Putri Cupu

Putri Cupu
14


__ADS_3

Hari untuk mengawali Minggu tiba, Livia kembali berangkat sekolah menaiki bus.


"Hei! anak kelas XI IPA 1" Panggil seseorang dibelakang Livia, Livia pun refleks menoleh kebelakang 'Ketos?' batinnya. Livia melirik Lio sekilas dan kembali menghadap ke depan.


"Lo naik bus juga?" tanya Lio basa-basi berdiri di samping Livia, padahal sebelumnya Lio duduk di kursi bus tapi malah bertukar dengan seseorang yang berdiri di samping Livia.


"..." Diam tidak ada respon dari Livia, Livia terus memandangi keluar tak memedulikan keberadaan Lio di sampingnya.


"Gue lama gak lihat Lo disekolah" ucap Lio.


"gue denger Lo sakit" lanjutnya.


Livia menatap Lio datar tanpa ekspresi enggan menjawab, apalagi mereka tidak sedekat itu untuk menceritakan hal-hal pribadinya. Beruntung bus telah tiba di halte dekat sekolah Livia pun turun melewati Lio begitu saja.


Lio tampak tidak sakit hati diacuhkan oleh Livia bahkan malah tersenyum tipis karena dia tau secuek apa sosok gadis tersebut. Lio ikut turun dari bus mengejar Livia agar berjalan bersama.


Menyadari Lio mengejarnya dan berjalan disampingnya, Livia yang enggan diajak berbicara memilih memakai earphone ditelinga nya dan berjalan Seolah dia sedang sendirian.


Lio hanya tersenyum menanggapi tingkah Livia, tentu saja dia menyadari maksud Livia melakukan hal tersebut.


"Woy! kalo berhenti pake kode elah hampir aja gue nubruk" celetuk Kenan.


"Si cupu udah berangkat sekolah" ucap Bryan setelah melihat apa yang ada di depannya hingga membuat Chiko dan Fian yang berdiri paling depan berhenti begitu saja.


"Mana?" tanya Eros menjulurkan lehernya karena Chiko yang jauh lebih tinggi darinya menghalangi pandangannya.


"Wah wah wah, si cupu berangkat bareng si ketos" ucap Eros.


"Namanya Livia" ucap Rafka dingin.


"Hehe iya, kebiasaan ngikut yang lain gue" jawab Eros.


Chiko berjalan menghampiri Livia dan berhenti tepat didepannya kemudian dengan tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke arah taman kecil di belakang kelas yang jarang dilewati oleh murid lainnya.


"Lo udah sembuh? Selama ini kemana aja? Tiba-tiba menghilang gak kasih kabar terus kemarin malah Lo ngirim motor baru ke rumah gue" ucap Chiko panjang lebar.


Livia menghembuskan nafasnya kesal, tentu saja karena ketenangannya diganggu. Tadi Lio dia sudah berhasil menghindarinya sekarang malah si Chiko.


"Makasih Lo udah nolongin gue dan maaf gara-gara gue motor kesayangan Lo jadi rusak, gue udah coba cari semirip mungkin motor kaya punya Lo tapi maaf motor edisi itu udah habis jadi gue cuma belikan yang mirip doang" ucap Livia tulus kemudian melangkah melewati Chiko, tapi baru dua langkah Chiko menarik tangannya.


"Gue gak peduli motor gue, yang gue tanyain tu elo, Lo kemana aja? Lo tau gue khawatir" ucap Chiko dengan wajah frustasinya.


"Kenapa?" tanya Livia yang dibalas tatapan mata bingung dari Chiko.


"Kenapa Lo khawatir sama gue?" tanya Livia menjelaskan.


"Lo kecelakaan bareng gue, Lo ke RS juga bareng gue Vi, wajar dong kalo gue khawatir" ucap Chiko.


"Kita gak sedekat itu ko" ucap Livia, jantung Chiko berdetak kencang mendengar panggilan Livia untuknya.


