Putri Cupu

Putri Cupu
20


__ADS_3

Matahari pagi ini sudah cukup tinggi namun si empunya kamar masih bergelung dibawah selimut tebalnya.


"Tok tok tok! sayang bangun makan dulu" ketuk mami Adel pada pintu kamar Livia.


"Iya mi, Ivi mandi dulu" teriak Livia menggeliat masih memejamkan matanya.


"Iya udah jangan lama-lama ya, nanti kamu sakit perut" ucap mami lembut kemudian terdengar langkah kaki menjauh.


Livia mendudukkan dirinya meraih ponsel yang tergeletak dimeja samping kasur.


"Jam 11, pantesan mami bangunin" gumam Livia kemudian menguap.


Hari ini hari Minggu sehingga Livia bisa bangun siang, apalagi semalam dia maraton nonton film action tapi sebenarnya itu hanya alasan karena sebenarnya dia memeriksa beberapa bisnisnya, dia baru terlelap ketika sudah dini hari tadi setelah angka 0 di saldonya bertambah.


Selesai mandi dan bersiap-siap Livia turun ke ruang makan, menikmati sarapannya yang sudah sangat terlambat.


"Bi, mami kemana?" tanyanya kepada bi Minah art dirumahnya.


"Nyonya pergi ke arisan non" jawab bibi, Livia yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya.


"Dert dert" getar ponsel, Livia memeriksanya ternyata robot white mengirimkan pesan.


From: White


Selamat siang Nona, sampel racun yang nona bawa sebelumnya sudah saya ambil ekstraknya.


^^^To: White^^^


^^^Hari ini aku akan ke lab^^^


From: White


Baiklah, berhati-hatilah nona


Livia kembali ke kamarnya mengambil ransel yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Bi, tolong bilangin mami Ivi mau main ke rumah temen" ucap Livia menitipkan pesan untuk maminya.


"Iya non" jawab bi Minah.


Livia mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi karena hari yang cukup panas membuatnya malas berlama-lama.


Setelah sampai di lab, Livia langsung menemui white dan green.


"Mana ekstraknya?" tanya Livia.


"Ini nona" white memberikan botol kaca bening berukuran kecil kepada Livia.


Livia membuka tutup botol kaca itu pelan mencium aromanya.


"Wow tidak berbau" kagum Livia.


"Warnanya juga jernih" lanjutnya lagi.


"Benar nona, seperti air murni" ucap white.


"Iya, ku pikir akan berbau sedikit paling tidak" ucap Livia ceria dan melangkah menuju ruangan khususnya.


"Green kau merawat peliharaan ku dengan baik kan?" tanya Livia melirik robot green yang berjalan dibelakangnya bareng robot white.


"Tentu nona" jawab robot green.


Setelah memasuki ruangan yang penuh dengan komputer miliknya, Livia langsung memeriksa tumpukan kotak kaca yang disusun membentuk hiasan dinding yang berisikan kumpulan koleksinya.


"Halo lebah kecilku, aku merindukanmu" ucap Livia sambil membuka kotak kaca robot berbentuk lebah yang beberapa langsung terbang mengelilinginya.


"Haha aku sangat senang" ucap Livia dengan senyuman lebar.


Dia duduk di kursi kebesarannya menyalakan komputer, mengetik dengan sangat cepat. Livia mengirimkan data-data baru ke robot lebah miliknya.

__ADS_1


"Kalian berbagai tugaslah, aku ingin kalian memantau pergerakan mereka, berikan aku informasi yang bagus ya" ucap Livia kepada 10 robot lebah yang masih terbang mengelilinginya.


"Green tolong antar mereka keluar ya" ucap Livia setelah memencet salah satu tombol di ruangannya menghubungi robot green yang berjaga di luar ruangannya.


Robot Green pun langsung masuk kemudian membawa robot lebah keluar melalui jalur khusus.


Livia kemudian beranjak keluar menuju meja penelitiannya, dia ingin membuat vaksin dari ekstrak racun bunga saljunya.


