Putri Cupu

Putri Cupu
16


__ADS_3

Sepulang sekolah Livia menyempatkan diri mampir ke kedai siomay yang berada di taman dekat sekolah, dia cukup rindu dengan makanan tersebut setelah berbulan-bulan tidak memakannya.


Seperti biasa Livia yang selalu cuek tentu saja mengabaikan sekitarnya, makan dengan lahap begitu menikmatinya.


Sampai Livia melihat anak kecil perempuan berlari mengejar bolanya yang menggelinding ke arah jalan raya, Refleks Livia bangun dan ikut berlari menyusulnya.


"Awas dek!" teriak Livia sambil berlari kencang.


"Bruk!" Livia jatuh terguling dengan anak kecil di pelukannya.


'Nyaris aja' batinnya, Livia menghela nafasnya pelan, menunduk melihat anak kecil tersebut menangis ketakutan.


Orang-orang mulai berkumpul mengerubunginya.


"Mba baik-baik aja?" tanya bapak pedagang siomay.


"Iya pak" Jawab Livia kemudian bangun sambil menggendong anak kecil yang masih menangis tersebut.


"Itu tangan Eneng bedarah" ujar ibu-ibu.


"Iya nanti saya obati, makasih semuanya" ucap Livia membubarkan orang-orang.


"Adik kecil kamu disini sama siapa?" tanya Livia lembut.


"Ati ke sini sama bibi" jawabnya sesenggukan.


"Bibinya sekarang mana?" tanya Livia.


"Tadi belikan Ati Sate ayam"


"Ati ingat jalannya?"


"Di sana"


"Kakak antar ya" Setelah di angguki oleh anak kecil yang bernama Ati itu, Livia membawa Ati ke tempat yang menjual sate ayam, ternyata cukup jauh dari tempat Livia makan Siomay.


"Bibi!" panggil Ati kepada wanita paruh baya yang sedang mengantri sate.


"Lah nona sama siapa?" tanya si bibi.


"Ini kakak cantik yang nolongin Ati bi, tadi Ati lari kejalan terus ada mobil Untung ada kakak yang narik Ati sampe jatuh" jelas Ati dengan wajah imutnya.


"Ya Allah, makasih neng udah selamatin nona Ati" ucap si bibi yang sudah hampir menangis.


"Ah iya gak papa ko, tadi kebetulan pas saya lagi di sana juga" jawab Livia sopan.


Livia pun berpamitan dan beranjak kembali ke Abang siomay untuk mengambil siomay yang akan di bawanya pulang.


Setelah memperoleh apa yang dia inginkan Livia pun berjalan santai di trotoar jalan, menikmati angin sore yang sepoi-sepoi.


Sudah sekitar 20 menitan Livia berjalan, dia merasa terus ada yang memperhatikan, Livia memang terlihat cuek tapi sebenarnya dia juga sedang memantau sekitarnya.


Dan Yap, dia sudah melihatnya, seseorang yang berjalan di seberang jalan menggunakan Hoodie oversize berwarna putih yang tudungnya di pakai di kepala dengan bawahan celana jeans robek di bagian lututnya.


Livia melanjutkan perjalanannya dengan santainya, walau tau ada yang mengikutinya Livia justru penasaran apa yang akan di lakukan orang tersebut.


Apakah dia laki-laki atau perempuan? apakah akan membuatnya semakin bersemangat? Apakah dia harus memukulnya dengan siomay di tangannya? atau dia lempar ke aspal dan menyeretnya menggunakan motor sport barunya? membayangkan saja sudah menyenangkan.


Livia justru semakin bersemangat hingga 10 menit berlalu 'Ko diem aja sih? udah ditungguin dari tadi juga' batinnya kesal. Livia menoleh ke kiri dan kanan, sudah tidak ada orang yang sebelumnya mengikutinya, Livia berdiri diam di sana cukup lama entah apa yang dia pikirkan dan dia tunggu.


Akhirnya setelah menghela nafas panjang Livia kembali melanjutkan perjalanan, 10 menit kemudian Livia sampai di gerbang rumahnya, dia masuk dengan wajah ditekuk karena gagal bersenang-senang.


