
Akhirnya Livia kini sudah kembali bersekolah setelah perdebatan panjang dengan keluarganya.
Mereka tidak setuju jika Livia kembali ke sekolah nya yang dulu, dan ingin membawa Livia pindah ke kota Y tempat kakek dan nenek dari ibunya tinggal.
Tapi karena keras kepala dan ingin membereskan sesuatu Livia berkeras tetap ingin berada di kota J dan bersekolah di sekolah yang sama.
Akhirnya keluarganya pun mengalah dengan syarat jika terjadi hal buruk apapun itu, Livia harus bilang kepada orang tuanya dan para abangnya.
"Selamat pagi semuanya" ucap Livia saat tiba di ruang makan, dia melangkah ke kursinya dan duduk.
"Pagi sayang" jawab momi.
"Pagi princess" jawab papi.
"Kamu akan tetap berpenampilan seperti itu sayang?" Tanya mami sedikit khawatir.
"Iya mom, Ivi tetap sama" jawab Livia sambil memakan roti selai coklatnya.
"Kamu harus menepati janjimu, kabari papi" ucap papi Vicko.
"Iya Pi, Ivi janji" jawab Livia, setelah menyelesaikan sarapan nya dia melangkah mendekati orang tuanya bersalaman dan berpamitan.
Dia berangkat sekolah diantar oleh supir.
Livia kembali memeriksa penampilannya, kacamata bulat, softlens hitam, rambut lurus dikucir kuda, seragam yang cukup besar tapi tidak sampai kedodoran.
"Oke, harus sama persis" gumam Livia.
Setelah selesai memeriksa Livia menyandarkan punggungnya dan melihat keluar kaca mobil.
"Semuanya sangat berbeda" gumamnya lagi.
Akhirnya Livia sampai di SMA Alexander, keluar dari mobil berterimakasih kepada supir dan memasuki gerbang sekolahnya.
Dia berjalan dengan pelan sambil melihat-lihat sekolah tersebut.
Melangkah menuju ruang kepala sekolah, sepanjang perjalanannya banyak murid yang memperhatikannya, namun Livia hanya acuh dan terus berjalan.
Mulai bingung dengan jalan yang benar karena sekolah tersebut sangatlah luas, akhirnya Livia bertanya kepada salah satu siswi yang sedang mengobrol didepan kelas mereka.
"Permisi" ucap Livia.
"Ada apa ya?" Jawab siswi tersebut.
"Maaf mau tanya ruang kepsek dimana ya?" Tanya Livia.
"Lurus aja ke depan nanti belok kanan, ada tulisannya ko didepan pintunya" jawab siswi tersebut.
"Makasih ya" ucap Livia yang dibalas dengan anggukan.
Livia kembali berjalan, saat dia ingin berbelok dia ditabrak dari arah belakang hingga dia oleng, beruntung dia sigap bisa menahan tubuhnya.
"Maaf-maaf gue gak sengaja, tadi dikejar sama siluman" ujar suara cowok dibelakang Livia.
Dengan kesal Livia menoleh, menatap sinis cowok tersebut.
Tanpa merespon apapun Livia kembali berjalan, yah mau bagaimana lagi jiwa Livia ditempati oleh si cuek Althea.
Cowok yang menabrak Livia tercengang menatap kepergian Livia, dia adalah Kenan.
"Siluman? Sialan Lo, ganteng kaya pangeran gini" ucap Eros, cowok berlesung pipi sambil mencekik Kenan ke ketiaknya.
"Pesona Lo udah mati, sampe dikacangi cewe cupu" ucap cowok yang memiliki ekspresi datar tapi bermulut cabe yaitu Bryan.
"Diem Lo cabe!" Sinis Kenan, sambil melepas cekikan Eros.
Bryan mencibir Kenan sambil berjalan mengikuti Si triple kulkas Chiko, Fian dan Rafka.
Livia akhirnya menemukan ruang kepala sekolah.
"Ivi udah sembuh?" Tanya kepsek kepada Livia saat Livia sudah duduk dihadapannya.
"Iya pak" jawab Livia sopan.
__ADS_1
"Kalo lagi berdua panggil Om aja kaya biasanya Vi" ucap kepsek yang ternyata Om Livia.
"Iya Om" jawab Livia.
"Oh iya Ivi dikelas apa ya sekarang?" Lanjutnya.
"Kamu di kelas XI IPA 1, mau Om Dedi antar?" Tanya Om Dedi.
"Nggak deh, kasih tau arahnya aja ya" jawab Livia.
Setelah memahami penjelasan singkat dari omnya, Livia segera bergegas menuju kelasnya karena pelajaran sudah berlangsung.
"Tok tok tok!" Bunyi ketukan pintu.
"Iya ada apa ya?" Tanya guru wanita setelah membukakan pintu.
"Saya Livia Bu, kata pak kepsek ibu sudah tau"
"Oh Livia, iya tadi saya sudah diberi tau, tunggu sebentar ya nanti ibu panggil" ucap guru tersebut lalu masuk meninggalkan Livia didepan pintu.
"Hari ini kita kedatangan teman baru" ucap Bu Diana guru sebelumnya.
"Perempuan atau laki-laki Bu?" Tanya Fika antusias.
