
Akhirnya Livia dan yang lainnya tiba di sirkuit, tempat yang biasa dipakai Kenan latihan balapan.
"Abang gak ikutan?" tanya Livia pada twins yang berdiri didekatnya sambil memperhatikan Kenan dan teman-teman pembalapnya memeriksa motor.
"Abang gak bawa motor" jawab Laonder yang di angguki Lionder.
"Besok-besok kita kesini lagi ya, Ivi juga pengen ikutan" ucap Livia.
"Emang Lo berani Vi?" tanya Tasya.
"Ya coba aja dulu" jawab Livia ambigu.
"Bahaya dek, jangan" ucap Levan merangkul Livia.
"Brum! Brum! Brum!" Suara bising knalpot motor, tampak beberapa orang berdatangan.
"Lo mau make sirkuit ken?" tanya salah satu dari mereka pada Kenan.
"Iya do, gue udah bilang Ama pelatih" jawab Kenan kepada Edo teman pembalapnya.
"Gue join dong sama temen-temen gue juga, udah terlanjur sampe sini" ucap Edo.
"Maaf bang, temen gue mau join boleh gak?" tanya Kenan pada Twins dan yang lainnya.
"Terserah, gue gak main ko, gue mau nonton aja" ucap Lionder.
"Lo-?" ucap Livia terhenti, dia menatap salah satu dari teman-teman Edo, semua orang pun refleks mengikuti arah pandang Livia.
Tapi orang yang ditatap Livia hanya diam mengacuhkannya, dia justru mengangkat sebelah alisnya heran.
"Kayanya gak asing deh" gumam Livia pelan hingga hanya Levan yang mendengarnya.
"Ah cewe yang di cafe ya?" ucap seseorang menyela yang ternyata Tio.
"Lo si cuek Livia kan?" lanjutnya dengan senyuman lebar.
"Ohh" sahut Livia ikut teringat.
"Arya, Lo inget kagak?" tanya Tio pada Arya.
"Hmm" sahut Arya.
Pembicaraan pun berakhir dan pertandingan pun dimulai.
"Brum! Brum! Brum!" suara bising knalpot motor bersahutan, setiap peserta memacu motornya dengan kencang.
'Ih pengen' batin Livia berbinar-binar memandang perlombaan didepannya.
Sepulang mereka dari sirkuit, kedua orang tua Livia sudah kembali bersama Grandpa dan grandma, mereka baru saja tiba di Indonesia.
"Kalian sudah datang?" ucap sang Grandpa menyambut kedatangan mereka di ruang tamu.
"Princess kecilku!" teriak sang Grandpa berlari memeluk Livia dengan erat.
"Bagaimana keadaanmu princess? bagaimana lukanya apa masih sakit? apa kita ke rumah sakit saja?" cerocos sang Grandpa cepat sembari membolak-balik tubuh Livia.
"Grandpa Ivi pusing" ucap Livia cemberut.
"Aduh, maafkan Grandpa princess" ucap Grandpa mengelus kepala Livia lembut.
"Yuk kita makan malam dulu" ucap Grandpa menarik Livia, sedangkan Livia hanya bisa pasrah mengikuti.
"Grandpa gak ngelihat kita ya? masa kita gak diajak juga" gerutu Tasya.
"Udah ayok" ucap Levan sembari merangkul Tasya menuju meja makan diikuti yang lainnya.
Ternyata saat sampai di meja makan, semua keluarga besar tengah berkumpul, ada orang tua Tasya, Cleo dan lainnya.
Mereka pun mulai menikmati makan malam bersama dengan tenang, setelah selesai mereka berpindah ke ruang keluarga, membicarakan banyak hal dan sesekali saling bercanda gurau.
.......
Deretan mobil mewah berhenti tepat didepan gerbang sekolah SMA Alexander, satu persatu orang didalamnya keluar dengan penampilan memukau.
Ternyata ucapan para fams (julukan buat para Abang dan sepupu Livia biar enakan) Livia tidak berbohong, mereka sungguh-sungguh mengantarkan dia dan Rafka ke sekolah.
