Putri Cupu

Putri Cupu
9


__ADS_3

"Gue rasa hubungan adik kelas dan kakak kelas" jawab Livia santai.


"Nggak mungkin, kak Fian tuh kulkas super yang bekunya dari lahir masa tiba-tiba beliin Lo seragam baru dan dianterin ke sini lagi" ucap Gina.


"Bener banget, cepetan ngaku" sahut Arina.


"Gak percaya ya udah" Livia pun pergi begitu saja meninggalkan kedua temannya dengan kekepoan yang membuncah.


"Ah! nggak asik Lo" seru Arina.


"Pokoknya Lo harus ceritain detailnya dikelas!" seru Gina.


Livia yang berjalan sudah cukup jauh hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang ataupun menghentikan langkahnya, sehingga kedua temannya harus berlari mengejarnya.


.......


.......


.......


Yolla begitu kesal dia terus berteriak sambil membanting barang-barang yang ada disekitarnya.


"Breng**k!!" teriaknya.


"Berani banget si cupu itu ngehina gue! Jal**g sialan!!!" teriaknya menggema di ruangan tersebut.


mendudukkan dirinya di kursi dia meraih ponselnya menghubungi seseorang.


"Halo"


"..."


"Ada tugas buat Lo"


"..."


"Lo harus beresin dia"


"..."


"si cupu"


"..."


"Apapun itu! terserah! yang penting singkirin dia dari hadapan gue!"


"..."


"Kalo Lo gak bisa menuhin perintah gue, lihat aja nanti!"


Yolla mematikan sambungan telvon begitu saja setelah dia selesai berbicara tanpa mendengar jawaban lawan bicaranya.


_____


Livia dan kedua temannya tampak sedang asik ngobrol di sebuah cafe baru yang saat ini sedang populer.


Sebenarnya hanya Gina dan Arina yang terus berbicara tentang banyak hal, sedangkan Livia hanya menanggapi dengan singkat.


"hai ciwi-ciwi gabung dong" ucap suara laki-laki menghampiri meja mereka. Livia cs pun menoleh menatap ke arah suara itu.


"Oh iya duduk aja" ceplos Gina yang di angguki oleh Arina, Livia hanya melirik sekilas dan kembali acuh.


Cafe yang ramai membuat Livia membiarkan saja karena semua meja tampak penuh, apalagi meja mereka panjang dengan 6 kursi, 2 orang laki-laki pun duduk, satu di samping Livia dan satu di samping Arina. Sehingga posisinya.


Gina - Arina - Laki-laki asing

__ADS_1


Livia - Laki-laki asing


"Oh iya, kenalan dulu dong, gue Tio dan dia Arya" ucap Tio sembari menunjuk Arya yang duduk di samping Livia.


"Gue Gina"


"Gue Arina"


"-" hening. Livia hanya diam dan sibuk bermain ponsel, merasa terus diperhatikan Livia pun mendongak melihat semua tatapan mengarah padanya, Livia pun menghela nafas jengah.


"Livia" ucapnya cuek dan memasukan cake ke mulutnya.


"Kalian masih sekolah?" tanya Tio.


"Iya kita baru kelas XI di SMA Alexander" jawab Arina.


"Wahh adek kelas dong, kita kelas XII di SMA Nusa" ucap Tio.


"Iya kak" ucap Arina.


Tio dan Arya memesan makanan dan minuman, kemudian mereka mulai asik mengobrol banyak hal, hingga hari sudah sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


"Vi Lo mau bareng kita?" tanya Gina.


"Nggak gue bawa mobil sendiri" jawab Livia.


"Girls kita balik dulu ya" ucap Tio menjulurkan tangannya dari kursi penumpang samping kemudi, sedangkan Arya yang menyetir hanya melihat kami.


"Iya kak hati-hati" ucap Arina dan Gina. Livia hanya mengangguk ogah-ogahan, merasa ada yang menatapnya Livia tak sengaja bertatapan dengan Arya yang kemudian tersenyum tipis kepadanya.


Livia yang melihat hal tersebut hanya mengangkat sebelah alisnya merasa aneh dan tidak memikirkannya, dia berlalu memasuki mobilnya.


"Dert! Dert! suara getar ponselnya.


Livia membuka pesan yang masuk 'nomor tak dikenal' penasaran dia pun segera membukanya.


Jangan pergi sekarang!


'Siapa?' batin Livia.


"Mungkin orang iseng" gumamnya, Livia pun melajukan mobilnya cukup kencang meninggalkan cafe.


Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil yang di tumpangi Livia mati padahal hari mulai gelap dan tempatnya cukup sepi karena jauh dari bangunan-bangunan, dia keluar dari mobil memeriksa mesin-mesin nya, dia tampak bingung tapi tetap saja bertingkah santai dengan wajah temboknya, datarrrr.


"Ckitt!" suara decitan ban motor dengan aspal.


"Livia?" tanya seseorang yang berada di atas motor sport yang baru saja berhenti tepat didekat mobil Livia. Livia memerhatikan pria tersebut, dia mengenakan helm hingga Livia tidak mengenalinya.


"Butuh bantuan?" Livia hanya diam dengan tatapan tajam, tidak merespon sama sekali.


"Gue Chiko" ucap pria tersebut sembari melepas helm nya.


"Mobil gue tiba-tiba mati"


"Boleh gue periksa?" Livia hanya menganggukkan kepalanya. Chiko pun memeriksa mobil Livia, mulai dari mesin hingga bahan bakar.


"Bahan bakar nya habis" ucap Chiko.


