Putri Cupu

Putri Cupu
42


__ADS_3

"Kau yang pergi atau aku yang pergi?" ucap Livia tenang menatap Max.


"Kau tetap bersama ku" kekeh Max.


"Baiklah, maka aku yang pergi, ayo biarkan dia tetap di sini" tegas Livia sambil menggandeng Rafka menjauh dari sana.


"Vi! sayang!" panggil Max.


"Tetap di sana atau gue bakal benci Lo selamanya" tekan Livia tanpa menoleh kebelakang, dia pun melanjutkan langkahnya.


Ternyata tidak jauh dari mereka ada Chiko, Bryan, Eros, Wilo CS, Arina dan Gina. Mereka sepertinya baru tiba.


"Vi, Lo gak papa?" tanya Gina panik.


"Jauh-jauh Lo" sinis Arina sambil menyenggol Gina agar menjauh dari Livia.


"Lo aman kan?" tanya Arina sembari mendeteksi seluruh tubuh Livia dari atas ke bawah.


"Iya, ayo" ajak Livia, tapi Arina tetap diam sambil menatap tajam ke belakang Livia.


Livia pun melirik sedikit mengikuti arah pandang Arina, ternyata Max berdiri tidak jauh dari mereka.


"Lo tetap disini, jangan ganggu gue atau Lo gak bakal bisa lihat gue lagi" ucap Livia dingin lalu pergi dari sana, diikuti yang lainnya.


Mereka semua pergi ke Villa Livia CS, karena tidak ingin membawa keributan dengan murid kelas XII lainnya, tapi sebenarnya Livia hanya membawa Rafka sedangkan yang lain terus mengekori dibelakang.


Livia mendudukkan Rafka di sofa lalu memeriksa perutnya dan benar saja luka memar tampak samar-samar diperut Rafka, ternyata tendangan Max tidak main-main.


Livia mengepalkan tangannya sesaat kemudian beranjak menuju dapur.


Teman-temannya yang lain sedari tadi hanya diam menyaksikan, Arina kemudian mendudukkan dirinya di salah satu sofa diikuti yang lainnya.


"Sekarang Lo mau apa lagi?" tanya Arina menatap Gina tajam.


"Berkat Lo kak Rafka cedera, untung Livia gak papa" lanjut Arina lagi.


"Gue gak tau kalo dia bakal culik Livia, karena setau gue dia sangat tergila-gila sama Livia, jadi gak mungkin dia bakal sakitin dia kan" jelas Gina.


"Tergila-gila? Dan Lo sodorin Livia ke dia yang sedang gila? Lo mau Via celaka?!" sentak Arina geram.


"Nggak gitu maksud gue, gue-"


"Udahlah, gue gak papa" sela Livia yang membawa air dingin di baskom dan handuk kecil.


akhirnya semuanya pun diam menyaksikan Livia yang sedang mengompres perut Rafka.


"Udah malam, kalian balik aja ke villa" usir Livia setelah selesai, dia mendudukkan dirinya di lantai bersandar pada sofa.


"Abang tetep di sini jagain kamu Vi" ucap Rafka.


"Bener Vi, biar kita istirahat disini aja malam ini ya, gue takut Lo kenapa-kenapa lagi" sahut Wilo.


"Ya udah cari kamar kosong sendiri" jawab Livia kemudian pergi ke kamarnya, mengabaikan Semua tatapan mata yang mengikutinya.


.......


.......


.......


Keesokan paginya semua orang berkumpul di pantai untuk berolahraga ataupun hanya menikmati suasana, mereka bermain dengan begitu bahagia.


Livia duduk tidak jauh dari bibir pantai seorang diri, dia duduk di atas batu karang dibawah pohon, mengenakan gaun biru muda selutut berlengan tali kemudian cardigan putih polos yang panjangnya melebihi lututnya, rambutnya dia biarkan terurai melambai-lambai terkena angin.


"Tubuh ini cantik, badannya bagus, kaya juga multitalenta, bahkan memiliki keluarga yang begitu hangat. Tapi kenapa banyak sekali bajing*n disekitarnya" gumam Livia sambil melihat teman-temannya bermain air, sesekali mereka melambai kearah Livia, mereka mengajaknya bergabung tapi Livia tidak suka pakaiannya kotor, apalagi di sana juga sangat ramai, jadi dia lebih memilih duduk santai dibawah pohon menikmati pemandangan.


"Lihatlah bahkan dia memiliki teman-teman yang baik, meski beberapa memang harus disadarkan terlebih dahulu" gumamnya lagi pelan.

__ADS_1


Livia meraih kelapa muda disampingnya dan meminum airnya menggunakan sedotan.


