Racun cinta: Gadis Kecil Nakal

Racun cinta: Gadis Kecil Nakal
Episode 35 Menjaga Atea (2)


__ADS_3

Hey....Ayam! Kamu kenapa? Sudahlah! Jangan berpura-pura lagi" celetuknya yang tak jika gadis di depannya saat ini benar-benar sedang sakit, menurutnya Atea hanya berpura-pura saja.


Gadis cantik tetap tidak tergerak untuk berdiri ataupun meladeni ucapan Jordan yang yang menyindirnya. Ia lebih terlihat menyedihkan, wajah meringis menahan sakit di perutnya. "Masa bodoh dengan apa yang kau ucapkan, Yang aku perlu adakah obat yang ada dalam laci meja riasnya saat ini." gumamnya dalam hati. Tentu saja hal itu bukanlah hal mudah untuk terucap dari bibir mungilnya, untuk sekedar mengucap kata, "Tolong Jordan!". Dia akan lebih memilih menahan sakit daripada mengucapkan kata itu.


Jordan segera berdiri dan menghampirinya, duduk berjongkok dengan melihat kearah gadis yang sudah mulai pucat wajahnya itu. Ia mengulurkan tangannya untuk membopong tubuh Atea kembali ke atas tempat tidur.


"Hey! Apa yang terjadi kepadamu? Jangan bercanda, hanya untuk mengerjaiku!" kata Jordan khawatir, namun Atea masih saja memilih untuk diam.


Jordan menyelimuti Atea dan beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air. Ia bertemu dengan bibi Inah di dapur, "Tuan Jordan! Perlu apa, biar bibi ambilkan" Ucap wanita usia 50 tahunan bertubuh kurus ini kepada Jordan.


"Oh, cuma air hangat saja kok bik. Itu Atea sakit perut, sementara aku mau beri dia air hangat dulu" jawabnya sembari menuang air hangat dari dalam termos ke dalam gelas.


"Oh, itu! Mungkin sakit maag non Atea kambuh tuan" ucapnya.


"Eh'em...bibi Inah panggil saya Jordan saja" berdeham karena kurang nyaman dengan panggilan tuan dari bibi Inah.


Bibi Inah cuma tersenyum, "Iya tuan! Eh, Jordan. Den Jordan saja ya, lebih enak buat bibi" bibi Inah merasa sedikit kurang sopan saja, jika harus memanggil dengan nama langsung.


Jordan paham dengan maksud bibi Inah, "Oh, terserah bibi saja" gumamnya sambil melirik kearah bibi Inah. Jordan tahu bibi Inah, tidak nyaman jika harus memanggil dengan nama secara langsung karena dia adalah asisten rumah tangga. Tetapi Jordan di rumah itu juga cuma tamu, bukan sang pemilik rumah.


"Biar saya saja den, sekalian ambil obatnya non Atea di kamar" ucap bibi Inah sembari mengambil air hangat di tangan Jordan dan meletakkannya di atas nampan.

__ADS_1


"Oh, Begitu ya" Jordan cuma bengong seperti orang bodoh. Dirumah nenek Siti, ia tidak bisa menerapkan kebiasaan kerasnya seperti di dalam camp atau di rumahnya sendiri, terkadang ia juga cuma bisa menurut saja ketika berhadapan dengan dua wanita tua yang tinggal di dalam rumah itu.


Jordan berjalan menuju kamar Atea bersama dengan bibi Inah. Ceklakk...ia membuka pintu kamar, kemudian masuk bersaman bibi Inah. "Non" Sapa-nya kepada gadis cantik yang sedang terbaring lemah diatas ranjang, keadaan ini tentu saja berbalik 180° ketika dia sedang sehat. Atea tentu tidak akan bisa hanya berdiam tiduran diatas tempat tidur.


Bibi Inah meletakkan nampan di atas meja dan berjalan menuju laci meja rias untuk mengambil obat, " Non, minum obat dulu" ucapnya sambil menyodorkan sebutir pil obat dan segelas air hangat, tetapi atea cuma menggelengkan kepalanya. Bibi Inah sudah membujuknya berkali-kali tetapi jawabnya selalu sama, sekali tidak ya tetap tidak.


"Puh... Merepotkan!" gumam laki-laki tampan yang sedang duduk di dekat meja rias. "Bi...berikan obat itu kepadaku! Aku ingin tahu bagaimana ia akan menolaknya" celetuk Jordan sedikit mengancam.


Mata Atea seketika terbuka, dan menelan ludah gluk gulk. "Bi.. Jangan! Aku akan berikan kepadaku, aku akan minum sendiri" Atea mencegahnya dengan cepat.


"Sial! Apa yang di pikirkan orang mesum satu itu. Apa dia berencana memberiku obat, seperti ia memberikan aku air melalui mulutnya tadi. Nek! Please, seret monster itu dari kamarku. Aku bisa mati jika semalam bersamanya." gumamnya dalam hati.


Bibi Inah cuma tersenyum, "Nah, begitu dong non. Bibi jadi tidak repot, jika non Atea nurut seperti ini" menyodorkan gelas berisi air hangat dan obat.


"Bibi Inah kerjakan saja pekerjaan bibi, soal gadis nakal satu ini serahkan saja kepadaku."


Mendengar ucapan Jordan, Atea langsung membuka selimutnya untuk protes. "Hey... Kaulah yang seharusnya pergi, bukan bibi Inah!" Teriaknya keras dengan kedua alis mata mengernyit geram pada Jordan.


"Oh! Sepertinya kau langsung sembuh. Sudah bisa berteriak sekeras ini" sindir Jordan sambil berpangku tangan.


" Kau!" Atea memalingkan wajahnya dan berbaring dengan posisi miring membelakangi sang mayor.

__ADS_1


Bibi Inah sekali tersenyum geli, melihat tingkah laku Atea yang sangat manja dan kekanak-kanakan. "Baik den Jordan" Bibi Inah, keluar dari kamar Atea dan kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur untuk menyiapkan makan malam.


Pintu kamar sudah ditutup rapat oleh bibi Inah. Jordan berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur Atea. "Apa tadi ada yang bilang aku monster?" Sengaja duduk di tepi tempat tidur, kemudian sedikit membungkukkan badannya ke arah Atea, dan berbisik ditelinga gadis cantik ini. "Sebaiknya kau istirahat dengan baik malam ini, atau kau akan tahu apa saja yang bisa dilakukan oleh monster tampan seperti aku" meniup telinga Atea hingga memerah.


"Sial! Dia Sedang mengancamku" gumam Atea dalam hati.


Jordan duduk sambil melihat dan membaca buku yang ada di meja belajar Atea, sampai matanya tertuju kepada sebuah buku kecil bersampul biru diantara tumpukan buku pelajaran milik wanita kecilnya ini.


------*****-----


#KLIK LIKE DAN FAVORITIN NOVEL INI YA


# BERI PENILAIAN & DUKUNG AUTHOR YA


BACA JUGA


👉 GADIS TOMBOMANISKU


👉MY EVIL TWIN SISTER 💕


SEE U NEXT TIME...

__ADS_1


CAYOOOO


__ADS_2