Oh iya, semenjak kedatangan mereka ke Indonesia, mereka semua tinggal di mansion Dyfandra kecuali para orang tua di mansion masing-masing, tapi untuk tadi malam mereka semua menginap di mansion Dyfandra.
Hari ini Livia datang ke sekolah dengan penampilan aslinya, tidak lagi cupu dan miskin. Livia mengurai rambut hitam panjangnya dan juga memakai make up tipis.
__ADS_1
"Itu yang dulu cupu itu kan?"
"Jangan ngomong sembarangan, dia nona muda Dyfandra"
"Gila! ganteng-ganteng banget!"
"Suamiku!"
"Calon imam!"
"Cantik-cantik uy"
"bening-bening banget dah, berasa jadi pantat pancinya emak"
"Gue iri! gue bilang! gue pengen dikerubungi cogan"
"Sial*n, gue mimisan"
"Caper banget! ke sekolah aja banyak yang ngantar!"
"Iri Lo?"
"Ternyata dia cantik banget"
Suara bisikan-bisikan para murid terdengar jelas oleh Livia dan fams.
"Ivi masuk dulu ya" ucap Livia yang berdiri dihadapan fams.
"Kita anter sampe dalam ya?" rayu Tasya.
"No! nanti semuanya makin heboh" tolak Livia mentah-mentah.
"Ya udah, nanti kalo ada apa-apa langsung bilang ya" ucap Jeson.
"Siap bang"
"Abang udah suruh beberapa orang buat jaga kamu dek"
"Ihh Ivi gak mau diawasin terus bang" Rajuk Livia.
"Dia gak bakal gangguin kamu, dia cuma awasin dari jauh ko"
Setelah berpamitan Livia pun memasuki gerbang sekolahnya dengan percaya diri, mengabaikan para murid yang asik membicarakan dirinya.
"Vi!" panggil seseorang dari belakangnya yang ternyata Wilo.
"Em, boleh bareng?" tanya Wilo yang berdiri canggung di samping Livia.
"Boleh dong, ayo" ucap Livia seraya menggandeng lengan Wilo, Wilo sedikit tersentak kemudian tersenyum manis mengikuti langkah Livia.
"Lo cantik banget" puji Wilo.
"Emang" sombong Livia dengan senyuman songong.
"Nyesel gue muji" ucap Wilo memutar bola matanya.
"Kan gue ngomongin fakta" ucap Livia cengengesan sedangkan Wilo mengabaikannya.
Mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing, Livia di lantai dua dan Wilo di lantai tiga.
Kelas yang awalnya sangat ribut tiba-tiba menjadi hening saat Livia memasuki kelas, semua mata mengikuti langkahnya menuju kursi.
"Tolong perlakukan gue kaya biasanya" ucap Livia memecah keheningan kelas.
"Mana bisa?" ucap Rio masih dengan ekspresi syok nya.
Apa gue harus berpenampilan kaya biasanya?" tanya Livia.
"Lo cantik, ngapain Lo tutupin" ucap Gina.
"Bener banget, kalo gue jadi Lo bakal gue pamerin tuh" sahut Arina.
"Tapi kalian jadi gak nyaman" ucap Livia melirik teman-teman sekelasnya.
"Sebenarnya bukan karena gak nyaman, tapi gue kaget dan gak nyangka kalo selama ini gue sekelas sama anak sultan, cantik banget lagi" jelas Jay.
"Lo jomblo gak Vi?" lanjut Jay bertanya kepada Livia.
"Hmm" jawab Livia menggedikkan bahu.
__ADS_1
"Kalo gitu gue mau daftar" ucap Jay.
"Daftar apaan Lo?" sahut Arina.
"Daftar jadi calon ayah buat anak-anak kita nanti" gombal Jay, teman sekelas pun menyorakinya kencang.
"Wuuu!"
Baru saja mereka akan memulai perdebatan tidak jelas tersebut, guru datang memasuki kelas dan proses belajar mengajar berlangsung.
Saat jam istirahat, Livia CS pergi ke kantin.
