Putri Cupu

Putri Cupu
2


__ADS_3

Suara mesin deteksi jantung dan oksigen menjadi suara yang mengisi kesunyian kamar VVIP tersebut.


Pelan namun pasti mata Althea mulai terbuka, dia mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


Terdiam sejenak, dia menggerakkan kepalanya pelan, melihat ke sekelilingnya, ruangan berwarna putih bersih dengan berbagai benda-benda aneh.


Menundukkan kepalanya, dia melihat seorang pemuda duduk dengan menyandarkan kepalanya di sisi ranjang yang kosong di samping Althea. Tampak tertidur nyenyak.


Mengedarkan pandangannya Althea melihat pemuda lainnya yang juga tertidur di atas sofa.


Althea menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari mami yang baru saja datang.


Dengan perlahan Althea menggerakkan tubuhnya.


'dimana mami?'


'tadi sepertinya ada suara jatuh'


'apa mungkin mami jatuh?'


Althea berusaha keras menggerakkan tubuhnya, rasanya sangat berat dan kaku.


Sekitar 5 menitan akhirnya dia bisa mendudukkan tubuhnya.


Dia melongok kan kepalanya ke bawah ranjang, melihat sekelilingnya.


Saat memperhatikan belakang pemuda yang sedang tertidur di sampingnya, Althea begitu terkejut.


Seorang wanita paruh baya tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Althea ingin bersuara memanggilnya tapi tenggorokannya begitu kering.


Dia menoleh ke pemuda di sampingnya dan memegang pundaknya, menggoyangnya pelan bermaksud untuk membangunkannya.


"Bangunlah" ucap Althea lirih, suaranya begitu pelan hingga hanya dirinya saja yang dapat mendengar nya.


Dia terus menggoyang bahu pemuda itu pelan hingga pemuda tersebut mulai terusik.


"Uughh" lenguh pemuda itu pelan kemudian memperbaiki posisi tidurnya.


Althea gemas melihat respon pemuda tersebut hingga menimpuk pelan kepalanya agar dia tersadar.


"Puk!" "Aw! Apaan si?" Gumam pemuda tersebut sambil menegakkan tubuhnya.


Dia mengucek matanya pelan kemudian meregangkan tubuhnya. Althea hanya diam memperhatikan.


'tampannya' batin Althea.


Akhirnya pemuda tersebut menolehkan kepalanya ke arah Althea, matanya berkedip-kedip begitupun Althea.


"Ivi?" Tanyanya linglung.


"Ivi?!" Tanyanya lagi seakan memastikan.


"Ivi!!!" Teriaknya spontan.


"Kamu udah sadar?!" Teriaknya lagi sambil berdiri memegang bahu Althea.


Althea mengabaikan pertanyaan itu dan menunjuk ke arah belakang pemuda tersebut.


"Mami dibelakang kamu" ujar Althea lirih hampir tak mengeluarkan suara.


"Kenapa Ivi? Bentar Abang panggilkan dokter dulu" ujarnya kemudian berdiri menekan tombol darurat didekat ranjang Althea.


Ketika dia akan duduk kembali Althea menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Kenapa Vi? Ada yang sakit?" Tanya pemuda itu.


Althea sangat gemas tapi ketika dia berbicara suaranya tak jua keluar, rasanya dia ingin menangis saja.


Akhirnya dia menarik pemuda tersebut mendekatinya.


"Mami tak sadarkan diri dibelakang kamu, tolonglah" ujarnya lirih, pemuda tersebut tampak menegang dan menoleh kebelakang.


"Mami!" Teriaknya kemudian berlari mendekati nya.


"Mi, Mami bangun" teriaknya panik.


Karena suara yang gaduh pemuda lainnya yang sedang tertidur di sofa juga terbangun.


Dia melihat kearah Ion yang sedang memangku maminya yang tak sadarkan diri dilantai.


"Mami kenapa?" Tanyanya khawatir namun dengan ekspresi datar dan bangun mendekati mereka.


"Ceklek!" Suara pintu terbuka.


"Maaf tuan kami mendengar suara berisik jadi kami langsung masuk" ujar dokter Devon.


"Dokter tolong mami" ujar Aon dingin namun suaranya sedikit bergetar.


Dokter Devon dan 4 perawat di belakangnya pun membantu membawa maminya ke sofa dan diperiksa.


"Nyonya Adel hanya kelelahan dan juga stress, tolong perbaiki pola makan dan tidurnya" ujar dokter Devon.


"Sebaiknya biarkan beliau beristirahat dan siapkan kamar untuknya" lanjutnya lagi.


"Tidak! Tolong gabung saja dengan kamar Ivi agar kami lebih mudah menjaganya" ucap Aon.


"Baiklah, tolong siapkan keperluan untuk nyonya Adel" perintah dokter Devon kepada para perawat.


Dokter Devon juga hendak beranjak undur diri sampai Ion berteriak.


"Ivi!" Teriaknya dengan menegakkan tubuh setelah mengingat keberadaan Ivi.


