Putri Cupu

Putri Cupu
17


__ADS_3

"Bang Rafka!" panggil Livia yang terus mengejar langkah Rafka.


"Lebih baik kamu jangan dekat-dekat dengan ku Livia" ucap Rafka dingin tanpa berhenti melangkah maupun menoleh ke belakang, saat ini dia sedang benar-benar emosi.


"Abang ih, masa Ivi sakit malah di cuekin" rengek Livia meraih tangan Rafka dan menggenggamnya.


"Kau membuatku terus khawatir Vi, berkali-kali kau terluka tanpa sepengetahuanku dan yang lainnya, kenapa kau selalu menyembunyikan hal penting? bahkan aku mengetahuinya dari orang lain, kau tau Abang merasa sangat tak berguna" omel Rafka panjang lebar.


Jika orang lain melihatnya mungkin mereka bisa pingsan karena Rafka merupakan si kulkas irit bicara. Namun berbeda lagi jika sudah berhadapan dengan Livia dia akan menjadi Abang yang sangat protektif dan cerewet.


"Bang Ka jangan ngomong kaya gitu, Ivi baik-baik aja ko, lagian Ivi udah tau siapa aja yang udah celakain Ivi sebelumnya, tapi Ivi masih menunggu otak dibalik semua ini bang, karena kalo Abang tau siapa aja yang terlibat Abang pasti juga bakalan gak percaya" jelas Livia.


"Abang selalu percaya padamu Vi, tapi kau yang tidak mempercayai abang" ucap Rafka sendu.


"Kau merubah penampilanmu di sekolah, melarang ku menghukum orang yang membully mu, bahkan kau memintaku berpura-pura seolah kita tak saling kenal Ivi" lanjutnya lagi.


Livia menghela nafasnya pelan menarik Rafka untuk duduk di sofa.


"Maaf bang" ucap Livia, dia masih belum ingin menjelaskan semuanya kepada Rafka, semuanya masih terlalu samar baginya.


Rafka diam tidak menyahut, dia menarik lengan Livia dan melihat luka goresan di sikunya.


"White" panggil Rafka.


"Iya tuan"


"Tolong ambilkan kotak P3K"


"Baik tuan"


Setelah memperoleh apa yang dia butuhkan, dengan telaten Rafka membersihkan luka Livia dan mengobatinya dengan perlahan.


"Kenapa kau terluka lagi?" tanya Rafka melunak.


Livia tersenyum mendengar pertanyaan Rafka, dia pun menjelaskan kronologi kejadian hari ini, semuanya tanpa tertinggal sedikit pun.


"Bang Ka, Ivi punya rencana, apa Abang mau membantu?" tanya Livia menatap Rafka serius.


"Ada apa?" jawab Rafka tak kalah serius, akhirnya mereka larut dalam pembicaraan mengenai rencana Livia.


.......


.......


.......


Livia tiba di sekolah, dia berjalan di lorong kelas sendirian, beberapa murid yang berjumpa dengannya kini tampak cuek tak peduli, tentu itu lebih baik dari pada mereka nyinyir menyakiti telinga.


Mendekati tangga menuju kelasnya Livia melihat Chiko CS sedang saling bercanda dengan murid laki-laki lainnya, tak jarang mereka menggoda siswi yang melewati mereka , tentu saja para kulkas berjalan tidak termasuk mereka hanya diam memperhatikan.


Dari jauh Livia sudah menyadari tatapan mereka yang mengarah padanya, Livia acuh dan terus berjalan melewati mereka tanpa melirik sedikit pun.


Tampaknya segerombolan laki-laki itu juga enggan menyapanya mengingat kejadian sebelumnya.


"Vi" panggil Chiko ketika Livia sudah dibelokkan tangga, Livia berhenti sejenak melirik kearahnya tanpa menjawab apapun.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Chiko yang berjalan mendekatinya, Livia mengangkat sebelah alisnya masih tetap bungkam.


Livia menoleh hendak melanjutkan langkahnya, namun Chiko menggenggam tangannya membuatnya urung untuk melangkah. Livia menghembuskan nafasnya jengah.


"Penting?" tanya Livia dingin, Chiko mengangguk dan kembali menuruni tangga dengan menarik tangan Livia, Livia akhirnya mengikutinya ogah-ogahan.


"Maaf" ucap Chiko setelah terdiam cukup lama ketika sampai di taman belakang kelas.


"Untuk?" tanya Livia sambil menarik tangannya.


"Semuanya" jawab Chiko sendu.


"Apa salah Lo?" Chiko menatap dalam mata Livia.


"Maaf aku udah bentak kamu kemarin dan pergi gitu aja" jelas Chiko.


"Kamu? bukannya kemarin udah ganti Lo ya?" sarkas Livia.

__ADS_1


"Maaf aku hilang kendali Vi" ucap Chiko menunduk merasa bersalah.


"Udahlah gak papa, lupain aja, gue udah maafin Lo" ucap Livia kemudian beranjak pergi dari sana.


