Putri Cupu

Putri Cupu
12


__ADS_3

1 bulan berlalu, Livia masih berada di negara K setelah menjalani operasi. Kini wajah bahkan seluruh tubuhnya sudah mulus seperti sedia kala seperti tidak pernah terluka.


Livia ditemani oleh kedua orang tuanya dan juga kedua sepupunya. Tetapi para sepupunya hanya bisa datang kemari saat weekend menggunakan jet pribadi.


"Bosen ih disini, pengen liburan ke negara lain" celetuk Livia sambil rebahan berbantal paha Cleo yang sedang nonton film horor.


"Yuk! kemana kita?" sahut Tasya yang duduk di sofa single sambil makan keripik kentang.


"Susulin bang twins yok" ucap Cleo.


"Ke New York?" tanya Livia.


"Iya pake jet lusa kita balik" ucap Cleo.


"Jangan kasih tau bang twins biar surprise" ucap Tasya yang diangguki Livia dan Cleo.


Mereka pun langsung bergegas menuju atap mansion yang sudah terparkir helikopter, mereka akan ke bandara mengendarainya agar lebih cepat.


Setelah sedikit berdebat akhirnya Cleo lah yang dapat jatah mengemudi, Livia dan Tasya terlalu malas, mereka lebih memilih menikmati pemandangan dari atas langit, tanpa peduli dengan Cleo yang menggerutu.


.......


.......


.......


Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Livia CS tiba di negara New York. Livia yang masih mengantuk menggandeng Tasya karena dia berjalan dengan sedikit sempoyongan.


Bandara cukup ramai padahal hari sudah tengah malam. Livia dan kedua sepupunya berjalan sambil sesekali asik bercanda, sampai tiba-tiba dari arah samping Tasya anak kecil berlari menabraknya.


Tasya yang terdorong juga berakibat pada Livia yang ikut terdorong apalagi dengan kondisi tubuh yang lemas karena masih sedikit mengantuk.


Livia sudah pasrah jika harus mencium lantai dingin bandara, dia hanya bisa memejamkan matanya bersiap-siap. Namun beberapa detik berlalu bukan lantai yang dia temploki melainkan koper yang juga ikut ambruk ditindihnya.


Anak kecil yang menabrak Tasya menangis kencang, orang tuanya tampak menenangkan dan meminta maaf kepada Tasya dan Livia. Namun Livia acuh sibuk mendudukkan dirinya.


"Aww sia**n" umpat Livia memegang dagunya yang memerah karena terhantuk koper. Belum lagi kakinya yang ngilu karena ditimpa Tasya.


"Ivi sorry gue nggak sengaja" panik Tasya membantu Livia bangun.


Hilang sudah rasa kantuk Livia, dengan kesal dia bangun terpincang-pincang dibantu Tasya. Livia menatap ke arah pria yang menendang koper tersebut.


'Masih muda dan lumayan tampan, tapi gak gentle banget masa nolong cewe malah di tendangin koper' gerutu Livia dalam hati.


"Thank you" ucap Livia sopan, Cleo mengembalikan koper kepada Pria tersebut.


Kemudian mereka bertiga berlalu dari sana setelah memperoleh anggukan dari pria tersebut.


Tanpa mereka sadari seseorang menatap tajam kearah mereka kemudian menyeringai.


"Akhirnya ketemu" gumamnya pelan.


"Putri tunggal Dyfandra" lanjutnya lagi kemudian dia berlalu dari sana.


"Pffttt- Hahahaa" tawa Cleo meledak setelah melangkah cukup jauh dari tempat kejadian tadi.

__ADS_1


"Kenapa Lo?" tanya Livia.


"Sorry-sorry udah gak bisa nahan! Hahaha, asli lucu banget tadi tu, gue kira cowok tadi bakal nangkap Lo terus dipeluk kaya di film yang ditonton Tasya. Ehh taunya Lo malah ditendangin koper Hahahaa!" Tawa Cleo membahana, Livia cukup tercengang jarang-jarang si judes satu ini tertawa lepas begini.


"Pffttt- Hahaa! bener banget! gue dari tadi udah gatel mau ketawa tapi gak enak sama Ivi Hahahaa" Tasya ikut tertawa lepas.


"Sia**n! Gara-gara Lo juga gue apes!" Sewot Livia kemudian berjalan meninggalkan mereka dengan menghentakkan kakinya karena kesal.


Livia dan kedua sepupunya akhirnya tiba di apartemen si Abang twins. Livia memencet bell apartemen tersebut, berharap si Abang belum terlelap atau paling tidak terbangun karena bunyi bell.


5 menit berlalu tapi pintu tak kunjung dibuka, ingin membuka sendiri tapi tidak tau password nya.


"Mending telvon aja lah, ngantuk nih" usul Tasya, Livia pun menyetujuinya dan menghubungi bang Aon.


"Tut Tut Tut!" Suara tanda berdering, Livia sengaja meloudspeaker hpnya.


"Hallo dek, ada apa?" tanya suara serak abangnya khas orang bangun tidur.


"Abang udah bobo ya? maaf Ivi ganggu" ucap Livia.


