
"Siapa kau?" tanya Livia dingin, dia menatap tajam pria dihadapannya.
Pria tersebut merupakan pria yang tampan dengan hidung mancung, garis wajahnya seperti keturunan Rusia. Tapi tetap saja Xanderlah yang paling tampan, meski dia manusia yang jarang menunjukkan ekspresi lainnya selain muka temboknya.
"Baiklah karena kesayangan ku tidak mengenali siapa aku, maka kenalkan aku adalah Max" ucap Max kalem.
"Maaf saya tidak mengenal anda" ucap Livia dan hendak pergi dari sana.
"Pegang dia" perintah Max dingin menatap salah satu sahabat Livia.
Sahabat Livia pun berlari menghadang Livia dengan enggan, sungguh Livia terkejut, dia menatap dalam seseorang dihadapannya.
"Maaf" ucapnya menunduk tidak berani menatap Livia.
"Gina?!" ucap Livia dan Arina bersamaan.
"Lo penghianat Gin!" teriak Arina, dia berlari mendekat dan berdiri di samping Livia.
"Gue gak nyangka Lo jebak kita" sinis Arina menahan emosinya, tapi matanya tetap berkaca-kaca.
"Apa yang dia tawarin sama Lo?" tanya Livia dingin dengan tatapan mata tajam ke arah Gina yang masih menunduk.
"Maaf, Gu-Gue terpaksa Vi, Ar" ucap Gina mulai sesegukan karena tak lagi mampu menahan tangis.
Gina merasa bersalah tapi dia juga tidak menyesal, baginya permasalahan dirinya lebih berat, dia hanya akan meminta pengampunan dari kedua sahabatnya nanti.
"Kenapa? Lo dipaksa apa sama dia?!" marah Arina, matanya bahkan sampai memerah.
"Dia coba hancurin bisnis keluarga gue! dia Sandra adek perempuan gue! dia ancam keselamatan keluarga gue! Gue bisa apa? gue cuma bisa turutin kemauan dia" ucap Gina mengeluarkan emosinya dengan diiringi air mata.
"Lo punya kita padahal" ucap Livia.
"Gue juga udah mau berusaha minta tolong ke kalian, tapi gue tau kalian juga tengah banyak masalah kan! gue selalu ajak kalian jalan tapi kalian gak bisa! belum lagi dia juga selalu mantau pergerakan gue! lalu harus gimana lagi? gue harus nunggu sampe keluarga gue pada mati?!" teriak Gina frustasi.
"Lo harusnya gak gini" ucap Arina yang sudah bercucuran air mata, dia berbalik kebelakang menatap Max.
"Sebenarnya apa mau Lo?! kenapa Lo bikin semuanya diposisi sulit?!" tanya Arina dengan penuh emosi.
"Bajing*n!" lanjutnya memaki.
Livia menghela nafasnya kasar, dia berbalik menatap Max dingin.
"Urusan anda dengan saya kan? maka lepaskan mereka" ucap Livia tenang sambil menunjuk kedua sahabatnya dengan lirikan matanya.
"Baiklah, mereka memang tak lagi ku butuhkan" ucap Max lembut pada Livia, dia melirik Arina dan Gina "Pergilah" perintahnya dengan dingin.
Tingkah Max ini memang sedikit aneh, jika dia berbicara dengan Livia, dia seperti matahari pagi yang cerah yang memberikan kehangatan, sedangkan dengan orang lain dia seperti malam dengan kilat dan badai yang menakutkan.
"Pergilah" pinta Livia pada Arina dan Gina, tapi mereka justru menggelengkan kepalanya.
"Gue bakal temenin Lo Vi" ucap Arina.
"Gue yang bawa Lo kesini jadi gue harus disini juga" ucap Gina.
"Tolong dengerin gue" pinta Livia lagi.
"Tapi Vi" ucap mereka keras kepala.
"Seenggaknya kalian pergi cari pertolongan" ucap Livia mengusir.
Arina dan Gina saling tatap "Baiklah" ucap mereka dengan berat hati.
__ADS_1
Setelah memastikan keduanya cukup jauh, Livia balik menatap Max yang berjarak 5 meteran darinya.
"Lalu apa?" tanya Livia dingin.
"Ikutlah denganku" Jawab Max lembut.
"Kemana?"
"Ke negara asal ku"
"Keluarga saya disini dan saya belum lulus"
"Kau bisa lanjutkan pendidikan mu di sana, kita juga bisa mengunjungi keluarga mu sesekali"
"Tapi saya tidak ingin pergi"
"Berhentilah berbicara formal dengan ku!"
"Kenapa?"
"Kau milikku, kau pasangan ku, kita akan segera menikah tepat setelah kau lulus"
"Hahaha!" Livia tertawa kencang menatap Max didepannya dengan binar geli.
"Kau mencintaiku?" tanya Livia santai sambil bersedekap dada.
"Always" jawab Max cepat.
