
Baru saja Livia keluar dari kantin dia malah berpapasan dengan Chiko CS, awalnya Livia acuh tak memandang kearah mereka namun tiba-tiba dia berhenti melangkah ketika jaraknya kisaran satu meter.
Chiko CS pun menghentikan langkahnya, menatap Livia yang tengah asik mengupas permen loli yang dia curi dari Loli.
Chiko maju selangkah hendak menyapa Livia, tapi setelah Livia memasukkan permen ke mulutnya, dia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah mereka.
Rafka tersenyum smirk menatap hal yang menurutnya cukup menyenangkan, sungguh sepupunya itu sangat menggemaskan, sebenarnya dia tidak membenci sahabatnya tersebut, dia hanya kesal karena pernah menyakiti kesayangannya.
"Si anj*r, melengos gitu aja tuh anak" ceplos Eros.
"Kirain gue mau ngomong sesuatu eh sekalinya buka bungkus permen doang, kagak bagi-bagi lagi" sahut Kenan.
"Kepedean sih" sarkas Bryan yang melanjutkan langkahnya diikuti yang lainnya.
.......
Sepulang sekolah Livia langsung menuju ke laboratoriumnya, dia langsung menuju ruang kerjanya.
Menyalakan beberapa komputer yang saling terhubung, jari-jarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard.
Berbagai macam data memasuki komputernya, dia menyaksikan beberapa video dari orang-orang yang berbeda.
Tak berapa lama beberapa serangga berterbangan di sekitarnya.
"Halo mungil-mungil ku, kalian mengerjakan tugas dengan sangat baik" ucap Livia menengadahkan tangan untuk dihinggapi para robot lebahnya.
Dia berjalan menuju lantai bawah, tempat laboratorium berharganya, meletakkan robot-robot lebah tersebut ke sebuah kapsul kemudian robot white menampilkan sebuah hologram, Livia menyentuh beberapa titik tombol yang samar-samar tersebut hingga bagian dalam kapsul berisi penuh dengan asap putih.
Setelah beberapa waktu, asap tersebut akhirnya menghilang, Livia mengambil para robot yang terlihat kinclong dan menyimpannya ke dalam kotak kaca, ternyata tadi itu semacam sterilisasi.
"White, kau tolong bantu green merapikan dan bersihkan sisanya kemudian susul aku ke ruangan kerjaku ya" ucap Livia.
"Siap nona" jawab robot white.
Livia pun kembali memasuki ruang kerjanya yang penuh dengan komputer, dia kembali sibuk dengan pekerjaan yang telah tertunda berhari-hari.
"Bagaimana dengan One dan yang lainnya?" tanya Livia saat white memasuki ruangannya.
"Semuanya berjalan sesuai rencana nona, tapi tugas yang nona berikan untuk mencari tuan Xander tak memberikan hasil apapun" jelas robot white.
"Kenapa?" tanya Livia dingin dengan mengerutkan keningnya tidak suka.
"Seseorang telah menyembunyikannya dengan baik, terakhir kali saya berhasil membuka sandi lapisan terakhir namun selalu gagal dan berulang dari awal"
"Siapa hacker yang berhasil menutupinya?"
"Maaf saya tidak tau nona, tapi dari data yang saya dapatkan, hacker yang memiliki kemampuan setara dengan nona adalah hacker 'Who', tapi dia beberapa tahun ini tidak lagi menunjukkan dirinya, dia seperti menghilang"
"Baiklah, biarkan saja tidak usah mencarinya lagi" perintah Livia kemudian beranjak setelah mematikan semua komputernya.
__ADS_1
"Baiklah Nona"
Livia pun memasuki kamarnya, mengganti pakaian santainya dengan celana jeans hitam yang robek di bagian pahanya, kaos ketat hitam polos, jaket jeans yang juga berwarna hitam dan juga tak lupa topi hitam polos yang memiliki ring menggantung di ujungnya.
"Kau ikut aku dan panggil One dan yang lainnya untuk ke vila putih" ucap Livia kepada robot white yang menunggunya di depan pintu saat dia keluar dari kamar.
Vila putih yang dimaksud Livia adalah salah satu vilanya yang memiliki konsep warna putih yang terletak di dekat pantai, tempat yang biasa dipakai oleh Livia sebagai basecamp.
"Baik nona"
"Kita pakai mobil saja, kau yang menyetir Luve" mendengar perintah sang Nona, dengan sekejap robot white berubah menjadi wujud manusia Luve si asisten.
Memasuki mobil sport mewah berwarna merah maroon, Luve menyetir dengan kecepatan tinggi, sedangkan Livia dia asik memainkan ponselnya.
Tak berapa lama mereka pun sampai dan disambut oleh beberapa orang bodyguard dan juga para pelayan, memang dibandingkan dengan vila ataupun mansion yang lain, dia lebih sering ke vila ini untuk mengurus pekerjaan.
"Bagaimana?" tanya Livia yang telah mendudukkan dirinya di kursi ruang rapat, beberapa orang ternyata sudah menunggunya.
"Semuanya berjalan baik, bisnis properti, wisata, fashion, dan persenjataan serta IT berjalan seperti yang anda rencanakan nona" Jelas seseorang yang menjadi Presdir utama di perusahaan Livia.
"Bagus" puji Livia namun dengan wajah datarnya.
"Nona, saya melihat berita mengenai anda, apakah nona baik-baik saja?" Tanya salah satu pria yang ada di sana.
"Aku baik-baik saja Five" jawab Livia santai, tiba-tiba Livia menatap salah satu dari mereka dengan tatapan mata tajam.
"Apakah menyenangkan?" tanya Livia dingin.
