
Chiko CS sedang menikmati makan siang mereka di kantin sambil sesekali bercanda. Akan tetapi tidak seperti biasanya, Chiko tampak lebih sering melamun dan hanya mengaduk-aduk makanannya.
Awal Chiko berangkat sekolah dengan siku yang diperban, para sahabatnya mewawancarainya dengan panjang lebar, namun Chiko tidak menjelaskan secara detail hanya bilang kalau dia mengalami kecelakaan karena sedikit mengantuk.
"Btw beberapa hari ini gue gak pernah lihat si cupu ya, apa dia udah keluar gara-gara di bully terus?" ucap Eross tiba-tiba.
Para sahabatnya yang tadinya tampak asik mengobrol langsung diam begitu saja. Mereka menatap tajam ke arah Eross secara bersamaan.
"Ke-kenapa?" cengir Eross sedikit gugup.
'Apa gue salah ngomong?' batinnya.
"Lo ngapain tanya-tanya makhluk gak jelas?" sewot Bryan.
"Ya kan gue penasaran aja, kemarin-kemarin kan dia udah sok jago berani ngelawan" terang Eross.
"Sakit kali" celetuk Kenan, tanpa dia sadari beberapa diantara mereka mulai menatapnya dengan serius.
"Sok tau Lo" sahut Bryan.
"Kan gue nebak doang elah" sahut Kenan.
"Cepet habisin sebelum masuk" ucap Rafka memotong pembicaraan. Akhirnya mereka buru-buru menghabiskan makanannya karena waktu istirahat hampir habis.
Saat berjalan di lorong hendak menuju ke kelas mereka, Chiko CS melewati salah satu toilet yang biasa dipakai oleh adik kelas mereka. Tak sengaja mereka mendengar obrolan di dalamnya dan membuat mereka terhenti bersamaan tanpa mereka sadari.
"Sepi gak ada Livi" ucap Arina.
"Iya padahal belum ada sebulan dia berangkat sekolah udah kecelakaan lagi" ucap Gina.
Ya, ternyata siswi yang sedang mengobrol itu adalah adik kelas mereka yang tidak lain merupakan teman Livia.
"Nanti jengukin dia yuk" ucap Arina.
"Skuyy" sahut Gina.
"Eh tapi kan kita gak tau alamat rumahnya" lanjutnya.
"Oh iya ya, huh! padahal kita udah cukup dekat sama dia tapi ternyata alamat rumahnya aja kita gak tau" celetuk Arina sedih.
"Nanti kita telvon aja biar dia shareloc" ucap Gina yang di angguki Arina.
.......
.......
.......
__ADS_1
"Lo pada denger nggak tadi? si cupu beneran sakit gara-gara kecelakaan lagi" heboh Eross saat tiba didepan kelas.
"Si cupu kecelakaan?" serobot Yolla yang tidak sengaja mendengar ucapan Eross ketika hendak menuju ke kelasnya.
"Katanya sih gitu" jawab Eross, Yolla yang mendengarnya menjadi ceria tiba-tiba dan melirik seseorang dengan senyuman lebar.
"Wah sial banget si cupu, baru juga berani ngelawan gue udah kecelakaan lagi, kenapa gak koit sekalian" ucap Yolla santai.
"Jaga bicaramu la!" ucap Chiko dingin.
"Apa urusannya sama Lo?!" sewot Yolla.
"Gak baik berbicara seperti itu!" ucap Chiko.
"Terus emang kenapa?! ko Lo jadi belain dia sih? gue ini sepupu Lo! harusnya Lo belain gue dong!" marah Yolla.
"Lo salah ngapain gue belain" sabar Chiko.
"Lo nyalahin gue? terserah gue dong! mulut-mulut gue juga!" sentak Yolla.
"Tapi Lo salah makanya gue bilangin!" sentak Chiko mulai kesal.
"Bilangin dengan cara ngebentak?! bego Lo ya? bukannya nurut yang ada gue malah benci sama Lo dan tampah benci sama si cupu itu!" Ucap Yolla dengan penuh emosi sambil pergi menabrak bahu Chiko.
Chiko yang masih kesal mengusap wajahnya kasar dan berbalik pergi meninggalkan kelas dengan ekspresi datar. Teman-temannya hanya bisa mengikutinya tanpa bisa berkomentar karena mereka tau hubungan Chiko dan Yolla selalu baik, baru kali ini mereka melihat mereka bertengkar.
"Gue mau jujur sama kalian" ucap Chiko memecahkan keheningan apartemennya.
"Waktu gue kecelakaan, gue gak sendirian" lanjutnya.
