Precious Idol

Precious Idol
Datang


__ADS_3

"Sejak kapan kau dikamar mandi?"


Aku terkejut melihat Hyo Bin berdiri didepan pintu. Matanya melotot melihatku. Untung saja Hyo Bin sigap menahan tanganku agar tidak terjatuh.


Jantungku berdebar amat kencang. Apa dia sudah bangun dari tadi? Aku belum siap kalau dia tahu.


Lampu tidur masih mati. Tapi cahaya lampu taman menerobos ke celah-celah jendela yang bergaya klasik ini. Membuat kamar remang-remang.


"Astaga Hyo Bin!" Aku memegangi jantungku. Berakting.


"Eh kenapa? Kau terkejut?" katanya memiringkan wajahnya, memastikan. Dia melepaskan tanganku setelah aku seimbang.


"Siapa yang gak terkejut malam-malam kau berdiri disitu!" Semoga saja otaknya belum berfungsi dengan baik saat malam.


Dia nyengir. "Tapi, sejak kapan kau ada disitu?" tanya sambil berjalan kembali lagi ketempat tidurnya. Aku menyusulnya kembali ketempat tidur.


"Aku menunggu kau keluar. Jadi aku berdiri dibalik pintu, aku rasa kau tidak sadar aku disitu" kataku berbohong. Aku menarik selimut, mengambil posisi yang tidak akan dicurigai Hyeri. Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur.


Dari sini aku bisa mendengar langkah kaki seseorang. Sepertinya Hyeri sudah hampir dekat.


Aku menoleh kearah Hyo Bin. Dia masih tidak tidur sepenuhnya. Kakinya menggeliat-geliat. Aku paham gerakannya satu ini.


Derap langkah kaki Ye Na semakin terdengar jelas. Hyo Bin masih belum tertidur juga. Bisa jadi Hyo Bin curiga melihat Ye Na keluar malam-malam.


Gagang pintu tertarik ke bawah. Gawat! Aku segera menutup mataku. Telingaku jelas nendengar Ye Na melangkah masuk.


"Eh kau baru bangun? Dari mana? Matamu bengkak"


"Anu.." Jelas sekali Ye Na gugup. Tak menduga situasi seperti ini.


"Aku haus. Baru saja dari dapur. Dan lagi pula, mataku memang bengkak seperti ini kalau baru bangun ya."


Dia bisa membohongi Hyo Bin. Tapi tidak dengan aku.


"Oh. Ku pikir kau habis menangis. Ya sudah aku mau lanjut tidur. Dasar cepat sekali anak ini langsung tertidur"

__ADS_1


"Eh Aliena bangun?" Sadar aku yang sedang dibicarakan, aku melemaskan otot wajahku secara alami agar seperti tertidur pulas.


"Biasa panggilan alam"


Ye Na tak menanggapi lagi. Dia beranjak naik ke tempat tidur, berbaring disebelah Jessica. Pelan-pelan berusaha tak menimbulkan tekanan dari tubuhnya.


Sepuluh menit lenggang.


Dua puluh menit lenggang.


Tiga puluh menit, mataku masih sulit tertutup. Aku memastikan apakah mereka sudah tidur. Tiga puluh menit lalu Ye Na berdiri gugup namun, sekarang dia tertidur pulas seperti bayi polos.


Pelan-pelan aku keluar dari kamar, menutup pintu perlahan, memastikan keadaan sekali lagi. Aman.


Lampu dirumah Jessica tidak menggunakan sensor. Masih manual. Meski bisa menghilang atau teleportasi dan kekuatan lainnnya, aku tidak dibekali mata yang bisa melihat dalam kegelapan.


Sudah dua minggu lebih tinggal disini membuatku lebih paham dimana letak vas atau benda-benda yang cukup berbahaya jika disenggol.


Tanganku meraih railing tangga agar tidak terjatuh. Tidak ada suara saat aku melewati kamar Hyuk Jae dan Jun Soo tadi, mungkin mereka sudah terlelap.


Tanganku sibuk meraba-raba dinding mencari saklar ruang utama. Biasanya Hyuk Jae yang menghidupkan jadi aku kurang tau letaknya dimana. Lima menit mencari, aku berhasil menghidupkan lampu.


Aku kembali mematikan lagi lampu. Meraba-raba menuju ruang tari. Ruangan ini tidak besar. Cukup untuk kapasitas sepuluh orang. Di dindingnya tertempel cermin besar seukuran dinding yang memantulkan setiap inci tubuh kami.


