Putri Cupu

Putri Cupu
33


__ADS_3

Sidang pun ditutup dengan perdamaian, tentu saja putusan ini sesuai dengan permintaan sang nona muda Dyfandra.


Bukan tanpa alasan Livia melakukan ini Semua, dia sengaja mengungkapkan keinginan damainya diakhir acara untuk menikmati ekspresi ketakutan dan gelisah mereka semua.


Livia ingin menjadi seorang protagonis dimana dia akan menjadi sosok gadis polos yang baik hati dan mudah memaafkan orang lain.


Orang-orang mulai keluar meninggalkan ruangan sidang.


"Are you okay?" tanya Laonder saat melihat Livia yang hanya terdiam.


"Ivi gak papa ko, yuk keluar" ucap Livia menggandeng kedua Abang kembarnya.


Saat keluarga Dyfandra keluar dari gedung, mereka disambut oleh banyaknya blitz kamera dan orang-orang terutama para wartawan yang langsung memberikan banyak pertanyaan dan juga mengambil gambar.


Para bodyguard bekerja dengan sigap menunjukkan keprofesionalan mereka, Livia jelas sudah kembali memakai tudung hoodienya, dia sangat enggan menjadi tontonan seperti ini, apalagi dia juga tidak terlalu suka dengan keramaian.


Di tempat lain, seorang gadis yang menyaksikan siaran live persidangan tersebut dibuat gelisah.


"Maaf" gumamnya pelan sembari memeluk lututnya.


Gadis tersebut duduk di atas sofa panjang dengan penampilan kacaunya, rambut tidak disisir rapi, pakaian yang hanya singlet dan celana pendek ditambah dengan ruangan yang gelap, hanya sinar televisi yang menerangi nya.


.......


Dua hari berlalu, berita mengenai kasus semalam masih belum juga reda.


"Ivi! main yuk!" teriak Lionder dibalik pintu kamar Livia sembari menggedor-gedor pelan.


"Ada apa sih bang?" tanya Tasya yang membuka pintu kamar Livia sambil menguap.


"Ivi mana?" tanya Lionder.


"Masih tidur dia" gumam Tasya kembali ke atas kasur membiarkan pintu terbuka.


Lionder tersenyum tipis melihat adiknya yang tertidur pulas dengan sweater oversizenya hingga menenggelamkan tubuhnya.


'Cantik dan menggemaskan' begitulah batinnya.


"Vi, ba-"


"Biar dia tidur bang, Ivi baru tidur jam 5 pagi" sela Cleo cepat saat melihat Lionder mengusap kepala Livia, dia baru saja selesai mandi.


"Emang kalian habis ngapain?" tanya Lionder.


"Maraton Drakor bang" jawab Tasya yang sudah berat membuka matanya.


"Ya udah nanti jam 10 harus udah bangun, kalian belum sarapan" ucap Lionder yang langsung pergi keluar kamar.


Setelah pintu tertutup rapat, Livia langsung bangun dan duduk.


"Astaga gugup banget gue" ungkap Livia sembari memegang dadanya.


"Gila! bang Aon emang auranya serem banget yak! hampir aja gue gagal akting" heboh Tasya.


"Itu bang Ion bege" umpat Livia melempar bantal guling ke Tasya.


"Seriusan? ko mirip banget?" tanya tol*l Tasya.


"Namanya juga kembar!" sewot Livia


"Ya udah cepetan kita masih punya waktu dua jam" sela Cleo cepat yang langsung menuju sofa.


Livia pun beranjak bangun mengikuti Cleo, dia duduk disisi kanannya begitupun Tasya yang duduk disisi kiri Cleo.


Jari mereka bergerak dengan cepat di atas keyboard laptop.


"Ko gak ada ya?" kesal Tasya yang menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, sudah satu jam mereka berkutat pada laptop masing-masing.

__ADS_1


"Kita udah nyari muter-muter juga gak ketemu" ucap Cleo.


"Pasti ada yang nutupin dia" jelas Livia dengan tatapan kesalnya.


