Precious Idol

Precious Idol
Ter


__ADS_3

"Dari wajahmu, kau sepertinya sudah tidak lama kesini"


Dia baru angkat bicara, membiarkanku menikmati suasana ini. Aku memalingkan wajahku dari terpaan sinar matahari pagi, menatap sebentar wajah tersenyum penjual bola kristal ini.


"Ya mungkin empat tahun atau tiga tahun lalu. Aku tidak tahu pasti"


Semilir angin memainkan ujung-ujung rambutku yang terikat. Aku menutup mata, berusaha mengingat suasana ini. Berharap bisa mengganti suasana yang sudah tersimpan cukup lama di ruang hatiku.


"Pasti menyenangkan bisa merasakannya lagi bukan setelah sekian lama?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Lebih menyenangkan kalau seandainya bukan kau yang berada disampingku, pasti lebih romantis"


"Dasar kejam sekali. Kau harusnya bersyukur aku bisa membawamu kemari." Aku mengangkat bahu tak peduli. Terserahlah. Tanganku terentang, ingin rasanya memeluk semuanya. Termasuk kenangan yang pura-pura ku lupakan.


"Akupun sama." Aku membuka mataku, menoleh kearahnya. Dia membuka sepatu, membiarkan debur ombak menerpa telapak kakinya.


Aku melakukan hal yang sama. Dinginnya air laut menyengat telapak kaki. Menggodaku untuk masuk lebih dalam.


Entah mengapa, semakin dingin suhu air, apapun itu, aku seakan terdorong untuk masuk lebih dalam lagi.


"Aku masih ingat itu dua puluh tahun lalu. Kami berdua berdiri di sebelah sana" dia menunjuk kearah barat dari posisi kami.


Disana ada sebuah pohon kelapa yang sebagian batangnya rebah namun menjulang cukup tinggi. Empat-lima buah kelapa terlihat jelas dari jarak ini.


"Ah momen itu sangat indah. Dia menggunakan dress polos cantik dengan warna putih tulang. Topi lebar coklatnya menjaga wajahnya dari sinar matahari. Setiap kali dia tersenyum, kedua lesung pipinya muncul. Dan saat itu juga duniaku serasa berhenti berputar" lanjutnya.


Dia menatap jauh kelaut, sembari bercerita, mengingat semua detail potongan kenangan indahnya. Bagus sekali! Dia datang pagi-pagi, menganggu aku menari hanya untuk mendengar kenangan kasmaran dengan kekasihnya. Dasar tak punya hati. Akukan masih sendiri.


"Namaku Ter. Panggil saja Ter tak usah bapak" Aku bergumam menanggapinya. Dia melihat kebawah. Aku mengikuti arah pandanganya. Dua detik kemudian aku terkagum-kagum melihatnya.

__ADS_1


Lihatlah! Dia bisa memainkan pasir putih di udara hanya dengan melihatnya. Aku buru-buru melihat sekeliling. Untung saja pantai masih sangat sepi. Tidak ada yang mau menghabiskan waktunya dipantai saat musim dingin mulai datang.


Tak cukup sampai situ, pasir-pasir tadi turun kembali, bergabung dengan pasir lain, saling mengisi, menimpa dan berlekuk-lekuk, membentuk sebuah potret. Wajah seorang gadis yang sedang tersenyum.


Matanya menyipit, pasir yang saling menimpa membuat gradiasi di pipinya. Terakhir, Ter menyingkirkan beberapa pasir. Membentuk lesung pipi di kedua sisi pipinya. Sempurna. Ini mahakarya yang dibuat hanya dari tatapan. Dan yang pasti, tentu saja ini adalah lukisan wanita yang dia ceritakan.


"Cantik" pujiku tulus. Meski hanya melihat dari lukisan diatas pantai, aku tahu seberapa cantik wanita itu. Buru-buru aku memotret lukisannya saat dia tidak melihat.


"Kau benar. Tanpa lesung pipi, dia terlihat seperti kau" Eh. Seperti aku? Masa? Aku memperhatikan lebih seksama. Tetap saja aku tidak menemukan letak kemiripannya.


"Wajahnya benar-benar sepertimu. Aku serius. Saat pertama kali melihatmu, aku langsung teringat dia saat muda." Aku memperhatikan sekali lagi. Entahlah, tetap saja aku tidak merasa mirip.


"Tapi ngomong-ngomong Ter, dia siapamu?"


"Istriku. Dan selalu."


"Dia sudah meninggal Al" Aku mengangguk paham. Pasti sakit sekali ditinggalkan orang yang kita cintai, terutama bila memandangnya saja kita tidak bisa. Yah aku pernah merasakan hal yang sama. Ditinggal saat sayang-sayangnya -juga tak bisa melihatnya.