Rumah tampak sepi karena ortunya sedang ke kota Y mengunjungi nenek dan kakeknya sekaligus kunjungan bisnis, di rumah dia hanya di temani bibi ART dan Bodyguard.


Berbicara tentang bodyguard, Livia sudah berhasil membujuk sang ayah membatalkan aturannya sebelumnya dengan syarat Livia akan rajin berlatih bela diri.


Setelah mandi dan berganti pakaian Livia turun ke dapur untuk memakan siomay yang dia bawa sebelumnya.


"Wah, menggoda sekali" gumam Livia, dengan semangat dia menyendok siomay ke mulutnya,


baru makan satu suapan Livia merasa ada yang aneh, dia mengecap mulutnya beberapa kali kemudian menghirup aroma siomay tersebut.


"Racun?" tanyanya dengan ekspresi terkejutnya.

__ADS_1


Livia berlari kearah toilet memuntahkan siomay yang sudah tertelan.


"Breng**k! sudah terlanjur makan sedikit" ucap Livia dingin sambil mengusap mulutnya pelan.


Livia teringat jika tadi dia sempat meninggalkan kedai siomay untuk menolong anak kecil, bahkan paman penjualnya ikut mengejar Livia tadi.


Pasti pada saat itulah si pemberi racun melancarkan aksinya.


"Apa orang tadi ya?" gumamnya teringat sosok yang mengikutinya sebelumya.


Livia kembali ke meja makan memasukkan siomay ke dalam wadah tertutup dan membawanya setelah merapikan meja seperti semula.


Duduk dimeja belajarnya Livia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo"


"..."


"Bang"


"..."


"Ivi dapat racun"


"..."


"Gak papa tadi tertelan dikit aja terus udah dimuntahin juga"


"..."


"Ivi baik-baik aja beneran"


"..."


"Ivi nanti ke lab ya?"


"..."


"..."


"siap bang"


"Tut" panggilan berakhir, Livia bangkit membuka lemarinya mengambil hoodie oversize berwarna hitam dan celana jeans hitam.


Setelah berganti pakaian Livia mencepol rambutnya tinggi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


Mengambil beberapa barang dan memasukan ke dalam tas termasuk siomay, Livia pergi dengan mengendarai motor sport barunya yang berwarna hitam dengan sedikit corak merah.


Sebelumnya dia sudah mengirim pesan ke maminya kalau dia mau main bareng sepupunya dan tentu saja dibalas 'oke'.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya motor Livia memasuki area hutan lindung, dia menghentikan motornya setelah sampai di rumah kayu 2 lantai yang terlihat nyaman dan sangat asri.


Rumah tersebut milik Livia termasuk hutan ini miliknya, dia membeli hutan ini tak lama setelah bangun dari koma, karena dia anak yang sangat bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru, dia sampai hampir menguasai segala bidangnya.


Dia melakukan misi-misi hacker, melakukan investasi, bermain saham, ikut balapan, dan lainnya hingga uangnya menumpuk banyak. Akhirnya dia memilih membeli aset-aset di beberapa tempat bahkan negara. Dan tentu saja keluarga besarnya tidak mengetahui semua ini dan hanya tau beberapa hal saja.


Setelah membeli hutan ini, Livia membangun sebuah rumah dengan ruang laboratorium di bawahnya, bukan tanpa alasan dia melakukan hal ini. Dulu sebelum dia terbangun di tubuh Livia dan masih menjadi Althea, dia sangat senang membuat ramuan baik obat-obatan maupun berbagai racun mematikan.


Maka dari itu saat dia memakan siomay tadi dia langsung menyadari perbedaannya, andai dia lebih siaga dan tidak terburu-buru mungkin dia tidak akan sampai memakannya baru menyadari adanya racun.


Livia memasuki rumah kayu setelah memasukkan beberapa kode keamanan.


"Selamat datang kembali nona" sambut suara robot yang berdiri disamping pintu masuk.


"Hai black lama tak melihatmu" jawab Livia santai sambil melangkah memasuki rumah.


