
"Nona, apa tidak apa-apa jika menunjukkan diri secara langsung?" tanya Luve yang berdiri di samping Livia.
"Udah waktunya aku nunjukin diri" ucap Livia dengan seringai lebar.
Beberapa orang yang melihatnya bergidik ngeri mengingat peristiwa sebelumnya.
Orang-orang berpakaian jas hitam rapi mulai berdatangan memenuhi aula. Mereka tampak curi-curi pandang ke arah Livia yang saat ini berdiri di lantai pertengahan yang terhubung dengan tangga ke lantai dua, sehingga posisinya lebih tinggi dari pada mereka, Livia di sana tidak berdiri sendiri melainkan bersama Luve, si Presdir dan 9 anggota terbaiknya minus Nine yang sudah musnah.
One yang selama ini menjadi pemimpin mereka maju ke depan.
"Eagle!" Teriaknya lantang.
"Ya!" Jawab semua orang yang berada di sana.
"Zero datang, tunjukkan hormat kalian!" tegas One.
Sebenarnya Livia adalah ketua dari kelompok Eagle, kelompok yang dikenal sebagai kelompok terkuat bahkan telah diakui setara dengan mafia nomor 2 di dunia, namun identitasnya sangat dirahasiakan, meski kelompoknya baru dibentuk tapi kinerja dan perkembangan mereka sangatlah bagus.
Mereka sangat dihargai di dunia bawah, namun juga ditakuti oleh mafia lain karena tak jarang mereka memusnahkan para mafia yang berniat jahat pada kelompoknya.
Dalam kurun waktu singkat dia mampu membawa nama Eagle ke tingkat dunia dan ditakuti banyak orang, namun hebatnya Livia hanya memiliki anggota 100 orang saja termasuk 10 orang terbaiknya.
Dia melakukan bisnis persenjataan yang bisa dibilang ilegal namun pemerintah tidak dapat mengusiknya karena dia juga berjasa dalam hal kenegaraan seperti keamanan data negara.
Di kelompoknya Livia dipanggil sebagai 'Zero', mereka tidak saling memanggil menggunakan nama melainkan nomor urut saat memasuki keanggotaan.
Livia juga tidak berminat menambahkan orang, dia hanya membutuhkan 100 orang saja dan itu telah terbukti dengan kesuksesannya sampai sekarang.
Namun berbeda dengan orang yang dia tempatkan sebagai Presdir di AL Company, dia hanya orang biasa yang kebetulan memiliki kemampuan bisnis yang menjanjikan dan dia tidak berniat membuatnya terlibat dalam dunia bawah.
"Silahkan Nona" ucap One pelan.
Livia maju ke depan menatap semua orang dengan tatapan mata tajam, ekspresinya datar auranya berubah mencekam. Semua anggota tau jika sebenarnya pemimpin mereka bukanlah One melainkan Zero, namun mereka tidak menyangka jika Zero adalah perempuan yang masih remaja.
"Yang bekerja di bawah bimbingan Nine maju ke depan" ucap Livia dingin.
Sembilan orang maju ke depan dengan posisi tegapnya, Livia menuruni tangga dengan elegan meski penampilannya sangat tomboy.
Livia berdiri di hadapan mereka dan menatanya satu persatu dengan intens.
"Ada yang ingin kalian katakan?" tanya Livia dingin.
"Maaf Zero, saya mengetahui penghianatan Nine namun tidak melaporkannya" ucap salah satu dari mereka yang merupakan seorang wanita cantik bernomor 39.
"Kenapa tidak melapor?" tanya Livia dingin.
"Maaf Zero, saya baru mengetahuinya kemarin dan belum memiliki bukti"
"Kemarin? Dan kau belum mendapatkan apapun?"
"Saya bersalah!" ucap 39 tegas mengakui kesalahannya.
__ADS_1
Livia kembali melemparkan jarum yang tepat mengenai lengan 39, semua orang tersentak kaget dan takut.
"Tenang saja, itu hanya hukuman ringan dariku, itu tidak akan membahayakan nyawamu, racun itu hanya akan membuatmu merasa nyeri, beruntung kau terkena jarumku di bagian lengan bukan kepala" ucap Livia lembut dengan seringai tipis.
"Ah! racunnya akan hilang dalam waktu seminggu kecuali kau sering berlatih dan mengeluarkan keringat mungkin akan lebih cepat hilang" lanjut Livia santai.
"Dan kalian, kenapa tidak mengetahui apapun? hmm sebagai bentuk kekeluargaan kalian ikutlah berlatih bersama 39" ucap Livia santai kemudian kembali menaiki tangga. 8 orang sisanya hanya bisa menghela nafas pasrah, semua anggota tau berlatih bagi orang yang telah melakukan kesalahan seperti ini merupakan ajang pelatihan neraka.