"Tapi gue pengen kita lebih deket" ucap Chiko menatap genggaman tangannya.


"Lo suka sama gue?" tanya Livia santai, melihat reaksi Chiko sebenarnya Livia sudah tau jika Chiko tertarik kepadanya, tapi dia hanya ingin memastikan.


"Iya gue suka sama Lo Vi" ucap Chiko serius menatap kedua mata Livia dalam.


"Gue gak suka sama Lo" ucap Livia, Chiko mengeratkan genggaman tangannya.


"Gue bakal bikin Lo suka sama gue"

__ADS_1


"Oke" jawab singkat Livia yang membuat Chiko justru tersenyum lebar dengan jantung semakin berdebar kencang.


"Lepas, gue mau ke kelas" ucap Livia.


"Gue anterin" Chiko menarik Livia masih bergandengan tangan.


"Gak harus digandeng kan?" tanya Livia mulai tak nyaman dengan pandangan beberapa murid yang berpapasan dengan mereka.


"Gue lagi berusaha Vi" Akhirnya Livia pasrah seperti anak ayam yang mengekori induknya.


"Anj*r! si bos udah gandengan aja" ucap Eros tidak santai begitu melihat kedatangan Chiko dan Livia. Eros dan yang lainnya ternyata menunggu di dekat tangga kecuali si Lio yang sudah pergi ke kelasnya.


"Diem Lo!" sewot Chiko dengan wajah cerahnya melewati teman-temannya sambil tetap bergandengan tangan dengan Livia.


Saat ingin menaiki tangga, Chiko mendorong Livia agar berjalan di depannya.


"Kenapa?" tanya Livia bingung.


"Gue dibelakang jaga Lo kalo Lo jatuh" jawab Chiko pelan tapi masih didengar yang lain, Livia tersenyum tipis mendengarnya.


"Gila! baper gue!" histeris Eros yang kemudian memperoleh tampolan maut dari Rafka karena berteriak didekat telinganya.


"Kalian jadian?" tanya Fian.


"Otw" jawab Chiko.


Chiko pun berbelok ke arah kelas XI mengikuti Livia yang masih berjalan di depannya.


"Ngapain ikut kesini?" tanya Livia.


"Nganter kamu" ucap Chiko tersenyum manis, Livia menaikan sebelah alisnya mendengar panggilan Chiko.


"Aku balik ke kelas" ucap Chiko, Livia mengangguk kemudian Chiko pergi setelah mengusap kepala Livia pelan.


.......


.......


.......


Hari ini kelas Livia ada pelajaran olahraga, setelah mengganti pakaiannya Livia dengan kedua temannya Arina dan Gina pergi ke lapangan.


Livia melihat lapangan sudah ramai oleh teman-temannya dan juga kakak kelasnya, ya ternyata kelas olahraga hari ini digabungkan karena guru kelas XII sedang sakit.


Sialnya lagi Yolla CS berada dikelas tersebut, padahal kemarin Livia sudah menghindari pertemuannya dengan orang-orang yang selalu mengganggunya bukan karena takut tapi malas meladeni.


Pelajaran hari ini bermain bola basket dan guru meminta untuk berpasang-pasangan secara acak agar berlatih sendiri karena beliau ada rapat dengan guru lain, Livia berpasangan dengan kakel perempuan yang Livia sendiri nggak kenal, kalau tidak salah tadi namanya Wilo.


"Gue gak pinter main basket, maaf ya kalo nanti nilainya gak terlalu bagus" ucap Wilo canggung karena dia tau Livia merupakan murid yang menjadi juara 1 umum kemarin.


"Santai aja kak, gue juga gak terlalu bisa" ucap Livia.


"Panggil Wilo aja Via" Wilo tersenyum manis mengulurkan tangannya.


"Lo mau jadi temen gue?" lanjutnya lagi.


