
Berjalan di lorong kelas sendirian memang sudah biasa bagi Livia, ditambah tatapan merendahkan dan beberapa hinaan menemaninya sepanjang jalan sampai dia tiba di kelasnya.
"Hei! kamu anak XI IPA 1?" tanya seseorang menghampiri Livia.
"Iya, kenapa?" tanya Livia.
"Di panggil guru kimia, ditunggu di ruangannya" ucap pria tersebut yang ternyata Lio si ketua OSIS.
"Oke" jawab singkat Livia kemudian pergi ke ruang guru.
"Si cuek" gumam Lio menatap punggung Livia yang menjauh.
Livia menuju kelasnya dengan membawa lembar soal dari gurunya. Berjalan santai seorang diri karena murid lainnya sudah berada di kelasnya masing-masing.
Melewati area lapangan Livia melihat anak kelas XII sedang olahraga. Dia melihat laki-laki kemarin yang membantunya.
"Ternyata anak XII IPS 1" gumamnya sambil melanjutkan langkahnya santai.
"Woy! lihat nggak tadi si cupu ngelirik kesini, naksir gue tu pasti, hahaa gak bakal mau gue mah" ucap Eros di sisi lapangan sambil melihat Fian mendribble bola didekatnya.
"Sok iya Lo, disini banyak orang kali, gue rasa matanya masih normal buat lihat yang bening-bening" Sahut Kenan.
"Lo gak lihat matanya nggak normal? tapi gue setuju si sama si kanan siapa juga yang mau lihat elo" ucap Bryan.
"Kenan ******!" sewot Eros.
"Tapi kalo diperhatiin bener-bener dia manis Lo" ungkap Chiko melempar bola ke ring.
"Masa sih?" tanya Eros tak percaya.
"Lihat aja nanti" ucap Chiko.
"Buk!" Punggung Chiko terkena lemparan bola dari Fian.
"Sialan! kaget gue" maki Chiko.
"Main yang benar" ucap Fian singkat.
_____
Livia memasuki kelasnya, berdiri di samping meja guru. Dia mengetuk-ngetuk meja membuat perhatian teman sekelasnya beralih kepadanya.
"Guru kimia gak masuk, kita di kasih tugas dikumpulin saat jamnya habis" ucap Livia datar.
Arina si sekertaris kelas maju menghampiri Livia, merebut dengan kasar kertas di tangannya. Melihat soal tersebut sekilas.
"Gays tugasnya banyak ih, ada 10 soal tapi beranak-pinak" ucap Arina.
"Bisa-bisanya punya anak, inikan pelajaran kimia bukan biologi" sahut Rio.
"Paling males ni kalo soalnya sebaris jawabannya selembar" sahut Jay.
"Emang Lo pada bego, soal segitu doang juga" sewot Seri.
__ADS_1
"Anak kelas Kitakan unggulan, malu-maluin dong kalo gak mampu, ups! sorry kita kan ada anak baru yang belum teruji otaknya" ucap Gina.
"Gimana kalo Lo kerjain semua soalnya, biar kita semua yakin kalo Lo pantas masuk ke kelas ini" smirk Arina kembali memberikan lembar soal ke Livia.
"Bener tuh, jangan sampe pamor kelas kita hancur gara-gara dia" sahut Gina.
Murid yang lain pun menyetujuinya dengan serempak, karena untuk masuk kelas tersebut mereka memang harus belajar dengan giat dan menjadi murid unggulan. Bisa dibilang mereka sedikit iri dengan Livia karena si cupu miskin bisa masuk ke kelas mereka dengan mudah, jadi mereka ingin menguji pengetahuannya terlebih dahulu.
Livia yang merasa tertantang melangkah ke arah mejanya, mengeluarkan buku dan pena dia mulai mengerjakan soal dengan tenang tanpa ekspresi.
Melihat aksi Livia yang acuh tak acuh, para murid tersebut mendekati meja Livia, melihatnya mengerjakan tugas yang memang soalnya cukup sulit.
" Cepet banget udah nomor 3 aja"
"Otaknya kaya kalkulator tanpa coretan langsung di tulis"
"Rin, coba Lo kerjain juga biar kita-kita bandingin bener nggak jawaban dia, siapa tau dia ngarang"
Arina menyetujuinya dan mengambil peralatannya, dia duduk di samping Livia dan ikut mengerjakan dengan tenang.
10 menit berlalu Livia menjulurkan jawabannya kearah anak-anak yang mengerumuninya.
"udah selesai?" tanya Jay terkejut karena Livia mengerjakan soal-soal tersebut tidak sampai setengah jam.
"Mana gue mau lihat"
"Anjir! tulisannya rapi uy"
"Tungguin Arina biar bisa tau Jawabannya bener kagak"
"Nomor 1 sampe 3 jawabannya sama dengan jawaban Arina"
Teman sekelas Livia pun sibuk memeriksa jawabannya, sedangkan Livia menatap ke arah Arina santai sambil mendengarkan celotehan mereka semua.
"Bukan gitu, soal ini pake rumus nomor 5C" ucap Livia mengoreksi jawaban Arina.
"Tapi soalnya mirip sama nomor 2B" sewot Arina.