"Sungguh aku menyesal jangan abaikan aku Vi" ucap Chiko yang memeluk Livia dari belakang, Livia melepas pelukannya dan berbalik menatap Chiko.


"Kapan aku mengabaikan mu? bukannya kita memang tidak pernah saling menyapa ketika berpapasan, kau juga tidak pernah menghubungi ku kecuali saat di sekolah dan kita baru bertemu lagi hari ini bukan?" ucap Livia santai.


"Kau bahkan tidak menatap ku Vi" ucap Chiko.


"Kau ingin ku tatap? baiklah" Livia berdiri tepat di depan Chiko, membuat Chiko sedikit menunduk untuk menatapnya karena perbedaan tinggi badan.


"Seperti ini?" tanya Livia dengan tatapan mata tajamnya.


Chiko yang di tatap dengan jarak yang begitu dekat menjadi gugup, jantungnya berdetak kencang bahkan tatapannya mulai tidak fokus, Dia menatap wajah Livia yang baru kali ini dia tatap dengan jarak sedekat ini.


'Cantik' batin Chiko.


Tanpa sadar kepala Chiko terus mendekat, yang awalnya sejengkal sedikit demi sedikit nyaris tak berjarak.


Livia yang menyadari kemana arahnya mundur selangkah, padahal Chiko sudah memiringkan sedikit kepalanya. Canggung itulah yang terjadi, Chiko menatap Livia dengan tatapan kecewa, kaget dan juga berharap.


"Aku ke kelas dulu" ucap Livia kemudian pergi meninggalkan Chiko yang masih diam mematung.


"Argh! Bodoh!" maki Chiko pada dirinya sendiri.


Livia kembali melewati gerombolan laki-laki didekat tangga dengan ekspresi datar dan amarah yang menguar, Rafka terus memperhatikannya dari awal hingga Livia tak terlihat lagi.


'Ada apa dengan Ivi' batin Rafka menatap jejak terakhir Livia.


'Chiko breng**k!' makinya dalam hati sambil melirik Chiko yang baru tiba dengan muka kusutnya.


"Kelas" ucap Chiko melangkah mendahului teman-temannya.


"Breng**k hampir saja dia merenggut keperawanan bibirku" maki Livia pelan setelah mendudukkan diri di kursinya.


"Apa Vi?" tanya Laura yang duduk sebangku dengan Livia.


"Ah, Gak papa" jawab Livia, Laura menatapnya sebentar kemudian mengangguk kembali membaca bukunya.


"Dert! dert!" getar hp Livia, dia pun memeriksanya.


From: Bunglon


Are you okay?


^^^To: Bunglon^^^


^^^Aman bang^^^


Selesai membalas pesan dari Rafka, Livia memeriksa pesan lainnya.


Pesan 1


From: White


Nona seseorang menghubungi hacker AL untuk melakukan misi, detail terlampir


^^^To: White^^^


^^^Nanti ku periksa^^^


From: White


Baiklah Nona


Pesan 2


From: Momi


Sayang nanti malam mami sama papi pulang, kamu siap-siap ya nanti kita makan malam bersama, mami sama papi tunggu Ivi di restoran 😘


^^^To: Mami^^^

__ADS_1


^^^Siap mami^^^


Pesan 3 dari grub 'anak mami papi'


Bang Ion


Ivi kemana gak angkat telvon Abang?


Bang Aon


2


Bang Evan


Adek sekolah twins


Bang Ion


Dari kemarin bang


Bang Aon


Sekarang dia online tapi mengacuhkan kita


Bang Evan


Ivi?


^^^Me^^^


^^^Hehe baru cek hp bang 😁^^^


Bang Aon


Jangan dibiasakan Ivi


^^^Me^^^


^^^Siap bang^^^


Bang Evan


Udah bubar Ivi masih sekolah


Lelah memeriksa ponselnya, Livia melemparkannya ke dalam laci dan merebahkan kepalanya dimeja beralaskan lengannya, padahal luka di sikunya baru saja kering.


.


.


.


"Kenapa dia masih baik-baik saja?!" sentak seseorang pada pria yang sedang berlutut dihadapannya.


"Maaf tuan, saya yakin dia sudah menelan racunnya tuan tapi saya juga tidak tau kenapa dia masih baik-baik saja" jawab pria yang berlutut dengan tubuh gemetaran penuh keringat dingin.


"Kau memang tidak pecus!" marah seseorang di hadapannya.


"Kau terus awasi dia, jika dia masih baik-baik saja beri dia racun lagi!" ucapnya dengan emosi.


"Baik tuan" ucap pria yang berlutut, kemudian dia pamit undur diri.


Setelah melihat kepergian pria tadi, seseorang yang dipanggil tuan itu berdiri dari kursi kebesarannya, menatap kaca jendela dibelakangnya yang menampilkan pemandangan kota.


"Kau harus hancur sama sepertiku"


"Akan ku buat kau menangis darah, menderita hingga memilih untuk mati"


"Tentu saja setelah permatamu ku musnahkan"


"Hahahahahaha"


_____

__ADS_1


...TBC...


...18 April 2022...


__ADS_2