
"Plak! plak!"
"Bugh! Bugh!"
"Brak!"
Suara pukulan dan teriakan memenuhi ruang kelas XI IPA 1, Livia yang sudah kalap telah hilang kendali dia terus menampar menjambak bahkan memukul Yolla yang sudah hampir pingsan.
Livia terus menyerang Yolla tanpa memberikan kesempatan melawan sedikit pun, dia bahkan telah menduduki tubuhnya hingga membuat Yolla kalah telak.
Teman sekelas Livia hanya bisa menonton dari jauh karena sebelumnya mereka yang berusaha memisahkan mereka justru mendapat bogeman dan juga tendangan dari Livia hingga beberapa dilarikan ke UKS.
Murid-murid dari kelas lain yang ruangannya berdekatan ataupun baru datang dan hendak melewati kelasnya juga ikut menonton kejadian langka tersebut, beberapa ada juga yang merekamnya. Mereka tidak berani mendekat apa lagi memisahkannya.
Para OSIS yang melihat pun akhirnya memanggil bantuan dari para guru, ada juga yang memanggil Chiko CS, dan ketua OSIS.
Koridor tampak ramai dengan orang yang berlarian mendekati ruang kelas Livia.
"Ivi hentikan!" teriak Rafka yang baru tiba di sekolah, sebelumnya dia yang berjalan menuju lantai tiga sedikit penasaran dengan keramaian dilantai dua akhirnya bertanya pada salah satu siswa yang hendak melewatinya, betapa terkejutnya dia saat tau sepupu kesayangannya sedang berkelahi.
Tidak memperoleh respon apapun, Rafka memeluk Livia dari belakang menariknya mundur, namun tangan Livia yang masih bebas terulur kebelakang mencengkeram kerah baju Rafka balas menariknya dan membanting tubuhnya ke depan dengan mudah.
Rafka menatap Livia dengan masih terlentang mengabaikan rasa nyeri di punggungnya, luka dibibir Livia tampak mengeluarkan darah dan memar dipipinya kembali terlihat.
Rafka melihat tatapan Livia yang sangat tajam dan dingin, dia melihat ada keinginan membunuh yang sangat besar didalam dirinya, menunjukkan bahwa dia benar-benar emosi dan hilang kendali.
Dengan cepat dia menarik tangan Livia kuat mencengkram nya hingga memerah, dia langsung berdiri mengunci gerakan tangan Livia.
Livia yang tidak terima melawan dengan keras membuat Rafka sedikit kewalahan.
Lio yang baru datang berlari ikut membantu memegang Livia, dia bahkan tidak menyadari keadaan Yolla yang masih terkapar dilantai dengan keadaan setengah sadar sambil menangis ketakutan.
"Krak!" bunyi patahan.
"Uhuk! uhuk!" Livia terbatuk kencang sampai menyemburkan darah, tak berapa lama tubuhnya melemah dia pingsan tiba-tiba.
"Ivi! Ivi! bangun!" teriak Rafka panik, dia sendiri sampai tidak menyadari dengan tindakannya terhadap Livia yang ditonton banyak orang.
Para guru berdatangan mulai histeris melihat 2 murid perempuannya berdarah-darah apalagi Livia sampai tidak sadarkan diri.
"Siapkan mobil ke rumah sakit!" teriak Rafka dengan aura dinginnya, dia langsung menggendong Livia ala bridal style membawanya pergi dengan sedikit berlari.
Rafka sangat panik karena mengetahui keadaan Livia yang memburuk akibat racunnya yang sudah mendekati otak.
"Apa yang terjadi?" tanya Bryan dan Eros yang berpapasan dengan Rafka didekat parkiran.
Rafka diam tidak mengatakan apapun, ekspresinya sangat datar dengan mata memerah, sungguh Eros merasa takut sampai tubuhnya sedikit bergetar.
Bryan yang peka menarik Eros menaiki motornya, mengikuti Rafka yang memasuki mobil yang sudah terparkir menunggu kedatangannya.
Dirumah sakit Livia langsung di bawa ke UGD, dengan cepat Rafka menghubungi robot white.
"Tolong bawakan vaksin kemarin ke RS dekat sekolah ku dengan Livia secepatnya, Livia drop"
"..."
"Baiklah"
__ADS_1
Rafka terduduk di kursi tunggu panjang, jantungnya berdetak kencang, dia merasa sangat khawatir sekarang.
'Bagaimana jika terjadi hal buruk?' batin Rafka, kemudian menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran buruknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Eros duduk di samping kanan Rafka.
"Ivi dan Yolla berantem" ucap Rafka dingin.
"Gila si Yolla ngebully sampe kaya gitu" sahut Bryan.
"Kalo sampe Ivi kenapa-kenapa bahaya" ucap Rafka pelan, dia tau keluarga Dyfandra tidak akan tinggal diam mengetahui putri kesayangan mereka selama ini dibully.
"Bahaya gimana?" tanya Eros, dia menatap Rafka penasaran begitupun Bryan tapi Rafka diam tidak mengatakan apapun.
Dari koridor terdengar beberapa orang berlarian mendekati mereka.
"Rafka! bagaimana keadaan Princess?!" Tanya papi Vicko sambil berlari mendekat sambil menggandeng mami Adel yang menangis, beberapa bodyguard langsung berpencar menempatkan diri.
"Ivi baik-baik aja kan Af?" tanya mami Adel yang berdiri dihadapan Rafka sambil memegang bahunya mengguncang pelan.
"Mi, Pi, Af minta maaf gak bisa jagain Ivi dengan baik dan-"
"Tuan!" panggil seorang wanita bule cantik memotong ucapan Rafka, Rafka menoleh menatapnya.
