Putri Cupu

Putri Cupu
23


__ADS_3

"Via, aku mau ngomong sama kamu" ucap Chiko yang berdiri di samping Livia.


Livia diam tidak merespon, dia tetap duduk dengan anggun menikmati baksonya, seolah keberadaan Chiko tidak ada.


"Via please" ucap Chiko frustasi diabaikan oleh Livia.


"Vi, ladenin dulu gih" kesal Wilo yang merasa terganggu, bagaimana tidak? gara-gara Chiko menghampiri meja mereka, kini semua fokus murid-murid yang berada di kantin jadi beralih pada mereka.


Dengan malas Livia mengalihkan tatapannya pada Chiko.


"Kenapa?" tanya Livia datar.


"Aku mau ngomong sama kamu"


"Ngomong aja"


"Gak disini" Chiko menarik tangan Livia pelan membawanya meninggalkan kantin, mereka menuju ke rooftop.


"Vi, aku tau aku lagi-lagi mengecewakanmu, aku salah paham menuduh mu tanpa tau yang sebenarnya terjadi" ucap Chiko menatap mata abu-abu Livia.


"Jadi?"


"Maaf, aku mohon beri aku kesempatan untuk perbaiki semuanya, kamu taukan aku memang tidak pandai mengendalikan emosiku tapi aku akan terus berusaha memperbaikinya demi kamu, aku janji gak akan ngulangin lagi"


"Demi gue? Lo Taukan itu salah, kenapa Lo gak perbaiki demi diri Lo sendiri? sebelum orang-orang yang peduli sama Lo akhirnya ninggalin Lo karena kesalahan Lo sendiri" ucap Livia dingin, mendengar panggilan Livia padanya apalagi dengan nadanya yang dingin Chiko menjadi sedih, perasaannya benar-benar kalut.


"Iya aku akan perbaiki semuanya Vi, please jangan abaikan aku lagi" ucap Chiko sendu memegang tangan Livia.


"Udahlah ko, hal seperti ini akan terus terjadi dikemudian hari kalo Lo sendiri aja gak percaya sama gue, jadi sebaiknya kita temenan aja" ucap Livia serius, bukan tanpa alasan dia menolak Chiko, setelah kehadiran Xander tunangannya Livia sadar dia harus menghormatinya.


"Nggak Vi, please kasih aku kesempatan lagi ya" pinta Chiko memegang kedua tangan Livia.


"Maaf gue gak bisa" Livia menarik tangannya pergi meninggalkan Chiko yang masih menatapnya sedih, Livia tau jika sebenarnya perasaan Chiko padanya cukup dalam mungkin sudah memasuki tahap mencintai, tapi Livia tidak ingin semuanya semakin terlambat dan menyakitinya semakin dalam.


Akhirnya Livia memilih bolos kelas dan pergi ke tempat persembunyiannya di bawah pohon mangga yang sedang berbunga lebat.


"Dadaku sesak sekali" ucap Livia pelan sambil memegang dadanya, matanya bahkan sudah berkaca-kaca, bukan karena sakit hati tapi sesak karena racunnya kembali bereaksi.


Dia mengambil ponselnya yang berada di saku, mengirim pesan pada Rafka.


^^^To: Bunglon^^^


^^^Bang, Ivi boleh minta tolong?^^^


Tak berapa lama pesan Livia langsung dibalas oleh Rafka.


From: Bunglon


Kenapa Vi?


Kamu dimana?


^^^To: Bunglon^^^


^^^Shareloc 📍^^^


^^^Tolong bawain obat penawar Ivi bang, didalam dompet tapi tasnya dikelas gimana dong?^^^


From: Bunglon


Tungguin aja


^^^To: Bunglon^^^


^^^Thanks bang^^^


Livia memejamkan matanya berusaha menekan rasa sakitnya.


Disisi lain Rafka sedikit bingung bagaimana cara dia mengambil tas Livia? apalagi sekarang sedang waktu belajar.

__ADS_1


Dengan meyakinkan diri dia mengetuk pintu kelas Livia setelah memperoleh rencana dadakan.


"Ada apa?" tanya seorang pria yang merupakan guru Fisika.


"Saya diminta tolong untuk mengambilkan tas Livia karena dia sedang sakit dan obatnya ada didalam tas" ucap Rafka dingin disertai ekspresi datar.


"Tunggu sebentar"


"Laura tolong bawakan tas Livia kemari"


"Baik pak" Laura memberikan tas Livia langsung ke Rafka setelah diperintah si guru.


Rafka sempat melirik Laura sebentar lalu mengambil tasnya dan pergi begitu saja setelah sedikit menunduk.


Rafka memeriksa ponselnya mencari titik lokasi keberadaan Livia.


"Vi" panggil Rafka dibalik pohon yang Livia sandari.


"Bang, Ivi disini!" teriak Livia.


Rafka langsung berlari menghampirinya, menatap panik wajah Livia yang memucat disertai keringat bercucuran, dengan cekatan dia langsung membuka tas Livia mencari keberadaan dompetnya, mengambil suntikan kecil dan langsung menyuntikkan pelan di lengan Livia.


Setelah memastikan keadaan Livia membaik, dia langsung duduk disampingnya ikut bersandar pada pohon.


"Maaf ya, kemarin Abang gak ikut nyariin kamu karena harus jadi asisten dokter Devon dalam operasi besar, jadi Abang gak sempet periksa ponsel dari siang, pas baru keluar ruangan Operasi Abang masih harus mantau keadaan pasien jadi baru bisa cek ponsel pas pagi hari" jelas Rafka.


