Putri Cupu

Putri Cupu
22


__ADS_3

Matahari sudah sangat tinggi, namun Livia masih belum juga membuka kedua mata abu-abunya, wajahnya masih sangat pucat bahkan memar diwajahnya terlihat dengan jelas, sebenarnya di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat memar yang cukup parah seperti pergelangan tangan dan dadanya.


Xander selalu berada di samping Livia menjaganya tanpa tidur, sesekali dia menerima telvon ataupun memeriksa dan menandatangani beberapa berkas yang diantarkan langsung oleh sekretarisnya.


Penampilan Xander sangat kacau, kemeja putih yang terdapat beberapa bercak darah di bagian dadanya sudah tergulung hingga siku, rambut yang acak-acakan dengan mata panda nya yang tampak samar-samar.


Dia benar-benar tak mau meninggalkan Livia bahkan hanya sekedar untuk mandi, dia takut saat gadisnya bangun dia tidak berada disisinya.


Hingga sore hari, akhirnya Livia tersadar namun keadaannya masih sangat lemah.


"Princess" panggil Xander dengan jantung berdebar kencang, dia sangat senang bahkan tanpa sadar langsung menggenggam tangan Livia erat.


"Ini dimana?" tanya Livia dengan suara sangat pelan.


"Kau di mansion ku, ah tunggu sebentar ku panggilkan dokter dulu" ucap Xander mengambil remote dimeja samping ranjang Livia dan menekannya, tak berapa lama dokter Trio dan asistennya datang memeriksa keadaan Livia.


"Racunnya cepat sekali menyebarnya" ucap dokter Trio khawatir.


"Kau dapat racun ini sejak kapan dan dari mana?" lanjutnya bertanya.


"Beberapa hari yang lalu saat makan Siomay" jawab Livia pelan.


"Siomay?" kaget dokter Trio dan Xander bersamaan, Livia hanya mengangguk mengiyakan.


"Kau dapat dari mana?" tanya Xander.


"Beri aku minum dulu" ucap Livia sedikit kesal karena baru bangun sudah dicerca banyak pertanyaan.


Dengan sigap Xander langsung mengambilkan air putih untuk Livia dan membantunya minum perlahan.


Livia kemudian duduk bersandar pada Xander dan mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi dari awal dia di taman hingga di rumahnya.


"Seseorang berhoodie itu menurut mu laki-laki atau perempuan?" tanya Xander.


"Laki-laki" tegas Livia.


"Tingginya kira-kira 175 cm atau lebih, kulitnya kuning Langsat dan cara berjalannya cukup gagah" jelas Livia.


Xander mengerutkan keningnya mendengar Livia memuji pria lain apalagi dihadapannya secara langsung, hatinya menjadi sedikit tidak nyaman namun dia berusaha menekannya dengan mengeratkan genggaman tangannya dengan Livia.


Livia yang merasa genggaman Xander menguat melirik ke samping, wajahnya begitu dekat dengan wajah Xander, bibirnya nyaris mengenai pipi Xander.


'Tampannya' batin Livia.


"Ekhem!" dehem dokter Trio menyentak Livia yang masih fokus memperhatikan tunangannya.


Xander sebenarnya menyadari jika Livia menatapnya sedari tadi, tapi dia menahan diri agar tidak lepas kendali.


"Kau pergilah dulu" usir Xander pada dokter Trio.


"Jika sudah selesai temui aku di ruangan ku" ketus dokter Trio meninggalkan kamar Xander.


"Kenapa menatap ku?" goda Xander menatap Livia.


"Ng- nggak ko" gugup Livia.


Xander tersenyum tipis menyadari kebohongan gadisnya, menarik gemas Livia ke dalam dekapannya.


"Jangan sakit dan terluka lagi princess" gumam Xander di leher Livia, membuatnya meremang.


"Akan ku usahakan" jawab Livia menepuk punggung Xander.


"Kau belum tidur kan?"

__ADS_1


"Hmm"


"Kau mencari ku Semalam ya?" goda Livia.


"Ya, kau kemana saja?" ucap Xander kesal melepas pelukannya, dia menatap Livia penuh selidik.


"Aku hanya melepas penat tapi sedikit lupa waktu"


"Sedikit?"


"Hehe maaf ya dan terimakasih sudah datang"


"Aku terlambat" Xander mengelus memar dipipi kemudian bibir Livia.


"Andai aku datang lebih cepat kau tidak akan terluka! andai aku menjagamu dengan baik kau tidak akan menghilang! andai- " ucapan Xander terhenti akibat bibirnya di bungkam dengan tangan Livia.


