Precious Idol

Precious Idol
Debut dan Surat


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Disinilah kami berlima menunggu giliran dipanggil. Hyeri entah sudah kali berapa dia bolak-balik ketoilet, Hyobin dari tadi sibuk merapikan rambutnya yang tidak berantakan sekalipun, Ye Na bolak-balik menarik nafas mengontrol rasa gugupnya, Jessica dan aku berdiri disini melihat ke arah monitor yang menampilkan keadaan gedung dan panggung.


Aku berusaha keras untuk tidak membiarkan keraguan menguasaiku. Bagaimanapun aku sudah menjadi manusia meskipun belum sepenuhnya. Terlalu lama disini membuat aku merasakan apa yang dirasakan manusia. Rasa sedih, senang, bahagia, takut, lelah, stress maupun ragu sekalipun. Awalnya aku merasa aneh ketika jantungku berdegub karena bahagia. Selama ini aku hanya merasa jantungku berdegub karena aku melakukan kesalahan.


Penggemar yang datang hampir sembilan puluh persen membawa lightstik dan banner EVE. EVE memang sengaja ditampilkan untuk mengisi acara dan juga pasti membuat kami sedikit lebih dikenal.


Aku mengepalkan tangan membuang semua keraguanku. Kami semua sudah berusaha keras dan hari ini kami akan memberi seluruh hati kami. Mimpi sudah di depan mata, tabrak saja hambatannya jangan kasih kendor.


Staff memberi tahu lima menit lagi kami naik ke panggung. Kami semua berkumpul untuk berdoa, ritual wajib sebelum melakukan hal kecil maupun besar.


'Mari kita lakukan itu" Jessica sebagai leader memimpin, meletakkan tangannya ke tengah.


"Apapun yang terjadi, kita sudah berusaha keras" Hyo Bin ikut menyusul.


"Panggung itu milik kita, hancurkan saja" Hyeri menyusul.


"Berikan hati kita" Ye Na menyusul.


"Jangan ragu, kuatlah, ini hari kita" tanganku menjadi penutup. Ya, hariku, hari kami dan hari dia. Mimpi dia.


"TheA For World, World for TheA" kami serempak mengucapkan semboyan kami dan saling menggenggam erat naik ke atas panggung.

__ADS_1


Kami berpapasan dengan EVE, mereka mengepalkan tangan memberi kami semangat. Aku tak kuasa melihat tampang bodoh Seung Han. Dua hari berturut-turut dia menjadi trending topik lantaran penampilannya yang sangat hancur sepanjang karirnya. Kurasa sudah cukup dia mengalaminya. Aku mengambil kembali sinar putih itu. Meskipun dia berwarna putih, dampaknya jauh lebih buruk.


Teriakan sisa penampilan EVE masih terdengar namun langsung terhenti saat kami muncul dipanggung. Lightstik dimatikan, banner diturunkan mereka seolah menolak kehadiran kami di atas panggung. Tapi aku sudah tak peduli, aku menggenggam mimpiku erat-erat dan tak kan membiarkan mereka merebutnya.


Mataku menatap kearah lampu-lampu panggung. Aku mengalirkan listrik, membuat lampu-lampu yang mati di bawah lantai gedung bersinar terang. Warna putih kecil-kecil seperti lilin memenuhi gedung. Aku sempat takjub, begitu juga yang lain. Orang lain mungkin berfikir itu bagian dari properti.


Intro dimulai dengan aku menyanyikan bagian terakhir lagu dengan nada tinggiku hingga lima oktaf dengan lampu yang tersorot sempurna kepadaku semakin hening. Ini seperti suasana saat aku berlatih vokal di bekas lapangan bola.


Musik mulai mengiringi dan kami mulai menari dengan cepat sesuai dengan ritme musik. Hyeri memulai versi satu dengan nada rendah di susul rap sederhana Ye Na. Hyobin dan Jessica berduet membawakan versi dua dengan tiga oktaf sekaligus. Penonton mulai menunjukkan ketertarikannya. Hyer dan Jessica menyanyikan pre chorus diselingi oleh rapku. Kami bersama-sama membawakan chorus yang menjadi inti lagu kami.


Lagu yang menceritakan perjalanan kami untuk berdiri disini sangat masuk ke dalam jiwa kami. Aku bisa merasakan tubuhku bergerak mengikuti musik dan musik mengikuti kami. Setelah melakukan rapku yang terakhir, Ye Na, Hyeri dan Hyo Bin saling bersahutan sementara Jessica bersiap untuk bagian terakhir dengan tinggi empat oktaf.


