Putri Cupu

Putri Cupu
26


__ADS_3

Dua hari telah berlalu namun Livia tak juga sadar, Luve senantiasa disampingnya merawat dan menjaganya dengan baik. Kedua orang tuanya juga selalu menemaninya bahkan menginap diruang rawat Livia.


Meski keadaan Livia sudah tidak separah sebelumnya namun nyatanya juga tidak bisa disebut baik. Racun yang tertelan begitu sedikit telah menyebar dengan cepat karena memang merupakan racun yang sangat berbahaya.


Setiap jamnya dokter Devon dan juga Rafka selalu datang memeriksa keadaan Livia yang terkadang turun drastis kemudian kembali membaik. Rafka bahkan mengabaikan sekolahnya karena baginya Livia lebih penting.


"Vaksinnya memang berhasil menekan penyebarannya tapi kita tetap masih butuh penawarnya" ucap Rafka pada seorang pria di sampingnya sambil menatap Livia sedih, mereka tengah duduk di sofa dengan Luve yang juga duduk di samping brankar. Kedua orang tua Livia mereka suruh pulang membersihkan diri dan beristirahat sejenak.


"Bang Dexco udah dapat penawarnya" ucap si pria.


"Really? dimana dia sekarang?" tanya Rafka bersemangat.


"Dia sedang mengambilnya ke rumah kakek Wiliam, itupun kalau dia berhasil"


"Kakek William? Mereka tidak akur kan?"


"Hmm, mungkin sekarang dia sedang disiksa" smirknya, Rafka bergidik ngeri membayangkan bagaimana keadaan Xander sekarang.


Sedangkan seseorang yang sedang mereka bicarakan sedang berlarian menghindari peluru yang terus berjatuhan seperti hujan. Wajahnya tidak menampakkan rasa takut maupun khawatir, justru yang terlihat adalah amarah yang menggelora.


Sudah dua hari dia terjebak dalam hutan kesayangan sang kakek, tubuhnya sudah penuh dengan keringat, seluruh tubuhnya penuh dengan goresan luka, tapi itu tidak menghentikan langkahnya maupun tindakannya yang terus membidik sasaran tak bernyawa namun begitu menyebalkan baginya.


Bagaimana tidak? Semuanya akan lebih mudah jika dia melawan manusia daripada makhluk besi ciptaan kakeknya dan juga mahkluk jadi-jadian hasil dari eksperimen gilanya.


"****!" Xander mengumpat melihat pelurunya yang sisa sedikit, dia bersembunyi di balik pohon yang cukup besar namun tetap tidak bisa melindungi tubuhnya.


"Dor! Jlep!"


"Shhh!" desis Xander setelah pundaknya terkena tembakan timah panas.


"Sial*n!" makinya sambil memegang bahunya, dia kehabisan tenaga karena tidak minum, makan dan tidur akibat dari mereka yang tidak memberinya waktu istirahat. Dia telah terkepung oleh robot AL anak buah kakeknya.


.......


.......


.......


Chiko CS tampak berkumpul diruang rawat Yolla, keadaan Yolla tidak lebih baik dari keadaan Livia, 2 rusuknya yang patah membuatnya tidak bisa bergerak bebas, setelah ini dia juga akan menjalani operasi untuk memperbaiki hidungnya yang bengkok nyaris patah.


Yolla juga belum bisa bicara banyak karena pipinya membengkak, semenjak Chiko datang dia tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Yolla kecewa.


Hening, suasana sangat canggung dan tidak nyaman, Kenan menatap teman-temannya yang menjadi pendiam bahkan Eros dan Bryan juga.


"Kalian kenapa sih?" tanya Kenan jengah.


"Apanya?" tanya Bryan.


"Kalian pada sariawan?" tanya Kenan.


"Gue balik duluan, GWS la" ucap Eros beranjak keluar ruangan diikuti Fian dan Bryan, Kenan tercengang merasa terabaikan.


"Pada kenapa sih?" kesal Kenan yang bingung dengan tingkah para sahabatnya.


