Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 19. Michelle


__ADS_3

Michelle berdiri di depan pintu apartemen. Jemarinya menggantung di udara karena takut ketika hendak menekan bel. Dia berpikir keras berulang kali untuk menemui Vio.


Rasa bersalah telah menggerogoti kehidupannya beberapa minggu terakhir. Dia telah menyakiti hati Vio, teman yang selama ini selalu baik kepadanya. Dia terbuai oleh pesona Mattew dan mengkhianati Vio karena terburu napsu.


"Aku harus menjelaskan semuanya kepada Vio." Michelle menelan ludah kasar, dan perlahan menekan tombol bel apartemen Jason.


Tak lama berselang, pintu di depannya terbuka. Seorang lelaki tampan menemuinya dengan alis yang saling bertautan. Beberapa detik kemudian, Vio menyusul lelaki itu. Vio terbelalak karena melihat kehadirannya.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Vio dengan nada bicara dingin.


"Vio, bisa kita bicara sebentar? A-aku mau minta maaf ...." Belum sempat Michelle melanjutkan ucapan, Vio memotongnya.


"Minta maaf? Apa menurutmu aku akan memaafkan pengkhianatanmu itu?" Vio tersenyum miring seraya melipat lengan di depan dada.


"Vio, aku benar-benar menyesal. Kamu tahu? Aku hanya dijadikan budak pelampiasan oleh Mattew. Selama ini aku tidak pernah merasakan cinta dari setiap sentuhan yang diberikan olehnya. Di setiap puncak, dia selalu menyerukan namamu." Air mata mulai menggenang di netra perempuan cantik itu.


"Bagi perempuan, cinta adalah salah satu alasan kenapa mau memberikan semuanya kepada laki-laki. Bahkan perempuan bisa dibuat bodoh karena perasaan yang dinamai cinta itu."


"Tergantung orangnya," sahut Vio seraya tersenyum miring.


"Buktinya, aku dan Mattew tidak seperti itu. Sampai sekarang bahkan aku masih suci, terlepas dari kehamilan tak terduga ini!" Vio tersenyum lebar seakan sedang mengejek kondisi mengenaskan Michelle.


"Ah, jika bertemu Mattew ... tolong sampaikan rasa terima kasihku kepadanya. Berkat dia, aku bisa merasakan kehamilan tanpa harus melakukan hubungan terlarang."


"Dia sudah menjualmu kepada dokter itu. Dan dia ...." Michelle menatap tajam ke arah Jason.


Menyadari Michelle hendak mengungkap fakta kehamilan Vio, Jason langsung menutup pintu apartemen. Dia pun bergegas menghubungi pihak keamanan untuk mengusir perempuan itu.


"Mengganggu sekali!" gerutu Jason.


Vio terdiam sejenak. Dia berusaha mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Michelle. Dia merasa temannya itu mengetahui sesuatu tentang kehamilannya.


"Apa yang dikatakan Michelle barusan?" tanya Vio untuk memastikan Jason juga mendengar apa yang dia dengar.


"Ha? Perkataan Michelle yang mana?" Jason berpura-pura bingung kemudian tertawa canggung.

__ADS_1


"A-aku tidak begitu memperhatikan Michelle, karena kamu telah mencuri semua perhatianku." Jason tersenyum jahil seraya mencubit mesra pipi Vio.


Mendengar ucapan Jason, sontak membuat Vio terkekeh. Dia mencubit pinggang lelaki itu kuat-kuat. Tak ayal, Jason pun meringis menahan sakit.


"Aduh! Ampun! Lepas-lepas, geli!"


"Jason! Aku sedang mencubitmu, bukan sedang menggelitik kamu!"


"Ahahaha, i-iya maksudku itu! Sakit! Lepas-lepas! Pinggangku rasanya mau copot!" seru Jason sembari menarik pergelangan tangan Vio agar menjauh dari tubuhnya.


"Lain kali jangan menggombal! Aku nggak butuh!" Vio melipat lengan seraya melemparkan tatapan tajam kepada lelaki di depannya itu.


Jason hanya tersenyum konyol sambil mengangkat jempol. Setelah memastikan Michelle tidak ada lagi di depan apartemen, Vio dan Jason pun berangkat ke kafe. Jason kini mengangkat Vio menjadi bagian administrasi karena takut hal tidak diinginkan kembali terjadi ketika berada di tempat kerja.


***


Beberapa hari kemudian, Jason menemui Michelle. Dia mencari tahu tentang perempuan itu, dan berhasil menemukan alamat tempat dia tinggal. Jason datang ke rumah Michelle tanpa menghubunginya terlebih dahulu.