Livia tau Xander sedang menunjukkan sisi lemahnya padanya, Livia juga tau jika saat ini Xander pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Kau tau? jika kau tidak datang mungkin aku tidak akan selamat" ucap Livia mengelus rahang Xander lembut, Xander memejamkan matanya sesaat menikmati elusan Livia.


"Hentikan! sebelum aku lepas kendali princess" tekan Xander memegang tangan Livia pelan, ini cukup berbahaya karena tangan Livia yang mengelus rahang, leher dan telinganya yang sudah memerah membuat libidonya semakin terpancing.


"Kenapa?" tanya Livia bingung, dengan gemas Xander mengangkat Livia ke pangkuannya dan kembali memeluknya, menyembunyikan wajahnya dileher Livia.


Livia bergerak gelisah merasa tidak nyaman, dia berusaha turun dari pangkuan Xander, tentu saja ini karena pertama kalinya dia seintim ini dengan lawan jenis.


"Shh! diamlah lily" desah Xander.


"Turunkan aku X" ucap Livia.


Xander tertegun sejenak "X?" tanyanya.


"Hmm"


"Hmm"


Xander terdiam, pegangan tangannya di bahu Livia mengendur, rasa takut merasuki dirinya.


"Aku ingat tentangmu X, tentang kita" ucap Livia menatap dalam mata biru ocean Xander, Xander diam menunduk menghindari tatapan Livia.


"X" panggil Livia.


"Maaf" gumam Xander.


"Sudahlah" ucap Livia memeluk Xander.


.......


.......


.......


Keesokan harinya, Livia sudah memaksa kembali berangkat ke sekolah. Xander yang awalnya menolak tegas akhirnya luluh tidak bisa menolak keinginan gadisnya.


"Via! muka lo kenapa?!" tanya Arina histeris melihat wajah Livia yang terdapat memar dan juga luka di sudut bibirnya yang memerah, padahal dia sudah berusaha menutupinya dengan make up tapi ternyata masih ketahuan.


"Jatuh"


"Gak mungkin!" sinis Arina.


"Udahlah, gue gak papa" ucap Livia menenangkan.


"Lo di bully lagi?" tanya Gina.

__ADS_1


"Nggak ko"


"Tapi- " belum selesai ucapan Arina guru biologi sudah memasuki kelas, Arina dan Gina hanya bisa menelan rasa penasarannya.


Saat jam istirahat Livia CS ke kantin bersamaan dengan Wilo CS karena kebetulan mereka bertemu di tangga menuju lantai satu.


Mereka duduk di kursi panjang yang bisa muat banyak orang dengan Posisi duduk mereka,


Livia - Arina - Gina


Wilo - Caca - Loli


"Pada mau makan apa?" tanya Caca.


"Bakso sama jus jeruk" ucap Livia.


"Gue sama kaya Livia" ucap Gina.


"Gue juga" ucap Wilo dan Arina bersamaan.


"Gue soto ayam sama jus alpukat aja deh" ucap Loli.


"Oke samain semua ya bakso sama jus jeruk" putus Caca yang pergi memesan.


"Eh apaan gue soto sama jus alpukat!" Sewot Loli cepat tidak terima.


"Yang beda pesen sendiri" sinis Caca.


"Sial*n Lo! ya udah samain!" kesal Loli.


"Ck!" Ejek Caca Dengan muka songong, Wilo hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, merasa gemas dengan kedua sahabatnya yang selalu rajin berdebat dan bertengkar tidak jelas namun beberapa menit kemudian akan kembali akur seperti saudara kandung.


"Vi Lo abis berantem ya?" tanya Wilo tiba-tiba.


"Enggak" ucap Livia.


"Terus muka Lo kenapa? tangan Lo juga?" Tanya Wilo, Livia diam tidak menyahut apapun.


"Jangan-jangan Lo terluka kemarin pas nyokap Lo nanyain keberadaan Lo ya?" tanya Arina.


"Nyokap gue?"


"iya gue kemarin dapat telvon dari seorang wanita yang ngaku sebagai nyokap Lo, dia tanya apa gue lagi sama Lo gitu" jelas Arina.


"Iya gue kemarin hampir di culik" ucap Livia santai.


"What?!" kaget Wilo CS dan Livia CS bersamaan.


"Serius Lo?" tanya Loli Kepo Livia mengangguk mengiyakan.


"Lah katanya Lo miskin ko bisa di culik sih?" tanya Wilo dengan santainya.


"Iya mereka salah orang makanya dilepas lagi" ucap asal Livia yang justru dipercaya oleh mereka begitu saja.


Mereka pun mulai menikmati makan siang mereka dengan diselingi obrolan ringan.


"Via, aku mau ngomong sama kamu" ucap Chiko yang berdiri di samping Livia.


_____


...TBC...


...24 April 2022...

__ADS_1


__ADS_2