Putri Cupu

Putri Cupu
19


__ADS_3

Selesai makan malam Xander dan Livia pergi ke taman belakang rumah, meski tengah malam hari tapi taman tidak terlalu gelap karena terdapat cahaya dari lampu taman di tiap sudutnya, menimbulkan suasana tenang remang-remang yang romantis dengan pemandangan langit penuh bintang.


Mereka duduk di gazebo dengan jarak satu meteran. Tidak ada obrolan apapun sejak mereka duduk di sana dari 10 menit lalu.


"Kau tidak ingin menjelaskan apapun?" tanya Livia dingin.


"Apa yang ingin kau tau?" tanya Xander tanpa menatapnya, dia terlalu fokus mendongak menata langit.


"Semuanya" tekan Livia, Xander menoleh menatapnya dalam.


"Apa yang harus aku katakan jika kau saja tidak mengingatku?" tanya Xander pelan dengan tatapan tajamnya.


"Maka buat aku mengingatmu!" kesal Livia, entah mengapa perasaannya menjadi kacau sejak mengetahui hubungan mereka.


"Caranya?" tanya Xander dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Apapun itu bisa kau lakukan!" ucap Livia semakin kesal, dimatanya Xander tampak acuh mengabaikannya, dia merasa Xander seperti tak menganggapnya penting sama sekali, apalagi dia juga teringat saat dirinya koma dan berbulan-bulan menempati tubuh ini baru kali ini mereka bertemu, Xander benar-benar tidak pernah menunjukkan dirinya, dari lubuk hatinya Livia merasa kecewa, entah itu perasaan asli Livia atau Althea.


"Aku adalah laki-laki yang sulit mengungkapkan perasaan, aku tidak pandai berkata-kata, aku adalah pria yang kaku" mata biru ocean Xander menatap tajam bola mata Livia yang berwarna abu-abu.


Mereka hanya diam saling menatap seolah dari tatapan mata tersebut mereka sedang saling mengutarakan isi hatinya, sungguh sulit dipahami bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya.


Setelah cukup lama Livia mengalihkan tatapannya, dia bangun dari duduknya melangkah mendekati panggung kecil dari kayu dan merebahkan diri diatasnya, menatap hamparan langit yang kini tepat dihadapannya.


"Aku tak tau bagaimana hubungan kita sebelumnya, tapi jujur saja perasaanku menjadi tak menentu" ucap Livia memecah keheningan.


Xander bangkit menyusul Livia, dia berdiri dihadapannya menunduk menatap Livia yang tengah berbaring telentang dengan kaki menjuntai.


"Percayalah hubungan kita selalu baik-baik saja" ungkap Xander lembut menatap lekat Livia, dari tatapannya terlihat kerinduan yang dalam tapi sekejap kemudian hilang menjadi tatapan kosong.


"Apa kita saling mencintai?" tanya Livia menatap dalam mata Xander, menyelami tautan biru tersebut.


"Kau bisa tanyakan pada hatimu sendiri" tekan Xander dingin kemudian berbalik menjauh meninggalkan Livia dalam keheningan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Livia?" gumam Livia pelan, perasaannya benar-benar tidak nyaman, ada kebahagiaan yang membuncah namun juga terdapat kesedihan yang mendalam.


kenapa Livia asli tidak memberikannya ingatan apapun mengenai Xander tunangannya?


.......


.......


.......


Baru memasuki gerbang kantin sekolah Livia sudah dihadang oleh Niki cs, sungguh Livia BENAR-BENAR sedang tidak ingin di ganggu, suasana hatinya sedang sangat buruk.


"Kau jangan ganggu kak Yolla lagi!" sentak Niki dengan bersedekap dada, Livia mengacuhkannya dan berjalan melewati mereka dengan menubruk bahu Serli.


"Dasar tak tau malu, sudah menyakiti kak Yolla tapi bertingkah seolah tidak bersalah!" kesal Serli, Livia meliriknya tajam dengan aura mengerikan, Serli melangkah mundur dengan wajah memucat sepertinya dia memiliki ketakutan tersendiri padanya dan Livia menyukainya.


"Dasar cupu, dekil, miskin, banyak gaya!" hina Evi.


"Ya ya ya" acuh Livia mendudukkan dirinya di salah satu kursi kantin, mereka pun akhirnya pergi setelah Niki memperoleh panggilan telvon.


Sebenarnya Livia sangat malas ke kantin, Pikirannya yang kacau ditambah tamu bulanan yang datang membuat moodnya semakin buruk, tapi dia tiba-tiba sangat menginginkan memakan bakso setan alias bakso yang sangat pedas.


Tadinya dia bersama Arina dan Gina, tapi mereka singgah ke toilet terlebih dahulu. Livia yang malas berdiri menunggu mereka memilih ke kantin sendirian.

__ADS_1


Bakso pesanan Livia datang, dengan cekatan dia menambahkan saus, kecap dan juga sambal yang banyaknya tidak kira-kira karena dia menuangnya langsung dari wadahnya.


Murid lain yang melihat aksinya bergidik ngeri membayangkan bagaimana rasanya, namun Livia justru menatap bakso dihadapannya dengan mata berbinar cerah.


Suapan pertama berhasil masuk ke dalam mulutnya, dia begitu menikmatinya hingga memejamkan kedua matanya dengan senyuman tipis.


"Ah!" seru Livia sambil mendesah lega karena rasanya sesuai dengan yang dia inginkan, sontak saja murid yang mendengar desahannya menoleh dan semakin bergidik takut bahkan beberapa memilih pindah menjauh duduknya.


