
"Saya tidak tahu apa maksud kalian merencanakan semua ini. Tapi, asal kalian tahu, Vio sedang mengandung. Tolong jangan bebani dia dengan terlalu banyak pekerjaan. Apakah masih jamannya, penindasan di tempat kerja itu perlu di lakukan?" Jason menatap tajam ke arah Evan dan juga Monica.
Setelah meneliti kasus Vio selama dua hari, Jason menemukan jawaban. Ternyata Evan dan Monica sengaja menjebak Vio karena tidak suka dengan kehadiran perempuan itu. Mereka bekerja sama dengan bantuan Angel juga.
"Andai hal ini terjadi kepadaku, apa Bapak juga akan membelaku?" Monica tersenyum kecut seraya menyipitkan mata.
"Ini bukan masalah membela atau tidak membela! Kondisi Vio membuat aku memperlakukannya sedikit spesial."
"Spesial? Wah, bahkan Pak Jason juga mengakui kalau melakukan praktik pilih kasih di kafe ini!" Monica melepas pin yang tersemat pada kemeja, lalu meletakkannya dengan keras ke atas meja.
Tatapan penuh amarah dari Monica kini seakan menghunjam harga diri Jason. Perempuan itu melipat lengan di depan dada kemudian melepas celemek yang dia pakai. Monica kembali melempar kain itu ke atas lantai.
"Aku tidak membutuhkan pekerjaan yang pemiliknya tidak adil dalam memperlakukan karyawan! Aku mengundurkan diri sekarang juga!" seru Monica kemudian pergi meninggalkan Evan dan Jason.
Jason kembali mengusap wajah kasar. Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Tuntutan dari orang yang menyelamatkan kafenya, membuat Jason harus berbuat seperti itu. Dia tidak memiliki pilihan lain untuk saat ini.
"Evan, kenapa kamu ikut menjebak Vio? Apa kamu tidak kasihan?"
"Kasihan? Apa jika aku mengasihani orang lain, mereka akan mengasihaniku juga, Pak?" Evan tersenyum miring, lalu melepas pin nama serta celemeknya.
"Asal Bapak tahu, masih mending aku dan Monica yang langsung terlihat tak suka di depan orang yang kami benci. Bapak harus lebih berhati-hati dengan orang yang terlihat baik, tapi sebenarnya hatinya jauh lebih busuk!"
Lelaki itu meletakkan atribut kerja ke atas meja kerja Jason. Evan pun ikut mengundurkan diri dari kafe tersebut. Selepas kepergian Evan, Jason mengusap kasar wajahnya.
Tak lama berselang terdengar ketukan pintu. Vio tampak panik ketika memasuki ruangan Jason, disusul dengan Angel. Angel terus menunduk seraya meremas celana yang dia pakai.
"Jason, kenapa mereka terlihat sangat marah?" tanya Vio polos.
"Tidak apa-apa. Vio, bisa kamu keluar sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan Angel."
__ADS_1
Vio menoleh ke arah Angel. Akhirnya Vio membuang napas kasar karena tak percaya bahwa ketiga rekan kerjanya sengaja membuat dia terlihat bersalah di mata Jason. Perempuan itu pun akhirnya melangkah keluar kantor.
Setelah Vio keluar, Jason meminta Angel untuk duduk. Dia menanyakan tujuan dari Angel membantu Evan dan Monica dalam menjebak Vio. Awalnya perempuan itu hanya diam. Akan tetapi, setelah terus didesak oleh Jason, dia pun mengaku.
"Maaf, Pak. Saya terpaksa." Air mata mulai mengalir membanjiri pipi Angel.
"Saya terpaksa melakukannya, karena Evan dan Monica mengancam saya!" seru Angel diiringi isak tangis.
"Mereka mengancammu bagaimana?"
"Katanya saya akan diperlakukan sama seperti Vio. Saya akan dimusuhi oleh karyawan lain. Mereka tidak suka kalau saya dekat dengan Vio dan membelanya." Angel masih terus menangis seraya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Jason menghela napas kasar. Dia akhirnya meminta Angel untuk keluar dari ruangan tersebut. Setelah Angel keluar, Vio masuk lagi ke kantor.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Jason?"
