
Chiko terus mengaduk nasi goreng dihadapannya dengan sesekali menghela nafas, tatapan matanya tampak kosong dan tak bergairah.
"Kenapa Lo?" tanya Kenan sambil melempar kulit kacang ke wajah Chiko.
"Kalian ada dengar kabar Livia?" tanya Chiko kepada para sahabatnya kecuali Rafka karena sejak kejadian itu Rafka tidak berangkat ke sekolah.
"Nggak ada" jawab Kenan sedangkan yang lain menggeleng pelan.
"Rafka?" tanya Chiko lagi.
"Dia juga gak ada kabarnya, dihubungi gak aktif" jawab Kenan diikuti gelengan yang lain.
"kalian pada kenapa sih?" sinis Kenan heran melihat para sahabatnya yang jadi pendiam semua, mereka tampak suram dan tak fokus, tapi sisi positifnya mereka jadi lebih kompak.
Kenan mendengus kencang karena kesal.
"Gue ngerasa kalian ada sembunyiin sesuatu dari gue deh" ucap Kenan kesal.
"Terutama Rafka, sebenarnya ada hubungan apa dia sama si cupu?" tanya Kenan menatap yang lainnya, Mereka semua menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Dahlah capek gue!" kesal Kenan yang merasa terkacangi.
Akhirnya mereka semua pun diam fokus dengan pikirannya masing-masing sambil sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Suara gaduh terdengar dari arah pinggir lapangan dekat dengan ruangan para guru, para murid berhamburan menuju asal suara.
"Ada apa?" Kepo Eros, para sahabatnya menggedikkan bahu balas menatapnya bingung.
"Yuk lihat" ajak Kenan yang berlalu lebih dulu diikuti yang lain.
"Gara-gara anak tidak tau diri itu! putriku harus terbaring di ranjang rumah sakit! saya tidak terima!"
"Saya ingin ketegasan dari pihak sekolah! saya tidak terima putri saya diperlakukan demikian! Jika si anak sial*n yang bernama Livia itu tidak muncul maka saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum!" teriak seorang wanita dihadapan beberapa guru dengan nafas menggebu-gebu.
"Maaf nyonya Klitter, kami sudah menghubungi Livia dan keluarganya namun semua kontaknya sampai sekarang masih belum aktif" jelas seorang guru kepada Alea ibunda dari Yolla.
"Saya tidak peduli! kalian harus temukan dia! jika sampai besok Livia tidak menunjukkan batang hidungnya lihat saja nanti! Saya ingin dia bertanggung jawab dan dikeluarkan dari sekolah ini! jika tidak, maka kalian semua akan dipecat!" ancam Alea kemudian berlalu dari sana diikuti 2 orang bodyguard yang menjaganya.
Semenjak perkelahian antara Livia dan Yolla, Alea memang selalu datang ke sekolah mencari keberadaan Livia, namun sampai sekarang Livia bagai tertelan bumi, semua informasi tampak buntu.
Rafka juga tidak luput dari pencarian, tapi sama saja semua kontaknya sampai sekarang masih belum aktif.
Para guru dibuat frustasi, jelas mereka ketakutan, mereka sungguh takut dengan ancaman Alea karena dia merupakan adik ipar dari pemilik sekolah tersebut, jadi mudah saja jika dia ingin mengeluarkan para guru tersebut.
Sedangkan disisi lain, kepala sekolah justru tetap Santai di kursi kebesarannya tidak peduli dengan kekacauan yang terjadi, jabatannya tidak akan goyah hanya dengan ancaman tersebut. Dia hanya tersenyum mengejek dengan ancaman dari wanita tersebut.
Memang pemilik sekolah tersebut adalah keluarga Alexander, akan tetapi jika keluarga Dyfandra mau mereka bisa menjadi pemiliknya dengan mudah, apalagi jika ditambah dengan keluarga Ganendra dan Vindzi tentu mereka kalah jauh.
"Bang" panggil Livia yang masih tiduran menatap langit-langit ruangan rawatnya.
__ADS_1
"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Rafka mendekati ranjang saat Livia memanggilnya.
"Siapa yang memberikan penawarnya?" tanya Livia menatap Rafka.
"Tunangan kamu" Jawab Rafka santai.
"Sekarang dia dimana?" Livia mengernyitkan dahi.
"Entahlah, kemarin orang suruhannya yang mengantarkan ke sini, Kenapa?"
"Nomornya gak aktif" ucap Livia cemberut.
"Mungkin masih sibuk Vi, kamu istirahat aja biar cepet sembuh"
"Bang Af nggak sekolah?"