"Capek gue! mau balik aja! Lo mau balik nggak?" ketus Kenan yang masih kesal.


"Lo duluan aja" jawab Chiko.


"Oke, la gue balik duluan ya" pamit Kenan yang di angguki Yolla pelan.

__ADS_1


Kini tinggallah Yolla dan Chiko didalam ruangan tersebut, Chiko masih diam bersandar pada sofa, Yolla hanya menatapnya dengan ekspresi aneh.


"L- lo masih gak mau ngomong sama gue" ucap Yolla lirih dengan ucapan sedikit terbata.


Chiko diam tidak menyahut apapun dia justru menutup matanya memposisikan tubuhnya dengan nyaman pada sandaran sofa.


Yolla menghela nafas panjang, dia akhirnya menyerah dan ikut memejamkan matanya menyusul Chiko ke alam mimpi.


.......


Rafka berlarian menuju ruang rawat Livia.


"Brak!" bunyi dobrakan pintu kencang.


"Ada apa Af?" tanya mami bingung.


"Penawar untuk Ivi udah datang" jelas Rafka bersemangat menunjukkan sebuah kotak ditangannya, dia berlari menuju ranjang, beberapa dokter kepercayaannya pun berdatangan menyusul Rafka termasuk dokter Devon.


Mami dan papi termasuk beberapa pria diminta untuk menunggu di luar ruangan, para dokter melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum memberikan obat penawar, mereka menyiapkan segala keperluan untuk kemungkinan-kemungkinan yang belum diketahui.


30 menit kemudian, para dokter keluar dari ruangan Livia.


"Mi Pi, silahkan masuk" ucap Rafka yang membuka pintu, mami dan papi kembali memasuki ruangan diikuti beberapa pria sebelumnya.


"Gimana af?" tanya papi datar namun sorot matanya tampak sangat khawatir.


"Kita hanya harus menunggu Pi, mungkin sebentar lagi efek detoksifikasi akan terjadi" jelas Rafka dengan tatapan fokus pada tubuh Livia.


"Ayo sayang kamu pasti bisa lawan" ucap mami memegang tangan Livia mengelusnya lembut.


"*****! *****! *****!" suara pendeteksi detak jantung berjalan sangat cepat.


Tiba-tiba tubuh Livia kejang-kejang.


"Dokter Devon!" panik mami Adel, dokter Devon dan Rafka mendekati tubuh Livia melakukan beberapa hal.


Mami Adel memilih mundur memberikan mereka ruang, memeluk suaminya dengan air mata yang mengalir deras.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


"Huwek! Huwek! Huwek!


"Uhuk!"


Lovia terbatuk-batuk kencang hingga menyemburkan darah diikuti muntah gumpalah darah yang kental dan juga gumpalan-gumpalan hitam.


Cukup banyak darah dan muntahan dari Livia memenuhi ember kecil, mata Livia terbuka pelan dan lemah, dia terus terbatuk hingga darah sehat pun ikut keluar.


Dokter Devon dan Rafka langsung menangani Livia dengan cekatan, hingga setelahnya mereka memberikan obat bius agar tubuh Livia tidak semakin melemah dan dia dapat beristirahat dengan baik.


"Akhirnya!" ungkap Rafka menghela nafas lega.


"Baru kali ini, saya menangani kasus seperti ini" ucap dokter Devon.


"Nona sangat kuat" lanjutnya pelan.


"Dia memang hebat, kau sudah melakukannya dengan baik princess" ungkap Rafka mengelus rambut Livia pelan.


.......

__ADS_1


"Gimana ya keadaan Livia?" ucap Eros sambil menatap keluar jendela cafe, Bryan yang berada di hadapannya ikut menatap keluar.


"Gue gak nyangka selama ini dia ngalamin hal-hal kaya gitu" ungkap Bryan pelan.


