
Cuiit cuiit cuiit suara kicauan burung-burung dipagi hari. Hoaammm.... Jordan baru membuka matanya dan menggeliat merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku. kebiasaannya lari pagi akan tetap di lakukan meskipun dia tidak berada di dalam Camp militer, Jordan bersiap bangun kemudian Mencuci muka dan berganti baju olahraga kemudian baru berangkat lari pagi.
Earphone dan sebotol minuman selalu dia bawa sebagai peralatan perang setiap lari pagi, tubuh kekar yang sempurna juga wajah yang tampan membuat mata para wanita yang melihatnya menjadi terpesona.
" Gila... cowok dari mana itu ganteng banget, mau dong jadi pacarnya. aku tidak pernah melihat dia sebelumnya" ucap seorang gadis yang duduk di bangku taman yang kebetulan melihat Jordan lewat saat lari pagi.
"Eh...aku juga mau banget, jangankan jadi pacarnya jadi istrinya juga boleh. aduh...bentuk tubuhnya itu lho yang bikin gak tahan ingin meluk" jawab seorang gadis yang juga duduk di bangku yang sama.
Jordan hanya menoleh ke arah kedua gadis itu dan tidak merespon ucapan mereka, meskipun Jordan mendengar semua ucapan mereka berdua dengan jelas. Jordan tetap melanjutkan lari paginya.
" Haiiiisss....gadis jaman sekarang mesum juga otaknya, badan sudah di tutupi juga bagi mereka masih bisa tembus pandang" gumam Jordan.
Sudah 2 jam Jordan keliling-keliling kompleks perumahan untuk lari pagi, sekarang sudah waktunya dia kembali ke rumah. ia mempunya i janji kepada mamanya untuk menjenguk kakek Johnson pagi ini.
Sesampainya dirumah mama dan papanya sudah menunggunya di meja makan.
" Sayang...kamu sudah pulang, ayo kita sarapan pagi dulu" Sarah berjalan kearah Jordan untuk mengajaknya sarapan pagi bersama.
Jordan menolak dengan sopan" Nanti saja ma... setelah mandi aku akan sarapan sendiri, aku rasa sekarang tubuhku sudah bau karena keringat"
Sarah mengerti apa yang di maksud oleh Jordan. Sarah kembali ke meja makan untuk sarapan bersama suaminya.
Jordan berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju sebelum mengunjungi kakek Johnson di Rumah Sakit.
Selesai mandi mandi Jordan berganti baju, Jordan memakai kaos hitam panjang dengan setelan celana jeans. Jordan turun ke lantai bawah menuju meja makan untuk sarapan. selesai sarapan, seorang pembantu dirumah Jordan mendekatinya.
" Tuan muda...tuan dan nyonya sudah menunggu anda di ruang tamu untuk berangkat bersama menjenguk tuan Johnson"
setelah menyampaikan pesan dari Sarah pembantu itu pergi. Jordan segera pergi ke ruang tamu untuk menemui kedua orang tuanya.
" Sayang...kamu sudah siap, ayo kita berangkat sekarang"
Sarah segera beranjak dari sofa begitu juga William. mereka bertiga berjalan menuju mobil.
Jordan menuju ke mobil dinas yang dia bawa.
" Jordan...bagaimana jika kamu naik mobil ini saja bersama dengan mama mu, ada yang ingin mama mu bicarakan denganmu di sepanjang perjalanan. biar papa saja yang mengendarai mobilmu" William berjalan kearah Jordan untuk mengambil kunci mobil yang ada di tangan Jordan.
William memang sengaja melakukan hal ini, jika mobil Jordan ada di tangannya. maka Jordan tidak akan kabur kemana-mana.
__ADS_1
Jordan hanya mengikuti keinginan papa mamanya. Jordan masuk ke mobil yang didalamnya Sarah sudah menunggu.
"Pak, ayo jalan" perintah Sarah, mobil kemudian melaju ke arah Rumah Sakit Kota.
Setelah satu jam perjalanan kini sampailah juga mereka di Rumah Sakit Kota dimana kakek Johnson dirawat. Jordan dan Sarah lebih dahulu menuju kamar kakek Johnson.
Ceklak... mereka membuka pintu kamar dari luar kemudian masuk ke kamar. terlihat kakek Johnson sedang sarapan dengan ditemani oleh perawat. selesai sarapan perawat membawa keluar semua peralatan makan kakek Johnson.
" Jordan...cucuku tersayang, kesini kakek rindu sekali denganmu. kamu benar-benar jahat dan tega kepada orang yang sudah tua ini" ucap kakek Johnson menengadahkan kedua tangannya berharap pelukan dari cucu kesayangan Jordan.
