
Seorang pria tampak menghajar pria yang tadi hendak menendang Livia dengan brutalnya, bahkan wajah pria itu sudah penuh dengan darah tapi dia masih belum menghentikan pukulannya.
"X" gumaman gadisnya terdengar lemah, jantungnya berdetak kencang, dia menghentikan aksinya dan berlari kencang merengkuh tubuh lemah Livia yang sudah tak sadarkan diri.
"Bangun princess" panggil lirih pria yang dipanggil X oleh Livia, dia Xander.
"Bangun sayang" panggilnya lagi dengan tubuh bergetar hebat, kekhawatiran muncul memenuhi dirinya menyadari tubuh tunangannya yang sangat dingin dan pucat apalagi dengan nafas yang sangat lemah.
"Bangun Lily!" teriaknya kencang.
Beberapa pria berjas hitam baru saja tiba karena mereka tertinggal cukup jauh dengan mobil yang dikendarai oleh Xander, mereka menghampiri Xander yang terduduk di atas aspal dengan memangku Livia.
"Cepat siapkan mobil dan dokter terbaik! kita kembali ke mansion terdekat!" tegas Xander dengan suara sangat dingin.
Dia bangun dengan Livia yang berada digendongnya, memasuki mobil pelan agar tubuh Livia tetap nyaman di pangkuannya.
"Nyalakan penghangat mobil" ucapnya dingin sembari melepas jasnya pelan, dia menyelimuti tubuh Livia yang hanya memakai kaos putih polos dengan jasnya.
Wajah Xander tampak sangat datar dengan rahang mengerat dan juga otot-otot yang bermunculan menandakan bahwa dia sedang menahan emosinya dengan kuat.
Lagi-lagi dia merasa gagal menjaga gadisnya, dia menatap wajah Livia sendu dan khawatir, merapikan rambutnya yang menjuntai menutupi sisi wajah Livia, mengelus pelan memar dan luka diwajahnya dengan tatapan Sirat dengan kemarahan.
10 menit kemudian mobil akhirnya sampai di mansion megah milik Xander, tentu setelah anak buahnya memanipulasi rambu lalu lintas dan juga mematikan semua CCTV yang mereka lewati serta dengan kecepatan kilat hingga mereka sampai dengan cepatnya.
Xander keluar dengan cepat setelah anak buahnya membukakan pintu mobil untuknya, dia berlari kencang namun hati-hati dengan Livia yang masih digendongannya.
Para maid dan Bodyguard yang sudah menunggu kedatangan mereka membungkuk hormat bersamaan menyambut kedatangan tuannya, ketika memasuki kamar Xander sudah terdapat dokter Trio, dokter yang bekerja untuk keluarganya sekaligus sahabatnya.
"Cepat periksa dia, tubuhnya sangat dingin dan terus bergetar disertai keringat dingin yang terus keluar, detak jantung dan nafasnya juga melemah, beberapa bagian tubuhnya juga terdapat luka" jelas Xander sambil merebahkan tubuh Livia dengan perlahan di ranjang king size miliknya.
Dokter Trio dengan cekatan memeriksa keadaan Livia.
"Ada sesuatu ditubuhnya" ucap dokter Trio.
"Apa?" tanya Xander singkat.
"Sepertinya dia terkena racun, aku tidak membawa peralatannya, aku akan menghubungi asisten ku sebentar" jelas dokter Trio yang langsung menjauh menghubungi seseorang.
Xander menatap bibir pucat Livia, dia mendekat mendudukkan dirinya disisi lain ranjang menggenggam tangan Livia lembut seolah takut melukainya.
"Bangun princess, buka matamu, kumohon" lirihnya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Tak berapa lama para bawahan dokter Trio datang dengan membawa bermacam-macam peralatan medis. mereka langsung memeriksa keadaan Livia.
Dokter Trio meminta Xander menunggu diluar karena melihatnya yang seperti ingin mati saja melihat gadisnya dipasang beberapa alat medis, selain itu dia jengah ditatap begitu tajam olehnya agar tidak menyentuh Livia secara langsung, padahal jika bagian memegang sudah dibantu para asistennya yang perempuan.
Dengan berat hati Xander menurutinya, dia pergi keruang kerjanya setelah menempatkan banyak bodyguard yang berjaga didepan kamar Livia.
Dengan aura mencekam dia memasuki ruang kerjanya tak lupa dengan ekspresi datarnya, beberapa pria yang merupakan anak buahnya tampak mengikutinya di belakang.
"Kalian sudah menahan mereka?" tanya Xander dingin.
