
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Livia baru selesai bersiap. Dia turun kebawah untuk menemui orang tuanya yang sudah menunggunya.
"Wow! kamu cantik banget sayang!" ucap momi heboh memeluk putri tunggalnya.
"Makasih mom, momi juga cantik ko" ucap Livia tersenyum manis.
"Princess nya papi sangat mempesona, papi jadi enggan pergi" sahut papi.
"Masa Ivi udah capek siap-siap gak jadi pergi si Pi" Rajuk Livia.
"Jangan dengerin papi sayang, malam ini momi mau pamerin kesayangan momi kesemuanya" sela momi cepat.
Livia hanya tersenyum menanggapinya dan papi hanya menggelengkan kepalanya, tidak bisa membantah kanjeng ratu.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan mansion mewah tersebut menuju tempat pesta berlangsung, mereka mengendarai mobil mewah dengan seorang supir.
Saat sampai di hotel tempat berlangsungnya pesta, Livia berjalan menggandeng sisi kiri mominya sehingga mominya berada ditengah-tengah antara dirinya dan papinya.
Pusat perhatian orang-orang yang berada di sana pun beralih ke arah mereka.
Paras keluarga Dyfandra memang tidak bisa di abaikan sedari dulu, sangat memukau dan berkarisma.
Warna Navy menjadi konsep warna pakaian keluarga tersebut malam ini. Papi mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja Navy. Begitupun dengan Momi mengenakan gaun panjang juga berwarna navy.
Sedangkan penampilan Livia pun memang sangatlah menawan, jauh berbeda dengan penampilannya saat pergi ke sekolah. Mengenakan gaun panjang dibawah lutut dengan lengan 1/3 yang juga berwarna navy. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
"Akhirnya kalian datang, apa kabar brother?" sapa pria paruh baya yang lebih muda dari papi. Dia adalah paman Delon adik papi.
"Baik, sejak kapan kalian kembali?" tanya papi.
"Tiga hari yang lalu, tapi pemilik acara baru datang kemarin, mari kita temui mereka" ajak paman Delon, Kami pun mengikuti langkah paman.
"Tasya! Lihat siapa yang datang" ucap paman Delon.
"Ivi!!! gue kangen!" teriak gadis cantik seusianya berlari menubruknya. Livia yang dipeluk tiba-tiba kebingungan, 'siapa gadis ini?' pikirnya.
"Lo ko gak pernah kabarin gue lagi si beberapa bulan ini, gue tu sampe ngebet mau balik tapi ujian gue nanggung anjir, maka nenek juga sakit, jahat banget Lo!" Rajuk gadis tersebut.
"Maaf kamu siapa ya?" tanya Livia kebingungan. Orang yang berada di sana pun syok terutama gadis dihadapannya.
"Vi Lo jangan bercanda deh, gue tuh lagi serius!" omelnya.
"Maaf aku tidak ingat"
"what! Lo-"
"Tasya, maaf ya Ivi baru saja lupa ingatan" Sela momi menghentikan perdebatan.
__ADS_1
"Seriously? Ko bisa" kepo Tasya, papa dan mama Tasya pun ikut terkejut.
"Ivi baru saja mengalami kecelakaan dan koma, beberapa bulan ini dia menjalani terapi untuk mengembalikan kesehatannya" terang papi panjang lebar.
"Kenapa kalian tidak mengabari kami?" sahut Tante Alle marah.
"Maaf ya, waktu itu keadaannya sangat kacau, kau juga tau kita tidak bisa membiarkan publik mengetahui hal ini" jelas momi membujuk Tante Alle yang merajuk.
"Aku sengaja tidak memberi tau siapa pun, aku tidak ingin musuh bisnis ku mengambil kesempatan untuk melukai keluarga ku lagi, terutama Ivi" ucap papi sendu.
"Baiklah, aku tidak bisa menyalakan kalian, tapi ku harap lain kali jangan seperti ini, kita adalah keluarga, right?" ucap paman.
"Ivi Lo bener-bener bikin gue kehabisan kata-kata, padahal gue udah rencanain semua kekesalan yang bakal gue lampiasin, tapi ternyata Lo sakit, dan jahatnya lagi gue baru tau sekarang, Huwaa! gue gak berguna banget sebagai sepupu Lo!" tangis Tasya di pelukan Livia.
Livia tampak bingung melihat orang-orang di sana, mereka hanya diam tidak membantu sama sekali, dia hanya bisa menepuk pelan bahu Tasya menenangkan.
Livia juga baru saja mengingat memori tentang Tasya, dia merupakan sepupu dekatnya, mereka dan satu sepupu lagi bernama Cleo sudah bersahabat sedari kecil, namun saat memasuki sekolah SMA mereka baru terpisah.