"Udahlah gue nyerah, kalo emang dia mau kabur lagi bodo amat deh gue, yuk makan gue laper" ucap Livia yang langsung menarik kedua sepupunya keluar.


Sesampainya dimeja makan, ternyata sudah ramai dengan para bujang tampan yang sudah hampir menyelesaikan makannya, ada twins, ada Levan, ada Rafka, dan juga Jeson (Sepupu dari pihak mami Adel), serta Cio adiknya Cleo.


"Ih pada makan duluan!" Kesal Tasya yang langsung mendudukkan dirinya di kursi kosong di samping Jeson.


"Kalian lama" sinis Cio yang dibalas pelototan mata dari Tasya.


"Kak Ivi duduk sini" heboh Cio yang langsung menarik Livia agar duduk disampingnya. Livia hanya tersenyum patuh mengikuti keinginan sang sepupu.


"Hei bocah! sebenarnya siapa kakakmu?" sinis Cleo, Cio hanya cengengesan tidak peduli.


Memang Cio sangat menyukai Livia (bukan sebagai laki-laki dan perempuan hanya antar saudara), dia bahkan sangat manja padanya, Cio menjadi sepupu terkecil di keluarga tersebut, saat ini dia tengah menduduki kelas IX SMP di LN.


"Kalian emang gak ada sekolah atau kuliah gitu? bang Evan juga gak tugas?" tanya Livia disela-sela makannya, dia menatap kesemua orang.


"Nggak!" jawab mereka semua serempak membuat Livia tercengang sesaat.


"Boong banget, kan belum hari libur" sinis Livia melototkan mata, namun yang terlihat justru tampak menggemaskan.


"Makanya Lo jangan sekolah disini, ayo bareng kami aja Vi" rayu Tasya.


"Iya dek, disini terlalu bahaya buat kamu" sahut Levan.


"Atau ikut Oma aja kalo Ivi mau" ucap Jeson, dia merupakan tertua disusul Levan namun hanya selisih dua bulan, Dia menjalankan bisnis entertainment di Paris.


"Nggak ah, tinggal setahun doang ko, nanti kan kuliahnya bareng kalian" ucap Livia menggemaskan.


Mendengar ucapan Livia mereka hanya bisa menghela nafas, sungguh sulit menolak keinginan gadis kecil ini.


Setelah menyelesaikan sarapan, mereka semua memilih pergi jalan-jalan ke mall menggunakan mobil sport yang hanya bisa ditumpangi oleh dua orang. Levan dan Livia, Cleo dan Tasya, Jeson dan Cio, sedangkan twins dan Rafka satu mobil karena mobilnya jenis Jeep.


Banyak yang memuji dan mengagumi, tapi banyak pula yang iri dengki, sungguh netizen alay.


Mereka langsung menuju Timezone, menikmati waktu bersama dengan penuh canda tawa, padahal jika dengan orang lain mereka seperti manusia robot alias minim ekspresi, namun jika sudah berkumpul mereka menjadi sosok yang ceria dan menyenangkan.


"Udah jam makan siang, ayo kita makan dulu" ucap Jeson setelah melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang.


Dengan patuh mereka semua berjalan mengikuti Jeson dan Levan yang berjalan beriringan.


"Mau makan apa, biar Af yang pesan" ucap Rafka, mereka pun mulai menyebutkan makanan keinginan masing-masing.


"Ivi besok mulai sekolah kan?" tanya Levan.


"Iya bang"


"Besok kita anter" ucap Cio yang dibalas anggukan kepala oleh mereka semua kecuali Rafka karena sedang memesan makanan.


"Ih, keramean nanti Ivi diantar mamang aja" tolak Livia, tentu saja dia tak ingin sekolah heboh dengan kedatangan mereka.


"No!" tegas mereka bersamaan, akhirnya Livia hanya bisa pasrah.


"Kenapa?" tanya Rafka yang baru datang.


"Besok kita anter kalian ke sekolah" jelas Lionder.


"Oke" sahut Rafka santai, Livia mendengus kesal pasalnya dia sudah berharap Rafka menolaknya, Rafka tersenyum tipis melihat Livia yang kesal.


Makanan pun tiba, mereka semua mulai sibuk dengan makanan masing-masing.