"Santai aja bang Ivi gak papa ko" ucap Livia sambil tersenyum manis.


"Kamu kemarin di lab?"


"Iya bang Ivi bikin vaksin dari ekstrak racunnya tapi belum sempurna, nanti Ivi cek lagi"


"Nanti Abang temenin"


"Siap"


"Apa yang sebenarnya terjadi, kamu memiliki memar dan luka?" Selidik Rafka setelah memperhatikan Livia.


"Brengs*k! terus gimana?" sentak Rafka emosi.


"Beruntung tunangan Ivi datang tepat waktu"


"Tunangan?" kaget Rafka.


"Hmm, Ivi udah ingat" Rafka mengangguk sebagai respon.


"Apa dia tau kamu terkena racun?"


"Ya dan dia lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri"


"Kau tau, dia memang seperti itu" seringai Rafka.


"Ya, tapi Ivi juga gak terlalu suka dengan sikapnya itu"


"Karena dia bisa kabur lagi?" sindir Rafka dengan tampang mengejeknya.


"Abang ih, bukan kabur tapi sedang memberikan kebebasan" bela Livia.


"Sama aja"


"Nggak ih!" sewot Livia kesal.


"Ya udah ayo keluar, kamu belum makan lagi kan? tadi Abang lihat kamu makan sedikit gara-gara si sial*n Chiko" ucap kesal Rafka.


"Temen Abang juga" Rafka memutar bola matanya malas kemudian beranjak menarik Livia, mereka memilih melanjutkan aksi membolosnya dan nongki di cafe.


.......


.......

__ADS_1


.......


"Tuan saya memperoleh kabar jika bunga salju Antartika yang terakhir terlihat di lelang Dubai telah dibeli oleh kelompok mafia Tiger" jelas seorang pria yang tidak lain tangan kanannya, tentu Xander tau dengan mereka karena merupakan kelompok mafia terkuat nomor 3 di dunia


"Kau selidiki untuk apa mereka membeli bunga beracun itu" ucap Xander dingin.


"Baik tuan" pria tersebut undur diri dari ruangan Xander.


Xander memeriksa ponselnya sejenak ingin menghubungi Livia dan menanyakan keadaannya, tapi dia urungkan entah mengapa dia menjadi enggan.


"Tok tok tok!" suara ketukan pintu.


"Masuk" Rico asistennya memasuki ruangan Xander.


"Ada apa?" tanya Xander melihat raut wajah ragu-ragu Rico yang ingin menyampaikan sesuatu.


"Tuan mengenai mafia Snake, semuanya sudah dilakukan sesuai rencana, apa yang selanjutnya harus dilakukan?" tanya Rico.


Ternyata pria yang memberikan misi untuk hacker AL adalah Xander tunangannya sendiri, Xander merupakan ketua dari badan intelejen pemerintah dimana kelompoknya ini sangat ditakuti oleh para penjahat, pembisnis maupun mafia karena kesadisannya baik dalam mengumpulkan informasi atau membinasakan makhluk hidup.


"Biarkan dulu" ucapnya dingin.


"Baiklah, em tuan- " gugup Rico.


"Ada apa?" tekan Xander yang merasa jengah dengan tingkah asistennya yang seperti anak gadis.


"Mengenai bunga salju Antartika ada laporan jika kakek anda dari pihak ibu memilikinya" ucap cepat Rico dengan satu tarikan nafas.


"Orang tua itu memilikinya?"


"Benar tuan, beliau merupakan seorang kolektor tanaman langka"


"Benar juga kenapa aku melupakan pak tua itu" gumam Xander dengan seringai mengerikan.


"Keluarlah"


"Baik tuan"


Setelah kepergian Rico Xander mengambil ponselnya mencari kontak pak tua yang tidak lain adalah kakeknya.


Xander menelponnya tapi tak juga diangkat, menghembuskan nafasnya keras, akhirnya dia melakukan panggilan video yang langsung saja di angkat oleh Kakeknya.


Xander menatap wajah Kakeknya yang tampak terkekeh senang melihat wajah kesal cucu laki-laki satu-satunya itu.


"Hoho siapa ini? si Tembok hidup akhirnya menghubungi ku" ejek kakeknya yaitu Wiliam De Hilton orang yang menguasai dunia pertanian, bahkan kebun yang dimilikinya sudah ratusan hektar dan tersebar diberbagai negara.


"Kudengar kau memiliki bunga salju Antartika" to the point Xander dengan ekspresi datar.


"Ya aku memilikinya sangat banyak" ucap kakek Wiliam santai sambil sesekali memakan apel yang sudah dipotong kecil-kecil.


"Beri aku sedikit akarnya"


"Tentu saja, tapi apa balasannya"


"Berapa yang kau minta?"


"Haha leluconmu lucu sekali, aku tidak membutuhkan uangmu bocah, bahkan aku bisa tidur dengan beralaskan tumpukan ATM" Xander menghela nafasnya kesal.


"Ambil jabatanku maka kau akan memiliki semuanya" ucap kakek Wiliam tersenyum smirk.


"Tidak akan pernah, aku akan minta pada nenek"


"Mintalah dan datang kemari" ejek kakek Wiliam lagi, tampak binar geli dari tatapannya.


"Cih!" decak Xander diiringi tawa sang kakek, dengan kesal dia langsung memutus panggilan begitu saja.


"Pak tua sial*n!" maki Xander.


_____

__ADS_1


...TBC...


...24 April 2022...


__ADS_2