Aku mendekat ke cermin, memperhatikan tubuhku. Aku membagi rangkaian perawatan kulitku untuk Jun Soo, karena aku tahu salah satu kelebihanku.


Kulitku tidak akan pernah bisa berubah menjadi gelap, kusam atau masalah kulit lainnya. Meskipun aku tidak memakai rangakaian perawatan kulit apapun.


Aku mengikat rambutku dengan ikat rambut yang memang sengaja disediakan di ruang ini. Sekarang aku tidak memiliki list lagu yang ingin kutarikan pagi ini. Jadi aku hanya memutar lagu terakhir yang ditarikan Hyo Bin dan Hyeri.


Alunan beat lembut musik menyentuh ruangan ini. Aku berdiri ditengah, mengikuti irama lagu ini. Pelan tapi penuh kesedihan musik tanpa lirik ini punya kesulitan tertentu.


Aku mencoba fokus menjiwai tiap alunan yang keluar. Pelan, ragu-ragu, putus asa dan kematian. Kakiku tertekuk, tegak, berlilit, membuka tutup mengikuti. Aku melatih gemulai tanganku namun tetap menyalurkan energi putus asa.


Ekspresi wajah juga menjadi penentu utama hidup atau tidaknya tarian. Tidak lucu kalau aku nyengir membawakan musik ini.

__ADS_1


Aku sudah menarikan ini lebih dari dua kali tanpa istirahat, tapi anehnya kenapa aku tidak berkeringat sekalipun? Pendingin udara memang hidup tapi biasanya sih tidak berpengaruh.


"Bagus sekali. Sungguh bagus sekali."


Aku kaget bukan main. Serius. Dari tadi aku menari dan tidak sadar ada orang lain yang memperhatikanku. Lebih parahnya lagi, orang ini tidak masuk lewat pintu dan jelas saja tidak ada yang menggundang dia.


"Bapak mau apa kesini? Subuh-subuh begini. Untung saja jantungku tidak keluar melarikan diri." Dia hanya tertawa menanggapiku.


Aku mematikan musik, mengambil posisi duduk yang nyaman dilantai. Aku tahu dia tidak kurang kerjaan makanya datang subuh-subuh.


"Siapa yang mau duduk?"


"Tidak ada sofa diruang tari Pak. Mempersempit saja" kataku menyuruhnya duduk dengan dagu.


"Ayolah, aku tidak sedang membahas harga bawang putih yang naik sekarang"


"Jadi?" Aku berdiri. Penjual bola kristal galaksi ini sepertinya enggan berbicara disini.


"Apa?" tanyaku. Dia memandangiku dari atas ke bawah. Memberi kode. Tapi aku tetap saja tidak tahu.


"Temanmu bisa curiga kalau kau keluar seperti ini."


Ah dia benar! Aku masih mengenakan piyama.


"Tunggu sebentar."


Aku berteleportasi singkat ke dalam kamar mandi. Tidak ada suara. Aku memberanikan diri membuka pintu. Untung saja mereka tertidur pulas. Tidak ada Hyo Bin kedua yang memergokiku.


Dengan cepat tanpa suara aku membuka lemari. Mengambil setelan olahraga. Masuk ke kamar mandi, lanjut berteleportasi.


Penjual itu tidak ada lagi di ruang tari. Aku memutuskan untuk berteleportasi keluar gerbang. Dalam dua detik badanku layaknya terbang dengan kecepatan tinggi. Menghilang diantara partikel-partikel udara. Melesat meninggalkan ruang tari yang beberapa menit lalu diisi nuansa kesedihan.


Benar saja, dia sudah duduk menunggu di tepi jalan. Dia meraih tanganku, berteleportasi kembali. Semakin jauh dari rumah. Aku membiarkan menuntunku. Kecepatan teleportasinya mengagumkan.


Setelah beberapa kali berteleportasi, dia berhenti dipinggir pantai. Garis biru di laut perlahan terlihat bersamaan munculnya benda berbentuk bulat.

__ADS_1


Debur ombak menyapa sepatuku. Lautan tenang, seperti baru bangun dari tidur. Dari kejauhan burung-burung camar terbang berkelompok menjelajahi lautan, mencari apapun yang bisa membuat mereka tetap terbang hari ini.


Angin sepoi-sepoi meniup-niup rambutku. Matahari terbit. Beberapa tahun belakangan ini, aku tidak punya kesempatan untuk melihat keindahan ini. Ah terakhir kali melihatnya, aku bersama dia.


__ADS_2