Suapan kedua, kursi dihadapan Livia diduduki seseorang dan dengan santainya dia menarik mangkuk dan juga sendok yang sudah siap memasuki mulut Livia yang menganga lebar.


"Sial*n! apa-apaan Lo!" maki Livia emosi karena kesenangannya diganggu.


"Jangan makan makanan yang terlalu pedas Vi, gak baik buat kesehatan" ucap Lio di hadapan Livia sambil tersenyum manis.


"Kembalikan" ucap Livia dingin dengan tatapan mata tajam.


"Nih makan nasi goreng aja" ucap Lio santai sembari mendorong piring berisi nasi goreng ke hadapan Livia.


Livia yang semakin kesal langsung berdiri menarik mangkuk di hadapan Lio.


"Jangan, nanti kamu sakit perut Livia" ucap lembut Lio sambil menahan piringnya.


"Apa peduli Lo?!" sentak Livia yang semakin emosi.


"Byur" bakso yang berada di dalam mangkuk Livia tumpah karena tarikan kencangnya, semua yang menyaksikan perdebatan tadi memekik terkejut.


"Livia!" sentak suara seseorang di belakang Livia yang baru memasuki kantin, Livia dan yang lainnya pun menoleh ke sumber suara.


Chiko tampak berlari mendekat dengan ekspresi wajah datar nampak sangat marah, dia menubruk punggung Livia hingga Livia sedikit oleng.


"Lo keterlaluan tau nggak?!" ucap Chiko dingin menatap Livia tajam.


"Hiks, ko panas pedih" rengek Yolla sambil menangis.


"Ayo bersihkan dirimu" ucap Lio merangkul Yolla, Chiko menatap khawatir melihat kulit Yolla yang memerah dan juga biji cabai yang menempel di seragam bagian depannya.


Mereka meninggalkan kantin begitu saja melupakan Livia yang masih terbengong-bengong.


"Apalagi ini?" gumamnya frustasi, dia mulai menyesali hari ini karena memilih berangkat sekolah, Livia kembali duduk menatap nasi goreng dihadapannya yang belum tersentuh.


"Laper, ya udah deh di makan aja, sayang kalo di buang, makasih Lio" ucap Livia pada diri sendiri.


Murid-murid yang tadinya terbengong karena terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba, semakin terkejut dengan Livia yang masih santai tidak merasa takut sedikitpun.


"Kayanya udah mulai gila"


"Gak merasa bersalah banget"


"Gila! gimana rasanya tuh kesiram cabe"


"Tapi tadi gue lihat si cupu kan gak sengaja ya"


"Iya emang lagi apesnya di Yolla aja"


"Siap-siap di panggil BK"


"Padahal semalam gue lihat kak Chiko sama cupu balik bareng"

__ADS_1


"Sama gue juga lihat"


"Banyak drama"


"Gak punya hati, malah enak-enakan makan"


Bisik-bisik tetangga terus saja terdengar ditelinga Livia hingga membuatnya berdengung, tapi dasarnya Livia si cuek yang masa bodo tentu saja tak peduli, dia tetap makan dengan anggunnya.


"Sorry Vi lama, tadi si Arina tembus makanya minta anterin ke koperasi" ucap Gina menghampiri Livia.


"Plak!"


"Gak usah kenceng-kenceng ngomongnya Maimunah!" kesal Arina menabok bahu Gina.


"Sakit anj*r!" sewot Gina mengusap bahunya.


"Jauh nyawa elah" ucap Arina santai dan duduk di samping Livia, Gina mendengus mendengarnya.


"Ini ada yang dudukin?" tanya Gina melihat gelas es capuccino di seberang Livia.


"Udah nggak" jawab Livia santai sambil menikmati nasi gorengnya.


"Gila! Lo laper apa doyan Vi?" tanya Arina setelah melihat mangkuk bakso yang sudah kosong dan nasi goreng yang otw habis.


Livia meliriknya malas "Makan sana keburu masukan" ucap Livia, Gina dan Arina pun memesan makanannya.


.......


Yolla saat ini berada di UKS setelah mandi dan berganti seragam.


"Masih sakit? perih? panas?" tanya Chiko bertubi-tubi.


"Udah mendingan kok" ucap Yolla dengan tersenyum manis.


"Kita ke rumah sakit ya" ucap Lio memegang tangan Yolla.


"Aku udah baik-baik aja kok, lagian yang kena juga cuma tangan aku aja" ucap Yolla menenangkan kedua laki-laki dihadapannya yang menatapnya khawatir.


"Livia emang keterlaluan" ucap Eros.


"Tapi biasanya si cupu gak bakalan nyerang kalo gak diusik duluan" komentar Bryan melirik Yolla diikuti yang lainnya.


"Tadi salah gue" sela Lio.


"Gue tadi lagi larang Livia makan baksonya karena penuh dengan sambal, dia yang kesal berusaha merebutnya kembali akhirnya kami tarik-tarikan dan saat Ola muncul gue refleks ngelepas mangkuk yang gue pegang, jadi isinya gak sengaja tumpah ngenain Ola" Jelasnya.


"Jadi Livia gak salah kan?" sarkas Fian.


"Dan Lo udah bentak dia lagi" ketus Kenan menatap Chiko tajam.


Chiko yang baru mendengar penjelasan tentang detail kejadian sebelumnya pun mengeratkan genggaman tangannya, dia kembali merasa bersalah karena lagi-lagi salah paham pada Livia.


Chiko pun keluar dari UKS tanpa mengatakan apapun, Rafka yang melihatnya menyeringai puas 'Semoga Ivi membencimu' batinnya.


_____


...TBC...

__ADS_1


...20 April 2022...


__ADS_2