"Nanti bareng kamu"
"Nggak boleh, besok Abang harus sekolah bentar lagi kan ujian jangan suka bolos" tegur Livia.
"Kamu meragukan kepintaran ku?" ucap Rafka menaikkan sebelah alisnya dengan tampang songongnya.
"Cih! sombong!" sinis Livia yang langsung menarik selimut memejamkan matanya, Rafka tersenyum tipis melihatnya.
"Af! sini makan dulu" panggil mami Adel yang sedang duduk di sofa, entah sejak kapan beliau masuk ruangan, Rafka terlalu larut memandangi Livia.
"Iya mi" ucap Rafka duduk di sofa berhadapan dengan mami Adel.
"Udah mi, ayo makan" sela Rafka.
"Nanti kalo bang twins atau bang Evan hubungin kamu, jangan kasih tau mereka keadaan Ivi ya nanti mereka khawatir malah balik lagi"
"Iya mi"
"Wah baunya menggoda" ucap suara pria yang baru saja memasuki ruangan.
"Eh Ded, sini ikut makan" tawar mami Adel kepada Dedi, om Livia yang merupakan kepala sekolah Alexander.
"Maksih, tadi udah makan ko mba, gimana keadaan Ivi?" tanya Dedi sambil meletakkan keranjang buah ke meja.
"Udah mendingan ko" jawab mami Adel.
"Mas mana mba?"
"Kerja, ada meeting tadi makanya harus ke kantor tapi habis ini balik ko" jelas mami Adel, Dedi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu kenapa gak sekolah?" tunjuk Dedi pada Rafka.
"Males" cuek Rafka.
__ADS_1
"Dasar anak nakal! mau gak lulus kamu?"
"Seharusnya saya sudah bisa lulus dari setahun lalu kalo saya mau"
"Cih! mirip sekali tingkahmu sama bapakmu"
"Saya anaknya kalo pak kepsek lupa" acuh Rafka sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Udah-udah kalian ini, biar Ivi istirahat" sela mami Adel.
.......
.......
.......
Keesokan harinya Livia sudah diizinkan pulang namun masih belum diperbolehkan untuk berangkat ke sekolah sehingga Rafka juga bersikeras tidak mau ke sekolah, bahkan dia ikut pulang ke rumah Livia.
Alea Klitter kembali datang ke sekolah didampingi suaminya dan kakaknya yang merupakan pemilik sekolah bahkan kakak iparnya juga ikut serta.
Mengetahui ketidakhadiran Livia, Alea kembali mericuh di ruangan kepala sekolah.
"Dasar anak tidak tau diri! sudah miskin banyak tingkah! pasti dia kabur ini!" maki Alea.
"Kenapa murid seperti itu harus diterima disekolah elit! dengan jalur beasiswa lagi! sungguh mencemarkan nama baik sekolah ini!" kesalnya.
"Saya akan mengajukan gugatan pada anak itu" ucap Weildan Klitter suami Alea yang tidak lain adalah ayah Yolla.
"Baiklah, jika itu keputusan anda" ucap Dedi santai namun tetap sopan, sebenarnya dia sungguh kesal dengan mereka semua yang begitu berisik hingga membuat telinganya sakit.
Entah para murid mendengar teriakkan-teriakan tadi atau tidak, karena meski ruangan tersebut kedap suara jika pintunya di buka lebar tentu akan percuma, benar-benar mengganggu ketenangan.
"Tuan Lim adalah pengacara saya, dia yang akan mengurus semuanya" ucap Weildan menunjuk seseorang disampingnya.
Dedi menatap pria berumur sekitar awal 30 an yang berdiri didekat sofa Weildan, dia mengangguk sekilas tanda menyapa.
"Keluarkan anak itu dari sekolah ini!" ucap Markues Alexander ayah Chiko sekaligus pemilik sekolah tersebut.
"Tarik semua beasiswanya, kalo perlu blacklist dia dari semua sekolah favorit" lanjutnya lagi dengan marah, dia merasa malu karena sekolahnya yang merupakan sekolah favorit bisa terjadi kekerasan ataupun bullying.
"Bisa-bisanya dia memperlakukan keponakan ku demikian disekolah milik suamiku! sungguh memalukan!" Sinis Hera Alexander istrinya yang juga tidak terima.
"Sebelum anda mengeluarkan nona kami, mari kita bicarakan mengenai gugatan ke pengadilan karena nona kami juga ingin menuntut putri bapak dengan beberapa kasus" sela seseorang yang sedang berdiri didekat pintu.
"Tuan Philip!" kaget pengacara Lim.
_____
......**TBC......
__ADS_1
......01 Mei 2022......
Maaf ya jarang up, soalnya lagi sibuk persiapan lebaran 🌹**