Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 13. Matheo dan Irene


__ADS_3

Dari CCTV terlihat Vio yang tampak memasukkan sesuatu ke kantong celananya. Tak lama kemudian perempuan itu pergi dari area kasir. Evan pun memanggil Angel yang sedang istirahat, karena ada seseorang yang ingin memesan kopi.


"A-aku ...." Vio tampak berpikir keras.


Perempuan itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap Evan yang kini melihatnya dengan tatapan datar.


"Evan memberiku biskuit, karena aku hampir pingsan akibat kelaparan tadi. Yang aku masukkan itu adalah kantong biskuit." Vio tertunduk lesu.


Vio merasa bersalah karena memang sebenarnya ketika jam kerja, karyawan tidak boleh makan di depan umum. Namun, kondisi sangat tidak memungkinkan Vio untuk sekedar masuk ke ruang istirahat. Belum lagi rasa mual yang menyerang membuatnya terpaksa meninggalkan mesin kasir tanpa pamit.


Dilihat dari sisi mana pun memang Vio salah. Akan tetapi, mengenai uang yang hilang itu Vio benar-benar tidak tahu. Justru kini Jason malah menuduhnya mengambil uang tersebut.


"Aku tidak pernah memberinya biskuit!" ujar Evan dengan nada bicara dingin.


Mendengar pengakuan Evan, tentu saja membuat Vio terbelalak. Jelas-jelas dia sudah memberikan kue itu kepada Vio, tetapi malah kini Evan mengelak. Entah apa yang direncanakan lelaki itu.


"Vio, jujur saja. Di mana uang itu kamu sembunyikan sekarang. Uang itu sangat berarti bagi kafe ini."


"Aku tidak mengambilnya! Terserah kalau kamu nggak percaya!" Mata Vio mulai merah dan bersiap untuk segera pergi dari kafe.


Vio mengambil tas dari loker kemudian berjalan cepat menyusuri jalanan. Lagi-lagi dia kembali disalahkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Isak tangis mulai lolos dari bibir tipis Vio.


"Aku benar-benar tidak melakukannya! Kenapa Jason nggak percaya sama aku! Harus bagaimana caranya membuat dia percaya kepadaku?" Vio terus terisak sepanjang jalan seraya menggerutu karena sikap Jason.


Ketika kaki Vio lelah melangkah. Dia berhenti di sebuah halte. Alih-alih duduk di bangku, perempuan itu memilih untuk berjongkok dan menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan. Tangisnya semakin keras.


Tak lama berselang, sebuah mobil berhenti tepat di depan Vio. Suara langkah kaki yang terbalut sepatu pantofel terdengar mendekati Vio. Perempuan itu pun mendongak untuk mengetahui siapa orang yang tengah menghampirinya.


"Kamu kenapa ada di sini?"


"Dokter?" Vio mengusap air mata agar pandangannya lebih jelas.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Matheo sekali lagi.


Bukannya menjawab pertanyaan Theo, perempuan itu justru menangis semakin kencang. Theo yang panik langsung ikut jongkok kemudian menepuk bahu Vio. Dia berusaha menenangkan ibu hamil dengan tingkat sensitivitas tinggi itu.

__ADS_1


"Kami mau ke mana? Ayo, aku antar!" Theo berusaha menawarkan bantuan.


"Aku nggak tahu harus ke mana! Aku sedang kesal sama Jason! Dia tidak percaya dengan apa yang sudah aku katakan!" seru Vio di antara isak tangis.


"Hei, dengarkan aku!" Theo merangkum wajah Vio kemudian menatap serius ke dalam bola mata Vio.


"Mau ikut denganku sementara waktu sampai dirimu merasa tenang?" tawar Theo.


"Apa boleh?"


"Tentu saja boleh, Irene pasti akan senang jika kamu mau tinggal bersama kami!" Matheo mengucapkan sebuah kebohongan kepada Vio agar perempuan itu sedikit lebih tenang.


"Baiklah! Aku ikut Anda, Dok!" seru Vio, lalu beranjak dari tempat dia duduk.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Theo melajukan mobilnya santai. Hal itu membuat Vio mengantuk, dan akhirnya dia terlelap.


Dua puluh menit kemudian, mobil Theo sudah memasuki pekarangan rumah. Rumah mewah tiga lantai itu terlihat begitu indah. Hamparan rumput hijau dan pepohonan membuat suasana rumah terlihat sejuk.