Sunyi tidak ada sahutan, para sahabatnya sedang mendengarkannya dengan baik.
"Malam itu pas gue balik dari rumah Eross gue gak sengaja ketemu sama Livia, mobilnya mogok di pinggir jalan yang sunyi. Gue bermaksud menolongnya dan ternyata bahan bakarnya habis, gue sempet ejek dia gara-gara mobil sport tapi kehabisan bahan bakar. Tapi dia bersikeras mengatakan bahwa bahan bakarnya baru saja diisikan oleh mamangnya. Dia mengambil ponselnya dan memeriksa bagian bawah mobil dan ternyata bahan bakarnya bocor. Entah apa yang terjadi dia tiba-tiba narik gue ke atas motor gue dan mengemudikannya cukup kencang, tapi-
Baru berjalan sekitar 30 meter 'Bum!' mobilnya meledak tiba-tiba, karena ledakannya yang dahsyat motor pun kena efeknya dan oleng hingga kami mengalami kecelakaan. Gue baik-baik aja, tapi Livia nggak lukanya cukup parah.
Saat kami di rumah sakit, awalnya kami mau di obati secara terpisah tapi gue nolak, gue mau nungguin dia dulu soalnya dia masuk UGD cukup lama, Para perawat akhirnya bantuin gue obatin luka gue setelah dia dipindahkan ke ruang rawat inap setelah lukanya selesai dijahit dan kondisinya stabil.
Tapi sialnya gue ketiduran hingga pagi, pas gue bangun terus periksa ruangannya dia udah nggak ada, para perawat bilang keluarganya udah membawanya dan gue gak tau dia dimana sampai sekarang" ucap Chiko panjang lebar tanpa ditutup-tutupi.
"Si cupu naik mobil sport?" tanya Eross.
"Gue kira dia miskin" lanjutnya.
"Siapa yang bilang dia miskin?" Tanya Fian.
"Ya kan rumornya emang gitu" ucap Eross.
__ADS_1
"Anak beasiswa belum tentu miskin" ucap Rafka.
"Apa Livia udah baik-baik aja makanya di bawa keluarganya?" tanya Kenan.
"Bisa jadi iya, bisa jadi makin parah" ucap Chiko.
"Ada yang aneh, dia seperti menyadari kalo mobilnya bakal meledak, seperti emang ada yang berniat mau celakain dia?" gumam Fian pelan tapi masih bisa didengar yang lain.
"Gue juga curiga kaya gitu" ucap Chiko.
"Dan gue takut kalo ternyata semua ini ulah Yolla makanya tadi gue marah, gue gak mau dia tersesat terlalu jauh" lanjutnya menghela nafas.
"Gue juga sempet tanya ke Livia perihal kepekaannya tapi dia cuma bilang feeling nya mengatakan dia harus pergi secepatnya dari sana" lanjutnya.
"Feeling seperti itu biasanya muncul karena dia sudah terbiasa dalam bahaya" ucap Bryan.
"Tapi tadi kayanya Yolla tadi nggak tau" ucap Eross.
"Kita tidak tau siapa Livia sebenarnya jadi kurasa kalian tidak usah terlalu memikirkannya dan juga jangan terlalu ikut campur terlalu jauh" ucap Rafka dingin.
"Kalo emang Lo takut sepupu Lo kenapa-kenapa, Lo harus awasi dia dengan baik" lanjutnya menatap Chiko tajam.
Chiko yang di tatap tajam oleh Rafka hanya mengangguk pasrah. Sedangkan yang lain hanya diam menurut karena jika Rafka sudah bersuara pasti itu yang terbaik.
.......
.......
.......
Seorang pemuda tampan tampak sedang sibuk dengan laptopnya, rahangnya mengeras dengan tatapan mata tajam menunjukkan bahwa dia sedang emosi. Tangannya dengan lincah terus mengetik rumus-rumus yang sulit dipahami oleh orang awam.
Dia menatap video CCTV yang baru saja diretasnya dengan emosi makin membuncah. Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya menonjol. Dia meraih ponsel di sakunya dan menelpon seseorang.
"Apa saja yang sudah kau lakukan?!" Bentaknya.
"..."
"Apa kau pikir hal seperti itu berguna?!"
"..."
"Breng**k! kembali saja kau kesini sia**n! aku akan mengirimkan orang lain dan tunggu hukumanmu nanti" ucapnya dingin memutus sambungan telvon tanpa menunggu balasan kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan membanting pintu keras.
-----
...TBC...
__ADS_1
...9 April 2022...