"Maaf ya, aku melupakan mu Tasya" ucap Livia.
"Iya gak papa, habis ini kita bikin kenangan baru yang lebih indah" ucap Tasya sembari menariknya menjauh dari para orang tua. Tasya masih ingin mewawancarai Livia banyak hal.
Sedangkan di tempat lain, ternyata ada sekumpulan anak muda yang tidak sengaja mendengar obrolan tadi.
"Gue baru tau keluarga Dyfandra punya anak perempuan dan ternyata mengalami kecelakaan" celetuk Eros.
"Gue juga baru tau, padahal gue sering main sama si bang twins buat balapan, cakep banget lagi anaknya" sahut Kenan.
"Mereka memang memiliki seorang putri dan tentu saja di sembunyikan" ucap Fian singkat.
"Lo ko baru bilang si, emang tau dari mana?" sewot Eros. Fian yang di tanya justru mengabaikan nya dan kembali asik memainkan ponselnya.
"Sialan Lo! lagi kemaks malah di kacangin" Rajuk Eros.
"kemaks?" tanya Rafka bingung dengan ekspresi datar.
"Kepo Maksimal" sahut Eros, Kenan, dan Chiko. Rafka hanya menganggukkan kepalanya kemudian meminum jusnya acuh tak acuh.
Di tempat lain, Livia dan Tasya mendatangi meja dengan beberapa orang berkumpul mengelilinginya.
"Uy! Cleo!" panggil Tasya.
"Hm!" sahut Cleo masih memainkan ponselnya.
"Ck! lihat sini dulu Napa"
"why?" tanya Cleo menatap tajam Tasya, melihat Tasya tidak sendiri, Cleo meliriknya sekilas dan berdiri.
__ADS_1
"Mau apa lo? Tiba-tiba menghilang sekarang muncul lagi seenak jidat" sinis Cleo menatap tajam Livia.
"Ma-"
"Ivi habis kecelakaan" sela Tasya cepat.
Tubuh Cleo tampak menegang, sepertinya dia terkejut tapi hebatnya ekspresinya tidak berubah, dia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.
Akhirnya Livia menceritakan kembali semuanya, dan mereka mulai asik mengobrol, hingga suara MC mengumumkan acara pesta akan dimulai.
Mereka semua mendekati panggung kecil yang ditengahnya terdapat kue ulang tahun yang ukurannya lumayan besar.
Acara berlangsung meriah dan tanpa halangan apapun, Livia mencari keberadaan orang tuanya dan melihat mereka sendang berbincang dengan seorang pemuda, namun Livia tidak melihat jelas wajahnya karena melihatnya dari samping.
Livia pun memutuskan pergi ke toilet, dari pada mendengarkan obrolan tentang bisnis yang membosankan.
"Capek banget" gerutu Livia pelan.
Di toilet hanya ada dirinya seorang, orang lain tampaknya masih menikmati pesta, jika bukan acara ulang tahun sepupunya mungkin Livia juga tidak akan datang.
Livia keluar dari toilet, berjalan di lorong sendirian, dia memeriksa ponselnya dan tidak ada pesan apapun, kasian.
"Brak!" Livia tidak sengaja menabrak seseorang karena asik bermain ponsel.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Livia kemudian menatap mata tajam pria didepannya, entah mengapa dia merasa takut.
"Hei! ini ponselmu?" ucap dingin seseorang dibelakang Livia, dia pun menoleh ke arah suara tersebut.
"Ah iya terima kasih" ucap sopan Livia menerima ponselnya. Livia masih menatap pria didepannya tampak tak asing.
"uy! Fian lama amat" teriak Eros dari kejauhan, Fian pun pergi meninggalkan Livia. Livia menatap Eros dan Fian yang mulai menjauh, dia mengenali Eros, murid yang menabraknya saat pertama kali dia ke sekolah, tapi tidak dengan Fian, dia tampak asing tapi juga tidak, entahlah membingungkan.
Livia kembali teringat dengan pria yang tadi di tabraknya tapi ternyata sudah tidak ada, entah pergi kemana? dan sejak kapan? dia tidak tau, lebih ke tidak peduli yang penting tadi sudah meminta maaf.
"Eh, hilang" ucap Livia, dia pun pergi dengan acuh, melupakan kejadian tadi.
"Ivi!" teriak seseorang yang ternyata Tasya.
"Dicariin dari tadi juga, kalo mau kemana-mana bilang dulu Napa, jangan langsung ilang, kan khawatir yang lain" omel Tasya.
"Kebiasaan sih" sewot Cleo.
"hehe, maaf tadi kebelet" cengir Livia.
Merekapun pergi berkumpul dengan keluarga yang lain hingga larut malam.
_____
__ADS_1
...TBC...
...28 Maret 2022...