"Nggak ko, kenapa dek?" ucap abangnya setelah sedikit berdehem.


"Abang d apart nggak?" tanya Livia.


"Iya ni, kan udah malam Vi"


"Bisa minta tolong bukain pintu bang?"


"Pintu? Pintu apart Abang?"


"Iya, Ivi punya paket buat bang Aon sama bang Ion"


"Beneran Abang, coba Abang buka dulu"


"Iya bentar" Laonder pun menuruti permintaan adiknya dan terdengar suara pintu di buka, mungkin pintu kamarnya, kemudian terdengar suara langkah yang mendekat.


"Ceklek!" suara pintu terbuka


"Surprise!" Teriak Livia dan kedua sepupunya setelah pintu terbuka.


Laonder mematung sambil memegang gagang pintu, Rambutnya tampak acak-acakan dengan tubuh bagian atas yang menampakkan roti sobeknya, matanya berkedip-kedip lucu kebingungan. Dia mengucek matanya pelan dan memperhatikan 3 Gadis didepannya.


"Abang! Ivi kangen!" Peluk Livia menyadarkan Laonder.


"Astaga! kalian kenapa gak bilang kalo kesini?!" omel Laonder.


"Ini sudah tengah malam, tidak baik anak gadis berkeliaran" lanjutnya mengomel sambil mendorong kami semua memasuki apartemen disusul Laonder.


Setelah pintu tertutup Laonder menatap ketiganya dengan tajam.


"Kalian kesini udah izin mami papi?"


"Hehe nggak bang, tapi Ivi udah bilang mau jalan-jalan habis itu balik ke Indo diantar mereka" tunjuk Livia ke Cleo dan Tasya.


"Astaga" Laonder mengusap wajahnya frustasi.

__ADS_1


"Kalo kalian kenapa-kenapa gimana coba?" omelnya lagi.


"Kalian gak bawa apa-apa?" tanyanya setelah melihat ketiganya cuma bawa badan dan pakaian yang melekat ditubuhnya. Para gadis tersebut menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil menunduk takut. Sedikit menyesal kenapa bukan Lionder saja yang mereka telvon tadi.


"Cepat bersih-bersih habis itu istirahat, kalian bisa pake baju gue atau Ion" ucapnya kesal kemudian meninggalkan ketiganya ke dapur, mungkin dia mencari air dingin untuk mendinginkan kepalanya.


.......


.......


.......


Di sekolah Chiko CS kini tak seperti sebelumnya, mereka tampak lebih diam dan cuek. Belum lagi Chiko yang masih perang dingin dengan sepupunya. Selain itu, dia cukup kepikiran tentang Livia yang menghilang begitu saja hampir 2 bulan ini.


"Wih nilai ujian Semester 1 udah di Umumin nih" ucap Eross sambil bersandar pada pagar pembatas lapangan basket.


"Anj*r! si cupu peringkat 1 umum seangkatan!" hebohnya setelah membaca berita di forum sekolah.


"Lah bukannya dia gak ikut ujian ya?" tanya Kenan.


"Ini ada nilainya ko, mungkin dia ikut ujian susulan" jawab Eross.


"Tapi dia gak pernah kelihatan batang hidungnya" sahut Bryan.


"Ka, RS Lo gak ada pasien atas nama Livia?" tanya Chiko tiba-tiba.


"Mungkin" jawab Rafka asal.


"Seriusan"


"Emang gue harus periksa semua nama pasien RS?" Ucap Rafka dingin.


"Bener juga kan RS Lo banyak banget belum lagi yang diluar negeri" sahut Eross.


"Emang parah banget ya kecelakaannya sampe berbulan-bulan sakitnya?" tanya Fian tiba-tiba menatap Chiko.


"Gue gak terlalu lihat jelas, yang pasti luka di kepala cukup dalam" jawab Chiko menatap tangannya yang sedikit gemetar mengingat kejadian dimana tangannya penuh darah Livia.


"Bentar lagi juga balik" ucap Rafka tiba-tiba.


"Tau dari mana?" tanya Kenan.


"Dia ikut ujian yang berarti dia udah baik-baik aja"


"Bener juga" sahut Eross.


"Chiko! Ko lo malah peduliin si cupu terus sih? Lo gak pernah tanya keadaan gue sejak itu, Lo udah gak peduli lagi sama gue ya?!" marah Yolla dari arah pintu lapangan basket, ya mereka sedang berada di lapangan basket indoor saat ini.


"Yolla please! ini bukan masalah peduli gak peduli, ini menyangkut nyawa seseorang! Gue cuma merasa memiliki tanggung jawab karena dia kecelakaan bareng gue!" Kesal Chiko.


"Gue benci sama Lo" lirih Yolla dan berlalu dari sana.


"Arghhh!" teriak Chiko meluapkan emosinya sambil melempar bola basket dengan kencang. Para sahabatnya hanya menatap prihatin, mereka tidak habis pikir bahwa masalahnya bisa jadi seserius ini.


_____

__ADS_1


...TBC...


...10 April 2022...


__ADS_2