"Luve! berikan padaku" Rafka refleks bangun menghampiri white yang berwujud Luve asisten Livia yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Luve mengulurkan tangannya memberikan kotak kaca kecil pada Rafka, Rafka berbalik menatap orang tua Livia.
"Maaf, Af akan jelaskan semuanya nanti" jelas Rafka berlari memasuki ruangan tempat Livia berada mengabaikan semua orang yang masih terbengong bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam papi frustasi.
"Kalian temen Ivi?" tanya mami Livia ramah.
"Ka- kami teman Rafka tante" gugup Eros.
"Kamu anaknya Hastanta?" tanya papi Vicko kepada Eros dengan ekspresi datar.
"Iya om saya Haikal Eros Hastanta" jawab Eros cepat.
"Dan kau?" tanya papi Vicko menatap Bryan.
"Saya Bryan Devano" jawab Bryan tidak kalah cepat.
"Ternyata anaknya Devano, sudah lama saya tidak bertemu dengannya" ucap papi Vicko.
Akhirnya mereka semua terdiam menatap pintu yang tak kunjung terbuka, entah apa yang sedang terjadi didalamnya.
Eros dan Bryan sendiri begitu syok dan gugup, bagaimana tidak? si cupu yang dibilang miskin ternyata princess nya keluarga Dyfandra, apalagi sekarang mereka berhadapan dengan orang nomor 1 terkaya di Asia.
Sekarang mereka memahami ucapan Rafka 'Jangan percaya gosip!'
'Bahaya kalo Livia kenapa-kenapa!'
Sungguh mereka langsung teringat semua cacian yang pernah mereka lontarkan kepada Livia.
Keduanya berkeringat dingin mulai merasa takut, ponsel keduanya terus bergetar tapi mereka mengabaikannya, mereka tidak berani memeriksanya dan memilih tetap diam di sana duduk dengan kaku di samping nyonya Dyfandra dan menatap pria gagah di depan mereka yang terus berdiri gelisah.
__ADS_1
.......
.......
.......
Di Ruangan lain di rumah sakit yang sama, Yolla juga telah diobati luka-lukanya, wajah mulusnya tidak lagi terlihat karena tertutupi lebam yang begitu banyak dan juga terdapat beberapa goresan luka di bagian pipi hidung dan bibirnya.
Di samping ranjangnya terdapat ibunya, Lio dan juga teman-temannya, mereka menatap kasian dan ngeri wajah Yolla.
"Dasar anak gila! bagaimana bisa dia melukaimu begitu kejamnya!" marah Alea Klitter ibunya.
Yolla menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, dia sulit berbicara karena bibirnya yang terluka.
"Ibu akan tuntut si jala*g itu!" marah Alea.
"Kalian tolong jaga Ola, Tante akan pergi ke sekolah" ucap Alea.
"Baik Tante" jawab mereka bersamaan.
Alea pun keluar dari ruangan Yolla dengan amarah yang tampak jelas.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Lio pelan mendekati ranjang Yolla, tangis Yolla pun pecah tak lagi bisa di tahan dia sangat ketakutan menghadapi amarah Livia, dia mengabaikan perih dipipinya yang terkena air matanya sendiri.
Lio menatap Jesy, Niki, Evi dan Serli dengan tatapan bertanya.
"Yolla marah saat mengetahui Chiko sakit, dia mengira itu semua karena ulah si cupu dan melabraknya ke kelas" jelas Jesy.
"Kak Yolla jambak rambut Livia terus nampar juga setelah memaki-makinya dan akhirnya Livia mengamuk" ucap Serli.
Lio yang mendengar penjelasan singkat tersebut menghela nafasnya lelah, dia menatap Yolla yang masih menangis sesenggukan.
"Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau mengekang ku dan juga Chiko, membully orang lain, Aku sudah tidak menjadi ketua OSIS la, tapi beruntung sekolah itu milik keluarga Chiko" ucap Lio lelah.
"Kau beristirahatlah aku mau keluar sebentar" ucap Chiko keluar dari ruangan tersebut.
Yolla hanya bisa menangis menatap kepergian Lio, teman-temannya mendekat berusaha menenangkannya.
Lio berjalan dengan gontai tanpa tujuan di lorong rumah sakit, menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil menunduk.
Suara tapak kaki seseorang mendekat, Lio mendongakkan kepalanya melihat Fian yang sedang berjalan sendirian dengan ekspresi datarnya.
Dia melirik Lio sekilas tanpa menghentikan langkahnya maupun menyapanya, Lio sendiri hanya diam menatap kepergiannya sudah biasa diacuhkan si kulkas tersebut.
Sedangkan di ruangan Livia, Rafka dan beberapa orang kepercayaannya mulai menangani Livia, setelah menyuntikkan vaksin ditubuh Livia, dia memeriksa seluruh tubuh Livia dan ternyata tulang bahunya retak dengan jari-jarinya yang terdapat luka goresan dan juga luka dibibir yang kembali terbuka. Beberapa bagian tubuh Livia juga terdapat lebam-lebam tapi hanya samar-samar.
Tubuh Livia yang awalnya memasuki tahap kritis sudah membaik setelah memberinya vaksin, tapi racun itu tidak akan bisa langsung hilang tapi setidaknya untuk sekarang keadaannya masih lebih baik.
Luve yang sedari tadi memperhatikan mereka semua mendekati Livia, menatapnya sedih karena tuannya yang melemah bahkan hampir tak tertolong.
"Luve kau jaga princess" ucap Rafka sendu.
"Baik tuan" jawan Luve.
Rafka pun keluar dari ruangan tersebut sambil mendorong brankar Livia, dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap yang tentu saja VVIP.
_____
__ADS_1
...TBC...
...27 April 2022...