
Malam puncak yang bertepatan dengan malam terakhir mereka semua berlibur, mereka mengadakan pesta meriah ditepi pantai.
Livia mengenakan gaun hitam selutut tanpa lengan dan juga rambut yang di Gelung berantakan.
Livia duduk disalah satu kursi menikmati jus jeruk kesukaannya dan juga beberapa cemilan.
"Vi, aku mau ngomong sama kamu" ucap Chiko yang menghampiri Livia seorang diri.
"Apa lagi?" tanya Livia datar.
"Please, bentar aja" ucap Chiko memohon.
"Hmm" dehem Livia, dia beranjak menjauh dari keramaian dan berjalan ditepi pantai tanpa alas kaki, membiarkan kaki mulusnya terhantam ujung ombak.
Chiko dengan patuh terus mengikutinya, berdiri di samping Livia tapi berjarak sekitar satu meteran.
Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing, menikmati sepoi-sepoi angin yang menerbangkan rambutnya.
"Cantik" ucap Chiko pelan menatap Livia lembut.
"Thanks" Jawab Livia, dia balas menatap Chiko yang tampak tampan meski dengan pakaian kasualnya.
Akhirnya mereka kembali terdiam, Livia mengalihkan tatapannya membiarkan Chiko terus menatapnya dalam.
"Maaf" ucap Chiko memecah keheningan.
"untuk?" tanya Livia.
"Semuanya, lagi-lagi aku mengecewakanmu, meragukan mu, melepas kesempatan yang sudah kau beri karena kesalahan ku sendiri" ungkap Chiko.
"Meski aku bersikap bodoh, aku tetap mencintaimu Vi, always" lanjutnya menatap Livia dalam.
"Jangan mengharap padaku lagi, aku sudah melepas mu" Jelas Livia tegas.
"Sungguh tidak ada kesempatan lagi ya?" tanya Chiko sendu.
"Aku sudah memiliki tunangan" tegas Livia.
Tubuh Chiko tampak menegang, tatapannya seketika menjadi kosong.
Livia memang kejam karena menabur garam pada luka yang belum kering, tapi semua itu perlu agar Chiko melepas rasa bersalah ataupun penyesalannya terhadap Livia.
"Ha ha ha" tiba-tiba Chiko tertawa hampa, dia menatap Livia dengan tatapan yang tidak Livia mengerti, namun tampak jelas di sudut matanya titik-titik air mata nyaris menetes.
"Ternyata memang tidak ada kesempatan lagi ya" kekeh Chiko dengan miris.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu, tentang perasaanku biarlah menjadi urusanku, berbahagialah Livia, karena bahagia mu bahagia ku juga" ucap Chiko tulus dengan senyuman teduhnya.
"Maaf Ko dan terimakasih" balas Livia tulus.
Chiko hendak berbalik tapi dia urungkan, dia menatap Livia sendu.
"Boleh peluk sebentar? mungkin ini yang terakhir" ucap Chiko ragu-ragu.
Livia mengangguk pelan, tanpa ragu lagi Chiko menarik Livia dalam rengkuhannya.
Tubuh Chiko bergetar pelan, air mata yang tadi sudah berusaha keras dia tahan akhirnya luruh juga, Livia menepuk punggungnya pelan.
Livia tidak mengatakan apapun, karena dia tau semakin banyak yang dia ucapkan mungkin akan semakin menyakiti Chiko.
"Sorry" gumam Chiko melepas pelukannya, dia menatap Livia dengan mata merahnya.
"Selamat tinggal Livia" ucap Chiko berjalan mundur meninggalkan Livia.
__ADS_1
"Selamat tinggal cinta ku" ucap Chiko dengan senyuman manis nya, dia kemudian berbalik dan berlari menjauh, dia tidak kembali ke tempat pesta sepertinya dia langsung kembali ke kamarnya.
Livia menghela nafasnya, menatap laut gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan.
.......
.......
.......
Liburan yang terasa hambar telah berlalu, lusa merupakan acara perpisahan kakak kelasnya, Livia juga telah melewati ujian akhir semesternya, tentu saja lagi-lagi Livia menempati posisi juara 1 umum.
Dan yang lebih mengejutkan Livia juga mengikuti ujian Nasional susulan dan dinyatakan lulus dengan nilai terbaik.
"Vi, Lo kejem banget si ninggalin gue" rengek Arina.
"Lo beneran udah lulus ya?" tanya Gina.
"Iya, gue lanjut kuliah di London" ucap Livia.
"Hua! gue mau ikut" rengek Arina.
"Kemarin diajakin gak mau" ucap Livia santai.
"Otak gue gak mampu elah" kesal Arina.
"Sadar diri Lo" ejek Wilo.
"Sial*n Lo!" maki Arina kesal.
Livia hanya tertawa kecil melihat tingkah Arina.