Dengan panik Ion menoleh kearah Ivi berada yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka semua dari awal.


Aon dan dokter Devon pun mengikuti arah pandang Ion.


Mereka semua diam dan hanya saling memandang.


Hening cukup lama, seolah pikiran mereka semua melayang jauh.


Ivi aka Althea pun hanya diam menatap mereka, dia bingung mau bagaimana berbicara pun masih belum bisa.


Akhirnya dia hanya tersenyum tipis dan canggung.


Seolah tersadar Aon langsung berlari ke arah Ivi dan memeluknya erat.


"Kamu sudah sadar de?" Ujar Aon bergetar.


"Abang kangen" ucapnya lagi dengan suara lirih. Althea hanya bisa diam tak menjawab.


"Lepas gue belum meluk Ivi" ucap Ion merusak suasana haru sambil menarik Aon agar pelukannya terlepas.


Setelah pelukan tersebut lepas, Ion kembali menarik Livia ke dalam pelukannya.


"Abang juga kangen Ivi" ucap Lionder mengusap punggung Livia aka Althea.


Laonder menarik paksa Lionder dari Livia.


"Ko Lo gak bilang adek udah bangun?" Tanya Laonder tajam kepada Lionder.

__ADS_1


"Gue lupa tadi pas lihat mami jadi panik" jawab Lionder.


"Maaf ya Vi Abang lupa tadi" lanjutnya lagi kepada Livia.


Althea aka Livia hanya menganggukkan kepalanya, dia masih fokus memperhatikan keduanya, melihat perbedaan di antara mereka agar dia tidak salah mengenali.


Lionder baru sadar bahwa sedari adiknya terbangun, dia kesulitan berbicara.


"Dokter tolong periksa Ivi, sepertinya dia kesulitan saat berbicara" ucap Lionder kepada dokter Devon yang masih diam mematung.


"Nona Livia sadar sejak kapan?" Tanya dokter Devon mulai memeriksa keadaan Livia. Livia hanya diam tidak menjawab.


"Tadi saat aku pencet tombol darurat" Jawab Lionder.


"Sepertinya tenggorokan nona kering, nona mau minum?" Tanya dokter Devon kepada Livia dan dibalas anggukan kepala pelan.


Laonder dengan sigap langsung menuangkan air minum kedalam gelas dan membantu Livia minum dengan perlahan.


"Terimakasih" ucap Livia serak namun masih bisa didengar oleh mereka, Laonder pun mengangguk.


Dokter Devon kembali memeriksa keadaan Livia kemudian menjelaskan kepada twin.


Setelah mengubah kamar tersebut menjadi untuk 2 pasien dan memeriksa keadaan Livia serta maminya, dokter Devon pamit undur diri.


"Ivi butuh sesuatu?" Tanya Lionder sambil terus mengusap punggung tangan Livia. Livia menggeleng sebagai jawaban.


Saat ini Lionder dan Laonder duduk diantara ranjang Livia dan ranjang maminya.


"Ceklek" suara pintu dibuka.


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas berwarna hitam memasuki ruangan tersebut.


Mematung didepan pintu yang baru tertutup melihat putrinya yang ternyata sudah sadarkan diri sedang duduk bercengkrama dengan Abang kembarnya.


"Papi Ivi udah sadar tapi momi pingsan karena kelelahan dan stress berlebih" ujar Lionder kepada pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah tuan Vicko Lard Dyfandra ayah mereka.


Seakan belum selesai dengan keterkejutannya saat mengetahui putrinya telah tersadar, kini kembali dikejutkan dengan istrinya yang justru tumbang.


Dengan perlahan Vicko mendekati putrinya dan memeluknya hangat.


"Princess papi sudah bangun? Bagaimana tidurnya apakah bermimpi indah?" Ujarnya lembut kemudian menatap Livia berkaca-kaca.


"Ivi baik-baik saja Pi" jawabnya sedikit canggung.


Vicko tersenyum mengusap rambut Livia sayang. Menatap tajam ke arah putra kembarnya.


"Kenapa adek bangun dan momi pingsan tapi tidak ada yang mengabari papi" ucapnya dingin kepada twin kemudian berjalan mendekati ranjang istrinya dan mengusap keningnya pelan masih dengan ekspresi datar.


"Maaf Pi tadi kami terlalu panik jadi melupakan beberapa hal" jawab Laonder.


Sedangkan Lionder diam menundukkan kepalanya takut dengan kemarahan papinya dan juga merasa bersalah.


Laonder yang menyadari ketakutan adiknya memegang pundaknya menenangkan. Iya Laonder adalah kakak dengan selisih waktu lahir 10 menit.


Suasana menjadi hening, Althea pun jadi bingung mau bereaksi bagaimana, dia masih canggung berinteraksi dengan keluarga barunya hingga suara erangan memecahkan keheningan.


"Eughh!"


"Momi!" Teriak mereka semua bersamaan.


_____


...TBC...


...23 Maret 2022...

__ADS_1


__ADS_2