"Karena penyakit?" Ter menggeleng. Aku menatap manik mata Ter.


Meski sudah berusia senja, tetap saja energi mata itu tidak berubah. Seperti masih muda. Namun saat ini, aku bisa melihat hal yang berbeda darinya. Kesedihan yang terlalu dalam. Pantas saja dia menikmati tarianku tadi.


Sekumpulan burung camar terbang melintas diatas kepala kami. Seolah tak peduli dengan kesedihan Ter. Ter justru tersenyum melihat kumpulan burung itu hingga mereka tak terlihat semakin kecil.


"Aku yang membunuhnya"


Mataku terbelalak terkejut mendengarnya. Mataku menatap bergantian wajah Ter dan lukisan istrinya. Tanpa sadar mulutku terbuka lebar, benar-benar tidak menyangka. Apa dia seorang psikopat? Aku mundur sedikit menjauh darinya. Bersiap-siap berteleportasi.


Meski Ter melihatku menjauh, dia diam saja. Tidak tersinggung ataupun marah. Membiarkan aku terkejut dan berpikiran negatif tentangnya.

__ADS_1


Lagi-lagi dia menatap jauh ke laut. Mencari-cari sesuatu yang tertinggal disana. Rasanya tak mungkin jika dia membunuh orang yang peling dicintainya sendiri.


"Itu benar Al. Aku yang membuatnya terbunuh" Dia berbicara setelah berdiam cukup lama. Satu air mata lolos dari pelupuk matanya. Membuat jejak di pipinya yang disinari matahari pagi. Aku mengambil posisi semula, tidak lagi bersiap-siap untuk teleportasi.


Pantai terlihat lebih terang sekarang, namun tetap saja masih sepi. Semilir angin mulai berganti dengan angin-angin kencang. Awal musim dingin. Susah payah aku menggulung rambutku keatas yang tadinya terikat.


Aku menghela napas. Ada banyak rahasia dari duniaku yang tidak ku ketahui. Rasanya seperti baru hidup kemarin saja.


"Aku Al, aku.. " Dia tersenggal. Air matanya berjatuhan saling menimpa. Suasana damai bisa menjadi pilu dengan begitu cepat. Aku tidak membawa alat apapun untuk mengusap air matanya.


Debur ombak menyapu perlahan rambut istri Ter yang terurai di lukisan. Air semakin lama semakin naik. Ombak tidak seramah saat matahari terbit tadi.


Lukisan Ter telah terhapus seluruhnya oleh ombak. Selama itu jugalah Ter menangis sesunggukan. Aku hanya berdiam diri, ikut larut dengan pilu Ter.


"Untuk itulah kau kubawa kesini Aliena." Aku hanya masih berdia menatapnya, tak menyela, membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya.


Punggung tangan Ter mengusap pipi dan pelupuk matanya. Menarik napas, sembari menegagkan punggungnya. Matanya bengkak. Tidak ada lagi jejak air mata, meskipun rasa sakitnya tak ikut menghilang.


"Akhirnya aku memberitahu siapa aku sebenarnya padanya. Bertahun-tahun aku menyimpan rahasia itu. Pundakku terasa semakin memberat. Aku mengumpulkan keberanian mengatakannya. Bahkan berulang kali aku hampir membahasnya, tapi tetap tak bisa melakukannya."


Ah aku tahu, sangat tak mudah memberitahu identitas kami pada manusia normal. Aku menatap jauh kelaut, pertanyaanku tetap sama. Kapan aku bisa memberi tahu mereka, semuanya. Tanpa perlu ada yang ditutupi.


"Setelah aku yakin bisa mempercayainya, diluar dugaan" dia berhenti. Membuatku semakin penasaran.


"Dia malah tersenyum lembut. Lembut sekali. Saat itu aku sudah siap menerima resiko terburuknya Al. Berpisah. Tapi syukurlah, kau tahu dia bilang apa?" Aku menggeleng. Dia hanya basa-basi bertanya.


"Tak perlu khawatir, aku sudah tahu itu. Aku hanya menunggumu mampu menceritakan sejujurnya, katanya. Aku benar-benar bahagia saat itu Al. Tiga tahun seolah menjadi tahunku tanpa memikul beban berat itu. Tiga tahun kemudian anak pertama kami lahir." Aku terkejut sekali lagi. Dia punya anak? Tapi tidak kelihatan sama sekali. Dimana? Ah banyak sekali hal tentang Ter yang membuat aku terkejut. Sampai-sampai jika hampir separuh pantai ini milik dia, mungkin aku tidak terkejut lagi.


"Hingga akhirnya seseorang datang"

__ADS_1


__ADS_2