"Sudah tuan, mereka sekarang ada dipenjara bawah tanah" jawab asistennya Rico.
"Panggil si bodoh yang kuperintahkan menjaga gadis ku itu kemari!" tekannya penuh amarah.
"Hubungi juga keluarga princess kalau dia sedang bersamaku" lanjutnya.
"Baik tuan" jawab Rico, dia pun pamit undur diri.
Xander ikut keluar dari ruangannya pergi menuju penjara bawah tanah, dia butuh pelampiasan atas emosinya yang telah terpendam sedari tadi.
.......
.......
.......
"Segera hapus semua jejak kita! jangan biarkan si brengs*k Xander mengetahuinya!"
"Baik tuan" jawab asistennya dengan tubuh gemetaran.
"Sial*n! sebentar lagi padahal aku bisa memilikimu sayang" ucapnya dingin.
Disisi lain keluarga besar Livia yang tadinya tampak sibuk mencari nona muda Dyfandra yang menghilang sudah kembali tenang, kedua orang tua Livia yang memperoleh kabar dari asisten tunangan putrinya tampak lega.
Mereka membiarkan Livia bersama Xander terlebih dahulu, tentu saja setelah Xander yang meminta izin langsung pada mereka tadi saat mereka berniat menyusul keberadaan putrinya.
Mereka tau jika Livia sedang tidak baik-baik saja tapi mereka juga percaya jika Xander pasti bisa menjaga Livia dengan baik. Mungkin jika membiarkan mereka berdua bersama hubungan keduanya bisa membaik seperti semula.
Kini Xander tengah mengamuk dan menghajar para pria yang menyerang Livia tanpa ampun, mereka sudah pingsan dengan tubuh penuh luka dan beberapa tulang yang patah.
Xander yang sedang sangat emosi tidak menahan dirinya sama sekali, dia benar-benar melampiaskan amarahnya kepada mereka. Tapi dia tidak sampai membunuh mereka karena masih ingin memberikan mereka hukuman sesuai dengan keinginan princess nya.
__ADS_1
Xander kembali ke kamarnya setelah mandi dan berganti pakaian dengan buru-buru, asistennya mengatakan jika pemeriksaan gadisnya telah selesai.
Memasuki kamar dengan perlahan, wajah tegas namun dengan mata sendunya Xander menatap Livia yang masih memejamkan matanya dengan tenang.
"Benar dia terkena racun" ucap dokter Trio memecah keheningan, Xander sedikit terkejut dan menatap dokter Trio mendengarkan dengan serius.
"Racun ini termasuk jenis yang sangat langka, racun dari bunga salju Antartika dan penawarnya adalah akar bunga itu sendiri" jelasnya.
"Dimana aku bisa mendapatkannya?" tanya Xander datar.
"Di Antartika sendiri kau belum tentu bisa mendapatkannya, bunga ini sangat langka dan mahal"
"Berapapun itu dan bagaimanapun caranya bunga itu harus kudapatkan" tekan Xander dengan tatapan mata dingin.
"Bagaimana dengan efek sampingnya? dan berapa lama lagi dia bisa bertahan?" tanya Xander menatap Livia.
"Seminggu paling lama, aku hanya bisa menekan penyebarannya bukan menghentikannya jadi sebaiknya kalau bisa secepatnya"
"Baiklah, kau pantau gadisku dengan beberapa asisten perempuanmu"
"Baiklah"
Xander menyuruh semua orang didalam kamar keluar meninggalkan dirinya dan Livia berdua di kamar.
Xander duduk di kursi samping ranjang Livia, menatapnya dalam tanpa berniat menyentuhnya sama sekali, bukan karena tak ingin tapi dia terlalu takut.
"Maaf aku selalu gagal menjagamu princess, lagi-lagi aku mengecewakanmu"
"Aku akan menjauh jika kedekatan kita selalu membuatmu terluka, aku akan memberimu waktu agar kau bisa meraih kebebasan mu, aku tidak akan mengekang mu seperti sebelumnya, bukankah aku sudah membuktikannya beberapa bulan ini?"
"Sejujurnya semuanya sulit bagiku, tapi untukmu semua akan aku lakukan"
"Maka dari itu, bangunlah dan nikmati kebebasan mu sebelum kau kembali terjebak bersamaku"
"Aku tau kau adalah gadis yang kuat jadi ayo bangun lakukan apapun yang kau suka, aku akan menunggumu"
"Kau Taukan? Sesuatu yang sudah menjadi milikku tidak akan ku lepaskan, jadi cepatlah bangun karena waktu terus berlalu"
_____
...TBC...
__ADS_1
...22 April 2022...
Double up yey 🎉