Setelah memastikan alamat yang didatangi benar, Jason pun menekan bel. Tak lama pintu pagar terbuka. Seorang lelaki dengan pakaian petugas keamanan menemuinya.


"Maaf, Anda siapa? Apa sudah ada janji dengan Nona Michelle?" tanya petugas itu curiga.


"Saya Jason, teman Violetta. Tolong katakan kepadanya kalau saya ingin bertemu."


"Tunggu sebentar."


Lelaki paruh baya bertubuh tegap itu pun masuk ke dalam rumah. Dia menemui Michelle, dan memberitahukan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya. Michelle yang belum mengetahui nama Jason, akhirnya menemui lelaki itu karena penasaran.


Begitu sampai di depan pagar, sebuah tatapan tajam Michelle layangkan kepada Jason. Begitu juga dengan Jason. Lelaki itu menyipitkan mata karena Michelle hampir saja membongkar misi yang diberikan Matheo untuknya.


"Bisa kita bicara?" tanya Jason dengan suara dingin.


"Kita pergi dari sini. Aku tidak mau membahas apa pun tentang Vio di rumah ini."


"Baiklah, kita bicarakan semuanya di dalam mobil." Jason berjalan lebih dulu ke arah mobil.

__ADS_1


Lelaki itu membukakan pintu untuk Michelle, lalu memutari mobil dan masuk ke dalamnya. Setelah mereka memasang sabuk pengaman, Jason langsung menginjak pedal gas.


"Dari mana kamu tahu mengenai kehamilan Vio?"


"Apa itu penting?" Michelle menatap lurus ke arah jalanan di hadapannya.


"Jangan pernah mengatakan apa pun kepada Vio tentang hal ini. Aku sedang mengupayakan sesuatu, agar Vio bisa terlepas dari rencana Matheo."


"Rencana seperti apa yang kamu maksud?" Kini Michelle menggeser tubuhnya sehingga tatapannya lurus ke arah Jason.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Vio jika nanti bayinya akan diambil paksa setelah lahir ke dunia. Untuk itulah aku ingin membawanya pergi dari sini."


Jason pun menjelaskan semua rencana untuk membawa Vio pergi dari kota itu. Namun, lelaki itu menunggu waktu yang tepat melaksanakan rencana tersebut. Setelah mendengar semua penjelasan Jason, Michelle mengembuskan napas lega.


Perempuan itu setuju, serta mendukung Jason. Bahkan Michelle bersedia memberikan sejumlah uang untuk melancarkan rencana Jason. Mendapat dukungan dari Michelle, tentu saja lelaki itu semakin yakin dengan rencananya.


"Mattew memiliki dendam pribadi kepada Tuan Smith. Untuk itulah, dia sengaja mendekati Vio kemudian menjalin kasih dengannya. Di tengah perjalanan, ternyata dia benar-benar menyukai Vio." Michelle tersenyum kecut ketika teringat bagaimana dia mengorbankan semuanya, bahkan pernah mengandung anak dari Mattew.


Akan tetapi, lelaki itu tidak menganggap semua pengorbanannya. Michelle sampai rela membantu Mattew pergi dari Missouri agar tidak dicari lagi oleh Vio, tetapi hanya kekecewaan yang dia dapatkan. Michelle baru menyadari bahwa selama ini hanya dimanfaatkan oleh Mattew.


Akhirnya, Michelle memutuskan untuk mengubur perasaannya untuk lelaki itu dan kembali lagi ke Missouri. Fakta lain pun kembali terungkap berkat penjelasan Michelle.


"Lalu, sekarang di mana Mattew berada?"


"Dia ada di Hawaii."


"Kalau boleh tahu, ada dendam apa Mattew dengan ayah Vio?"


"Aku tidak tahu pastinya. Aku rasa cukup obrolan kita. Jika waktu yang dirasa tepat sudah tiba, hubungi saja aku di sini." Michelle menyodorkan kartu namanya kepada Jason.


"Baiklah, terima kasih." Jason menerima kertas kotak kecil itu kemudian tersenyum tipis.


"Ayo, aku antar pulang!" ajak Jason.


"Tidak perlu, turunkan saja aku di sini."

__ADS_1


Jason pun akhirnya menepikan mobil. Michelle keluar dati mobil tersebut kemudian mulai menyeberang jalan. Akan tetapi, ketika baru sampai di tengah jalan, tiba-tiba sebuah mobil Mercy melaju kencang ke arah Michelle.


__ADS_2