"Sebenarnya sayang, tapi penasaran! ya udah deh bikin sedikit aja" gumamnya kemudian menuangkan ekstrak racun ke wadah khusus, Livia akhirnya mulai fokus dengan penelitiannya.


.......


.......


.......


"Lo dah baikan sama Chiko" tanya Jesy yang sedang duduk di kasur Yolla, mereka tengah nonton drama bersama.


"Iya, beruntung banget gue gara-gara kejadian kemarin Chiko sama Lio perhatian lagi ke gue" bangga Yolla sambil mengunyah kripik singkong.


"Kemarin tu si cupu yang sengaja atau.... Lo?" tanya Jesy ragu-ragu.


"Gak sengaja lah, gila aja gue yang sengaja" sewot Yolla.


"Kayanya Chiko suka deh sama si cupu" ucap Jesy.


"Gua gak akan biarin mereka bersama" sinis Yolla.


"Oh iya kemarin si cupu lagi makan bareng sama Lio kan?" ceplos Jesy sambil mengunyah kripiknya.


"Sial*n! gue hampir lupa itu" umpat Yolla, dia langsung bangun mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"halo"


"..."


"..."


"Gue gak peduli!" Bentak Yolla kemudian mematikan ponselnya secara sepihak, Yolla kemudian kembali menaiki kasurnya.


"L- Lo mau bunuh si cupu" kaget Jesy hingga gugup.


"Kalo perlu kenapa tidak?" sinis Yolla.


"Lo gak usah gegabah Yolla!" tekan Jesy.


"Lo gak usah ikut campur!" marah Yolla, Jesy menatapnya sebentar kemudian menghela nafasnya.


"Jangan sampe Lo nyesel di kemudian hari" ucap Jesy.


"Gue balik udah malam" lanjutnya yang beranjak dari kasur, mengambil tas dan ponselnya dan langsung keluar dari kamar Yolla tanpa menunggu balasannya.


Sedangkan Livia masih di laboratoriumnya, dia terlalu larut dalam penelitiannya hingga lupa waktu. Ponselnya? entah sekarang ada dimana.


"Arghhhh!" teriak Livia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, dia istirahat untuk makan karena cacing diperutnya sudah berdemo sedari tadi.


"White! aku mau makan siangku" panggil Livia.


"Nona sekarang sudah pukul 4 pagi yang berarti nona sudah melewatkan makan siang dan makan malam, selain itu ponsel nona terdapat 115 panggilan tak terjawab dan 231 pesan, seseorang juga meretas berbagai CCTV untuk melacak keberadaan nona dan juga keluarga dan sepupu nona semua juga ikut mencari anda" jelas robot white panjang lebar.


Livia mematung mendengar penjelasan dari robot white, secepat kilat dia berlari meninggalkan laboratoriumnya menaiki kuda besi dengan kecepatan kilat, bahkan dia melupakan jaket dan barang-barangnya.


"Bego banget Lo! kebiasaan lupa waktu, pasti mami khawatir banget" gumam Livia sambil terus mengendarai motor sportnya sesekali menyelip kendaraan lain.


"Lain kali lebih baik suruh white kabarin kalo ada apa-apa" gumamnya lagi setelah mengingat dia melarang white dan robot lainnya mengganggu kegiatannya setiap dia di lab.


Motor Livia terus melaju hingga dia menyadari ada mobil hitam yang mengejarnya, Livia mengurangi laju kendaraannya siapa tau itu suruhan keluarganya yang telah mencarinya.


Mobil tersebut menghadang motor Livia, para pria berbadan kekar dengan setelan jas hitamnya keluar dari dalam mobil, jumlahnya ada 4 orang.

__ADS_1


"Kalian suruhan papi ya?" tanya Livia.


"Kabarin papi sama mami saya baik-baik aja, tadi hp saya ketinggalan" lanjut Livia setelah mencari ponselnya yang ternyata tertinggal di lab bersama ranselnya.


"Baik nona, silahkan ikut dengan kami" ucap salah satu pria didepannya.


