wajahku yang diragukan?" Dia mulai berdrama lagi.
"Aku tidak bisa melihat cela wajahku, sepertinya ahh.. " dia pura-pura kesakitan sambil memegang dadanya "aku jatuh cinta dengan ketampanan ini"
__ADS_1
Aku pergi tak mempedulikan kenarsisan si bodoh itu lagi. Dari tadi Hyeri dan temannya belum kembali, lebih baik aku menyusul mereka kedapur.
"Hyeri kau betul tidak peduli dengannya lagi?" Samar-samar aku mendengar perbincangan mereka.
Sepertinya itu pembicaraan penting, aku segera bersembunyi dibalik vas bunga setinggi aku didekat dapur. Kalau aku muncul tiba-tiba, itu akan terasa canggung.
"Apa lagi yang perlu ku pedulikan Na Hyun?" Hyeri menjawab tidak peduli. Na Hyun, sepertinya itu nama temannya itu.
"Dia sudah meminta maafkan? Dia bilang dia menyesal." Aku mengintip mereka makin penasaran. Untung saja si pengacau Hyuk Jae tidak ikut.
"Menyesal?" Mata Hyeri menyipit, dia memberi senyuman miring. "Setelah melukaiku sangat dalam dia baru menyesal?" wajahnya mengeras menahan marah.
"Na Hyun, aku kesini meminta bantuanmu! Bukan untuk melihat masa lalu!" Rahang Hyeri mengeras, seolah dia tak terima bantahan.
Gantian wajah Na Hyun yang sayu. Dia menghirup napas dalam-dalam. "Baiklah, aku cuma ingin kau tahu saja."
Hyeri membawa nampan berisi minuman sementara Na Hyun membawa roti red velvet.
"Lupakan saja soal ini," Hyeri berhenti sejenak.
"Jangan pernah berharap ada maaf dariku." Dari sini aku bisa melihat dia menutup matanya saat mengucapkan itu meskipun Na Hyun tidak melihatnya.
Siapapun yang dimaksud mereka berdua, sebenarnya Hyeri tidak mau melakukan seperti itu. Aku berpura-pura menghampiri mereka, menanyakan toilet.
Toiletnya berada diujung, sejauh ini aku sudah melewati beberapa kamar. Tapi anehnya, meskipun dinding rumah ini dipenuhi dengan banyak foto Na Hyun dan temannya, tidak ada sebijipun foto tentang orang tuanya.
Entahlah lebih baik aku tidak bertanya. Membuka luka orang yang belum sembuh, sama saja menyakitinya.
Aku segera menghidupkan keran wastafel, mencuci wajahku yang terasa lengket kena debu.
Saat aku kembali, Na Hyun dan lainnya saling bercanda seolah tidak terjadi sesuatu. Mereka pandai berakting juga.
Saat melihat mata berkilat dan senyum lebar Hyeri, aku sadar satu hal, aku belum mengenalnya.
__ADS_1