"Uy Rafka!" teriak seseorang yang baru memasuki restoran, Livia CS pun refleks menoleh ke sumber suara.


Ternyata Kenan yang memanggil Rafka, dia tampak memasuki resto bersama Chiko, Eros, Bryan dan Fian.

__ADS_1


"Lo jalan gak ajak-ajak! susah banget lagi dihubungi kaya doi aja" omel Kenan yang berjalan mendekat, padahal dia sudah menjadi tontonan sejak berteriak tadi, tapi tampaknya dia tak peduli ataupun malu.


"Gak usah berisik!" ucap Rafka datar.


"Eh ada bang kembar juga!" heboh Kenan mengabaikan Rafka.


"Skuy ke sirkuit bang" lanjutnya lagi bersemangat.


"Sirkuit?" tanya Levan menatap twins tajam.


"Hehe, safety bang" gugup Lionder menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Abang masih suka balapan ya?" tanya Cio bersemangat.


"Nggak-nggak! jarang ko" ucap Lionder cepat menatap Levan gugup.


"Ko Lo diem aja sih" sewot Lionder menendang kaki Laonder.


"Kadang kita suka ke sirkuit bang" aku Laonder yang dipelototi Lionder.


"Nonton apa main?" tanya Jeson.


"Kadang nonton kadang main" jawab jujur Laonder.


"Mau nonton balapan!" teriak Livia dengan senyuman lebar.


"No, bahaya" jawab Rafka cepat.


"Kan cuma nonton bang" bujuk Livia.


"Ayo, Tasya juga pengen bang" ucap Tasya yang langsung menggandeng tangan Lionder yang duduk di sampingnya.


"Cio juga mau nonton" ucap Cio tak mau ketinggalan.


Levan menghela nafasnya, dia menatap Jeson yang juga tengah menatapnya, akhirnya Jeson mengangguk pelan setuju.


"Ya udah nanti kita nonton tapi kalian habiskan dulu makannya" putus Levan.


"Oh iya ini temen-temen Af, itu Kenan, Eros, Bryan, Chiko dan Fian" jelas Rafka mengenalkan teman-temannya satu persatu.


"Dan ini keluarga gue, bang Levan, bang Jeson, bang Lionder, bang Laonder, Cio, Cleo, Tasya dan Livia pasti kalian kenal dia kan?" ucap Rafka pada teman-temannya.


Mereka semua pun hanya saling mengangguk ramah.


"Kalian duduk dimana?" tanya Rafka kepada teman-temannya.


"Di sana aja" jawab Chiko menunjuk meja samping mereka, dia langsung duduk disalah satu kursi diikuti oleh yang lain.


Rafka sedari tadi telah memperhatikan Chiko yang terus melirik ke arah Livia, dia merasa kesal tapi hanya bisa ditahannya.


Akhirnya mereka semua mulai menikmati makan siangnya.


'Bahkan kau tak menoleh sedikit pun' batin Chiko menatap Livia sendu, awalnya dia sangat terkejut dengan identitas asli Livia, tapi setelah diingat-ingat waktu kejadian mobil Livia yang meledak, Livia menggunakan mobil sport limited edition ditambah lagi dengan dia yang langsung mengganti motor sportnya dengan model terbaru yang jauh lebih mahal, jadi Chiko tak lagi mempermasalahkannya, justru kini dia merasa malu jika berhadapan dengan Livia.


Sedangkan Livia benar-benar tak peduli dengan keberadaan Chiko, sebenarnya dia sadar sedang diperhatikan tapi dia masa bodo.


Berbeda lagi dengan Eros dan Bryan yang sedari tadi diam, mereka merasa gugup berada diantara keluarga besar tersebut, apalagi jika mengingat kesalahan mereka pada Livia yang dulu, sungguh mereka hanya bisa pasrah.


'Oh, ini yang namanya Chiko' batin keluarga Livia bersamaan kecuali Rafka.


_____


...TBC...


...13 Mei 2022...


Sorry baru update, jaringan IM3 udah 2 hari gangguan 😭

__ADS_1


__ADS_2