"Coba perhatikan dengan benar, di soal itu ada jebakan dengan kata-kata mengecoh" ucap Livia, akhirnya Arina memahami dengan serius soal tersebut dan ternyata memang benar ada soal jebakan.
Anak-anak yang lain terkejut dengan aksi Livia yang membantu memperbaiki jawaban Arina, karena di kelas tersebut Arina selalu juara 1.
"Udahlah nyerah gue, Lo emang jago, jadi Lo gue terima di kelas ini" ucap Arina menyandarkan punggungnya ke kursi.
Arina bangun menghadap ke arah Livia, menjulurkan tangannya.
"Hai, gue Arina semoga kita bisa berteman dengan baik dan maaf kalo gue udah nyinggung lo" ucapnya kepada Livia.
Livia tersenyum kecil menerima uluran tangan tersebut.
"Livia, semoga saja, aku juga minta maaf jika menyinggungmu" ucapnya singkat.
Teman-teman yang lain pun melakukan hal yang sama seperti Arina, mereka dengan mudah menerima Livia karena dikelas mereka bukan status atau kekayaan yang utama melainkan kecerdasan.
__ADS_1
Bagi mereka semua 'percuma kaya kalo gak punya otak' orang miskin bisa kaya kalo bisa menggunakan otaknya dengan baik. Sedangkan orang kaya bisa menjadi miskin kalo otaknya gak berguna.
Livia cukup senang hari ini, akhirnya teman sekelas nya kini menerimanya dengan baik bahkan mengakui kemampuannya.
"Mau join ke kantin" tawar Arina dan Gina.
"Baiklah" jawab Livia beranjak dari kursinya, mereka pergi ke kantin bersama.
"Hai! Lama tidak bertemu" ucap seorang siswi dihadapan Livia sembari menyentuh dagu Livia.
Livia tidak membalas sapaan tersebut, dia diam memperhatikan siswi di depannya, mengangkat sebelah alisnya Livia mengusap dagunya menggunakan tisu basah yang selalu sedia di kantongnya.
"Sepertinya kau sangat tidak menyukaiku ya" goda siswi tersebut.
"Ternyata seperti ini wajah seseorang yang putus asa karena kekurangan kasih sayang" ucap Livia santai sembari mengusap tangannya, berbicara tanpa menatap orang didepannya.
"Akhirnya si cupu bisa berbicara normal ya" ejek siswi tersebut. Meski terkejut dengan jawaban Livia dia tetap berusaha menjaga ekspresinya.
"Sebenarnya gue emang bicaranya normal, tapi kalo lawan bicaranya bego ya gitu, dianya suka gak paham, kasian banget kan?" ucap Livia.
"otaknya gak sampe" lanjutnya lagi dengan senyum menyeringai.
"Wow! Lo makin menyenangkan buat jadi mainan gue" ucap ceria siswi tersebut tapi tatapan mata tajam.
"sangat bagus bukan? tolong beri bintang lima" smirk Livia, dia berjalan melewati siswi tersebut tanpa peduli dengan murid-murid disekitarnya yang menatap takjub, bahkan Arina dan Gina masih diam mematung sehingga Livia harus menyeret mereka.
Livia dan kedua temannya baru saja akan mendudukkan diri ke kursi kosong kantin, seseorang menjambak rambut Livia dari belakang secara tiba-tiba hingga membuat Livia hampir terjungkal.
Beruntung Arina dan Gina memegang tangan Livia, eh maksudnya Livia yang berpegangan pada mereka lebih tepatnya habis menyeret mereka.
Dijambak tiba-tiba Livia refleks memberikan tendangan kebelakang hingga si penjambak terlempar, kepalanya memang sangat sakit tapi Livia tidak suka ketenangannya diganggu apalagi jika diserang tiba-tiba dia hanya melindungi diri.
"Brengsek! beraninya Lo nendang gue!" marah seseorang yang ternyata Niki. Dia kemudian bangkit kembali mendekati Livia yang mengabaikan keberadaannya bahkan Livia sedang meminum jus jeruk peras kesukaannya.
"Sialan lo cupu jelek! Lo udah berani sama gue bahkan udah mempermalukan Yolla didepan anak-anak lain!" ucap Niki berapi-api.
"Lo bisa nggak jangan teriak-teriak suara Lo cempreng" sewot Gina.
"Lo gak usah ikutan, gue gak ada urusan sama Lo!" sewot Niki, dia sebenarnya agak takut dengan Gina karena ayahnya merupakan seorang jenderal yang terkenal sangat kejam.
"Masalahnya Lo teriak-teriak didepan gue sialan!" maki Gina.
"Kalian ngapain" tanya seseorang yang baru tiba di kantin.
"Yol, lo balik sekolah ko gak kabarin gue sih?" Rajuk serli mendekati Yolla.
"Maaf ya niatnya mau kasih kejutan tapi tadi-" ucap gantung Yolla menatap kearah Livia dkk yang ternyata sedang sibuk memakan makan siangnya. Mereka benar-benar mengacuhkan para perusuh tersebut.
_____
...TBC...
...30 Maret 2022...
__ADS_1