"Sure" Livia menyetujuinya, kemudian mereka mulai bermain basket.


"Lo masih idup" sela suara siswi yang menggangu latihan Livia dan Wilo. Livia menatap ke arah Yolla yang menghampirinya didampingi Jesy.

__ADS_1


"Mata Lo masih normal kan?" sarkas Livia kemudian kembali bermain dengan Wilo.


"Gue denger Lo kemarin berangkat sekolah bareng cowok gue" Livia yang mendengar ucapan Yolla mengerutkan kening bingung.


"Chiko cowo Lo?" tanya Livia karena dia memang tidak tau bahwa mereka sepupuan.


"Chiko? Lo berangkat bareng Chiko?!" sentak Yolla.


"Gak juga sih" jawab Livia santai.


"Lo Deket sama Chiko?!" sentak Yolla menarik pundak Livia agar menghadap ke arahnya.


"Maybe" jawab singkat Livia membuat Yolla semakin kesal.


"Setelah Lo godain Lio cowok gue sekarang Lo juga godain Chiko sepupu gue?!" marah Yolla.


"Ahh Lio? gue baru tau semua itu" jawab Livia cuek.


"Emang jal**g ya Lo! Udah berapa cowok yang udah Lo goda? jangan-jangan Lo goda cowok pake tubuh Lo? Cih!" hina Yolla, Livia? tentu saja cuek membiarkan Yolla terus membual sesuka hatinya. Yolla yang terlanjur emosi mendorong kencang tubuh Livia. Semua murid yang ada di sana memekik kaget bukan karena dorongan Yolla melainkan Livia yang sedang jatuh menimpa Lio.


Lio menatap mata Livia sekilas dengan tatapan mata yang sulit dipahami oleh Livia sendiri, dia mendorong pelan Livia agar bangun.


"Maksud kamu apa kaya gitu Ola?" tanya dingin Lio.


"Udah berapa kali aku ingetin kamu buat gak bully anak lain lagi?" tanya Lio marah dan juga kecewa dengan sahabat dekatnya ini.


"Aku gak bully dia Lio" ucap Yolla menarik tangan Lio pelan.


"Aku kecewa sama kamu" ucap Lio melepas genggaman tangan Yolla dan melangkah mendekati Livia.


"Lo baik-baik aja?" tanya Lio ramah.


"Iya, makasih" ucap Livia tulus.


"Yolla! apa lagi ini?" tanya Chiko yang baru saja tiba setelah menerima laporan dari temannya jika Yolla mengganggu Livia lagi.


"Lo juga mau salahin gue?" tanya Yolla dengan kecewa.


"Gue gak ada nyalahin Lo, gue nanya sama Lo" ucap Chiko.


"Lo tanya tapi ujung-ujungnya Lo juga bakal salahin gue kan?!" teriak Yolla mulai emosi.


Chiko yang jengah memilih mendekati Livia dan mendorong Lio.


"Kamu gak papa Vi?" tanya Chiko khawatir.


"Masih hidup" jawab singkat Livia.


Yolla yang melihat kedua pria yang selama ini selalu menjaga dan membelanya sakit hati, kecewa dan marah secara bersamaan. Emosi yang sulit untuk dikendalikan membuatnya melangkah cepat ke arah mereka yang sedang berjalan ke tepi lapangan.


"Semua ini gara-gara Lo!" teriak Yolla yang membuat semua menoleh ke arahnya, apalagi Yolla dengan kencang mendorong Livia, Livia yang sudah mengira perbuatan Yolla pun membalik keadaan, dia yang awalnya memang sudah terdorong sedikit memundurkan langkah dan menghindar membuat Yolla oleng dan jatuh dengan kepala menghantam semen pembatas lapangan.


"Yolla! Ola!" teriak panik semua orang apalagi melihat darah yang menganak sungai dari kepala Yolla.


_____


...TBC...


...14 April 2022...

__ADS_1


__ADS_2