
Rumah Mayor Jordan
malam itu sekitar jam 8 malam sang mayor sudah sampai di kediamannya. rumah terasa sepi, hanya beberapa pembantu yang tinggal dirumah. drap drap drap suara langkah sepatu mayor Jordan yang memasuki rumah.
" tuan muda anda sudah pulang. tuan Johnson sering menanyakan kapan tuan muda akan pula" sapa salah seorang pembantu wanita yang belum Jordan kenal, mungkin karena Jordan sudah 2 tahun tidak pulang kerumah sama sekali.
" siapa kamu, aku belum pernah melihatmu dan dimana semua orang kenapa begitu sepi"
sebenarnya Jordan sudah tahu jika kakek Johnson sedang dirawat di Rumah Sakit Kota. pertanyaan Jordan ini hanya untuk memastikan jika papanya tidak sedang membohonginya.
"Saya Nana, pembantu yang biasanya merawat tuan Johnson saat dirumah. Semua orang sedang berada di Rumah Sakit untuk menemani tuan Johnson, termasuk mama dan papa tuan muda. saya baru saja membersihkan kamar tuan muda"
Nana memberikan sebuah kunci kamar kepada Jordan, kemudian pergi mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Jordan menerima kunci itu, ya...kunci kamar yang sudah 2 tahun ini kosong tanpa penghuni, meski begitu kamar ini masih sangat terawat dan tertata rapi seperti dulu dan tidak pernah berubah.
Jordan melangkah maju menuju kamarnya. ceklak cetak... Jordan membuka kunci pintu. krieett, pintu kamar terbuka lebar. terlihat khas sebuah kamar khas anak laki-laki dengan segala ornamennya.
"benar-benar tidak ada yang berubah" gumam Jordan.
Jordan meletakkan ranselnya diatas meja dan merebahkan tubuh lelahnya sebentar di atas tempat tidur. sungguh perjalanan panjang dan melelahkan, kurang lebih sekitar 3 jam perjalanan dari camp menuju rumah Jordan.
sekitar 15 menit Jordan istirahat kemudian dia bangun dan mandi untuk menyegarkan tubuhnya. crazzz...suara air yang berjatuhan dengan keras membentur tubuh kekar itu, sudah lama sekali Jordan tidak menikmati suasana sesantai ini, tanpa camp dan para prajurit. selesai mandi ia berganti baju santai yang dibawanya dan sesekali membuka almari untuk melihat apakah isinya masih sama seperti dulu sebelum ia memutuskan untuk memilih tinggal di camp militer.
" heh...baju ini masih saja ada Disini, seperti biasanya mama memang tetap merawatnya dengan baik, sungguh konyol... disimpan untuk anakku katanya" gumam Jordan sambil tersenyum tipis melihat baju tidur motif panda yang tergantung di dalam almarinya.
jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam hari. Jordan memutuskan untuk membesuk kakek Johnson besok pagi saja, malam ini ia akan telepon mamanya saja untuk menanyakan kondisi kakeknya.
dreett... drettt... handphone Sarah bergetar, segeralah wanita cantik ini mengeluarkan handphone dari tas tangannya.
" Hallo anak mama sayang...kapan kamu pulang, mama sudah kangen kepadamu. kenapa kamu jadi sek kejam ini dengan mama"
Jordan hanya memegang keningnya mendengar ucapan mamanya. menurut Jordan tidak ada yang salah dengan apa yang di ucapkan mamanya, Jordan saja yang kurang dewasa dalam berpikir waktu itu. hanya karena perselisihan kecih dengan ayah dan kakeknya, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan memilih untuk menetap di camp militer.
" Mama ngomong apa sih, ini aku sudah dirumah. besok baru kesana jenguk kakek, ini sudah malam. biarkan kakek istirahat saja"
sikap dingin dan angkuh Jordan diwarisi dari papanya yang juga seorang prajurit militer. tak banyak Jordan bicara, dia hanya mengucapkan sesuatu yang ingin dia ucapkan saja kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
**
__ADS_1
Di Rumah Sakit Kota
Terlihat kakek Johnson belum tertidur dan mengamati juga memperhatikan Sarah yang baru saja menerima telepon dari Jordan, sehingga menimbulkan rasa penasaran berat untuk kakek Johnson.
" bagaimana...dia mau pulang tidak"
Sarah mengedipkan mata kepada kakek Johnson dan melingkarkan dua jari telunjuk dan jempol tangannya, sebagai tanda misi awal mereka telah berhasil.
" Oh... syukurlah, berarti besok adalah giliran ku untuk bermain dengan Jordan, aktingku harus lebih bagus dari kalian berdua"
yang di maksud kakek Johnson adalah dua orang yang sedang berdiri di samping tempat tidur pasien saat ini. mereka adalah William dan Sarah Johnson orang tua Jordan.