Livia kembali berdiri di tempat semula dan berpegangan pada pagar pembatas, sedangkan sembilan orang yang maju tadi kembali ke posisi masing-masing.
"Hai semuanya, maaf dengan iklan tadi ya, perkenalkan aku adalah Zero" ucap Livia dengan ceria. Sangat berbeda dengan sosoknya yang tadi.
"Aku memiliki sesuatu yang ingin ku sampaikan kepada kalian, jadi tolong dengarkan dengan baik" ucap Livia ramah.
Livia pun mulai menjelaskan rencananya kepada semua orang.
.......
.......
.......
Saat malam hari pukul 8 Livia kembali ke mansion dan disambut dengan tatapan tajam dari keluarga besarnya.
"Halo semuanya Ivi pulang" sapa Livia dengan cengirannya.
"Dari mana saja kau princess?" tanya papi Vicko.
"kamu gak bilang akan pulang malam sayang" ucap mami.
"Udah-udah yang penting Ivi gak papa, ayo kita makan malam dulu" ucap grandma merangkul Livia dan membawanya pergi ke ruang makan.
"Kalian besok kembalilah, kalian harus sekolah" ucap Grandpa kepada Tasya, Cleo dan Cio setelah mereka semua menyelesaikan makan.
"Yah Grandpa, jangan besok ya, lusa aja gimana" rayu Tasya.
"Tidak papa kalau kau tidak ingin naik kelas" ucap Grandpa.
"Baiklah" lesu Tasya, sedangkan Cleo dan Cio hanya manggut-manggut setuju saja.
Di meja makan tersebut hanya ada Livia, kedua orang tuanya, Grandpa dan grandma serta fams. Tapi Levan telah berangkat bertugas setelah mengantar Livia dan Rafka tadi pagi.
Keesokan harinya Livia dan Rafka memilih bolos sekolah, mereka ikut mengantar fams ke bandara, ya setelah pembicaraan panjang akhirnya mereka semua harus kembali ke tempatnya masing-masing.
"Dek, jangan terluka lagi ya" ucap Lionder memeluk Livia sambil mengelus rambut panjangnya yang diurai.
"siap bang, Abang juga ya" ucap Livia menepuk punggung Lionder pelan.
"Selalu aktifkan ponsel Ivi" ucap Laonder yang memeluk Livia erat.
"Siap bos" ucap Livia menepuk punggung Laonder pelan.
__ADS_1
"Ivi! gue bakal kangen banget sama Lo, pokoknya liburan nanti kita harus ngumpul lagi" ucap Tasya yang memeluk Livia erat.
"Iya nanti gue deh yang kesana" ucap Livia dengan senyuman manis.
"Jangan macem-macem Lo" ucap Cleo memeluk Livia.
"Siap kanjeng ratu" kekeh Livia.
"Nanti kalo aku udah sampe pokoknya harus VC ya" ucap Cio memeluk Livia manja.
"Oke bos" jawab Livia lembut.
"Jaga kesehatan ya, kalo ada apa-apa bilang Abang" ucap Jeson.
"Oke bang, Abang juga jaga kesehatan ya" ucap Livia manja.
Setelah berpamitan satu persatu akhirnya mereka pun berangkat menggunakan jet pribadi sang Grandpa.
Livia dan Rafka kemudian pulang bersama tapi mampir dulu ke cafe buat nongki.
Saat memasuki cafe ternyata ramai dengan orang-orang berseragam kantor maupun sekolah.
"Rame banget" keluh Livia.
"Jam makan siang Ivi" ucap Rafka.
Saat mereka mencari meja yang kosong, Livia tanpa sengaja bertatapan dengan anak berseragam SMA Nusa yaitu Arya.
Tio yang juga melihat Livia langsung berteriak memanggilnya, Livia yang tidak ingin terus menjadi pusat perhatian akhirnya berjalan ke arah mereka diikuti Rafka.
"Kalian gak sekolah?" tanya Tio saat menyadari Livia dan Rafka yang tidak mengenakan seragam sekolah.
"Bolos" jawab Livia singkat.
Tio pun mengenalkan dua temannya yaitu Bagas dan Dafa.
"Lo pacarnya dia?" tanya Arya tiba-tiba hingga menghentikan kegiatan makan semua orang dimeja tersebut.
"Emang kenapa?" tanya Rafka datar.
"Nothing" jawab Arya menggedikkan bahu kemudian melanjutkan makannya.
Rafka dan Livia juga ikut melanjutkan makannya.
Berbeda lagi dengan teman-teman Arya yang masih tercengang menatap ke arahnya.
"Tumben Lo kepo sama hubungan orang lain!" Heboh Bagas.
_____
...TBC...
__ADS_1
...19 Mei 2022...