Putri Cupu

Putri Cupu
15


__ADS_3

"Ko Lo gak tangkap Yolla sih?!" sentak Chiko tiba-tiba menatap tajam Livia.


Livia sedikit terkejut dengan bentakan tersebut tapi dia hanya diam menatap Chiko yang panik menghampiri Yolla, kemudian dia pergi menggendong Yolla ke UKS.


"Bisa-bisanya dia marah sama Lo, jelas-jelas disini Lo yang didorong dan berhasil menghindar" sewot Wilo yang sedari tadi berdiri di samping Livia.


"Terkadang rasa sayang yang terlalu besar bisa bikin buta" ucap Livia santai di angguki Wilo.


Livia hendak berbalik pergi tapi tak sengaja menatap Lio yang juga sedang menatapnya aneh, Livia acuh saja dan pergi dari lapangan untuk membolos.


Mendudukkan diri di kursi kantin, seseorang juga ikut duduk dihadapannya, Wilo ternyata mengikutinya.


"Ngapain ngikut gue?" tanya Livia.


"Makan lah" ucap Wilo.


"Banyak meja kosong" tunjuk Livia ke sekitarnya menggunakan dagunya.


"Males makan sendiri" ucap Santai Wilo yang kemudian memesan makanan dan minuman diikuti Livia.


"Viiiii!!!! Lo ko tinggalin kita sih?!" kesal Arina yang baru datang dengan Gina.


"Haus" jawab singkat padat Livia, Gina yang jengah menyerobot minuman Livia dan meminumnya hingga habis.


"Gue belum minum!" kesal Livia.


"Pesen lagi gue traktir" Livia pun menghela nafas pasrah.


"Hai kak, kenalin gue Arina"


"Ah iya, panggil Wilo aja"


"Gue Gina"


"Wilo"


"Lo gak papa Vi?" tanya Gina, Livia menatapnya bingung.


"Tadi Lo didorong sama si Yolla kan?" tanya Gina.


"Gue gak papa ko" jawab Livia.


"Kesel banget gue kalo keinget yang tadi" sewot Wilo.


"Iya gue juga kesel mana pas mau nyusulin Lo dimarahin sama Kakel partner gue lagi!" emosi Arina menggebu-gebu.


Akhirnya mereka pun mulai mengobrol santai hingga jam istirahat berbunyi, kantin yang awalnya sepi mulai ramai oleh murid-murid yang kelaparan.


"Sial*n Lo Wil, cabut gak ajak-ajak" kesal Caca teman Wilo yang baru sampai dimeja Livia CS.


"Tau Lo bolos gue juga ikutan anj*r panas banget lagi" ucap Loli.


”Kalian harus jadi Kakel yang baik" ucap Wilo santai.

__ADS_1


"Kaya yang ngomong baik aja" sewot Caca.


"Panggilan kepada Livia kelas XI IPA 1, harap segera ke ruang BK!" bunyi suara dari pengeras suara, Livia dengan Santai berdiri membuat atensi murid-murid di sana berpindah kepadanya.


"Sial*n emang! Ayo Vi gue bakal jadi saksi buat Lo!" kesal Wilo ikutan berdiri.


"Gue juga!" ucap serempak Arina, Gina dan Caca sambil berdiri. Secara serempak pula mereka menoleh ke arah Loli ya masih duduk sendirian mengaduk minumannya santai.


"Aelah! iya gue ngikut" malasnya kemudian berdiri.


"Gue sendiri aja" ucap Livia.


"Gak!" jawab mereka serempak tentu saja kecuali Loli.


Gina pun menarik tangan Livia berjalan beriringan meninggalkan kantin diikuti yang lainnya. Livia akhirnya pasrah saja, sebenarnya dia kurang suka keramaian tapi mau bagaimana lagi karena temannya kini sudah bertambah banyak.


Livia CS memasuki ruangan BK dimana di sana sudah ada Jesy, wanita paruh baya dengan penampilan elegan dan Lio.


"Livia kemari, ada yang ingin bapak bicarakan" ucap pria paruh baya dengan perut sedikit buncit yaitu guru BK, Livia pun maju mendekat dengan santainya. Namun ternyata para CS nya mengikutinya maju mendekat hingga memenuhi area sofa.


"Kalian ngapain kemari?" tanya guru BK.


"Kami sohibnya Livia pak" jawab Arina mewakili.


"Apa hubungannya dengan itu? saya hanya memanggil Livia, kalian keluar kembali ke kelas kalian"


"Tidak bisa pak, kami sudah seperti magnet positif dan Livia magnet negatif jadi kami selalu tarik menarik pak" jelas Gina.


"Ko gue negatif?" tanya Livia.


"Kalian ini berisik sekali!" sentak wanita anggun yang sedari tadi diam memperhatikan mereka.


