Putri Cupu

Putri Cupu
8


__ADS_3

"Lo harus minta maaf sama Yolla" ucap Jesy menghadap Livia yang sedang asik menikmati makanannya.


"Lo budek ya?!" sentak Serli, Livia yang risih meliriknya tajam.


Serli sontak memundurkan langkahnya, dia memucat ketakutan teringat kejadian sebelumnya, dengan refleks dia menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya.


"Dasar cupu! bikin malu sekolah aja! udah salah gak mau minta maaf!" ucap Evi mendorong bahu Livia kasar hingga sendok ditangannya jatuh.


"Udah jelek! miskin harta! miskin akhlak!" sinis Niki yang berdiri di samping Yolla.


"Kurang didikan orang tuanya jadi ya gini" sahut Jesy.


"Udah gays, gue gak papa ko, tadi gue yang salah, sebagai permintaan maaf gue ambilin minum ya" ucap lembut Yolla.


Yolla menyambar gelas entah milik siapa dan menghampiri Livia yang sedang memakan kacang sambil sesekali menyahut obrolan Arina dan Gina.


"Byur!" rambut dan tubuh Livia basah kuyup setelah diguyur jus alpukat oleh Yolla. Murid-murid di kantin memekik terkejut, ada yang mendukung, mengompori, adapula yang merasa kasian.


"Ups! sorry ya tangan aku pegel banget soalnya habis main hp buat kasih Lo bintang lima" ucap Yolla dramatis sambil mengusap pergelangan tangannya.


Livia tetap tenang sama seperti sebelumnya, mengambil tisu di meja dan mengusap wajahnya yang basah dan lengket-lengket.


"Vi Lo gak papa?" tanya Arina panik.


"Brengsek! Bisa gak sih kalian gak usah ganggu! kalo emang kalian kurang kerjaan, sana bantu cuci piring!" bentak Gina murka.


"Lo gak usah ikut campur *****!" sewot Evi.


"kalian yang mulai *****!" sewot Gina.


Evi yang kesal menarik rambut Gina, Gina yang tidak terima semakin emosi juga menarik rambut Evi hingga terjadi adegan jambak-jambakkan.


Serli yang tidak terima temannya di Jambak dia ingin membantunya tapi urung saat melihat Livia tiba-tiba bangun dari duduknya dengan tenang, dia berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada meja dan bersedekap tangan.


"Apa kalian tidak bosan?" ucap Livia dingin menghentikan pertikaian Evi dan Gina. Aura menyeramkan menguar dari tubuhnya, membuat murid-murid yang berada di sana bergidik ngeri bahkan para petugas kantin.


"Bacot Lo! kalo berani hadapi kita!" sentak Niki.


Livia mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring.


"Ah, kalian ngajak main ya?" sarkas Livia.


"Apa saya kelihatan tertarik dengan permainan kalian?" lanjutnya lagi dengan senyum yang justru tampak menyeramkan.


"Sejujurnya saya bingung dengan kalian, bukankah kalian para nona muda dari keluarga terhormat? saya pikir sikap kalian bahkan jauh lebih buruk dari saya yang hanya murid beasiswa" ungkap Livia panjang lebar.


"Aah, atau mungkin kalian kurang didikan dari orang tua kalian sama seperti si miskin ini?" ejek Livia.

__ADS_1


"Emang ****** cari gara-gara!" sentak Jesy.


"Saya cari gara-gara sama kalian? hai nona berkacalah, saya dari tadi makan dan ngobrol dengan teman saya, dimana letak saya mencari gara-gara?" Jawab santai Livia. Beberapa murid pun mulai membenarkan ucapan Livia.


"Wah-wah sangat menyenangkan, Lo makin pinter ngomong ya? sayang banget itu gak bisa ngerubah apapun" ucap Yolla mengusap rambut Livia yang kering kebelakang telinga.


"Oh ya?" Tanya Livia.


"Si cupu yang miskin sebaiknya gak usah sok hebat, jangan bermain api kalo membesar sulit dipadamkan, nanti ujung-ujungnya nangis kan gak lucu" ejek Yolla kemudian tertawa, murid lain pun ada yang ikut menertawakan nya.


"Yolla Putri Mahardika, bagaimana kabar orang tuamu? ku dengar mereka nyaris bercerai" tanya Livia dengan seringai tipis.


Murid-murid yang mendengar ucapan Livia mulai berbisik-bisik, berita tersebut cukup menarik karena keluarga Yolla terkenal dengan keluarga harmonis yang membuat orang lain iri.


"Jaga ucapan Lo ******! jangan bicara omong kosong! orang tua gue baik-baik saja bahkan mereka sedang berlibur" ucap Yolla menarik kerah baju Livia.


"Kenapa marah? saya kan hanya bertanya nona muda" sindir Livia tetap tenang.


"Atau mereka berlibur dengan membawa pasangan masing-masing?" bisik Livia, tubuh Yolla menegang sesaat.