Livia melangkah mendekatinya, berdiri tepat di depannya menyisakan jarak yang hanya sejengkal, dia mengulurkan tangannya mengelus rahang Max pelan.
"Shh!" Max mendesis memejamkan matanya, dia begitu menikmati elusan tangan Livia.
"Aku bisa melihat jika itu bukan cinta" bisik Livia ditelinga Max.
"Greb!" Max menarik Livia dalam dekapannya.
"Aku benar-benar mencintaimu Livia" tekannya dengan tegas dan tatapan serius.
"Oh ya?" tanya Livia dengan seringai tipis, Max menatapnya lembut dan memuja.
"Kenapa aku harus percaya pada seseorang yang telah memberikan racun padaku bahkan memata-matai ku?" tanya Livia dengan menggoda, dia bahkan mengalungkan kedua tangannya dileher Max.
Max tersentak bahkan tubuhnya ikut menegang.
"Itu bukan aku!" tekannya mengkerutkan keningnya.
"Lalu siapa? kau pikir aku tak tau kau siapa?" ucap Livia.
"Maxmilio Ansel? ketua mafia Tiger" lanjut Livia sinis.
"Itu bukan aku! percayalah! aku Maxmirio Robert" Ucap Max.
Livia tercengang mendengar ucapan Max, dia menatap mata Max tajam berusaha mencari kebohongannya, tapi nihil dia mengatakan sebuah fakta.
"Kalian kembar?" tanya Livia pelan.
"Iya dia adikku, tapi dia ikut papa dan aku ikut mama"
"Kenapa marga kalian berbeda?" heran Livia.
"Aku mengikuti marga dari kakekku, ayah mama, percayalah aku bukan dia, aku tidak terlibat dengan dia"
__ADS_1
"Lalu kau tau aku dari mana?" tanya Livia dingin, dia tidak akan mudah percaya dengan orang lain, dia harus tetap waspada.
"Ternyata kau benar-benar melupakan ku" ucap Max.
"Kita sudah saling kenal sejak kecil, kau yang selalu mengekori abang-abang mu begitu menggemaskan membuat ku ingin memiliki adik perempuan juga, sejak saat itu kita sering bermain ditaman saat kau menunggu abang-abang mu, dulu kau yang belum bisa mengucap R selalu memanggilku dengan Lio dan membuatku kesal karena itu panggilan untuk adikku, sehingga kita sepakat memanggilku dengan Max" jelas Max.
"Tapi tepat saat aku kelas lima SD, mama bercerai dan membawaku bersamanya, sejak saat itu kita terpisah hingga sekarang, tapi aku masih ingat tentang permintaanmu yang selalu meminta ku untuk bersamamu" ucap Max lembut menatap Livia dengan senyuman.
"Apa sebelumnya kita ada berkomunikasi?" tanya Livia.
"Tidak, aku baru menemukanmu tanpa sengaja saat tau Lio kembaran ku memberikan racun pada makananmu, dia dengan sengaja mengatakan jika teman masa kecilku akan dia bunuh" ucap Max mengepalkan tangannya.
"Tapi sekarang akhirnya aku bisa menemuimu"
"Dengan mengancam sahabat ku?" sinis Livia.
"Aku tidak bermaksud demikian tapi keluarga mu begitu ketat menjagamu, aku tidak bisa mendekat dengan mudah, aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku" ucapnya merasa bersalah.
"Maaf aku terlambat datang dan tidak menjagamu dengan baik" sesal Max.
"Tak masalah, akulah yang harusnya minta maaf karena melupakanmu" ucap Livia.
"Gak papa, lagian kau lupa juga tanpa sengaja"
"Hmm" angguk Livia.
"Tapi aku tetap tidak bisa ikut bersamamu, kenangan tentangmu telah hilang, kini aku memiliki kehidupan baru, jika kau mau kita masih bisa berteman" ucap Livia.
"Tidak bisa! kau yang memintaku selalu bersamamu" tekan Max menolak tegas.
"Iya atau tidak sama sekali" tekan Livia.
"Kau harus ikut denganku!" kekeh Max yang langsung menarik Livia.
"Lep-" "Hentikan!" "Buk!"
Suara Rafka yang berteriak nyaring menubruk tubuh Max dengan bonus bogeman di rahang tegasnya hingga membuat Livia menghentikan ucapannya.
Rafka menduduki tubuh Max yang lebih besar darinya dan terus menonjok muka Max dengan brutal.
Max yang awalnya tak membalas menendang perut Rafka hingga dia terlempar dan terbatuk-batuk.
Max bangkit ingin membalas tonjokan Rafka.
"Stop! hentikan!" sentak Livia yang menghalangi tubuh Rafka yang masih terduduk.
"Dia menyerang ku!" kesal Max.
"Dia hanya berusaha melindungi ku" ucap Livia dingin.
"Menjauh Vi" ucap Rafka.
"Tak apa dia temanku" ucap Livia sembari membantu Rafka berdiri.
"Teman?" tanya Rafka tak yakin.
_____
...TBC...
...27 Mei 2022...
__ADS_1