"Nona, tubuh nona bermasalah, racun sudah memasuki lambung selain itu ada luka sepanjang 4 cm di bagian siku" ucap robot bernama black yang mengikuti langkah Livia.


"Bagus kalau kau menyadarinya" Livia tersenyum bangga pada robot buatannya ini karena langsung memindai tubuhnya dan menemukan racun bahkan lecetnya.


"White akan datang menetralisir racun nona" ucap robot black setelah mereka melewati ruang tamu, dapat dipastikan bahwa dia baru saja menghubungi robot white.


"Tak perlu, aku akan menghampirinya"

__ADS_1


"Apa si Bunglon udah di dalam?" tanya Livia setelah berhenti didepan rak buku sudut ruang tamu yang berdampingan dengan stand piano.


"Dia datang 6 menit 32 detik lalu nona"


"Baiklah aku akan masuk, kau jaga disini ya" ucap Livia menatap robot dihadapannya yang memiliki bentuk seperti kapsul yang memiliki tangan.


"Siap nona" jawab robot black kembali ke tempatnya semula.


Livia pun mengambil buku yang berada di rak buku nomor 4, meraba bagian dalamnya dan menempelkan sidik jarinya.


Rak buku yang awalnya diam menempel di dinding terbuka seperti pintu biasa, didalamnya terdapat lift kecil dengan lebar 2x2 meter.


Memasukkan beberapa kode keamanan akhirnya Livia memasuki ruangan dimana banyak tabung kaca besar disekelilingnya, dia terus berjalan hingga robot white menghampirinya.


"Selamat datang kembali nona" sambut robot white.


"Hai white" sapa Livia.


"Mari netralisir racun anda nona" ucapnya sembari menarik Livia dan mendudukkan ke ranjang pasien.


"Memang kau tau racun apa?" tanya Livia santai.


"Saya akan memeriksanya nona" dengan cekatan robot white mengambil alat-alat yang sudah dia siapkan setelah menerima pesan dari robot black. Mengambil sampel darah dan langsung membawanya untuk diteliti.


"Ivi, kau baik-baik saja?" tanya suara laki-laki menghampiri Livia.


"Iya bang" jawab Livia.


Seakan tak percaya dengan ucapan Livia, pria tersebut menghampiri Livia dan memeriksanya selayaknya seorang dokter.


"Kau mulai demam" ucap pria tersebut dengan amarah tampak menguar dari tubuhnya.


"Tadi cuma tertelan sedikit ko"


"Yang kau telan itu racun Livia" ucap pria tersebut dingin, tampak jelas dia sedang menghawatirkan sepupu terdekatnya ini.


"Nona racun sudah dideteksi dan merupakan racun dari bunga salju Antartika, tanaman langka yang sulit di budidaya serta harganya yang berada di kisaran 500 miliar dolar, terakhir terlihat 2 bulan lalu ditempat lelang Dubai" sela robot white menampilkan data-data hologram.


"Apa kita memiliki penawarnya?" tanya si pria.


"Tidak tuan, kita hanya memiliki penawar yang memperlambat efek sampingnya saja" jelas robot white.


"Dimana bahan penawar nya berada?" tanya Livia santai.


"Penawarnya adalah akar pohon itu sendiri nona" Jawab robot white.


"Breng**k!" umpat pria disamping Livia, dia sangat marah hingga matanya memerah.


"Bang, jangan bilang yang lainnya ya" rayu Livia dengan tatapan memohon.


"Ini berkaitan dengan nyawamu Vi! yang lain harus tau agar lebih cepat memperoleh penawarnya" marah pria itu.


"Ivi mohon Yaa?" rayu Livia tak menyerah, pria tersebut mengabaikannya dan berlalu pergi.


"Bang Rafka!" Rengek Livia sambil berlari mengejarnya.


_____


...TBC...


...17 April 2022...


**Semuanya ini karangan aku aja ya, aku ngarang juga nama bunganya jadi ya gitulah 😂


Untuk robot di rumah itu ada 3 ya


Black - jaga pintu utama


White - Asisten Livia yang tugasnya fleksibel


Green - jaga lab


Semua robotnya canggih bisa ngapain aja termasuk berubah bentuk**.

__ADS_1


__ADS_2