Saat ini Livia, Arina, Gina, Wilo, Loli dan Caca tengah berkumpul di kamar Livia.
"Jadi Lo nyuruh kita kemari ceritanya buat perpisahan gitu ya?" tanya Loli.
"Besok?!" kaget semuanya.
"Lah, kan perpisahan sekolah lusa Vi" ucap Caca.
"Gue skip gak ikut" ucap Livia.
"Kenapa?" tanya Wilo.
"Males aja, gue juga ada perlu makanya buru-buru ke sana" jelas Livia.
"Kalian lanjut kuliah dimana?" tanya Livia pada Wilo CS.
"Gue di Indo aja, nyokap gue gak mau gue jauh soalnya" ucap Loli.
"Gue balik ke Jerman" ucap Caca.
"Lo?" tunjuk Livia pada Wilo yang hanya diam.
"Tau" acuh Wilo sambil menggedikkan bahu, yang lain pun mengerutkan keningnya bingung dan tidak puas dengan jawaban Wilo.
"Yang jelas dong" sewot Loli.
"Gue bingung mau dimana, pengennya sih yang ada kalian aja gitu biar gak repot cari sohib lagi" jelas Wilo.
"Ko gue baper ya?" ungkap Arina.
"Kemarin Lo bilang mau ke Jerman" ucap Caca.
__ADS_1
"Iya tapi Lo Taukan Jerman tu tempat memori kelam gue" jelas Wilo sendu.
Caca dan Loli terdiam sembari menggenggam tangan Wilo.
Livia CS yang tidak mengerti pun tampak linglung.
"Emang ada apa?" tanya Livia hati-hati.
Caca dan Loli menatap Wilo khawatir, Livia dan yang lainnya juga menatap Wilo bingung.
"Dulu sebenarnya gue tinggal di Jerman karena bokap gue orang Jerman sedangkan nyokap gue Indo, gue pernah di bully di sana karena kulit gue yang sawo matang, gue juga pernah di culik dan gak makan berhari-hari, gue nyaris mati di sana, nyokap gue bahkan hampir bunuh diri gara-gara gue hilang, beruntung gue bisa ketemu meski dengan keadaan gak baik" jelas Wilo panjang lebar.
"Hiks-hiks, Wiloo! gue gak nyangka Lo pernah ngalamin hal buruk kaya gitu" tangis Arina.
"It's okay, semuanya udah berlalu tapi tetap aja kalo mau balik ke sana rasanya gue belum siap" ucap Wilo.
"Ke London aja sama gue" ucap Livia.
"Nanti deh gue pikirin lagi" ucap Wilo dan Livia mengangguk setuju.
.......
Pagi hari pun tiba, kedua orang tua Livia sudah heboh sejak pagi.
"Sayang, ayo cepat turun kita sarapan" teriak mami dari ujung tangga.
"Iya mi, ini Ivi udah jalan" ucap Livia sembari berlari kecil menuruni tangga.
"Jangan lari princess!" teriak papi Vicko khawatir.
"Hehe iya Pi" ucap Livia dengan cengirannya.
Akhirnya mereka bertiga makan bersama dengan khidmat.
"Princess, kamu yakin mau kuliah di London?" tanya papi.
"Iya sayang, Abang twins ngambek kamu milih ke London, gimana kalo ke Newyork aja biar ada yang jagain?" rayu mami.
"Ivi tetap pada keputusan terakhir mi, Pi" ucap Livia.
"Lagian kita udah mau berangkat juga nih" lanjut Livia dengan cemberut.
"Siapa tau kamu berubah pikiran gitu" ucap mami.
"Ya udah gak papa, tapi tetep harus ada yang jagain kamu ya" ucap papi.
Livia akhirnya mengangguk dengan bersemangat.
Setelah selesai sarapan bersama, mereka pun pergi ke bandara dan pergi ke London mengendarai jet pribadi keluarga Dyfandra.
Saat sampai di London, mereka langsung menuju mansion Dyfandra yang berada di London. Sebenarnya Livia tidak ingin menempati mansion besar tersebut karena hanya seorang diri, tapi demi kebaikannya dan menuruti permintaan kedua orang tuanya tersayang dia pun akhirnya pasrah saja.
Livia memasuki kamarnya yang bernuansa putih bersih dengan sedikit warna coklat sesuai dengan keinginannya.
Dia melangkah menuju meja belajarnya, menyalakan komputer dan mulai sibuk memainkannya.
Jari-jarinya terus menari dengan lincah di atas keyboard, matanya memandang layar dengan begitu serius.
"Rupanya kau sudah memasuki jebakan ku" sinis Livia.
"Sepertinya aku harus memberikan hadiah sambutan untuk mu" lanjutnya dengan seringai tipis.
-----
__ADS_1
...TBC...
...09 Juni 2022...