
Momi Adel akhirnya sadar dan diperiksa oleh dokter Devon.
Dokter Devon menjelaskan beberapa hal dan juga memberitahu perihal kesadaran Livia, Setelah selesai dokter Devon pamit undur diri.
Momi Adel terus menangis memeluk Livia. Dia sangat bahagia dan menangis haru saat diberitahu tentang putrinya yang telah sadar dari komanya.
"Udah ada yang ngabarin bang Evan?" Tanya momi kepada semua orang di ruangan tersebut.
Hening tidak ada sahutan, akhirnya Laonder bergegas mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Abang tertuanya.
"Halo"
"..."
"Abang sibuk?"
"..."
"Momi pingsan tadi karena stress dan kelelahan"
"..."
"Tapi sekarang udah sadar ko"
"..."
"Ivi juga sadar bang"
"..."
"Iya beneran, sadar tadi pas momi pingsan"
"..."
"Hmm"
"..."
"Hmm"
"..."
"Tut" bunyi panggilan di akhiri, entah apa yang Laonder dan Levan bicarakan.
Semua orang menatap ke arah Laonder penasaran.
"Tugas Abang belum selesai, mungkin 2 mingguan baru balik dari luar kota" jelas Laonder menjelaskan.
"Iya udah biarin aja lagian Abang kalian baru berangkat tugas kemarin kan?" Ujar momi.
"Iya mom, sekarang fokus ke kesehatan momi sama Ivi aja" ujar Lionder.
"Dokter Devon bilang Ivi udah sehat tinggal terapi aja buat mengembalikan kekuatan otot-ototnya" ujar papi Vicko.
"Terapi?" Tanya Ivi pelan.
"Iya sayang, kamu sekarang kesulitan gerak kan?" Tanya momi lembut.
"Iya mom, tapi terapi itu apa?" Tanya Livia aka Althea bingung.
Semua orang tampak terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan Livia.
"Masa kamu gak tau terapi de?" Tanya Lionder, Livia menjawab dengan gelengan kepala.
"Ivi kamu tau kamu koma karena apa?" Tanya Laonder tiba-tiba, lagi-lagi Livia hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu inget nama kamu? Nama kami semua?" Tanya Laonder lagi.
"Aku ingat, saat koma momi sering menceritakan tentang keluarga ini" jawaban Livia membuat semua yang ada di sana tercengang.
"Panggil dokter Devon" ucap papi dingin dan datar.
Laonder yang mendengar ucapan papinya langsung memencet tombol darurat didekat ranjang.
Tak berapa lama, dokter Devon dan beberapa anak buahnya datang.
Papi menjelaskan keadaan Livia yang baru saja diketahui, setelah mendengar penjelasan singkat tersebut dokter Devon memeriksa keadaan Livia.
Setelah melalui pemeriksaan yang panjang akhirnya Livia dinyatakan amnesia akibat dari trauma maupun stress yang dialaminya.
"Nona Livia mengalami amnesia yang diakibatkan oleh stress dan trauma saat kecelakaan" ujar dokter Devon.
"Lalu apakah dia akan melupakan semuanya?" Tanya papi Vicko.
"Untuk saat ini iya, dia dapat mengingat kembali memori-memori sebelumnya ketika trauma itu hilang, tapi tolong jangan memaksanya itu dapat berakibat buruk baginya" jelas dokter Devon.
"Baik terimakasih dok" ujar papi Vicko.
"Iya sama-sama, saya pamit undur diri" ucap dokter Devon dan dibalas anggukan kepala oleh papi Vicko.
_____
(Sekarang panggil Althea dengan Livia ya)
Seminggu telah berlalu, Livia telah dinyatakan sehat dan diijinkan untuk pulang.
Abang kembarnya pun sudah kembali ke New York untuk melanjutkan kuliah mereka.
Sedangkan Abang tertuanya yang seorang tentara juga sudah mengetahui tentang adik perempuannya yang amnesia.
Saat ini Livia dengan kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam bersama.
"Ivi ngikut aja mom" jawab Livia.
"Sebagai hadiah karena sudah sembuh, princess nya papi mau minta apa?" Tanya papi Vicko kepada Livia.
"Boleh minta apa aja?" Tanya Livia bersemangat.
"Iya apa aja buat princess papi"
"Ivi mau buku yang banyak Pi"
"Buku? Buku apa princess?"
"Semua hal, karena banyak yang Ivi nggak tau, Ivi harus belajar banyak Pi" ujar Ivi sendu.