"Gak usah saya naik motor aja, kalian ikutin dibelakang aja" jawab Livia kembali menyalakan motornya.


"Sebaiknya nona naik ke mobil, karena tuan memerintahkannya demikian biar nanti motor nona dibawa salah satu dari kami"


"Nggak usah nanti saya yang bilang ke papi, minggir" ucap Livia dingin.


Bukannya menghindar mereka justru menghadang motor Livia dari semua sisi, akhirnya Livia menyadari adanya keganjalan, para pria ini tidak memakai pin tanda keluarganya.


'Siapa yang memerintahkan mereka?' batin Livia.


"Cepat minggir!" tekan Livia kesal, dia berusaha mengulur waktu sambil menentukan rencananya.


'Cepat berfikir wahai otak! kenapa ponselnya gue tinggal tadi!' geram Livia dalam hati merutuki kecerobohannya.


"Nona sebaiknya turun" ucap salah satu pria.


"Nggak! kalian minggir!" sentak Livia, salah satu dari pria itu menarik Livia hingga menuruni motornya, ada juga yang memegang motornya agar tidak ambruk.


"Lancang kalian! lepaskan saya!" Livia terus berteriak dan berontak hingga akhirnya terlepas setelah menendang aset berharganya.


Livia mundur beberapa langkah membiarkan pria yang kesakitan tersebut terduduk menutupi asetnya yang mungkin sedikit retak karena tendangan Livia yang tanpa rem.


Ketiga temannya tampak terkejut dan meringis ikut meratapi nasib temannya, salah satunya pun mulai menyerang Livia, tentu Livia tidak tinggal diam, dia terus menyerang dan menangkis.


2 orang sudah Livia tumbangkan dengan mudah, tersisa pria yang asetnya tadi ditendang Livia sudah berdiri berdampingan dengan pria yang tadi memegang motornya.


'Deg!' jantung Livia berdetak cepat, nafasnya mulai kacau.


'Brengs*k! racunnya kambuh' batin Livia yang nafasnya mulai terengah-engah, keringat dingin mulai bercucuran.


Salah satu pria maju memberi pukulan ke arah wajah Livia namun bisa ditahan olehnya, dia menangkap tangan pria tersebut dan menyikut dadanya kencang tak lupa dengan bonus tendangan manis di rahangnya.


'Sepertinya efek racunnya makin parah karena gue belum makan dari siang ditambah udara dingin' gumam Livia yang mulai melemah.


'Masih satu lagi, kumohon bertahanlah' pria yang tadi ditendang Livia maju menyerang, tampaknya dia memiliki dendam yang dalam dengan Livia karena serangannya yang ganas terus berdatangan membuat Livia sedikit kewalahan.


"Bugh!" pipi kiri Livia memperoleh bogeman cukup kencang hingga bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.


"Cuh!" Livia meludah darah.


"Sial*n!" maki Livia.


Livia bersiap menyerang setelah pria di hadapannya maju dengan seringai diwajahnya.


"Bugh!" Livia berhasil memberi bogeman diwajahnya, pertarungan terus berlanjut seolah mereka bertarung hingga titik darah penghabisan tanpa memedulikan luka di tubuh mereka.


"Brak!" motor Livia ambruk tertimpa tubuhnya yang baru terkena tendangan dari pria dihadapannya, Livia sudah tidak bisa bangkit lagi, dadanya sesak tubuhnya sudah melemah kesadarannya menurun.


"Mami papi Abang" gumam Livia menatap langit, tiba-tiba ingatan tentang seseorang memasuki otak Livia membuatnya mengerutkan keningnya.


'Ah seperti itu?' batinnya sembari tersenyum miring.


Pria tadi tampak bangkit menghampiri Livia, Livia sudah pasrah ketika melihat pria tersebut mengangkat sebelah kakinya hendak menendangnya lagi.


"Bugh!" suara tendangan yang sangat kencang.


"X" Panggil Livia pelan yang kemudian tersenyum tipis menutup matanya.


_____


...TBC...


...22 April 2022...

__ADS_1


__ADS_2