"Tolong ketegasannya pak! Anak saya terluka gara-gara anak nakal ini!" lanjut wanita tersebut kesal.


"Baik Bu, Livia apa benar tadi kamu berkelahi dengan Yolla?" tanya guru BK, Livia diam sejenak.


"Apa berbicara bisa dibilang berkelahi pak?" tanya Livia santai.


"Kalau hanya berbicara tidak mungkin Lala anak saya sampai terluka dan dibawa ke rumah sakit" sela wanita tadi yang ternyata ibunya Yolla.


"Maaf Tante, tapi anak Tante yang menyerang teman saya terlebih dahulu" kesal Wilo.


"Anak saya tidak mungkin menyerang jika kalian tidak memulainya" bela ibu Yolla


"Tante kalo nggak tau apa-apa mendingan diem deh, tadi emang anak Tante yang datengin saya dan Livia yang lagi olahraga" jelas Wilo.


"Benar dan tadi saya melihat Yolla mendorong Livia hingga jatuh dan menimpa Lio" ucap Arina menatap Lio.


"Benar begitu Lio?" tanya guru BK.


"Iya pak"


"Sebenarnya apa masalahnya tolong jelaskan Lio, katakan dengan jujur" tanya guru BK.

__ADS_1


Lio pun menjelaskan secara detail apa yang terjadi mulai dari awal hingga akhir, dia juga menyampaikan jika tidak percaya kami semua bisa pergi memeriksa CCTV yang mengarah ke lapangan.


Guru BK pun akhirnya mempercayai ucapan Lio, karena Lio merupakan mantan Ketos yang memang di akui kinerjanya dan baru lengser beberapa bulan lalu agar fokus ke ujiannya nanti.


"Saya rasa masalahnya sudah jelas Bu, Livia minta maaflah karena kamu tidak menolong Yolla" ucap guru BK.


"Ko Livia sih yang minta maaf? harusnya Yolla dong pak" sewot Wilo.


"Iya nanti Yolla akan saya minta untuk minta maaf ke Livia"


"Kalau begitu saya akan minta maaf jika Yolla sudah minta maaf ke saya" ucap Livia dingin.


"Kami permisi" lanjutnya kemudian menarik teman-temannya meninggalkan ruang BK.


.......


.......


.......


Ruang rawat inap Yolla kini ramai dengan keberadaan Chiko CS, jika biasanya mereka akan ribut membahas hal yang random, sekarang justru sunyi dan sangat canggung. Semua orang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing dan enggan memulai obrolan.


"Makasih udah tolongin gue ko" suara Yolla memecah kesunyian, Chiko menatap Yolla kosong, terlihat dari tatapannya jika kini dia tengah kacau.


"Kenapa Lo dorong Livia?" tanya Chiko pelan menatap lantai dibawahnya.


"Livia lagi! Livia lagi!" marah Yolla.


"Gue sepupu Lo Chiko! gue lagi gak baik-baik aja dan Lo justru tanya orang yang bikin gue kayak gini? waras Lo?!" lanjutnya.


"Tapi Lo kaya gini juga gara-gara Lo dorong Livia la" desis Chiko dengan rahang mengerat.


"Itu karena Lo berubah ko!" teriak Yolla sambil mendudukkan dirinya.


"Lo gak kaya Chiko yang gue kenal!" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Lo dulu selalu jaga gue, peduli sama gue, selalu ada di samping gue! tapi sekarang- Lo gak kaya gitu lagi! Lo lebih belain si cupu sial*n itu! bahkan Lo memilih memusuhi gue sepupu Lo sendiri! gue hancur ko! gue hancur! Lo tau kan gimana nyokap bokap gue? Lo Taukan?! Lo kemana saat gue lagi hancur sehancur-hancurnya, jatuh sejauh-jauhnya, gue sendiri ko" ucap Yolla dengan sesenggukan.


"Arghh!" teriak Chiko meluapkan emosinya dengan tangan terkepal erat hingga memutih. Dia beranjak dari sofa mendekati ranjang Yolla.


"Maaf la" ucap Chiko sendu memeluk Yolla hangat.


"Jangan berubah ko, jangan abaikan gue" ucap Yolla disela tangisnya.


"Iya gue janji" jawab Chiko sambil mengelus rambut Yolla pelan.


Teman-teman Chiko yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka tadi hanya bisa diam menghela nafas, akhirnya mereka kembali akur.


Tapi berbeda dari yang lainnya, satu di antara mereka fokus dengan pikirannya sendiri, terlihat sekali jika pikirannya tidak berada di sana, terkadang mengerutkan keningnya, terkadang mengeratkan genggaman tangannya.


Sedangkan salah satunya sibuk bermain ponsel mengabaikan drama tadi, benar-benar tidak memedulikan sekitarnya.


_____

__ADS_1


...TBC...


...16 April 2022...


__ADS_2