"Sebenarnya kenapa aku dikirim kemari?" gumam Livia sambil meletakkan kelapa di sampingnya kemudian menatap langit biru yang tak berujung.


"Ivi!" panggil Rafka yang berjalan pelan mendekati Livia.


"Udah bangun bang?" tanya Livia.


"Iya, ko gak ada yang bangunin Abang sih?" Rajuk Rafka sambil mendudukkan dirinya tidak jauh dari Livia.


"Mau dibangunin kaya gimana pun gak bakal ngaruh sebelum pengaruh obatnya habis" ucap Livia.


"Pengaruh obat apa?" tanya Rafka mengerutkan keningnya.


"Obat dari lab" jelas Livia.


"Kamu bawa obat dari lab?" tanya Rafka.


"Nggak, tapi Luve yang mengirimkannya" jelas Livia.


"Dia kesini? kapan? cepet banget" ucap Rafka cepat.


"Kemarin saat Ivi balik ke kamar, Ivi suruh dia kirim obatnya pake RM" jelas Livia.


"Roket mini?!" kaget Rafka. "Perasaan kamu baru bikin desainnya sekitar seminggu yang lalu" lanjut Rafka.


"Iya, sekalian uji coba jarak jauh"


"Gak seru, Abang gak diajak" Rajuk Rafka.


"Situ ujian kan"


"Kamu gak sabaran" kesal Rafka.


"Terserah" kesal Livia yang beranjak pergi ke tepi pantai.


"Vi, RM mau kamu luncurin?" tanya Rafka setelah berjalan di samping Livia.


"Katanya kamu mau bikin sekolah gratis?"


"Udah"


"Panti asuhan?"


"Udah"


"Museum?"


"Udah"


"Perpustakaan?"


"Udah"


"Panti jompo"


"Udah"


"Mall"


"Udah"


"Kamu bikin mall juga?!" kaget Rafka.


"Iya" jawab Livia santai.


"Sebenarnya berapa total aset kamu?" heran Rafka.

__ADS_1


"Gak tau" acuh Livia, dia kemudian berlari kecil menjauhi ombak yang semakin naik, Livia memilih kabur dan kembali ke villa.


"Kamu benar-benar berubah semenjak lupa ingatan Vi" gumam Rafka menatap punggung Livia yang semakin menjauh.


"Kamu seperti orang lain, tapi kamu juga tidak asing, membuat orang lain semakin nyaman" gumam Rafka dengan sudut bibirnya yang berkedut tipis menahan senyum.


"Tapi akhir-akhir ini Ivi lebih pendiam, apa gara-gara si tengik itu" gumam Rafka mengerutkan keningnya.


"Sial*n!" makinya yang langsung meraih ponselnya menghubungi seseorang.


"Halo" sapa Rafka setelah panggilannya diangkat.


"..."


"Dimana?"


"..."


"Abang Lo udah ada kabar?" tanya Rafka dingin.


"..."


"Brengs*k!"


"..."


"Ivi gak baik-baik aja" geram Rafka.


"..."


"Gue jagain"


"..."


"Hmm"


"..."


"Thanks" Rafka menghela nafasnya.


Setelah menyelesaikan panggilan Rafka kembali ke villanya, dia juga malas mengikuti teman-temannya yang sedang bermain di tepi pantai.


Saat Livia hendak membuka pintu utama villa, tiba-tiba pintu didorong dari dalam dan terbuka lebih dulu.


"Kak Fian?" kaget Livia saat melihat Rafka dari dalam villanya, Fian pun tampak terkejut meski hanya sekilas, sungguh pengendali ekspresi yang baik.


"Rafka mana?" tanya Fian dingin dan cepat, seolah menjelaskan tujuannya tanpa membiarkan Livia untuk berfikir aneh-aneh.


"Di pantai" jawab Livia tenang.


"Ok" ucap Fian yang langsung berlalu melewati Livia.


Livia tercengang menatap pintu didepannya yang telah kosong 'cuek banget' batinnya, tapi tentu saja Livia tidak peduli, dia meraih gagang pintu hendak masuk ke dalam.


"Em.. Vi" panggil seseorang dari belakang Livia, dia pun menoleh mengikuti asal suara tersebut.


Livia mengangkat sebelah alisnya heran, menatap Fian yang memanggilnya ternyata berdiri tidak jauh darinya.


"Thanks" ucap Fian yang refleks di angguki kepala oleh Livia.


Fian pun berbalik dan melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi.


"Yah setidaknya dia masih tau sopan santun" gumam Livia sembari memasuki villa.


_____


...TBC...

__ADS_1


...31 Mei 2022...


Sorry lambat update, soalnya lagi sibuk ngurusin persiapan wisuda lusa, doain acaranya lancar ya 💕


__ADS_2