
"Mathew pergi sejak kemarin sore, Nak. Sekarang Bibi yang mengurus apartemen ini." Perempuan yang mengaku sebagai bibi Mathew itu tersenyum lembut.
"Apa Bibi tahu ke mana perginya Mathew?" tanya Vio sambil menekan amarah.
"Aku kurang tahu. Tapi sepertinya dia pergi le luar negeri. Dia membawa semua barang juga dokumen penting."
Vio dan Jason saling melemparkan tatapan. Keduanya sedikit mencurigai perempuan berusia senja itu. Terlebih lagi, selama ini Vio todak pernah mengetahui bahwa Mathew memiliki bibi.
"Kalau begitu, kami permisi, Bi." Jason akhirnya memilih untuk berpamitan, dan menarik pelan lengan Vio.
Vio hanya pasrah mengikuti langkah kaki lelaki di hadapannya itu. Sikap Mathew benar-benar membuat Vio tak habis pikir. Apa di balik tujuan sang mantan kekasih mendaftarkannya program bayi tabung.
Bahkan Vio sempat berpikir, kalau yang dikandung adalah anak dari Mathew. Dia sengaja memasukkan sel kecebong ke dalam ovum agar bisa memiliki anak darinya. Namun, jika memang hal itu tujuan dari Mathew, kenapa dia malah memutuskan hubungan dengannya.
Berbagai dugaan yang muncul di otak Vio sukses membuat kepalanya kembali berdenyut. Perempuan itu memijat pelipis seraya menyandarkan punggung pada badan lift.
"Apa kamu baik-baik saja, Vio?"
"Bisa antar aku ke rumah Michelle?"
"Untuk apa?"
"Terakhir kali sebelum pergi, Mathew berhubungan dengan perempuan brengsek itu. Dia pasti tahu ke mana Mathew pergi!"
"Baiklah, kalau begitu. Ayo!"
Mereka berdua pun langsung meluncur menuju kediaman Michelle. Sesampainya di rumah Michelle, penjaga rumah mengatakan bahwa sang nona muda tidak pulang sejak kemarin. Vio kembali harus menelan kekecewaan.
"Vio, tenanglah. Sudah tidak ada gunanya mencari tahu ke sana ke mari. Menurutku, sebaiknya kamu fokus saja menjalani kehidupanmu. Buktikan kepada semua orang yang telah menyakitimu, bahwa kamu bisa hidup baik tanpa mereka."
Kalimat yang keluar dari bibir Jason, membuat Vio untuk tidak lagi memusingkan kehamilannya. Dia akan berusaha menerima bayi itu, dan menjalani hidup sebaik mungkin. Kembali menata hati dan masa depannya yang porak-poranda.
"Tapi, bagaimana bisa aku hidup mandiri jika masih bergantung padamu, Jason?" Bahu Vio merosot, ketika mengingat bahwa dirinya kini belum benar-benar bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Sementara waktu kamu tinggal di apartemenku, sampai uangmu cukup untuk menyewa apartemen sendiri."
"Jason, bagaimana aku bisa punya uang kalau tidak memiliki perkerjaan?"
"Bekerja saja di kafeku. Kebetulan kami sedang membutuhkan satu kasir lagi. Anak magang yang kemarin keluar karena harus fokus mengerjakan skripsi."
"Sungguh?" Pupil Vio melebar dengan jemari yang saling bertautan satu sama lain.
"Tentu saja!"
Tiba-tiba Vio melompat kegirangan dan menghambur ke pelukan Jason. Beruntungnya lelaki itu memiliki tubuh tegap yang kokoh, sehingga mampu menahan gerakan mendadak yang dibuat oleh Vio.
"Terima kasih, Jason. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu, dan membalasnya suatu hari nanti!"
Hati Jason menghangat mendengar ucapan Vio. Baru kali ini dia mendapatkan ucapan terima kasih yang begitu tulus. Tanpa sadar, lelaki itu mengangkat tangan dan mengusap lembut punggung Vio.
"Kamu tidak perlu membalasnya. Jalani saja kehidupanmu dengan baik, aku kira ini sudah cukup. Jika sempat, kembali sebarkan kebaikan untuk orang lain yang membutuhkan bantuan." Jason tersenyum di balik punggung Vio.
...