🎶🎶


Kami semua tertawa terpingkal-pingkal membaca semua komentar netizen tentang debut dan lagu kami. Mulai dari pagi, kami sudah mengumpulkan keberanian melihat komentar.


Penampilan kami kemarin berjalan lancar, dengan lima lagu yang semuanya kami ciptakan. Awalnya, aku kira hari ini kami akan menangis membaca komentar tapi kami malah tertawa-tawa menanggapinya. Pantas saja predikat grup teraneh disematkan pada kami.


Ada juga yang memuji stage lighting kami yang luar biasa. Sementara staff panggung kebinggungan bagaimana cahaya di lampu itu bisa diaktifkan.


Saat membaca komentar tentang nada tinggiku, mereka merinding mendengarnya bahkan ada yang mengatakan aku seperti melakukan pemujaan setan. Tentu saja kami yang membacanya bersama-sama sontak tertawa. Hyo Bin malah mengusulkan aku untuk bermain film horor.

__ADS_1


Namun, suasana seketika berubah setelah suara pecahan kaca terdengar begitu jelas. Suara itu berasal dari ruang depan. Ada sebuah batu yang dilapisi kertas, seperti ada seseorang yang melemparnya dengan sengaja. Jessica langsung berjalan pelan mengambil kertas yang berada diantara pecahan kaca itu.


Dia langsung jatuh terduduk setelah membaca tulisannya. Kami terkejut dan tanpa peduli lagi berjalan diatas pecahan kaca itu.


Kertas itu kecil, namun sangat menyakitkan.


Kaki kami memang berdarah, tapi sesuatu didalam sana jauh lebih sakit dan tidak berdarah. Seperti pecahan kaca yang berserakan, begitu juga perasaan kami.


Hancur berantakan. Sore itu, kami menangis, meluapkan semua yang dirasakan. Sinar hitam keluar dari jari telunjukku membuat aku gelagapan menutupnya. Jika aku sedih dan terluka maka sinar hitam akan keluar. Itu berarti aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Sinar ini jauh lebih kuat daripada sinar putih. Ingin sekali rasanya aku menangis tanpa perlu mengendalikan sinar itu. Aku melampiaskan semuanya dengan tangisan. Bahkan pada hari itu, aku ingin sekali menangis. Hari ketika dia- ah sudahlah.


Tapi mereka juga manusia, bisa merasakan luka dan tersakiti. Sore itu, aku membiarkan mereka menangis sampai lelah untuk debut pertama kami. Diam-diam aku pergi dari ruang tamu ke kamarku. Aku berteleportasi mencari orang yang harus bertanggung jawab atas kesedihan hari ini. Meskipun sudah beberapa jam berlalu, aku tetap bisa melihat jejaknya.


Jejak ini mengarah pada rumah yang dilapisi kardus. Aku masuk tanpa perlu melewati pintu. Di dindingnya banyak terpajang foto-foto EVE dan juga foto dia di edit bersama member EVE. Ada juga informasi tempat asrama kami, pantas saja dia bisa melemparan kertas itu. Perempuan gila ini kurasa sasaeng fan dari EVE. Pantas saja dia begitu khawatir melihat kami.


Justru sekarang dia terlihat lebih menyedihkan lagi. Dia berulang kali menonton acara yang dibintangi EVE. Bungkus makanan berserak dan tubuhnya bau sekali. Rambutnya terlihat menjijikan, tubuhnya kurus tak terawat. Jika dia bisa mencintai dirinya sendiri, maka aku yakin dia akan dicintai. Bukan malah seperti ini, justru terlihat menyedihkan.


Aku mengisengi dia dengan menjatukan satu buku. Namun dia tidak terlalu peduli. Matanya hanya menatap layar. Kali ini, aku menjatuhkan bingkai foto EVE. Berhasil, dia terkejut dan menoleh. Buru-buru dia mengambil dan memeluk figuranya.


Aku menghela nafas melihatnya. Ada begitu banyak orang yang ingin seperti dia, tubuh yang lengkap dan kesempatan itu. Dia menyia-nyiakannya. Dia harus segera sadar, hidupnya tidak boleh berkisar tentang idolanya saja. Dia harus lebih mencintai dirinya sendiri. Dibanding sinar hitam, aku memberinya sinar hijau. Sinar ini membawa kedamaian dan kebaikan. Aku ingin membantunya kali ini.


🎶🎶

__ADS_1


__ADS_2