
Atea memandangi Jordan selama mereka bertiga makan di meja makan. Gadis ini merasa sangat jengkel dan marah, ingin sekali ia membalas balik sang Mayor resek ini. Sejak ia datang ke rumah sampai menginap beberapa hari ini, dia sudah berhasil mengambil perhatian dua orang sangat di sayang Atea. Mulai dari nenek sampai sang kakak. Okelah jika hanya kakak gantengnya yang merasa hormat kepadanya, karena ia memang atasnya di camp militer. Tetapi mengapa sang nenek juga ikut-ikutan! seperti tersihir saja oleh pesona laki-laki tampan dan dingin di depannya itu.
" Atea...Ambilkan Jordan minum" Ucap sang nenek memecahkan lamunannya.
" Gak mau! Suruh saja ambil sendiri. Dia juga punya tangan dan kaki" Menggerutu dengan muka masamnya.
Nenek Siti semakin tidak sabar, Bagaimana caranya untuk mendekatkan cucunya dengan calon suaminya itu. Dengan sifat Atea yang susah diatur dan semaunya sendiri itu, nenek Siti mungkin hanya bisa berharap kepada Jordan. Ia berharap Jordan bisa sedikit lebih sabar dan tidak terlalu agresif, tetapi di lihat dari masing-masing tanda di leher dan wajah Atea dan Jordan. Terlihat jelas dua orang anak muda ini sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
"Puh" wanita tua ini cuma menghela nafas panjang" Ya, sudahlah biar nenek yang ambil!" Sembari berdiri untuk mengetes siapa diantara mereka berdua yang akan menghentikannya.
Sret...Jordan dan Atea berdiri secara bersama-sama, " Eh, Nek biar aku saja" ucapnya bersama lagi.
Mereka berdua saling berpandangan dan saling membuang muka setelahnya. Wajah cemberut dengan dahi mengerut. Menunjukkan bahwa gadis ini tidak suka, jika perilaku dan ucapnya ditiru.
Ekspresi yang sama juga terlihat jelas di wajah sang mayor, entah mengapa jika di depan Atea. Ia selalu saja emosi dan terkadang juga bertingkah sedikit konyol. Benar-benar jauh dari gambaran seorang Mayor yang dingin dan berwibawa.
"Kau! Kenapa meniruku?" keduanya saling menunjuk dan berbalik badan, tidak ada dari keduanya yang mau mengalah.
"Sial! Kenapa dari tadi bersamaan terus sih kalau ngomong. Sebel banget, dia pasti sengaja untuk mendapatkan perhatian dari nenek. Kapan sih dia pulang? menginap di rumah orang kok lama banget. Sudah muak aku melihatnya, apa yang harus aku lakukan ya? supaya ini orang cepetan pergi dari rumah ini, gumamnya dalam hati.
Jordan yang juga masih berdiri di dekat meja makan sambil melipat tangan di depan dada, juga tak kalah emosi dengan tingkah cewek tengil di depannya itu. " Dasar cewek tengil! Nyebelin banget, ingin sekali aku lempar dia ke kandang ayam. Benar-benar ya, di kasih hati sedikit langsung ngelunjak, pikirnya.
Nenek Siti yang melihat sikap keras kepala kedua juga merasa pusing dan cuma bisa mengelus dada" Eh'em...Jadi siapa yang mau air minum?"
__ADS_1
" Dia" teriak keduanya saling menunjuk.
Bruaakk...wanita tua itu menggebrak meja, " Kalian berdua! Bisa tidak, Jangan seperti anak kecil" terlihat sangat marah, nenek yang kalem dan penyabar bisa semarah itu gara-gara melihat tingkah laku Atea dan Jordan.
Atea dan Jordan kaget samai bengong. mereka tidak menyangka bahwa neneknya akan sangat marah. " Nek, Maaf"
" Nek, Maaf. Biar aku ambil sendiri" Jordan melangkah kakinya ke arah dapur. Tak berapa lama ia sudah kembali dengan se teko air putih.
Nenek Siti masih terdiam, Tak bergeming sedikitpun. Wajahnya masih terlihat emosi dan mengabaikan kedua anak muda itu.
Atea mendekatinya" Nek, maafkan kami. Kami tidak akan melakukannya lagi, kami akan akur dan tidak bertengkar lagi" ucapnya, duduk dilantai dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang nenek.
Tidak bertengkar? akur? Mana bisa. Lihat wajahnya saja aku ingin sekali memaki dan mengerjainya sampai habis. Siapa suruh mengambil ciuman pertamaku secara paksa. Dasar memang Mayor mesum, aku benci kamu. gumamnya dalam hati gadis cantik ini.
Nenek Siti melirik kearah Jordan" Eh'em" dehemnya sedikit menyindir. Jordan faham apa yang di maksud oleh wanita tua itu, ia mendekat dengan membawa segelas air putih.
Semua ini gara-gara cewek tengil itu, awas saja! Kamu akan menerima balasannya nanti, gumamnya dalam hati.
Kedua orang muda ini benar-benar pandai sekali berakting, apa yang ada di mulut sama sekali beda dengan ada dalam hati masing-masing.
" Puh" menghela nafas dengan kasar" Ya sudah! Kali ini nenek maafkan, tapi tidak semudah itu. Kalian berdua harus di hukum biar tidak mengulangi lagi. Sekarang kalian berdua pergi ke gudang belakang dan rapikan!"
" Apa!" Atea sedikit kaget, Gudang belakang? idih, pasti banyak tikus dan kecoa. Dua binatang yang membuat Atea takut dan geli.
__ADS_1
" Kenapa? Gak mau! Sudah lupakan saja" Nenek Siti berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi..." Eh, Tidak. Aku sama Jordan, mau kok nek. Iya kan?" melirik ke arah sang. mayor yang sejak tadi berdiri dengan tenang di sebelahnya.
" Iya " berkata dengan nada dingin dan singkat. Ia tahu ini hanya akal-akalan sang nenek saja untuk menghukum cucunya yang manja dan nakal itu. Tetapi secara tidak langsung ia juga terkena imbasnya.
Bersih-bersih gudang bagi Jordan bukanlah masalah besar, ia sudah biasa olah fisik lebih berat dari pada sekedar merapikan gudang saja.
Kedua berjalan ke arah gudang belakang. Gadis itu terlihat sedikit canggung jika harus satu ruangan lagi dengan laki-laki di depannya itu, takut hal seperti kemarin terjadi lagi. Tetapi ia juga tidak bisa memperlihatkan rasa takutnya kepada Jordan, atau laki-laki didepannya itu akan besar kepala dan bertindak seenaknya kepadanya.
" Jangan ada tikus, jangan ada kecoa, Please! Jangan ada" Gumamnya lirih sambil terus berjalan.
Jordan yang mendengar samar-samar cuma tersenyum" Hmm...Jadi, cewek tengil ini takut sama kecoa dan tikus. He..he" menyeringai.
------*****-----
#KLIK LIKE DAN FAVORITIN NOVEL INI YA
# BERI PENILAIAN & DUKUNG AUTHOR YA
BACA JUGA
👉 GADIS TOMBOMANISKU
👉MY EVIL TWIN SISTER 💕
__ADS_1
SEE U NEXT TIME...
CAYOOOO