"Biar ibu panggilkan, Livia ayo masuk"
"Nah ini Livia temen baru kalian, kalian ingat nggak? Sebelumnya dia murid disini saat kelas X tapi karena terjadi suatu musibah sekarang Livia baru bisa ke sekolah lagi" jelas Bu Diana.
"Ayo Livia perkenalkan dirimu" lanjutnya lagi.
"Hai, kalian bisa panggil saya Livia" ucap Livia dengan ekspresi datar.
Kelas yang awalnya sunyi mulai terdengar bisikan-bisikan.
"Baiklah, nama ibu Diana, ibu guru bahasa Indonesia" ucap Bu Diana
"Livia boleh duduk di kursi kosong dibelakang ya" lanjutnya, Livia mengangguk dan pergi ke kursinya di belakang ujung dekat jendela.
_____
Livia tetap diam ditempatnya menatap sekelilingnya, enggan beranjak tapi perutnya justru menghianatinya.
Dengan terpaksa dia pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang meronta.
Livia berjalan sendirian di lorong-lorong kelas sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Saat tiba di kantin, Livia segera memesan makanan, tapi saat ingin duduk dia harus berputar-putar mencari kursi kosong.
Cukup lama mencari akhirnya Livia memperoleh kursi diujung, jauh dari pintu masuk kantin.
Duduk dengan tenang menikmati nasi gorengnya.
"Brak!" Bunyi gebrakan meja disusul dengan kursi yang di tarik.
"Yuhu! Si Cupu masih berani sekolah gays" ucap Niki.
"Gimana rasanya koma?" Tanya Jesy sambil menyentuh pundak Livia.
"Kenapa gak mati sekalian" ucap Serli.
"Yah kalo dia mati kita gak bisa main-main lagi dong" sahut Evi.
Keempat siswi tersebut tertawa bersamaan, mereka adalah murid kelas XI IPS 2 yang dulu sering membully Livia, tapi bukan orang yang mengurungnya dulu.
Mendengar kegaduhan tersebut, murid-murid lain mulai tertarik memperhatikan mereka.
"Niki CS berulah lagi"
"Itu Livia si cupu dulu itu kan?"
"Wah iya itu si cupu, kirain udah keluar dari sini"
"Bego banget dia malah balik lagi"
__ADS_1
"Gak kapok kali jadi target si Yolla"
"Syukurin udah tau miskin belaga ke sekolah favorit"
"Merusak pemandangan"
"Tapi tumben tuh, dia diem aja"
"Iyaya, malah asik makan"
"Mulai gila kali"
Bisikan-bisikan dari para murid yang menonton mereka terus terdengar.
Sedangkan Livia tetap tenang menikmati makan siangnya, makan dengan anggun seperti para bangsawan.
Geram tidak memperoleh respon apapun, Niki melempar piring didepan Livia hingga tumpah mengenai seragam depan Livia.
Dengan tenang Livia mengambil gelas dimeja meminumnya pelan kemudian mengambil tisu mengusap bibir dan pakaiannya.
Murid lain yang menyaksikan tingkahnya tersebut ada yang takjub ada juga yang menghina.
"Anj, keren banget"
"Rame nih"
"Paling bentar lagi juga nangis"
"Sok keren iya"
"Anggun banget"
"Jijik banget sama tampangnya"
Mengabaikan ucapan murid-murid yang menyaksikan mereka, Livia bangun dan hendak pergi, tapi bahunya ditekan dengan keras oleh Jesy hingga Livia kembali terduduk.
"Kalian ada perlu dengan saya?" Tanya Livia tenang dengan ekspresi datar.
"Dasar cupu! Lo gak dengerin kita ngomong ha?!" Bentak Evi, Livia mengangkat sebelah alisnya heran.
"Emang kalian berbicara dengan saya?"
"Brengsek! Lo berani sama kita? Dasar babu!" Teriak Serli.
"Kayanya si cupu butuh pelajaran baru ya?" Smirk Niki sambil mengangkat dagu Livia.
"Kalian ini sebenarnya mau apa?" Ucap Livia mulai jengah, dia melihat jam tangannya sebentar.
"Udah mau masuk, lebih baik kalian menyingkir" ucap Livia.
"Kalian membuang waktu saya" lanjut Livia dingin.
Niki terkejut melihat tatapan mata Livia kepadanya, sangat tajam dan auranya sedikit menakutkan.
"Heh! Lo tu cocoknya jadi babu, gak usah sok ngelawan kita!" Bentak serli kemudian menarik rambut Livia kebelakang hingga kepala Livia mendongak.
"Tolong lepas" ucap Livia tenang.
"Haha kalian dengar gays? Tiling lipis? Hahaaa dasar cupu bego!?" Ejek Serli dan semuanya ikut tertawa, beberapa murid bahkan mencemoohnya terang-terangan.
"Udah cupu, miskin lagi" sahut Evi.
"Kalian benar-benar menguji saya ya?" tanya Livia dingin menatap tajam Serli dan yang lainnya.
Livia memegang tangan Serli yang masih menjambak nya.
"Mau apa lo?! Berani ngelawan?!" Sentak Serli.
"Brak!"
"Krak!"
_____
__ADS_1
...TBC...
...25 Maret 2022...