"Padahal dia udah dibully begitu parahnya, bahkan keluarga nya bisa membalas kapanpun dia mau, tapi dia justru melindungi mereka semua, gue jadi nggak nyaman karena gue ngerasa ikut ngebully dia secara nggak langsung" gerutu Eros, dia merasa kesal pada dirinya sendiri dan merasa bersalah pada Livia.


"Gue juga suka ngomong kasar ke dia, padahal selama ini kita hampir gak pernah ngobrol langsung sama dia" ucap Bryan.


Mereka menghela nafas panjang bersamaan, sungguh perasaan mereka sangat tidak nyaman.


Flashback


Setelah ruang rawat Livia dipindah ke ruang VVIP, Rafka beserta kedua orang tua Livia dan kedua sahabatnya duduk di sofa untuk menunggu penjelasan dari Rafka. Sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada Livia, dia berbicara terlebih dulu pada kedua sahabatnya Eros dan Bryan.


"Livia yang kalian kenal adalah adik sepupu gue, sebenarnya dia tidak seperti yang biasanya kalian lihat"


"Kalian pernah melihat Livia yang asli waktu di hari ulang tahun Tasya, itulah Livia yang sebenarnya"


"Jika kalian bertanya kenapa dia harus menyamar selama ini? tentu saja karena princess satu-satunya keluarga Dyfandra merupakan harta berharga yang harus dilindungi dengan baik, kurasa kalian mengerti tanpa harus dijelaskan panjang lebar"


"Selama ini gue yang mantau dia, harusnya gue juga yang jaga dia dari para pembully sial*n itu! tapi Livia selalu meminta gue untuk membiarkan nya karena baginya dengan dia di bully orang akan semakin mengabaikan keberadaannya"


"Bahkan mami Adel dan papi Vicko pernah hampir menghancurkan bisnis dari salah satu pembully nya tapi Ivi justru ngambek pada kami semua hingga berhari-hari, jadi kami semua hanya bisa mengikuti kemauannya"


"Sampai pada akhirnya Livia mengalami kecelakaan besar yang membuatnya amnesia sementara, diikuti dengan berbagai musibah lainnya yang kemungkinan besar semuanya karena lawan bisnis keluarga kami mengetahui identitas Livia disekolah"


"Kami semua sudah membujuknya untuk pindah sekolah tapi lagi-lagi dia gak mau, karena terlanjur nyaman disekolah itu, gue juga heran apanya yang bikin dia nyaman?"


"Setelah itu dia memang agak berubah, karakter nya menjadi lebih kuat tapi dia juga menjadi temperamental, sampai hal ini pun terjadi"


"Gue harap kalian mengerti apa yang harus kalian lakukan tanpa harus gue jelasin kan?"


Jelas Rafka panjang lebar, dia menatap kedua sahabatnya yang tampak masih syok, mereka menjadi sedikit linglung, Rafka memilih mengalihkan pandangannya pada kedua orang tua Livia.


"Mi Pi Af minta maaf"


"Af gagal menjaga Ivi"


"Beberapa hari yang lalu saat mami sama papi ke rumah nenek di kota Y, Livia tanpa sengaja menelan racun saat memakan siomay kesukaannya"


"Awalnya dia makan di taman seperti biasanya, kemudian seorang anak kecil hampir tertabrak mobil Livia berlari menolongnya diikuti orang-orang disekitarnya, saat Livia kembali menikmati siomaynya saat itulah dia menelan racun tersebut tanpa sengaja"


"Selama ini Af dan Ivi hanya bisa menggunakan obat yang memperlambat penyebarannya tapi ternyata masih belum memberikan pengaruh yang besar, dan akhirnya inilah yang terjadi, Af minta maaf mi Pi"


Ungkap Rafka panjang lebar sembari menundukkan kepalanya takut dengan aura papi Vicko yang sangat menakutkan.


"Jenis racun apa itu?" tanya papi Vicko dingin.


"Racun dari bunga salju Antartika Pi dan itu sangat langka" jawab Rafka.


Papi Vicko yang mendengarnya langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Flashback end


_____


...**TBC...


...29 April 2022**...

__ADS_1


__ADS_2