"Baru kali ini gue lihat mobil mewah kehabisan bahan bakar" kekeh Chiko. Livia yang mengetahui permasalahan mobilnya mengerutkan keningnya.


"Tadi baru diisi sama mamang" ucap datar Livia dengan tatapan semakin tajam.


"Masa sih? boros banget mobil Lo" ucap Chiko.


"Nggak mungkin seboros itu" gumam Livia.

__ADS_1


Livia membuka pintu mobilnya mengambil tasnya, dia kembali ke depan mobil sambil memainkan ponselnya, tak berapa lama senter dari ponselnya pun meneranginya.


Livia berjongkok menyenteri bagian bawah mobilnya, terdapat titik-titik seperti air di aspal, dia terus menyinari asal titik-titik tersebut hingga tepat dibawah mesin, titik tersebut berhenti.


Chiko sedikit bingung dengan apa yang Livia lakukan tapi dia tetap saja fokus memperhatikan nya.


Livia menundukkan kepalanya sedikit, dia mengambil nafas pelan.


"Sepertinya bahan bakar nya habis bukan karena boros tapi karena bocor" jelas Livia.


Chiko pun ikut memeriksanya dan benar saja dugaan Livia.


"Iya, selangnya ada yang putus" ucap Chiko.


"Ko bisa putus ya, padahal itukan kuat banget" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Livia.


"Kayanya ada yang gak beres" ucap Chiko tiba-tiba. Livia yang awalnya kebingungan tampak tersentak, dengan refleks dia menarik tangan Chiko untuk menaiki motor sport miliknya dengan buru-buru.


Beruntung Livia juga bisa mengendarai motor sport karena kakak kembarnya yang menyukainya jadi dia sudah di ajari oleh mereka.


Chiko yang di tarik tiba-tiba kebingungan, apalagi melihat Livia yang mengendarai motornya dengan lihai. Dia sedikit terpukau melihatnya, tampak cantik dan berdamage parah membuatnya tertarik, ehhh tertarik? dia pun menggelengkan kepalanya pelan.


Motor yang dikendarai mereka baru saja melaju sekitar 30 meteran, tiba-tiba saja-


"Bumm!" suara ledakan begitu nyaring bahkan membuat motor sport yang sedang melaju cepat tersebut terkena dampaknya dan oleng membuat mereka berdua terlempar cukup jauh.


"Ugh!" rintih Livia yang mengalami luka-luka cukup banyak karena berguling diaspal beberapa kali, sedangkan Chiko yang terlempar di semak-semak tidak memiliki banyak luka berlari kearah Livia yang masih terduduk berusaha bangkit.


"Vi! Lo gak papa?" panik Chiko.


"Bang**t!!" umpat Livia menatap tajam mobilnya yang sudah hancur lebur dengan kobaran api yang besar membuat terang sekitarnya.


Chiko yang diabaikan, menatap dalam Livia 'meski penuh luka dan sedang emosi tapi kenapa malah tambah cantik' batinnya. Mengabaikan pemikiran nya, Chiko segera memanggil ambulance.


"Vi, kepala Lo berdarah" panik Chiko melihat darah yang mengalir di kening Livia. Dengan cepat dia melepas jaketnya dan melepaskan kaos nya yang berwarna putih polos. Dia membalut kaosnya di kepala Livia pelan.


"Gue wangi, jadi gak usah takut kaos gue bau" ceplos Chiko, padahal Livia hanya diam menatapnya datar dengan otak yang berfikir kemana-mana.


Sedangkan jaket Chiko dipakaikan ke pundak Livia karena dia hanya memakai kaos hitam pendek, sebenarnya tadi dia memakai jaket jeans tapi dilepas saat di mobil.


Chiko akhirnya bertelanjang dada dengan celana jeans hitam panjang, beruntung dia memiliki badan yang bagus jadi tidak perlu malu dihadapan Livia.


Livia sendiri hanya menatapnya santai karena sudah terbiasa melihat roti sobek dari kehidupannya dulu maupun sekarang, tentu saja semua berkat abang-abang nya.


"Makasih dan maaf" ucap Livia tiba-tiba saat mereka sedang duduk dipinggir jalan menunggu pertolongan, mereka tidak bisa pergi karena motor Chiko masuk ke parit dan mereka terlalu malas mengangkatnya.


"Gak papa, malah gue yang terimakasih berkat Lo kita selamat" ucap Chiko tulus menatap Livia.


"Nanti motor lo gue ganti" ucap Livia membalas tatapan mata Chiko.


'Deg deg deg' jantung Chiko berdetak cepat, dia sedikit gugup.


"Gue bisa beli lagi Vi" ucap Chiko lembut, Livia mengabaikan nya dan menatap kembali ke arah mobilnya yang apinya sudah mulai mengecil.


"Lo tau ya? kalo tadi mobilnya bakal meledak" tanya Chiko ikut menatap ke arah mobil Livia.


"Nggak juga, gue cuma punya firasat gak baik, insting gue bilang harus cepetan pergi" jelas Livia.


"Lo tau siapa yang kira-kira ngelakuin ini? Lo tau gak mungkin bisa kaya gitu sendiri kan? apalagi mobil sport" ucap Chiko, Livia menatap Chiko dengan seringai tipis.


"Lo akan tau sebentar lagi" ucap Livia dingin.


"Kalo butuh bantuan Lo bisa hubungi gue" ucap Chiko, Livia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


_____

__ADS_1


...TBC...


...6 April 2022...


__ADS_2