"Apa uang dariku masih kurang banyak hingga kau menginginkan pemberian dari orang lain?" tanya Livia dengan senyuman manis, orang-orang pun tersentak mulai gugup, hawa ruangan menjadi lebih dingin, mereka tau jika senyuman tersebut pertanda tidak baik.
"Saya tidak mengerti nona" ucap tenang si pria dengan kepala tertunduk, keringat sebiji jagung mulai membasahi tubuhnya.
"Ah ternyata kau tidak tau ya? baiklah maka aku akan beritahu" ucap Livia santai, dia menyandarkan punggungnya menyilangkan kaki.
Luve dengan cekatan mengetikkan sesuatu pada tab ditangannya hingga muncullah hologram besar yang menampilkan banyak video dan juga foto, Livia menyentuh salah satu video untuk memperbesar tampilannya.
Semua orang yang berada di sana tampak terkejut mendengar obrolan si pria dengan beberapa orang yang sangat mereka kenal, dengan bersamaan mereka menatap benci kearah si pria.
Livia melipat tangannya di meja kemudian menopang dagunya dengan senyuman manis.
"Bagaimana? apa sudah ingat Nine?" tanya Livia dingin dengan senyumannya yang telah menghilang.
"Maaf nona! saya bersalah! saya menyesal telah melakukannya!" ucap cepat Nine sambil berdiri dan membungkuk 90°.
"Maaf ya? Hmm, bukankah aku sudah pernah bilang mengenai penghianatan? apa kau juga lupa?" tanya Livia dingin.
"Pe- penghianat adalah musuh dan musuh harus dimusnahkan" jawab gugup Nine.
"Tepat sekali! maka inilah hukumanmu" ucap Livia ceria dengan senyuman lebar dia melempar jarum kecil ke leher Nine dengan cepat.
__ADS_1
"Ah! ampun nona! maafkan saya!" teriak Nine menyentuh lehernya berusaha mencabut jarum yang sudah tertancap cukup dalam.
Tentu Livia mengabaikannya dan kembali duduk di kursinya, dia menatap Nine yang terus berteriak dengan lehernya yang memerah, dia berhasil mencabut jarum tersebut namun darah justru muncrat dari lubang bekas jarum seperti air mancur.
"Jika darahmu sudah habis aku akan menghilangkan mu tanpa jejak jadi tenanglah" ucap Livia santai sambil meminum wine yang sudah disediakan oleh Luve.
Semua orang menatap ngeri Nine yang kesakitan, entah apa yang dia rasakan, yang jelas jarum yang dilemparkan oleh Livia bukan jarum biasa.
Nine berusaha merangkak keluar dari ruangan.
"Hoho! darahmu masih banyak ya hingga kau masih memiliki tenaga? bagaimana jika ku bantu menghabiskan dengan cepat?" tanya Livia bersemangat sambil jongkok didekat Nine.
Livia memencet kalungnya hingga muncul hologram kecil dihadapannya seukuran tab.
"Nomor 9 ya?" tanya Livia pelan kemudian menekan nomornya.
"Duk!"
"Uhuk uhuk uhuk!"
Suara ledakan kecil terdengar dari dalam perut Nine, dia terbatuk hingga memuncratkan darah dengan banyak hingga mengenai sedikit punggung tangan Livia.
"Ih!" kesal Livia mengulurkan tangannya ke Luve untuk dibersihkan, Luve dengan sigap membersihkannya bahkan hingga menyemprotkan desinfektan dan mengoleskan hand cream.
"Bersihkan dia Luve" perintah Livia.
Luve berjalan mendekat ke tubuh Nine yang terus batuk darah dengan kesadaran hampir hilang, dia menuang sesuatu dari botol kecil di atas kepala Nine, cairan tersebut mengalir bersamaan dengan bagian tubuh Nine yang ikut mencair.
"Uwek uwek uwek!" mual pria presdir yang tidak tahan menyaksikan tontonan tersebut, dia berlari kencang menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Sedangkan yang lain ada yang memalingkan wajahnya adapula yang mematung dengan wajah pucat pasi mereka.
Luve kembali melanjutkan tugasnya, tubuh Nine yang telah mencair kembali ditetesi sesuatu hingga menguap dan menyisakan cairan yang sangat kental berwarna kehitaman, Luve memasukkan cairan tersebut ke dalam kotak bening dan mengukir angka 9 di permukaannya.
Luve memasukkan kotak kaca tersebut kedalam microwave satu menit dan saat dikeluarkan sungguh mengejutkan, bentuknya menjadi kristal bening yang bagian tengahnya berwarna hitam dengan ukiran angka 9 yang indah.
"Ini Nona" ucap Luve memberikan kristal tersebut pada Livia.
"Hmm koleksi ku bertambah" ucap Livia, dia berjalan keluar dari ruangan dan melangkah menuju aula luas namun mewah dan elegan. Semua orang pun mengikutinya di belakang.
"Bibi!" panggil Livia, seorang wanita paruh baya langsung berdiri dihadapannya dengan memegang kotak kaca yang biasa digunakan untuk pameran perhiasan.
"Simpanlah dengan baik ya" ucap Livia dengan senyuman manis.
Si bibi pun menerimanya dengan patuh dan menatanya dengan cantik di dalam kotak, kemudian kotak tersebut diletakkan didinding tempat hiasan bersama yang lain, ternyata di sana sudah ada beberapa kotak sejenisnya yang juga telah tersusun rapi.
"Panggil semuanya untuk berkumpul" ucap Livia santai.
Mendengar perintah sang nona, semua orang langsung melakukan tugasnya masing-masing, mereka ada yang sibuk dengan ponselnya ataupun dengan earpiece yang terpasang di telinganya.
_____
__ADS_1
...TBC...
...17 Mei 2022...