" tentu saja, kali ini papa tidak boleh gagal atau anak keras kepala itu akan kabur lagi dari rumah" ucap William.
William dan Sarah memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah larut malam. drap.. draap.. langkah kaki Sarah san William menapaki lantai Rumah Sakit, mereka berhenti di parkiran mobil. tit..tit..suara alarm dari sebuah mobil mewah keluaran terbaru, Sarah dan William masuk kedalam mobil.
Ya... William memang sudah satu tahun ini tidak mengendarai mobil dinas Militer lagi setelah ia pensiun.
***
beberapa saat kemudian William dan Sarah sampai di rumah mereka. bruaakk... suara pintu mobil dibuka kemudian ditutup, mereka langsung masuk ke dalam rumah. terlihat sekali rumah sudah gelap karena semua lampu sudah di matikan.
" Papa duluan saja, aku ingin melihat Jordan sebentar"
Sarah melangkahkan kaki indahnya ke kamar putranya Jordan, ia membuka pintu dengan hati-hati. Sarah takut membangunkan Jordan, Sarah mengecup kening Jordan. Sarah tidak menyangka Jordan akan bereaksi dengan keras terhadap sentuhannya.
Jordan menarik tubuh Sarah dan membantingnya ke atas tempat tidur kemudian mencekik leher Sarah. suasana gelap di kamar Jordan membuat susah melihat siapa yang sedang mendatangi dan menyentunya.
" Sa..sayang ini Mama"
mendengar suara Sarah Jordan segera bangkit dari tubuh Sarah dan menyalakan lampu.
" mama...kenapa ngagetin Jordan sih, untung saja tadi aku bantingannya ke atas tempat tidur, kalau ke lantai gimana? yang ada bisa patah tulang mama" gumam Jordan yang membantu mamanya bangun dari tempat tidurnya.
"Haiiiisss...kamu ini, mentang-mentang mayor terus sukanya main banting saja. memang kalau kamu sudah punya istri nanti juga bakal kamu banting kesana kemari juga"
Sarah duduk di tepi tempat tidur milik Jordan.
__ADS_1
" Sayang...kapan kamu mau menikah? apakah kamu sudah punya calon sendiri, jika memang kamu ada mama papa tidak akan memaksakan perjodohan ini...tetapi jika belum ada, bisakah kamu menemui atau melihat calon istri pilihan papa dan mama meski dari jauh. setelah itu terserah kamu yang putuskan"
Jordan hanya menghela nafas panjang, masalah itu lagi dan itu lagi yang selalu di bahas ketika Jordan pulang ke rumah, hal inilah sebenarnya yang membuat Jordan malas untuk pulang.
" Ma...bisa tidak, jangan membahas hal itu dulu. aku belum ingin berumah tangga"
Jordan yang malas dan menolak secara terang-terangan usulan mamanya, tetapi Sarah tidak akan menyerah begitu saja dengan sifat keras kepala anaknya ini.
" Belum mau...apa lagi yang kamu tunggu, usiamu sudah 27 tahun, karir mapan dan jabatan tinggi. sudah tidak ada syarat yang kurang darimu untuk menikah, yang kurang dari kehidupanmu adalah seorang pendamping hidup" jelas Sarah dengan tegas kepada Jordan.
" Tapi ma...aku benar-benar belum ingin menikah"
Jordan berusaha menjelaskan keinginannya, namun percuma saja dia tidak akan pernah mampu mengalahkan mamanya yang jauh lebih keras kepala dari pada dirinya sendiri.
" Tapi apa...nunggu apa lagi, apakah kau mau menunggu sampai tua hingga peluru kendalimu itu karatan ...ayolah papa mama ini sudah tua dan kakek mu juga mulai sakit-sakitan" Sarah terpaksa berkata sedikit kasar kepada Jordan karena sedikit emosi.
" Haiiiisss...mama, bisa tidak jangan terlalu vulgar begitu ucapannya. baiklah aku akan melihat calon istri pilihan mama dan papa, soal waktunya terserah kalian saja"
ya..begitulah nasib sang Mayor, di dalam camp militer ia adalah singa lapar yang di takuti dan siap menerkam siapa saja yang dia mau. tetapi ketika di rumah ia tak ubahnya seperti kelinci kecil yang ada di ketiak ibunya.
" hemm...itu baru anak mama, ya sudah mama ngantuk mau tidur dulu, kamu juga tidur lagi. besok kita menjenguk kakek bersama"
Sarah keluar dari kamar Jordan kemudian menuju kamarnya untuk beristirahat.
------*****-------
#KLIK LIKE DAN FAVORITIN NOVEL INI YA
#BERI PENILAIAN DAN KRISANNYA YA...
BACA JUGA
👉 GADIS TOMBOMANISKU
👉MY EVIL TWIN SISTER 💕
SEE U NEXT TIME...
__ADS_1
CAYOOOO....