Jalanan Missouri terlihat begitu padat pagi itu. Vio sedang duduk tenang di kursi penumpang dalam mobil Jason. Keduanya berangkat bersamaan untuk meringkas waktu.
Terlebih ini adalah awal bulan, akan ada pertemuan pagi untuk membahas omzet bulanan kafe serta target bulan ini. Sepanjang perjalanan, Jason sedikit menjelaskan mengenai tugas kasir.
"Gini-gini aku juga kuliah hingga lulus dan mendapatkan gelar Cum Laude!"
"Wah, benarkah? Kamu kuliah jurusan apa?"
"Desain interior!" seru Vio bangga seraya mengangkat dagunya tinggi.
"Jauh sekali! Kuliah desain kerja jadi kasir!" ejek Jason sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hei, Anda! Aku bisa membantumu, dengan merombak desain interior kafemu yang bikin pusing itu!" Dalam hitungan detik, Vio dapat membalikkan keadaan.
__ADS_1
Jason berdeham beberapa kali, kemudian mengalihkan pandangannya dari Vio. Dia merasa kalah telak dengan perempuan di sampingnya itu. Vio memang tidak salah, karena kafenya memiliki omzet yang sangat parah.
Setelah satu tahun lebih beroperasi, kafe milik Jason hanya mampu menutup biaya operasional. Jadi, modal awal untuk membangun bisnis itu belum pernah kembali satu persen pun. Sebenarnya kafe Jason terancam bangkrut. Namun, ada seseorang yang memberikannya pinjaman bersyarat.
"Baiklah kalau begitu! Buktikan ucapanmu!" tantang Jason.
"Kecil!"
Tak lama kemudian, Vio dan Jason sudah sampai di kafe. Beberapa karyawan sudah menunggu di depan kafe. Ketika Jason dan Vio datang, mereka semua menyapa sang pemilik kafe.
Jason langsung membuka pintu kafe, kemudian masuk ke dalam diikuti oleh para karyawan. Setelah itu, mereka berkumpul di tengah ruangan. Jason mulai membuka obrolan.
"Seperti biasa, kita akan membahas performa kafe satu bulan kemarin. Menurut laporan omzet yang saya terima setiap hati, bulan lalu kita mengalami penurunan omzet yang sangat drastis." Jason membuka laporan omzet kafe melalui tab yang ada dalam genggamannya.
Jason juga menunjukkan tabel yang menunjukkan deretan angka serta beberapa grafik pertumbuhan omzet bulanan. Setelah itu, Jason menyerahkan laporan tersebut kepada para karyawan agar mereka semua dapat melihat detail omzet harian kafe.
"Saya lihat kinerja kalian juga sangat lesu. Pelayanan kepada pelanggan tidak maksimal. Melalui CCTV saya lihat kalian juga lebih banyak bercanda dan membuat konten di kafe ini mengenai pembuatan kopi." Jason menatap salah seorang barista yang kini sedang menunduk.
"Sebenarnya aku tidak keberatan kalian membuat konten di kafe ini. Justru bagus, karena secara tidak langsung kalian mempromosikan kafe ini. Tapi, saya harap kalian tidak melupakan tugas utama di sini." Jason menyugar rambut dan aura kewibawaan lelaki itu seakan terpancar keluar.
Vio sampai melongo melihat Jason yang sedang berbicara di hadapan karyawannya itu. Dia tampak serius ketika membahas mengenai omzet kafe. Sangat bertolak belakang ketika mereka hanya berdua.
"Apa kalian pernah mendapatkan separuh gaji separuh dari saya?"
"Tidak, Pak!" seru semua karyawan serempak.
"Untuk itu, saya mohon sekali kepada kalian. Mari kita bekerja sama. Bagi saya, kalian adalah partner, bukan bawahan. Tanpa kalian, kafe ini juga tidak akan bisa berjalan maksimal. Jadi buat tempat kita mencari uang ini nyaman bagi pelanggan dan diri kita sendiri."
Para karyawan tampak mengangguk. Setelah selesai memberi nasehat kepada karyawan, Jason langsung memperkenalkan Vio kepada mereka semua.
"Perkenalkan, dia Violetta. Kasir baru yang akan menggantikan Meghan. Aku harap, kalian semua bisa bekerja sama dengan baik."
"Baik, Pak!"
__ADS_1