Pijar lampu taman membuat suasana rumah itu terasa romantis. Di teras rumah, terdapat beberapa macam tanaman hias yang ditanam di dalam pot. Kebanyakan dari tanaman itu merupakan bunga mawar dengan warna bermacam-macam.


Vio menggeliat. Perlahan dia meregangkan otot, lalu membuka mata. Bibir tipis perempuan itu kini menguap lebar.


Melihat tingkah Vio yang unik, membuat Theo terkekeh. Setelah Vio berhasil mengumpulkan kesadaran, dia langsung duduk tegap. Perempuan itu tersenyum lebar kemudian menatap Theo yang sedang sibuk memperhatikannya.


"Kita sudah sampai?" tanya Vio diiringi sebuah senyum manis.


"Iya, ayo turun!" ajak Matheo.


Keduanya pun kini turun dari mobil kemudian berjalan pelan menuju pintu utama. Matheo menekan bel rumah dua kali. Tak lama berselang, pintu setinggi 2 meter lebih itu pun terbuka.


Seorang wanita berambut ikal dan bertubuh mungil terlihat sangat terkejut ketika melihat kedatangan Vio dan Matheo. Theo melangkah mendekati perempuan itu, kemudian melingkarkan lengan pada pinggangnya.


"Sayang, dia Vio. Salah satu ...."


"Jadi, dia orangnya?" Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca karena menahan tangis.

__ADS_1


"Salam kenal, Bu. Saya ...."


Bukannya menjawab sapaan Vio, istri dari Theo itu justru balik kanan dan setengah berlari masuk ke dalam ruang tengah. Theo tampak menepuk dahi. Dia meminta Vio untuk menunggu sementara dirinya menenangkan sang istri.


"Tunggu di sini dulu, Vio. Aku akan mencoba menjelaskan semua kepada Irene."


Vio mengangguk patuh. Matheo pun bergegas menyusul sang istri yang kini ada di dalam kamar. Vio memilih untuk duduk di ruang tamu. Dia mengamati seluruh isi ruangan itu.


Sebuah foto pernikahan menggantung pada dindingnya. Theo tampak gagah menggunakan setelan jas berwarna putih. Begitu juga dengan istrinya yang terlihat sangat anggun bak putri negeri dongeng.


"Maaf menunggu lama." Tiba-tiba dari arah dalam, Theo sudah membawa nampan berisi dua cangkir teh dan juga beberapa stoples kue kering, lalu diletakkan ke atas meja.


"Silakan. Istriku kaget saja karena malam-malam begini membawamu ke sini. Dia akhir-akhir ini berpikir terlalu banyak. Dia mengira kita memiliki hubungan lebih dari seorang dokter dan pasien." Theo tersenyum kecut kemudian meraih gelas teh dan menyesap isinya perlahan.


"Iya, Dok. Jika saya jadi istri Anda, saya pasti akan melakukan hal yang sama."


Mendengar ucapan Vio sontak membuat Theo tersedak. Lelaki itu sampai terbatuk-batuk. Vio yang panik langsung menepuk lembut punggung Theo.


Setelah berusaha mengontrol diri, akhirnya Theo berhasil meredakan batuk. Dia kembali menyesap perlahan tehnya. Vio pun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan


"Sorry," ucap Vio lirih.


"Nggak apa-apa. A-aku hanya kaget kamu mengatakan hal itu." Theo meletakkan kembali cangkir teh dan mengusap tengkuknya.


"Kalau boleh tahu, sudah berapa tahun kalian menikah?" tanya Vio.


"Hampir enam tahun. Kami tidak bisa memiliki keturunan karena Irene mengidap sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser. Sindrom di mana perempuan tidak memiliki rahim." Matheo berusaha menceritakan bagaimana kondisi sang istri.


"Jadi, akhir-akhir ini dia sangat sensitif karena merasa tertekan dengan kondisinya."


"Untuk apa kamu menceritakan hal ini kepada perempuan itu!"


Dari arah dalam, Irene sudah berdiri dengan jemari mengepal kuat di samping badan. Matanya tampak merah karena menahan tangis. Mendapati sang istri terlihat marah, Theo langsung menghampirinya untuk menenangkan Irene.


__ADS_1


__ADS_2