Jordan melihat apa yang dilakukan kakeknya, ia segera mendekat dan memeluk erat kakek Johnson.
" Jordan... jagoan ku, kapan kamu akan mengenalkan calon istrimu kepada kakek tua ini" kakek Johnson berusaha membuka obrolan dengan Jordan dengan santai, berharap kali ini dia bisa membujuk Jordan untuk menyetujui pertunangan yang direncanakan oleh William.
" Kakek jangan mulai lagi deh...kenapa sih kalian selalu memaksaku untuk segera bertunangan dengan wanita yang bahkan aku saja belum pernah melihatnya" jawab Jordan yang sudah mulai bosan dengan masalah perjodohan itu.
" Ayolah...kabulkan harapan terakhirku ini, aku ingin melihatmu menikah dan memiliki seorang cicit darimu" kakek Johnson berpura-pura menangis di hadapan Jordan, supaya Jordan mau segera bertunangan dan menikah secepatnya.
Kepala Jordan benar-benar di buat pusing dengan tingkah laku dan tuntutan mereka kepadanya. sepertinya kali ini Jordan benar-benar terjebak dan tidak bisa mengelak lagi.
" Baiklah...aku menyerah, aku akan menuruti keinginan kalian. katakan kapan dan dimana aku harus menemui gadis itu"ucap Jordan yang memegangi kepalanya karena pusing. sungguh baginya jauh lebih sulit melawan keinginan keluarganya daripada terjun langsung ke Medan perang.
" Nah...itu baru cucu kakek he..he.."
Sarah segeralah mengirimkan pesan singkat kepada William suaminya, bahwa misi kali ini telah berhasil 50%. selebihnya 50% lagi kekurangannya tergantung performa dari William untuk membuat gadis calon istri Jordan mau melakukan acara pertunangan.
**
Di Rumah Atea
Kriiing kriiing kriiing....suara Telepon rumah berbunyi, bik Inah segera berlari untuk menerima telepon, namun posisi Atea lebih dekat dengan Telepon itu. Atea akhirnya membantu bik inem menjawab telepon.
" Udah bik biar aku saja yang angkat"
Atea segera menuju meja telepon kemudian mengangkat dan menerima telepon itu.
"Hallo...selamat siang dengan keluarga Atmadja, dengan siapa ini?"
" Hallo selamat siang juga, saya William Johnson ingin berbicara dengan Siti Atmadja. apakah beliau ada?"
__ADS_1
"Emm...dengan nenek ya, maaf pak William nenek saya sedang tidak ada dirumah. kebetulan baru saja sekitar 15 menit lalu keluar bersama kakak saya"
"Oh begitu ya...ya sudah saya titip pesan saja kepada beliau jika sudah kembali, bahwa pak William Johnson baru saja telepon. terimakasih sebelumnya ini dengan siapa?"
" Baik pak William saya akan menyampaikan pesan bapak jika nenek sudah kembali. oh ya lupa, saya Atea cucu nenek Siti"
"Baik nona atea terimakasih atas bantuannya dan selamat siang" William memutuskan panggilan teleponnya
"Selamat siang juga pak William" Atea menutup telepon.
bik Inah sudah selesai dengan urusannya di belakang kemudian mendatangi Atea untuk bertanya siapa yang baru saja Telepon.
"Siapa yang baru saja Telepon non?"
" itu bik...siapa ya tadi? emm..pak, pak Wil..Wil siapa ya tadi. Entahlah bik, kalau gak salah antara Wilson atau William gitu" Atea menjawab pertanyaan bik Inah dengan mengingat-ingat nama orang yang baru saja Telepon.
"Em..itu pasti pak William Johnson yang non Atea maksud, beliau sering Telepon kok non" ucap bik Inah membantu membenarkan ingatan Atea.
" Ya sudahlah bik, lagian itu juga bukan urusanku. bik Inah saja nanti yang menyampaikan pesan itu kepada nenek kalau sudah pulang ya. sekarang aku mau tidur siang dulu" Atea meninggalkan bik Inah menuju kamar tidurnya.
Bik Inah cuma tersenyum melihat sikap Atea.
"Gadis ini benar-benar belum tahu ya, justru Telepon itu berkaitan dengan kehidupan dia di masa depan" gumam bik Inah kemudian kembali lagi dengan pekerjaannya.
------*****-------
#KLIK LIKE DAN FAVORITIN NOVEL INI YA
#BERI PENILAIAN DAN KRISANNYA YA...
BACA JUGA
👉 GADIS TOMBOMANISKU
👉MY EVIL TWIN SISTER 💕
SEE U NEXT TIME...
CAYOOOO....
__ADS_1