"Livia! Arina! Gina!" panggil Wilo dari salah satu meja, karena teriakan tersebut semua murid mulai berfokus pada kedatangan Livia CS.
Livia CS pun mendudukkan diri di kursi yang masih kosong.
"Anj*r! cantik banget Lo Vi" ceplos Loli.
"Gak nyangka gue ternyata Lo nona muda Dyfandra" ucap Caca.
"Perlakukan gue kaya biasanya gays" ucap Livia.
"Baiklah, tapi sebagai hukuman karena udah bohongin kita-kita Lo harus traktir kita sampe puas" ucap Gina bersemangat.
"Oke! kalian makan aja yang kalian mau" ucap Livia dengan senyuman manis.
Mereka pun mulai sibuk memesan makanan hingga memenuhi meja.
"Kenapa?! kenapa Lo harus keluarin Yolla dari sekolah?! Lo bilang Lo mau maafin dia?!" sentak Jesy yang baru saja tiba di meja Livia CS, matanya sudah merah berkaca-kaca pertanda sebentar lagi akan menangis. Di belakangnya juga sudah berdiri para antek-anteknya.
"Maksud Lo apa?" tanya Livia bingung.
"Yolla dikeluarkan dari sekolah ini dan di blacklist dari semua sekolah di Indonesia" ucap Jesy.
"Gue baru tau" ucap Livia.
"Gak mungkin! ini semua karena permintaan Lo nona muda Dyfandra? memang Yolla salah tapi teguran semalam bukannya sudah cukup? keluarganya berantakan, bisnis keluarga hancur, dipermalukan, sekarang dia harus kemana? gue mohon biarkan dia tetap sekolah disini sampai lulus" ucap Jesy dengan air mata berjatuhan.
"Lo salah kalo nuduh gue, nyatanya gue baru tau, tapi kayanya gue tau siapa yang udah ngelakuin itu, tanyakan saja pada Grandpa atau tuan besar Dyfandra" ucap Livia dengan seringai tipis.
"Tu- tuan besar Dyfandra?" tanya Niki bergetar.
"Sebaiknya kita pergi dulu, kita gak usah ikut campur Jes" lanjut Niki sambil menarik lengan Jesy.
"Heran gue, udah tau mereka yang salah tapi masih aja gangguin Lo, nyalahin lagi" ucap Wilo menatap sinis kepergian mereka.
"Urat malunya udah pada putus kali" ucap Caca, akhirnya mereka melanjutkan makan siang yang tertunda.
"Hai" panggil seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Livia dengan menarik kursi dari meja lain.
"Kak Lio ada apa?" tanya Gina yang duduk dihadapan Livia.
"Mau gabung kalian gak papa kan?" tanya Lio.
"kursi temen Lo banyak yang kosong tuh?!" sinis Wilo.
"Aku boleh duduk disini kan?" tanya Lio menatap Livia, tapi Livia acuh melanjutkan makannya.
"Livia?" panggil Lio, akhirnya Livia menoleh kesal.
"Kalo mau duduk ya duduk aja" ucap Livia datar, Lio tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu udah sehat?" tanya Lio setelah memastikan Livia menyelesaikan makannya.
"Seperti yang kakak lihat" jawab acuh Livia.
"Maaf ya, kemarin gak jenguk kamu" ucap Lio.
Livia memutar tubuhnya sedikit kearah Lio, menatapnya tajam dengan bertopang dagu, sebelah alisnya naik sebelah menatap aneh ke arah Lio.
"Setau saya kakak kan udah Deket sama Yolla dari dulu, kenapa kakak bersikap baik ke saya padahal orang bilang saya penyebab kehancuran Yolla, apa kakak tidak peduli sedikit pun pada Yolla? kalo nggak, ya paling tidak hargailah waktu yang sudah kalian habiskan bersama, tolong jangan ganggu saya" ucap Livia dingin kemudian beranjak pergi dari kantin.
"Parah Lo" sinis Wilo pergi menyusul Livia diikuti yang lain.
_____
...TBC...
...16 Mei 2022...
__ADS_1