"Cupu sialan! Lo punya apa berani sama gue hah!" marah Yolla menekan rahang Livia.


"Aduh gimana ya? saya kan tidak punya apa-apa" ucap Livia pura-pura sedih.


"Udah miskin banyak gaya, cepat minta maaf sama Yolla!" sentak Serli.


"Lo tu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yolla, siap-siap aja ditendang dari sekolah" ejek Niki.


"Benarkah? Tapi bagaimana ya? sepertinya saya tidak bisa dibandingkan dengan kalian walau miskin saya tau bagaimana harus bersikap, saya tau bagaimana cara menghargai orang lain, kalian bilang saya harus minta maaf? haha jangan bercanda, kalian tau tidak masalahnya apa? kalau tidak tanyakan pada teman tersayang kalian atau anak-anak yang menyaksikan tadi. Tolong bersikaplah selayaknya nona bangsawan, jangan seperti seseorang yang kurang didikan" jelas Livia panjang lebar kemudian menghempaskan tangan Yolla, dia mulai tidak nyaman dengan tubuhnya yang mulai lengket-lengket.


"Brengsek!" murka Yolla mengangkat tangannya hendak menampar Livia.


Tapi rencananya hanya hayalan, Livia menahan tangan tersebut dan memegangnya dengan erat membuat Yolla meringis kesakitan. Livia tersenyum miring menatap tajam kedua mata Yolla.


"Jangan terus-terusan menguji saya, sabar ada batasnya" ucap dingin Livia membuat tubuh Yolla sedikit bergetar takut.


Livia kembali menghempaskan tangan Yolla, dengan aura menyeramkan dia pergi meninggalkan kantin diikuti kedua temannya.


"Apa lihat-lihat?!" teriak marah Yolla pada murid-murid yang masih menontonnya, Livia sudah tidak peduli apapun lagi, tujuannya kini adalah toilet.


"Eh kenapa tu si cupu?" ucap Kenan saat melihat Livia dan kedua temannya melewati geng mereka acuh.


"habis nyebur di got kali" sahut Eros.


"Dia dari arah kantin, palingan juga dibully kaya biasanya" ucap Chiko menatap punggung Livia hingga dia berbelok tidak nampak lagi.


"Yolla udah balik?" tanya Rafka dingin.

__ADS_1


"Hmm" sahut Fian.


"Heran deh, mau-maunya dia balik ke sekolah ini kalo ujung-ujungnya di bully" ucap Bryan.


"Mungkin karena sekolah ini bagus, dia juga murid beasiswa kan" ucap Chiko.


"Iya sih, tapi apa gunanya kalo gak bisa fokus belajar gara-gara terus dikucilkan" ucap Kenan prihatin.


"Mungkin ada hal lain yang membuatnya ingin tetap di sini" ucap Rafka, Fian menatap Rafka tajam mendengar ucapannya. Rafka yang sadar sedang ditatap pun menatap balik Fian, mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?' pada Fian.


"Gue ke kelas duluan" ucap Fian dingin meninggalkan teman-temannya yang masih duduk di pinggir lapangan.


Namun entah mengapa bukan kelas tujuannya, dia berbelok ke arah lain, dengan ekspresi wajah datar dan tangan menggenggam erat, tampak jelas bahwa dia sedang menahan emosi.


Keluar dari ruangan tersebut dia kembali melangkah tapi bukan ke kelasnya, dia berhenti di tembok dekat pintu menyandarkan tubuhnya.


"Lo gak papa kaya gini?"


"Iya"


"Ceklek!" suara pintu dibuka.


"Eh kak Fian? misi kak" ucap Arina sopan diikuti Gina dibelakang nya dan juga Livia.


"Grep!" Fian menarik tangan Livia, Livia menatapnya aneh.


"kenapa?" tanyanya, bukannya menjawab Fian justru memberikan sesuatu di tangan Livia kemudian pergi begitu saja.


Livia menatap tangannya yang terdapat seragam perempuan sepertinya baru, tanpa pikir panjang Livia kemudian kembali memasuki toilet untuk membersihkan diri dan berganti seragam.


Arina dan Gina yang menyaksikan hal tadi masih tercengang menatap ke arah kepergian Fian.


"Gue gak salah lihat kan?" tanya Gina.


"Kalo Lo salah lihat berarti gue juga" jawab Arina.


Cukup lama terdiam, tiba-tiba mereka tersentak kaget.


"Livia!" ucap mereka bersamaan menoleh kearah Livia berdiri tadi tapi tidak ada siapapun.


"Apa?" tanya Livia sambil membuka pintu toilet. Dia sudah berganti dengan seragam baru pemberian Fian sebelumnya.


"Lo ada hubungan apa sama kak Fian?!" tanya Arina heboh.


"Gue-"


______

__ADS_1


...TBC...


...02 April 2022...


__ADS_2