"Mereka bertiga bersekongkol untuk menjebakmu. Mereka melakukannya karena iri, kamu kuperlakukan istimewa di sini."
"Baiklah, jika itu maumu. Kamu bisa mencari pekerjaan lain."
Mendengar jawaban tak terduga dari Jason, tentu saja membuat Vio menatap lelaki itu. Dia terbelalak dengan bibir menganga lebar. Perempuan itu benar-benar tidak menyangka jawaban itulah yang keluar dari bibir Jason.
Rasa kecewa kembali bergelayut di hati Vio. Dia akhirnya melepas pin nama, kemudian memberikannya kepada sang atasan. Melihat sikap Vio, tentu saja membuat Jason terkekeh.
"Hei, tukang merajuk! Kamu benar-benar akan keluar dari sini?"
Vio mengerucutkan bibir seraya mengangguk cepat. Dia merasa sangat kesal kepada Jason. Dia ingin Jason mengerti bahwa dirinya, masih mau tetap berada di samping lelaki itu.
Vio merasa begitu nyaman ketika ada di dekat Jason. Dia juga merasa lelaki di depannya itu bisa diandalkan dan mampu melindunginya dari kejamnya dunia luar. Kesan itulah yang pertama kali Vio dapat sejak bertemu dengan Jason.
__ADS_1
Jason selalu ada ketika Vio berada di ujung tanduk dan merasa putus asa. Jason selalu hadir di saat yang tepat, sehingga semangatnya untuk menjalani hidup kembali bangkit.
"Kamu tidak boleh berhenti! Jika nekat, maka kamu juga harus angkat kaki dari apartemenku!"
Jason menatap tajam ke arah Vio. Perempuan itu pun menunduk. Dia tersenyum tipis di balik rambut yang menutupi wajah.
Hati Vio tengah bersorak gembira saat ini. Jason mencegahnya dengan cara yang berbeda. Vio menganggap bahwa dia memang bagian penting dari hidup Jason.
"Baiklah kalau kamu memaksa!" Vio mengangkat kembali wajahnya, kemudian berjalan seraya melompat kecil ke arah pintu.
Setelah pintu kembali tertutup, wajah Jason berubah. Sebuah senyum lebar terukir di bibir lelaki tersebut. Semua tingkah Vio sanggup membuatnya terhibur.
Vio adalah dunia baru yang diciptakan Tuhan untuknya, meski pun kehadiran perempuan itu berawal dari sebuah keterpaksaan. Jason berharap tugas yang diberikan kepadanya dapat dikerjakan dengan baik, sehingga semua bisa berakhir damai.
"Aku rasa ... aku mulai menyukaimu, Vio."
...****************...
Jam kerja Vio berakhir. Kafe terlihat begitu sibuk karena kekurangan karyawan. Namun, di sisi lain menjadi berkah bagi karyawan yang bertahan. Mereka jadi mendapatkan uang lebih karena bekerja lembur.
Sejak Vio bekerja di kafe milik Jason, tempat itu menjadi ramai pengunjung. Bahkan kini Jason menggunakan teras kafe untuk menampung pelanggan yang ingin bersantai di sana. Hal itu dilakukan atas saran Vio.
"Vio!" panggil Angel ketika Vio hendak pergi dari loker.
Vio hanya tersenyum tipis karena sejujurnya dia sangat kesal kepada Angel. Perempuan yang terlihat baik seperti malaikat itu ternyata bersekongkol dengan Evan dan Monica. Tiba-tiba Angel meraih jemari Vio.
"Jangan sentuh aku, Angel!" Sontak Vio mengibaskan lengan, hingga genggaman tangan Angel terlepas.
"Vio, maafkan aku. Aku melakukan itu karena terpaksa. Jika tidak, mereka akan terus menindasku. Mereka selalu begitu jika ada karyawan baru di sini. Untuk itulah banyak karyawan yang keluar masuk, dan ...."
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu, Angel?" Vio melipat lengan di depan dada seraya tersenyum miring.