"Baiklah nanti papi belikan" jawab papi Vicko sambil tersenyum tipis, senyum yang hanya bisa dilihat oleh keluarganya.
"Sayang kalo Ivi mau, Ivi bisa tanya momi apapun" ujar momi sedih dengan ungkapan putrinya.
"Iya mi, makasih momi papi" ujar Livia tersenyum manis.
Setelah makan malam, Livia kembali ke kamarnya dilantai 2, kamar yang sangat luas dengan nuansa vintage, Livia sangat menyukai kamar ini.
Membaringkan tubuhnya di atas kasur king size nya, Livia memainkan ponselnya, iya dia tau cara bermain ponsel karena telah di lajari oleh kedua Abang kembarnya.
Memainkan sosmed, Livia hanya melihat-lihat banyak hal, dia mempelajari dunia ini.
"Dunia ini sangat berbeda" ucap Livia.
"Aku bisa mengetahui banyak hal hanya dengan bermain ponsel" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Tampannya bang Ion" gumamnya sambil tersenyum, dia menekan tombol love pada postingan Lionder.
Tak berapa lama ponsel Ivi bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Halo Ivi" ucap Lionder saat wajahnya muncul memenuhi layar ponsel.
"Hai" jawab Ivi singkat.
"Abang kangen ih, Ivi lagi apa?"
"Main ponsel aja, bang ion lagi apa?"
"Tadi habis dari luar sama Aon"
"Bang Aon mana?" Tanya Livia.
"Ivi ya? Adek ko belum tidur disana udah malam kan?" Sela Laonder yang tiba-tiba muncul menyela Lionder.
"Apaan si Lo, udah sana gue lagi ngomong sama Ivi jangan ganggu" kesal Lionder. Livia hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Udah malam biarin Ivi istirahat" ucap dingin Laonder kepada Lionder.
"Iya-iya, ya udah Ivi bobo ya, kan baru sembuh besok Abang VC lagi" ucap Lionder.
"Iya bang"
"Selamat malam princess" ujar Lionder dan Laonder bersamaan.
"Selamat malam bang Ion, bang Aon" jawab Livia kemudian panggilan terputus.
Livia menggelengkan kepalanya sambil memeluk guling tersenyum manis, bersiap untuk tidur.
"Jadi rindu kakak" senyumannya hilang digantikan dengan ekspresi sendu, dia merindukan keluarganya dulu.
"Al kangen kakak, ibunda, ayahanda" gumamnya lagi.
Mengusap matanya pelan dia mulai terlelap dalam tidurnya, membawa kesedihan dalam hati.
_____
5 bulan telah berlalu, Livia kini telah beradaptasi dengan baik, dia sudah tau banyak hal baik dari cara bicara, fashion, makanan, pergaulan, tren, semua telah dia kuasai.
Apalagi saat memori-memori sebelumnya milik Livia yang asli memasuki pikirannya.
Dia bahkan mengetahui alasan kecelakaan yang dialaminya.
Livia merupakan murid SMA Alexander sekolah internasional yang berisi anak-anak sultan.
Awal memasuki sekolah tersebut, dia sudah menjadi bahan bullying karena penampilannya yang bisa dibilang cupu tapi manis secara bersamaan.
Apalagi dia menyembunyikan identitasnya sebagai putri tunggal keluarga Dyfandra. Sehingga banyak yang berfikir bahwa dia miskin dan tak pantas di sekolah tersebut.
Belum lagi para guru yang baik kepada nya, karena mereka tau jika Livia adalah murid yang cerdas, namun karena dia terus di bully dia terus ketinggalan pelajaran karena tertekan dan stress.
Hingga puncaknya saat dia dikurung didalam gudang dari pagi hingga pulang sekolah, dia trauma dengan kegelapan hingga saat keluar dari dalam gudang dengan dibantu petugas keamanan, dia menjadi linglung.
Hingga menyebrang jalan tanpa dia sadari dan akhirnya ditabrak oleh mobil yang melaju kencang.
Livia ingat betul, siapa saja yang sudah membullynya dulu, meski Livia yang asli sudah pergi, tapi Althea yang kini berada di tubuh Livia akan membalaskannya.
Karena bagi Althea mengganggu Livia sama dengan menggangunya karena kini dia berada ditubuh Livia, dan dia paling tidak suka ketenangannya diganggu.
"Tunggu saja" smirk Livia yang memiliki jiwa Althea.
_____
__ADS_1
...TBC...
...24 Maret 2022...